Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya
Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Lampu jalan mulai menyala satu per satu saat Gavin, Dafa, dan Rian berboncengan menuju The Library Cafe. Suasana hati mereka sedang bagus; misi "pengamanan" koridor tadi siang sukses besar, dan sekarang mereka hanya ingin menyesap kopi buatan Bu Raisa sambil menuntaskan tugas kelompok.
Namun, suasana santai itu pecah saat mereka melewati jalan pintas di area gudang tua yang sepi.
"Eh, berhenti!" seru Gavin yang berada di posisi paling depan.
Cahaya lampu motor mereka menyorot ke sebuah gang sempit. Di sana, seorang remaja dengan seragam SMA Pelita Bangsa yang sudah acak-acakkan tengah tersudut. Itu Aldi, teman sekelas mereka yang dikenal nakal dan sering bolos, namun kali ini ia tampak tak berdaya. Ia dikepung oleh lima orang anggota geng motor yang membawa rantai dan balok kayu.
"Woi! Berani keroyokan doang?!" teriak Rian tanpa basa-basi. Ia langsung melompat dari motornya dan menendang salah satu balok kayu hingga terlepas dari tangan lawan.
Situasi memanas dalam sekejap. Gavin turun dengan tenang, namun tatapannya sedingin es. "Satu lawan lima? Skema yang sangat tidak adil secara matematis," gumamnya sambil melepaskan jaket.
Dafa, yang biasanya paling santai, kini memasang kuda-kuda. "Aldi, lo bisa berdiri nggak? Sini balik ke barisan kita."
Aldi yang sudut bibirnya sudah berdarah tampak kaget melihat ketiga teman kelasnya itu muncul di sana. "Kalian... ngapain di sini? Pergi aja, mereka bawa senjata!"
"Bacot lo, Al. Mending simpen tenaga buat lari nanti," balas Rian sambil menghalau serangan rantai dengan bantuan helm yang ia pegang sebagai perisai.
Pertarungan terjadi dengan cepat. Rian menggunakan kelincahan atlet basketnya untuk mengecoh lawan, sementara Gavin dengan gerakan taktis yang efisien berhasil melumpuhkan pemimpin geng motor tersebut. Dafa, meski terlihat paling tenang, memberikan serangan-serangan kejutan yang membuat lawan kewalahan.
Melihat bala bantuan yang ternyata lihai berkelahi, anggota geng motor itu akhirnya memilih mundur dan tancap gas meninggalkan debu yang mengepul.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Gavin sambil membantu Aldi berdiri.
Aldi menyeka darah di wajahnya, menatap Gavin, Dafa, dan Rian bergantian dengan tatapan tak percaya. "Gue kira kalian cuma bisa megang buku sama bola basket."
"Kita juga bisa megang keadilan kalau perlu," sahut Dafa sambil nyengir, memberikan sebotol air mineral yang kebetulan masih ada di tasnya. "Yuk, ikut kita ke kafe Bu Raisa. Luka lo perlu diobatin sebelum infeksi."
Beberapa menit kemudian, denting lonceng pintu The Library Cafe berbunyi. Raisa dan Dara yang sedang asyik mendiskusikan tekstur mikrobuih susu langsung menoleh. Betapa terkejutnya mereka melihat Gavin, Dafa, dan Rian masuk membawa Aldi yang babak belur.
"Ya ampun! Apa yang terjadi?" seru Raisa, langsung bergegas mengambil kotak P3K di balik meja kasir.
Dara segera meletakkan kain lapnya dan mengambilkan air hangat. "Aldi? Kamu kenapa?"
"Pahlawan kesiangan kita habis simulasi bela diri di jalanan, Bu," seloroh Rian untuk mencairkan suasana, meski napasnya masih sedikit terengah.
Gavin menjelaskan singkat kejadiannya sementara Raisa dengan telaten membersihkan luka di pelipis Aldi. Di sudut kafe yang tenang itu, untuk pertama kalinya, sekat-sekat antara si "anak pintar", si "atlet", si "penyendiri", dan si "pemberontak" runtuh.
Dara, tanpa diminta, kembali ke balik mesin espresso. Dengan gerakan yang kini lebih percaya diri, ia membuatkan empat cangkir minuman hangat. Kali ini bukan hanya kopi, tapi juga cokelat hangat dengan latte art berbentuk hati sederhana untuk menenangkan syaraf mereka yang tegang.
"Ini... buat kalian," ucap Dara pelan sambil meletakkan minuman itu di meja mereka.
Aldi menatap cangkir cokelat di depannya, lalu menatap Dara. "Dara... sori ya. Soal omongan anak-anak di kelas tadi... gue nggak ikut-ikutan. Makasih ya."
Dara tersenyum tulus. "Nggak apa-apa, Al. Diminum ya, supaya lebih enak perasaannya."
Raisa berdiri di samping bar, memperhatikan kelima muridnya itu dengan tatapan haru.
Suasana kafe yang tadinya penuh tawa pelan-pelan berubah menjadi teduh saat Aldi menggenggam cangkir cokelat hangatnya dengan erat. Uap tipis menyentuh wajahnya yang lebam, sementara Gavin, Dafa, dan Rian duduk melingkar di meja kayu besar itu. Raisa dan Dara memperhatikan dari balik meja bar, memberikan ruang bagi Aldi untuk bicara.
"Gue emang bego," gumam Aldi memecah keheningan. "Gue sengaja nyamperin mereka di gudang itu. Gue nantang ketuanya satu lawan satu."
Rian mengerutkan kening. "Lo nekat banget, Al. Geng motor itu nggak kenal kata 'adil'. Tapi kenapa? Lo ada masalah apa sama mereka?"
Aldi menggeleng pelan, matanya menatap kosong ke arah permukaan cokelatnya. "Gue nggak punya masalah sama mereka. Gue cuma lagi butuh samsak. Gue cuma pengen ngerasain sakit yang beda supaya gue lupa sama sakit yang ada di rumah."
Ia menarik napas panjang, suaranya sedikit bergetar. "Tadi sore, piring terbang lagi di meja makan. Nyokap sama Bokap teriak-teriak soal ego masing-masing. Mereka nggak peduli kalau gue ada di kamar, dengerin semuanya. Gue ngerasa sesak, ngerasa rumah itu bukan lagi tempat pulang. Makanya gue lari, dan entah kenapa, gue ngerasa dengan berantem, semua beban di kepala gue bisa keluar."
Raisa berjalan mendekat, membawakan sepotong kue kecil dan meletakkannya di tengah meja. Ia tidak menatap Aldi dengan tatapan menghakimi, melainkan dengan empati seorang pendidik.
"Aldi," panggil Raisa lembut. "Marah itu manusiawi. Kecewa dengan keadaan rumah juga hal yang sangat berat untuk dipikul sendiri. Tapi, melampiaskannya dengan cara menyakiti diri sendiri, seperti menantang bahaya, hanya akan menambah luka baru, bukan menyembuhkan yang lama."
Aldi mendongak, matanya berkaca-kaca. "Tapi saya nggak tahu harus ke mana lagi, Bu. Di sekolah saya dicap nakal, di rumah saya dianggap beban."
Dafa menepuk bahu Aldi dengan mantap. "Sekarang lo punya tempat baru buat 'lari', Al. Bukan ke gudang tua, tapi ke sini. Daripada lo babak belur nggak jelas, mending lo ikut kita. Minimal kalau lo pusing, ada kopi atau cokelat yang bisa bikin otak lo tenang, bukan rantai motor."
Gavin, yang sedari tadi menyimak, akhirnya membuka suara. "Lo bukan beban, Al. Lo cuma lagi kehilangan arah. Mulai besok, nggak ada lagi istilah 'anak nakal'. Lo bagian dari kelas kita, dan kita bakal mastiin nggak ada lagi geng motor atau siapa pun yang berani nyentuh lo."
Dara yang berdiri di dekat mesin kopi memberikan senyuman kecil namun menguatkan. "Tadi saya menghitung takaran cokelat ini supaya pas untuk menenangkan saraf. Semoga berhasil ya, Al."
Malam itu, di bawah pendar lampu kafe yang hangat, Aldi menyadari satu hal. Dunia mungkin terasa kejam di dalam rumahnya, tapi di luar sana, ia menemukan keluarga baru yang tidak menuntutnya menjadi sempurna hanya memintanya untuk tetap aman.
"Makasih ya, semuanya," ucap Aldi tulus. Untuk pertama kalinya, ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat, bukan karena pukulan, tapi karena dukungan.