Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.
Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Setelah pintu Ndalem tertutup kasar mengiringi langkah Celina yang pergi bersama Ayah Roni, Bunda Siska, dan Laura yang baru saja datang menjemput, keheningan di ruang tamu itu pecah menjadi neraka.
Zuhair yang sejak tadi diam bersimpuh di lantai perlahan berdiri. Seluruh rasa bersalah, tekanan dari ibunya, hantaman fisik dari Raka, hingga tamparan keras dari Ibunda Celina melebur menjadi satu amarah yang luar biasa besar. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pesantren, seorang Gus Zuhair yang dikenal selalu tenang, teduh, dan berwibawa, benar-benar mengamuk.
"Zuhair, kamu lihat kan?! Keluarga perempuan itu tidak punya sopan santun sama sekali! Berani-beraninya ibunya menampar—"
"DIEM, UMMI!" bentak Zuhair dengan suara menggelegar yang seolah sanggup menggetarkan kaca-kaca jendela Ndalem. Matanya merah padam, urat-urat di leher dan dahinya menegang kasar.
Ummi seketika bungkam, mundur satu langkah dengan wajah pucat ketakutan. Beliau belum pernah sekalipun melihat putranya semarah ini.
Zuhair menendang meja kayu jati di depannya hingga bergeser kasar dan retak. BRAKK!
"Ummi puas?! Puas sudah menghancurkan rumah tangga saya?! Puas membuat istri saya pergi?!" teriak Zuhair frustrasi, menjambak rambutnya sendiri dengan tangan yang gemetar. "Demi Allah, Ummi... jika setelah hari ini Celina benar-benar tidak mau kembali pada saya, saya tidak akan pernah menganggap diri saya sebagai anak Ummi lagi! Keluar dari Ndalem sekarang! Bawa perempuan pilihan Ummi itu pergi dari sini sebelum saya kehilangan akal sehat saya!"
Melihat kemurkaan Zuhair yang sudah seperti kesetanan, Ummi tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun lagi. Dengan tubuh gemetar, beliau langsung menarik lengan Mitha dan berlari keluar menuju mobil, meninggalkan Zuhair yang ambruk di atas lantai, menangis tanpa suara meratapi kepergian separuh jiwanya.
Sementara itu, berbanding terbalik dengan badai yang berkecamuk di pesantren, suasana di kediaman mewah di Jakarta justru terasa begitu dingin. Celina yang baru saja sampai malam itu tampak biasa saja. Tidak ada tangisan, tidak ada drama mengurung diri di kamar. Wajahnya datar, seolah-olah semua memori indah di Ndalem dan Mesir bersama Zuhair telah ia hapus paksa dari kepalanya.
"Cel, lo beneran gak apa-apa?" tanya Laura hati-hati saat mereka berdua berada di kamar atas.
Celina yang sedang duduk di depan kaca rias hanya tersenyum sinis. "Gue gak apa-apa, Lau. Gue cuma baru sadar kalau tempat gue emang bukan di sana. Buat apa gue nangisin cowok yang bahkan gak bisa tegas ngelindungin gue dari makian ibunya sendiri?"
Celina berdiri, membuka lemari pakaian lamanya yang sudah berbulan-bulan tidak disentuh. Ia mengambil sebuah dress ketat di atas lutut berwarna hitam, lalu melemparkannya ke atas kasur. Tatapan matanya yang dulu polos sebagai santriwati kini kembali berubah menjadi liar,dan penuh pemberontakan.
"Cel... lo mau ngapain?" Laura melotot kaget.
"Gue pening, Lau. Otak gue mau pecah," sahut Celina sambil mulai menghapus sisa skincare pesantren di wajahnya, menggantinya dengan riasan makeup yang tebal, dan sensual. "Malam ini, anterin gue ke club biasa. Gue mau balik dugem. Gue mau buang semua sial yang ada di badan gue."
Malam semakin larut ketika dentuman musik remix dengan bass yang memekakkan telinga memenuhi seisi club malam elit di area Jakarta Pusat. Lampu sorot warna-warni berputar liar membelah kegelapan.
Di tengah kerumunan lautan manusia yang sedang bergoyang mengikuti irama, tampak sosok Celina. Dengan rambut panjangnya yang digerai bebas, gaun hitam ketat yang mengekspos lekuk tubuhnya, dan segelas minuman di tangannya, ia tertawa lepas bersama Laura.
Celina bergerak mengikuti dentuman musik tanpa beban, kembali menjadi sosok "anak liar Jakarta" yang dulu sempat hilang. Dari luar, dia kelihatan sangat menikmati kebebasannya malam itu. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, setiap kali kilatan lampu kelab malam itu menerpa matanya, bayangan wajah Zuhair yang penuh luka dan tatapan sendu suaminya saat ia pergi tadi sore justru semakin tercetak jelas dan menyiksanya secara perlahan.
"Woy! Akhirnya queen Senopati kita balik, woy! Welcome back, Celina!" teriak Laura heboh di telinga Celina, mencoba mengalahkan dentuman bass musik yang menggila di sekeliling mereka. Laura mengangkat gelasnya tinggi-tinggi ke udara, menyambut kembalinya sang sahabatnya ke dunia malam.
Teman-teman lama Celina yang malam itu juga ada di VIP table langsung bersorak heboh. Mereka merapat, ikut bergoyang dan menepuk pundak Celina, merasa senang karena "si anak ilang" akhirnya pulang ke habitat aslinya setelah berbulan-bulan "tobat" di pesantren.
"Gila ya, Cel! Gue pikir lo bakal selamanya pakai kerudung panjang terus manggil orang pake sebutan 'Akhi-Ukhti'!" canda salah satu cowok dari tongkrongan lama mereka sambil menyodorkan sloki baru. "Ternyata pesona Senopati emang gak ada tandingannya!"
Celina cuma tertawa lepas—atau lebih tepatnya, dipaksa lepas. Dia menerima sloki itu, menegguknya dalam sekali teguk hingga rasa hangat dan getir membakar tenggorokannya.
"Iyalah! Lo pikir gue bakal betah di sana disindir-sindir mulu? Mending di sini, bebas!" sahut Celina lantang sambil mengibaskan rambut panjangnya yang wangi parfum mahal, sangat kontras dengan khimar moka yang dia pakai tadi siang.
Dia kembali larut dalam gerakan lantai dansa, membiarkan tubuhnya bergerak liar di bawah siraman lampu kelab yang gemerlap. Di depannya, Laura terus meneriakkan namanya, membakar suasana seolah malam ini adalah malam kemenangan bagi Celina yang berhasil lepas dari kekangan.
Namun, di sela-sela tawa dan tegukan minumannya, ingatan Celina seperti kaset rusak yang terus berputar balik. Setiap kali dia memejamkan mata menikmati musik, yang terbayang bukan playlist DJ malam ini, melainkan suara merdu Zuhair saat melantunkan ayat suci Al-Qur'an di sampingnya pada sepertiga malam. Setiap kali cowok-cowok club mencoba mendekat, tangannya refleks merasa risih, merindukan pelukan posesif dan aroma parfum maskulin milik suaminya yang selalu membuatnya merasa aman.
Celina terus meneguk minumannya, mencoba menenggelamkan rasa sesak dan bayangan wajah Zuhair yang babak belur tadi sore ke dalam euforia palsu dunia malam Jakarta.