Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Keluarga Besar Pranata
Mansion utama Pranata malam itu bermandikan cahaya. Lampu kristal menggantung megah, memantulkan kilau keemasan yang justru membuat Zafira merasa semakin kecil. Ia melangkah masuk berdampingan dengan Atharv, bahunya kaku, napasnya tertahan rapi.
“Berjalan di sampingku,” ujar Atharv singkat tanpa menoleh.
Zafira mengangguk pelan.
Di ujung ruang keluarga, seorang pria berwibawa dengan sorot mata tajam berdiri tegak—Pak Dharma Pranata. Di sisinya, seorang wanita anggun dengan wajah tenang namun sulit ditebak Nyonya Maharani, ibu Atharv.
“Kalian datang,” ucap Pak Dharma, suaranya berat.
Atharv menunduk singkat. “Maaf membuat Ayah menunggu.”
Pak Dharma mengangguk, lalu menatap Zafira. “Kau Zafira.”
“Iya yah,” jawab Zafira sopan, menunduk hormat.
Nyonya Maharani melangkah mendekat. Tatapannya menyapu wajah Zafira dengan penuh penilaian. “Wajahmu terlihat lelah.”
“Saya baik, Ibu,” jawab Zafira pelan.
Nyonya Maharani mengangguk tipis, seolah mencatat sesuatu dalam diam.
Tak lama, Tante Ratna dan Pak Surya mendekat. Wajah Tante Ratna terlihat ramah, sementara Pak Surya lebih banyak mengamati.
“Atharv, akhirnya datang juga,” ujar Tante Ratna. “Ini Zafira?”
“Iya, Tante,” jawab Atharv.
Tante Ratna menatap Zafira sambil tersenyum. “Cantik dan sopan. Semoga betah di keluarga ini.”
“Terima kasih, Tante,” jawab Zafira lirih.
Seorang gadis muda ikut menyela, “Aku Dina,” katanya ramah. “Kalau butuh teman di keluarga ini, bilang saja.”
Zafira tersenyum kecil. “Terima kasih.”
Mereka kemudian duduk di meja panjang. Pembicaraan mengalir tentang bisnis, rencana keluarga, dan agenda sosial. Zafira lebih banyak diam, menjawab seperlunya.
Suasana mendadak berubah ketika seorang wanita melangkah masuk dengan langkah percaya diri Raisa Paramitha.
“Maaf terlambat,” katanya ringan. “Ada urusan mendadak.”
“Oh, Raisa,” sahut Tante Ratna. “Silakan duduk.”
Raisa duduk tak jauh dari Zafira. Tatapannya singgah sesaat, lalu senyum tipis terbit.
“Zafira, kau terlihat lebih kurus. Atharv terlalu sibuk sampai tak memperhatikanmu?”
Zafira menegang. “Aku baik,” jawabnya singkat.
Atharv langsung menyela, “Cukup.”
Pak Surya mengangkat alis. “Sepertinya ada ketegangan?”
“Tidak ada,” jawab Atharv dingin. “Hanya salah paham.”
Pak Dharma menatap Atharv lama.
“Pastikan urusan rumah tanggamu tidak menjadi pembicaraan keluarga.”
“Iya, Ayah.”
Nyonya Maharani menatap Zafira lagi, kali ini lebih lama.
“Zafira,” katanya tenang, “di keluarga ini, aku tidak menyukai rahasia. Jika ada sesuatu, kau boleh bicara.”
Zafira menelan ludah. “Baik, Ibu.”
Di tengah suara peralatan makan dan obrolan yang kembali cair, Zafira duduk tegak, menahan segala yang bergemuruh di dadanya. Ia tahu, malam ini bukan hanya tentang perkenalan.
Ini tentang penilaian.
Dan ia harus bertahan sekali lagi.
Suasana perlahan mencair saat para pelayan mulai menyajikan hidangan. Bunyi peralatan makan beradu lembut, aroma masakan memenuhi ruangan. Zafira duduk dengan punggung tegak, berusaha menyesuaikan diri dengan ritme keluarga Pranata. Untuk sesaat, malam itu terasa… normal.
“Zafira, kau suka masakan ini?” tanya Tante Ratna sambil tersenyum.
“Iya, Tante. Sangat enak,” jawab Zafira jujur.
Dina menimpali ringan, “Biasanya yang pertama kaget itu pedasnya. Tapi kalau sudah terbiasa, pasti ketagihan.”
Zafira tersenyum kecil. “Mungkin aku harus sering-sering makan di sini.”
Pak Surya terkekeh pelan. “Berarti Atharv harus lebih sering mengajak istrinya ke mansion utama.”
Atharv hanya mengangguk singkat. “Nanti diatur.”
Nyonya Maharani memperhatikan Zafira diam-diam. “Kau terlihat lebih tenang sekarang,” katanya.
Zafira mengangguk. “Terima kasih, Ibu.”
Makan malam berlangsung tanpa gangguan berarti. Tidak ada suara tinggi, tidak ada sindiran. Zafira mulai mengendurkan bahunya, napasnya terasa lebih ringan. Dalam hati, ia berpikir mungkin malam ini benar-benar akan berlalu dengan baik.
Setelah hidangan terakhir diangkat, para pelayan menyajikan teh hangat. Beberapa anggota keluarga mulai berbincang santai. Zafira hampir tersenyum lega.
Hingga suara itu terdengar.
“Aku sebenarnya ragu untuk membicarakan ini,” ucap Raisa tiba-tiba, suaranya lembut namun jelas, memotong percakapan lain. “Tapi karena kita sudah berkumpul, mungkin lebih baik tidak disimpan.”
Ruangan seketika hening.
Atharv menoleh tajam. “Raisa—”
Namun Raisa sudah melanjutkan, matanya mengarah pada Zafira.
“Aku hanya khawatir. Sebagai keluarga jauh, aku merasa perlu jujur.”
Jari Zafira menegang di atas cangkirnya.
“Apa maksudmu?” tanya Pak Dharma datar.
Raisa tersenyum tipis.
“Tentang hal-hal yang beredar di luar sana. Aku tidak ingin keluarga Pranata dicemarkan oleh kesalahpahaman.”
Kata itu jatuh berat di udara. Zafira menunduk pelan, jantungnya berdegup kencang. Ia baru saja merasa aman dan kini, ketenangan itu runtuh seketika.
Malam yang semula tenang berubah tegang, lebih dingin dari sebelumnya. Dan Zafira tahu, Raisa tidak akan membuka suara jika tidak berniat melukai.
Pak Dharma meletakkan cangkir tehnya perlahan. Bunyi porselen yang menyentuh meja terdengar jelas di tengah keheningan.
“Kesalahpahaman seperti apa yang kau maksud, Raisa?” tanyanya datar, namun nadanya mengandung peringatan.
Raisa menarik napas seolah ragu, lalu menatap Nyonya Maharani.
“Aku sebenarnya tidak ingin menyakiti siapa pun, Ibu. Tapi aku juga tidak ingin menutup mata.”
Zafira mengangkat wajahnya, suaranya pelan namun jelas.
“Jika ada yang ingin kau sampaikan, katakan saja langsung, Raisa.”
Atharv langsung menoleh. “Zafira—”
“Tidak apa-apa,” potong Zafira lembut namun tegas. “Aku ingin mendengarnya.”
Raisa tersenyum tipis, senyum yang membuat dada Zafira mengeras.
“Baik. Beberapa orang di luar mansion melihat Zafira sering bertemu seorang pria. Bukan sekali dua kali.”
“Siapa orang itu?” tanya Pak Surya tajam.
“Aku tidak tahu namanya,” jawab Raisa. “Tapi cukup dekat. Mereka terlihat akrab.”
“Itu bohong,” Zafira berkata cepat, tangannya bergetar. “Aku tidak pernah—”
“Zafira,” Nyonya Maharani mengangkat tangan pelan. “Biarkan Raisa menyelesaikan ucapannya.”
Zafira terdiam, menunduk, menahan sesak.
Atharv bersandar ke kursinya, rahangnya mengeras. “Kau tahu apa akibat dari kata-katamu, Raisa?”
“Aku tahu,” jawab Raisa tenang. “Itu sebabnya aku bicara di sini. Supaya tidak menjadi gosip di luar.”
Pak Dharma menatap Zafira lama. “Apa yang akan kau katakan, Zafira?”
Zafira menarik napas dalam. “Tidak ada pria lain. Aku tidak pernah bertemu siapa pun seperti yang ia katakan.”
Dina ikut angkat suara, ragu. “Raisa, apa kau yakin tidak salah lihat?”
Raisa menggeleng pelan. “Aku berharap aku salah.”
Keheningan kembali jatuh, kali ini lebih berat.
Tatapan-tatapan penuh penilaian mengarah pada Zafira. Ia duduk tegak, meski hatinya bergetar hebat karena sekali lagi, kebenaran harus berjuang melawan cerita yang lebih dulu dipercaya.