NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:499
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10 — Jarak yang Tidak Pernah Disepakati

---

Selama satu minggu penuh, Airi berangkat dan pulang sendiri.

Tidak ada langkah yang menunggu setengah langkah di depan gerbang. Tidak ada pesan singkat yang memastikan ia sudah sampai. Tidak ada suara yang mengingatkan jam pulang, atau menanyakan apakah ia sudah makan. Hari-hari berjalan rapi—nyaris sempurna dari luar. Kuliah tepat waktu. Latihan berjalan seperti biasa. Senyum kecil selalu terpasang setiap kali seseorang menyapanya.

Airi pandai menyimpan perasaannya.

Ia selalu begitu.

Di studio musik, suaranya tetap stabil. Nada-nada yang keluar dari tenggorokannya terdengar utuh, bahkan semakin matang. Tidak ada nada sumbang. Tidak ada kesalahan berarti. Jika ada yang memperhatikan lebih dalam, mereka hanya akan melihat Airi yang tenang, terkendali, dan profesional—seolah tidak ada apa pun yang berubah.

Namun Hinami tahu.

Ia mengenal Airi sejak SMP—jauh sebelum musik, jauh sebelum panggung, jauh sebelum Airi belajar menyembunyikan luka dengan senyum yang rapi. Hinami mengenali tanda-tanda kecil yang nyaris tak terlihat: cara Airi menggenggam tali tasnya lebih erat, cara pandangannya singgah sepersekian detik lebih lama ke satu arah lalu segera berpaling, cara ia tertawa tanpa benar-benar hadir di dalam tawa itu.

Dan yang paling jelas—cara Airi tidak lagi mendekati Ren.

Latihan sore itu berakhir seperti biasa. Peralatan dibereskan, suara obrolan kecil bercampur tawa singkat. Airi mengucapkan salam, mengangguk pada semua orang, lalu melangkah pergi lebih dulu dari studio.

Hinami menyusul.

Mereka berjalan berdampingan menuju pintu keluar. Langit mulai gelap, udara sore membawa dingin tipis yang menyelinap pelan ke kulit.

“Airi,” panggil Hinami akhirnya.

Airi menoleh. “Hm?”

“Kamu kenapa?”

Pertanyaan itu sederhana. Tidak menghakimi. Tidak menekan. Namun cukup untuk membuat langkah Airi melambat.

“Kenapa kamu nggak dekat Ren lagi?” lanjut Hinami, suaranya diturunkan. “Seminggu ini… kamu menjauh.”

Airi berhenti berjalan.

Ia menunduk, menatap ujung sepatunya sendiri. Ada jeda terlalu panjang sebelum ia menjawab—atau mungkin sebelum ia menyerah.

“Aku…” suaranya tertahan. “Aku nggak tahu harus gimana.”

Hinami mengernyit pelan. “Maksudnya?”

Airi menarik napas dalam-dalam. Sekali. Dua kali. Dan pada tarikan napas ketiga, pertahanannya runtuh.

“Aku ngerasa bersalah,” katanya lirih. “Aku menjauhi dia. Aku tahu itu nyakitin. Tapi aku juga… aku takut, Nami.”

Langkah Hinami berhenti sepenuhnya. Ia berbalik menghadap Airi.

Airi mengangkat wajahnya. Matanya berkilat—bukan oleh air mata yang jatuh, melainkan oleh air mata yang sudah terlalu lama ditahan.

“Aku nggak bisa bersikap seperti biasa,” lanjutnya cepat, seolah takut kata-kata itu tidak sempat keluar. “Aku nggak mau ngasih harapan yang salah. Tapi aku juga nggak mau ninggalin dia. Aku nggak tahu harus berdiri di mana.”

Dan di bawah lampu jalan yang menyala redup itu, Airi menceritakan semuanya.

Tentang taman. Tentang pelukan yang membuat tubuhnya membeku. Tentang kecupan yang singkat, namun cukup mengguncang dunia kecil yang selama ini ia jaga. Tentang rasa takut yang datang bersamaan dengan rasa bersalah. Tentang Ren—seseorang yang selalu menjaganya, yang keberadaannya terlalu besar untuk diabaikan, namun kini terasa terlalu dekat untuk ia pahami.

Hinami terdiam lama.

Wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan. Alisnya mengerut, rahangnya mengeras, napasnya tertahan sejenak.

“Dia—” Hinami memulai, lalu berhenti. “Dia melakukan itu?”

Airi mengangguk kecil.

“Aku tahu Ren nggak bermaksud jahat,” kata Airi cepat, seolah ingin membela lebih dulu. “Aku tahu dia cuma capek. Aku tahu dia khawatir. Tapi tubuhku… tubuhku bereaksi duluan. Aku takut, Nami. Dan aku benci diriku sendiri karena itu.”

Hinami menatapnya lama. Ada banyak hal yang ingin ia katakan—amarah, kekecewaan, dorongan untuk menemui Ren saat itu juga. Namun semuanya berhenti ketika Airi berkata pelan, hampir berbisik:

“Jangan bilang siapa-siapa. Tolong. Jangan ke Ren.”

Hinami menelan ludah. Amarahnya perlahan surut, digantikan sesuatu yang lebih berat: pemahaman.

Ia melangkah maju dan memeluk Airi.

Pelukan itu hangat. Tidak menekan. Tidak memaksa. Hanya ada—mengizinkan Airi bersandar tanpa harus menjelaskan apa pun lagi.

“Kamu nggak salah,” kata Hinami pelan. “Dengerin aku. Kamu nggak salah.”

Airi terisak. Untuk pertama kalinya minggu itu, ia membiarkan air matanya jatuh.

“Kalau kamu mau curhat,” lanjut Hinami sambil mengusap punggungnya lembut, “curhat aja. Kamu nggak sendirian. Jangan paksa dirimu kuat terus.”

Airi mengangguk di bahunya, napasnya tersengal kecil.

Malam itu, mereka pulang lebih pelan.

---

Tiga hari berlalu.

Ren tidak masuk kuliah dua hari berturut-turut.

Kabar itu datang dari teman sekelasnya—ringan, kasual. Tentang flu. Tentang demam yang belum turun. Tidak ada yang terdengar aneh. Tidak ada yang mencurigakan.

Namun nama itu tetap membuat dada Airi mengencang.

“Kamu Airi, ya?” tanya salah satu teman sekelas Ren. “Bisa minta tolong titip catatan dan tugas ke rumah Ren? Dia dua hari ini nggak masuk.”

Airi mendengus pelan tanpa sadar. Ia ingin menolak. Benar-benar ingin menolak.

Namun bayangan wajah Ren yang pucat, ditambah rasa kasihan yang selalu datang lebih dulu daripada logika, membuatnya mengangguk.

“Iya,” katanya akhirnya. “Aku antar.”

Sore itu, Airi berdiri di depan gerbang rumah Ren.

Rumah itu besar. Modern. Terlalu sunyi untuk ukuran sebuah rumah. Ia tahu orang tua Ren jarang di rumah—ibunya pelukis terkenal yang sering keluar kota, ayahnya musisi yang lebih banyak menghabiskan waktu di studio di kota besar seperti Tokyo. Pembantu biasanya sudah pulang ketika sore menjelang.

Airi menelan ludah.

“Kenapa sih kamu sakit, Ren,” gumamnya pelan. “Kan aku jadi kerepotan gini.”

Tangannya baru saja terangkat untuk mengetuk pintu ketika daun pintu terbuka.

Ren berdiri di hadapannya.

Baju rumahan sederhana. Masker menutupi sebagian wajahnya. Rambutnya sedikit berantakan.

“Airi,” ucapnya kaget.

Matanya melebar, seolah benar-benar tidak menyangka.

“Kamu… tumben ke sini,” katanya. “Kenapa, Airi?”

Airi mengangkat map di tangannya. “Catatan dan tugas. Teman sekelasmu minta.”

“Oh.”

“Aku taruh di sini aja,” lanjut Airi cepat. “Kalau gitu aku pulang—”

Namun sebelum ia sempat melangkah mundur, tangannya ditarik ke dalam rumah.

“Ren—!”

“Tunggu,” kata Ren cepat. “Temenin aku bentar.”

Jantung Airi berdegup lebih cepat. “Ngapain?”

“Aku lapar,” katanya, nadanya terdengar lemah namun manja. “Di rumah makanannya nggak enak. Aku pengen bubur.”

“Buat sendiri lah,” jawab Airi refleks.

Ren tersenyum di balik masker. “Tapi aku pengennya dibuat kamu, Airi.”

Airi menghela napas panjang.

Menyerah.

“Mana alat masaknya?” katanya akhirnya.

Ren menunjuk dapur dengan senyum kecil yang nyaris lega.

Airi sibuk menyiapkan bubur. Rambutnya dikuncir ke atas karena gerah. Dapur sunyi, hanya suara air dan sendok. Sementara itu Ren menutup pintu depan, lalu menuju ruang TV.

Tiga puluh menit berlalu.

Bubur sudah siap.

Airi membawa mangkuk itu ke ruang TV dan menemukan Ren tertidur di sofa. Maskernya sudah dilepas, wajahnya tampak pucat.

Ia meletakkan bubur di meja kecil.

“Ren,” panggilnya pelan, sambil menyentuh pipi Ren singkat.

Tidak ada respons.

Airi mengambil remote, menyalakan TV, mengganti saluran tanpa benar-benar memperhatikan apa yang ditonton.

Tanpa ia sadari, Ren terbangun.

Dan tanpa peringatan, sepasang tangan melingkar dari belakang.

“Terima kasih, Airi,” suara Ren terdengar serak di dekat telinganya. “Kamu perhatian banget.”

Tubuh Airi menegang.

Gerakan Ren selanjutnya terlalu gegabah—terlalu dekat, terlalu cepat. Bibirnya menyentuh belakang leher Airi yang terekspos.

“Ren—” napas Airi tercekat.

Ia mencoba menjauh, namun tenaga Ren lebih kuat. Ren tertawa kecil.

“Kenapa?” bisiknya. “Kamu nggak suka?”

Lalu, dengan nada yang terdengar seperti candaan namun terasa berbahaya, Ren berujar,

“Apa Haruto akan melakukan ini juga?”

Gigitannya tipis. Ringan.

Namun cukup.

Tangisan Airi pecah.

Isakan itu datang tiba-tiba, keras, tidak terkendali. Tubuhnya gemetar, ingatan lama menyerbu tanpa ampun.

Ren membeku.

“Airi…?” suaranya berubah panik. “Airi, maaf—aku nggak bermaksud—”

“Tolong,” suara Airi bergetar hebat. “Ren… lepaskan. Aku takut.”

Kata itu menghantam Ren lebih keras dari apa pun.

Ia langsung melepaskan pelukannya.

Airi tidak menoleh. Tidak berkata apa-apa. Ia meraih tasnya dengan tangan gemetar dan berlari keluar rumah.

Ren berdiri terpaku.

Airi berlari pulang. Napasnya terengah. Tangisnya pecah begitu pintu rumah tertutup. Ibunya bertanya, namun Airi hanya menjawab singkat sebelum mengurung diri di kamar.

Ibunya tidak menyusul.

Ia tahu kapan harus diam.

---

Di rumah yang sunyi itu, Ren duduk sendirian, menatap televisi yang bahkan tidak ia tonton.

“Hal bodoh apa sih yang aku lakukan tadi,” gumamnya lirih. “Kalau Airi menjauh lagi… seperti minggu kemarin… dia akan benar-benar hilang dari pandanganku.”

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Dan untuk pertama kalinya, ketakutan itu terasa nyata.

Takut kehilangan Airi.

---

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!