Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Kecil
Lokasi: Rumah Keluarga Kusumadewa
"Mana anak itu? Belum bangun juga?" Richard Kusumadewa nampak begitu segar sehabis berlari di atas treadmill. Ia mengambil susu hangat yang tersaji di atas meja lalu meminumnya.
"Tadi sih waktu aku mengetuk pintu kamarnya, dia menjawabku." Delima atau biasa dipanggil Adel -istri Richard Kusumadewa- menghidangkan sarapan pagi untuk suaminya tercinta. Wanita yang nampak sangat cantik meski tubuhnya agak berisi itu sudah sibuk sejak subuh menyiapkan sarapan dan bekal lezat untuk seluruh anggota keluarganya.
Richard menarik tubuh Adel sampai sang istri duduk di pangkuannya. Ia mencium pipi Adel dengan tatapan bak singa lapar. "Cantik banget sih istriku ini."
"Pi, masih pagi loh ini. Jangan begini ah, nanti anak-anak lihat," protes Adel. Pernikahan mereka sudah puluhan tahun namun Richard masih suka memamerkan kemesraannya di depan siapa saja.
"Biarkan saja. Yang aku cium istriku ini. Cantik banget sih, istriku? Kok cantiknya awet? Pakai formalin ya?" Richard kembali mencium pipi Adel.
Baik Richard maupun Adel tak ada yang menyadari kalau ada anak mereka yang baru saja masuk ke ruang makan. Radit memutar bola matanya dengan sebal, adegan romantis kedua orang tuanya suka tidak mengenal tempat dan waktu. Ia dan adiknya sampai sebal melihatnya. "Tolong deh Pi, Mi, jangan mesum terus. Masih pagi loh ini!"
Adel bangkit dari pangkuan Richard, wajahnya memerah karena diprotes anaknya sendiri. "Kamu mau sarapan apa, Dit?"
"Nasi goreng saja, Mi, tapi bungkus sandwich juga ya!" Radit tersenyum lebar.
Richard menatap Radit dengan tatapan penuh selidik. "Tumben kamu sudah rapi, biasanya harus dibangunkan pakai suara drum, baru kamu membuka matamu," sindir Richard.
"Seorang pemimpin itu harus memberi contoh yang baik untuk anak buahnya, Pi, salah satunya dengan bangun pagi dan siap bekerja seperti aku ini." Radit tersenyum lebar membuat Richard makin menaruh curiga.
"Kamu habis buat masalah apa? Katakan saja dengan jujur!" Richard mengacuhkan sarapannya. Anak lelakinya ini bisa dibilang sebelas dua belas dengan dirinya, termasuk dalam hal suka bermain dengan banyak wanita.
"Papi tuh kebanyakan curiga sama aku. Aku tidak buat masalah apa-apa kok. Aku bahkan berhasil mendapat kontrak milyaran berkat kepintaranku yang menurun dari Mami ini!" Radit tersenyum pada Adel yang sedang membuatkannya sandwich.
Adel balas tersenyum. "Tentu dong. Anak Mami memang pintar seperti Mami."
Richard makin menaruh curiga pada anaknya. "Kok Papi merasa kamu sedang membuat masalah ya? Sudah jarang pulang, tiba-tiba bangun pagi lalu sekarang muji Mami dengan kata-kata manis. Kesalahanmu kali ini seberat apa?"
"Pi, jangan curigaan gitu ah! Radit itu berubah ke arah yang baik loh, seharusnya kita dukung, bukan malah dicurigai." Adel memberikan thin wall berisi sandwich tebal pada Radit. "Ini sandwichnya. Kenapa akhir-akhir ini kamu suka minta Mami bawakan sandwich ya?"
"Karena sandwich Mami paling lezat sedunia." Radit mengacungkan dua jempol untuk Adel.
"Tuh, Mi, makin manis kata-katanya, makin Papi curiga," sahut Richard. "Yakin sekali Papi kalau dia sedang buat masalah."
"Ish, cuekkin saja, Mi. Papi iri melihat kedekatan kita berdua."
Adel tertawa melihat anak dan suaminya saling ledek. Dalam hati ia berdoa agar kecurigaan suaminya tak akan terjadi. Meski membela Radit, namun Adel dalam hati juga setuju kalau ada yang berbeda dari Radit.
.
.
.
Radit mengeluarkan jepitan pink bergambar Mickey Mouse dari dalam laci kerjanya. Aneh memang melihat seorang lelaki menyimpan jepitan pink, namun jepitan pink tersebut memiliki arti tersendiri dalam hidup Radit.
Ingatan Radit kembali ke masa kecilnya. Ia saat itu bersekolah di salah satu TK elit di dekat komplek tempatnya tinggal. Sikapnya yang jahil membuatnya tak disukai anak-anak lain. Radit lebih sering menyendiri sampai seorang anak perempuan datang menghampirinya.
"Kenapa kamu tidak ikut main?" tanya anak perempuan tersebut.
Radit menatap anak perempuan yang menyapanya. "Tidak ada yang mau bermain denganku di kelas Bintang. Mereka bilang aku jahil."
"Memangnya, kamu benar jahil?" tanya anak perempuan itu lagi.
"Ya... kadang memang aku jahil sih," aku Radit. "Tapi aku tidak jahat, mereka saja yang tidak mau main denganku!"
"Kalau begitu, aku saja yang main sama kamu. Aku Tasya Prameswari. Aku kelas Mentari." Tasya tersenyum lebar, giginya yang ompong membuat senyumnya nampak lucu.
"Aku Radit, benar kamu mau main sama aku?" Mata Radit berbinar senang.
"Tentu. Kita temenan ya sekarang!" Tasya dan Radit pun berjabat tangan.
Sejak hari itu, Radit jadi semangat ke sekolah. Radit akan menghampiri Tasya ke kelasnya saat jam istirahat tiba, begitupun sebaliknya.
"Sya, nanti kalau aku sudah dewasa, kamu harus jadi istriku ya. Kamu mau bukan?" tanya Radit.
"Ih, Radit, kita masih kecil tau. Kata Mamaku, tidak boleh pacaran dulu, apalagi menikah," jawab Tasya.
"Ya nanti, Sya. Aku saja belum disunat, aku tidak mungkin menikahi kamu sekarang," jawab Radit.
"Memang apa hubungannya dengan sunat, Dit?" tanya Tasya dengan tatapan bingung.
Radit menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu. Papi bilang, aku tidak boleh pacaran dan menikah kalau aku belum disunat."
"Oh gitu."
"Jadi gimana, Sya, kamu mau tidak jadi istriku nanti?" Radit begitu keras kepala, ia tak akan berhenti sampai Tasya menjawab pertanyaannya.
"Mm... mau deh. Tapi kamu harus kaya raya ya, Dit. Aku mau jadi tuan putri yang memakai gaun mewah saat kita menikah nanti. Kalau tidak kaya, bagaimana kamu bisa belikan aku gaun mewah?" jawab Tasya.
"Iya, tenang saja. Aku akan kaya raya. Kamu juga harus janji, Sya, kamu akan menungguku, oke?" Radit memberikan jari kelingkingnya untuk segel janji mereka.
"Oke." Tasya mengaitkan jari kelingkingnya pada Radit.
"Papi bilang, kalau sebuah janji harus ada surat perjanjian dan uang mukanya." Radit berpikir keras. "Ini, untuk uang muka janjiku." Radit memberikan sepasang jepitan Mickey Mouse pada Tasya.
"Wah, bagus sekali." Tasya menyukai hadiah Radit. Ia bahkan langsung memakainya. "Aku kasih kamu apa ya?"
Tasya tak membawa hadiah untuk Radit. Sebuah ide tiba-tiba melintas di benaknya. "Aku kasih kamu ini saja." Tasya memajukan tubuhnya lalu mencium pipi Radit. Ciuman Tasya adalah ciuman pertama Radit yang tak akan pernah bisa ia lupa, bahkan setelah ia dewasa dan bertemu dengan banyak wanita.
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Radit. Tasya masuk dengan senyum lebar di wajahnya. Wajahnya kini tak lagi muram seperti kemarin saat dikabarkan kalau kondisi anaknya drop. "Pagi, Pak!"
Radit membalas senyum Tasya. "Pagi, Sya. Cerah sekali wajah kamu pagi ini."
"Secerah hatiku saat mendengar kalau kondisi Dicky sudah stabil." Tasya meletakkan sebuah tempat makan di atas meja Radit. "Silahkan, Pak. Semoga Bapak suka."
"Apa ini?" tanya Radit.
"Sarapan spesial buat Pak Radit. Aku buat sendiri loh, maaf ya kalau seadanya."
Radit membuka tempat makan yang Tasya berikan. Nampak kimbab homemade buatan Tasya yang nampak sangat lezat. "Kayaknya enak banget deh, sampai aku sayang memakannya."
"Kalau aku buat di rumahku sendiri, aku bisa buat yang lebih enak dari itu." Tasya menunggu Radit mencoba sarapan buatannya.
"Loh, memang kamu buatnya dimana?" Radit mencoba kimbab buatan Tasya, dari suapan pertama, Radit sudah merasakan makanan lezat yang penuh cinta, mirip dengan buatan sang Mami. "Enak banget loh."
Tasya tersenyum lebar. Ia senang makanan buatannya dipuji Radit. "Aku membuatnya di rumah mertuaku, tidak leluasa seperti di rumah sendiri. Syukurlah kalau Pak Radit suka."
"Suka banget. Enak. Buatnya pasti sepenuh hati." Radit memasukkan potongan kimbab kedua ke dalam mulutnya. "Kalau tidak leluasa... aku tebak kalau mertuamu menyebalkan?"
"Sangat," jawab Tasya.
"Pelit?"
"Banget."
"Kejam?"
"Iya juga."
"Serius? Paket lengkap banget itu. Menyebalkan, pelit dan kejam. Biasanya yang begitu panjang umur, Sya," kata Radit seenaknya.
"Iya, sih. Racunin aja apa?" Tasya menahan tawanya.
"Boleh, tapi nanti tertangkap polisi. Santet aja gimana?" balas Radit. "Lebih aman dan halus."
"Ide bagus. Kapan kita ke Mbah Dukun?" Tasya dan Radit lalu tertawa lepas.
Tasya merasa, semenjak dekat dengan Radit, ia menjadi lebih bebas mengekpresikan dirinya. Ia merasa nyaman dan menemukan teman satu frekuensi.
Tasya berhenti tertawa. Ia menatap Radit dengan lekat. "Pak, Bapak belum jawab pertanyaanku loh. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Radit juga berhenti tertawa. Ia balas menatap Tasya dengan tatapan serius. "Menurutmu bagaimana? Apakah ada aku di dalam memorimu?"
****
huhhh emaknya setyo pngen tak jitak
dari dulu keluarga Kusumadewa anggota keluarganya pada sengklek 🤣 tapi aku suka, keliatan nya jadi hangat ..antara anak dan ortu gak ada jaim nya 🤣