andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Aku menghisap rokok perlahan. Asap tipis mengepul dan bercampur dengan gelapnya malam, diterangi lampu taman yang temaram. Udara dingin menyentuh kulit, tapi pikiranku jauh lebih dingin dan penuh beban.
“Ada pepatah,” ujar Andika tiba-tiba, memecah lamunanku. “Jangan memegang bilah pedang terlalu keras, karena saat melepasnya, tanganmu akan terluka.”
Aku menoleh ke arahnya.
“Kalau keluarga ibu memang ingin Ayah bercerai, ya cerai saja, Yah,” lanjutnya dengan nada enteng.
Dadaku langsung terasa sesak. Dia belum memahami sepenuhnya soal rasa. Dia tidak tahu betapa dalam cintaku pada ibunya, betapa berat menerima kenyataan bahwa cinta itu kini dipaksa untuk dilepaskan. Kata-katanya membuatku berpikir. Mungkin benar, aku terlalu keras menggenggam perasaan itu, sampai-sampai saat harus melepaskannya, yang tersisa hanya luka.
“Ayah ini yatim piatu,” ucapku pelan. “Ayah tahu rasanya hidup tanpa orang tua. Ayah tidak ingin kamu dan adikmu merasakan hidup seperti itu.”
“Cerai itu hanya berpisah status sebagai suami dan istri, Yah,” jawab Andika santai. “Tenang saja. Aku dan Tiara tidak akan membenci Ayah dan Mamah.”
Aku menatapnya lama.
“Sepertinya kamu ingin Ayah dan Mamah bercerai,” kataku, setengah bercanda, setengah menuduh.
“Tidak juga,” jawabnya. “Aku sayang Mamah. Walaupun Mamah galak, aku tahu Mamah sayang sama aku. Tapi Ayah sering diremehkan karena terlihat lemah dan dianggap tidak bisa hidup tanpa Mamah. Keluarga Mamah yakin hidup Mamah akan lebih baik dengan orang lain. Padahal itu cuma kemungkinan. Bahkan kemungkinan yang kecil. Walaupun Mamah cantik, dia tetap janda nantinya. Orang-orang yang mendekat mungkin hanya penasaran, bukan benar-benar mencintai Mamah.”
Aku menghela napas berat sambil merenggut rambutku sendiri.
“Kalau begitu, kenapa Mamahmu tidak menolak mereka sejak awal?” tanyaku.
Dalam hati aku mengumpat. Sial. Aku benar-benar sedang curhat pada anakku sendiri.
“Karena Mamah sedang dilema,” jawab Andika tenang. “Antara memilih Ayah atau keluarganya. Tapi nanti juga Mamah akan memilih Ayah. Percaya sama aku. Aku dan Tiara saksi kalau Mamah sangat mencintai Ayah.”
Aku mengacak rambut Andika dan tersenyum tipis. Ada sedikit rasa lega yang menyusup di dadaku.
“Kamu sudah dewasa, Boy,” kataku. “Maafkan Ayah. Ayah jadi membawa masalah Ayah ke kamu.”
“Aku sudah tahu kok,” katanya ringan. “Tenang saja, Yah. Jangan terlalu dimasukkan ke pikiran. Pertemuan dan perpisahan itu cuma momen. Sering kali kita sendiri yang menyikapinya berlebihan.”
Aku menghembuskan napas panjang dan melirik jam tangan. Sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
“Kita pulang saja ke rumah, Nak,” ucapku.
“Lebih baik kita menginap di depan SMP Nusantara Global, Yah,” jawab Andika cepat.
Aku terdiam. Aku terbiasa tidur di mobil, tapi tidak dengan Andika.
“Tenang saja,” katanya seolah membaca pikiranku. “Cita-citaku detektif. Jadi aku harus terbiasa tidur di mana saja.”
Aku tersenyum kecil.
“Baiklah,” kataku akhirnya.
Kami bangkit dari bangku taman dan melangkah menuju mobil. Aku menyalakan mesin, lalu melaju perlahan ke arah SMP Nusantara Global, membawa keresahan yang belum selesai, namun kini sedikit lebih ringan.
Aku sampai di SMP Nusantara Global menjelang tengah malam. Sebuah sekolah bertaraf internasional di bawah Yayasan Nusantara Jaya. Kawasannya luas, sekitar dua hektar, dengan jenjang pendidikan lengkap dari TK hingga SMA yang berdiri dalam satu area tertutup. Dari luar saja sudah terlihat bagaimana sekolah ini dibangun dengan standar tinggi. Gerbang besi menjulang, lampu penerangan terang, dan beberapa petugas keamanan berjaga tanpa henti. Kamera pengawas terpasang hampir di setiap sudut, seolah tidak memberi ruang bagi satu kesalahan pun.
Aku memarkir mobil di sebuah ruko kosong di seberang jalan, posisi yang cukup aman untuk mengamati tanpa menarik perhatian. Dari balik kaca mobil, aku memperhatikan aktivitas di dalam sekolah yang sudah tampak sepi, hanya sesekali terlihat patroli keamanan berkeliling.
“Sekolah ini dapat penghargaan sebagai sekolah ramah anak,” ucap Andika sambil menatap layar ponselnya.
“Ramah anak seperti apa maksudnya?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari gerbang.
“Salah satu indikatornya zero bullying,” jawabnya singkat.
Aku menghela napas pelan. “Kalau begitu, percuma dong kita ke sini.”
Andika mendengus kecil. “Penghargaan itu bisa saja cuma topeng. Justru aku curiga, Yah. Bisa jadi itu cara mereka menutup sesuatu yang pernah terjadi di sini.”
Aku menoleh ke arahnya. “Kenapa kamu begitu yakin?”
“Murid-muridnya mayoritas dari keluarga kaya. Dimanja orang tua. Ayah yakin tidak ada satu pun dari mereka yang arogan?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam. Pengalamanku sebagai polisi sudah cukup memberi jawaban. Kekuasaan dan uang sering berjalan beriringan dengan kesewenang-wenangan.
“Pemilik yayasan ini mantan jenderal polisi, Yah,” lanjut Andika. “Namanya Yusuf Salam.”
Aku mencoba mengingat. Nama itu terasa familiar.
“Pensiun tahun 2005. Jabatan terakhir Komisaris Jenderal Polisi,” tambahnya.
Aku merebahkan sandaran kursiku sedikit ke belakang. Tahun itu aku baru lulus pendidikan polisi. Masih hijau, masih percaya dunia bisa diselesaikan dengan laporan dan prosedur.
“Berarti dia orang berpengaruh,” ujar Andika pelan.
“Untuk sampai ke pangkat Komjen Pol, pasti pernah duduk di posisi strategis,” jawabku. “Kekuasaan dan jaringan pasti masih melekat.”
Andika mengangguk. “Berarti kasus ini akan berat.”
Aku meliriknya sekilas. “Baru sadar?”
Dia tersenyum tipis. “Berat bukan berarti tidak bisa. Korban sudah tiga orang. Besok jam sembilan akan jadi yang keempat kalau semua masih menganggap ini sepele. Kalau begitu, lebih baik negara ini sekalian digadaikan saja.”
Aku hampir tertawa mendengarnya. Kalimat itu terlalu tajam keluar dari mulut anak dua belas tahun.
“Kenapa kamu begitu yakin korban selanjutnya juga alumni SMP Nusantara Global?” tanyaku sambil menatap lurus ke arah gerbang sekolah yang mulai sepi.
“Motif pelaku jelas balas dendam,” jawab Andika tenang. “Menurut perkiraanku, perundungan itu terjadi lima tahun lalu di SMP Nusantara Global. Pelaku sekarang sedang melakukan pembalasan ”
“Apa kamu yakin?” tanyaku lagi.
“Belum seratus persen,” katanya jujur. “Masih dugaan. Tapi dari tiga korban sebelumnya, semuanya punya pola yang sama. Mereka dikenal sebagai pelaku perundungan. Besar kemungkinan mereka bagian dari kelompok yang sama.”
“Lima tahun lalu,” gumamku. “Berarti tahun 2019. Bukankah saat itu sekolah sudah mulai daring?”
Andika menggeleng pelan. “Awal pembelajaran daring itu 2020. Tahun 2019 Covid belum dianggap serius. Sekolah masih normal.”
Aku mengernyitkan dahi. “Berarti kejadiannya di awal 2019.”
“Iya,” katanya. “Kemungkinan Februari. Sama seperti sekarang. Pelaku seolah ingin mengulang waktu.”
Aku menoleh padanya. “Kamu sedang mencocokkan pola, ya?”
“Hanya analisis,” jawabnya ringan. “Tapi kalau menyangkut nyawa, analisis sekonyol apa pun tetap harus diperhatikan.”
Aku terdiam. Potongan-potongan itu perlahan menyatu di kepalaku. Kode 172, jam kematian yang berurutan, dan sekarang jadwal berikutnya yang sudah diumumkan terang-terangan. Pelaku tidak bersembunyi. Dia justru menantang.
“Besok ayah harus mencari data perundungan lima tahun lalu,” katanya akhirnya. “Daftar nama siswa yang terlibat. Sekolah internasional seperti ini pasti punya catatan lengkap.”
“sepertinya sulit dika, mereka mengaku sekolah ramah anak tapi ada perundungan mereka pasti akan menutupinya” ucapku
“iya,,kalau mereka tidak mau terbuka berarti mereka membiarkan terjadi pembantaian”