NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Mobil sedan hitam itu akhirnya berhenti dengan perlahan di depan sebuah rumah dengan pagar kayu yang asri. Suasana lingkungan perumahan Raisa sudah sangat sepi, hanya cahaya lampu jalan yang berpendar temaram.

Fatih mematikan mesin mobilnya, namun ia tidak segera turun. Ia menoleh ke samping dan mendapati Raisa telah terlelap. Mungkin karena beban emosional yang luar biasa hari ini mulai dari menghadapi orang tua Rendi, mengurus Vina, hingga ketegangan di jalan tadi yang membuat pertahanan Raisa runtuh oleh rasa kantuk yang hebat.

Kepala Raisa sedikit miring bersandar pada kursi mobil, napasnya teratur dan tenang. Dalam balutan cahaya lampu kabin yang redup, wajah Raisa tampak jauh lebih lembut, tidak ada ketegasan Ice Queen yang biasa ia tunjukkan di sekolah pada murid murid nya.

Fatih terdiam. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap Raisa. Fatih ingin membangunkan raisa dengan memegang pundak perempuan berhijab itu, namun Fatih segera menarik kembali niatnya.

Sebagai seorang pria yang memegang teguh prinsip dan nilai agamanya, ia sangat menjaga batasan. Baginya, menyentuh seseorang yang bukan mahramnya adalah garis yang tidak akan ia langgar, kecuali dalam keadaan medis atau dalam keadaan darurat.

Ia membiarkan Raisa beristirahat selama beberapa menit. Fatih hanya memperhatikan gerbang rumah Raisa, memastikan tidak ada tanda-tanda mencurigakan di sekitar sana. Baginya, menunggu adalah bentuk perlindungan yang paling sopan saat ini.

Setelah merasa cukup, Fatih berdeham pelan, lalu memanggil namanya dengan suara yang rendah namun jelas.

"Raisa..."

Tidak ada respon. Fatih mencoba lagi, kali ini sedikit lebih keras namun tetap dengan nada yang lembut.

"Raisa... kita sudah sampai."

Raisa bergerak sedikit, bulu matanya bergetar sebelum akhirnya ia membuka mata dengan perlahan. Ia tampak linglung sejenak,

menatap interior mobil yang asing baginya sebelum kesadarannya pulih sepenuhnya.

"Astaghfirullah..." Raisa langsung menegakkan duduknya, wajahnya memerah karena malu. "Maafkan saya, Dokter. Saya... saya benar-benar tidak sengaja tertidur."

Fatih tetap menatap ke depan, memberikan ruang bagi Raisa untuk merapikan diri tanpa merasa terintimidasi. "Tidak perlu minta maaf. Tubuh Anda hanya meminta haknya setelah hari yang panjang. Kita sudah di depan rumah Anda."

Raisa melihat ke luar jendela dan benar saja, ia sudah berada di depan rumahnya. "Terima kasih banyak, Dokter Fatih. Untuk tumpangannya juga untuk makan malamnya. Saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan Anda."

"Cukup pastikan pintu rumah Anda terkunci rapat malam ini," jawab Fatih singkat sambil menoleh sekilas. "Masuklah. Saya akan menunggu sampai Anda masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu."

Raisa mengangguk, ia turun dari mobil dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Saat ia melangkah masuk ke halaman rumah dan memutar kunci di pintu depan, ia menoleh sekali lagi dan melambaikan tangan kecil.

Fatih hanya memberikan anggukan kepala dari dalam mobil sebelum akhirnya menyalakan mesin dan berlalu pergi setelah memastikan Raisa aman di dalam.

Malam itu, di dalam mobil yang kembali sunyi, Fatih bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Logika memang bisa menjelaskan segalanya, tapi tidak dengan detak jantung ini."

......................

Keesokan paginya, suasana di ruang guru tidak sehangat biasanya. Meski sinar matahari masuk melalui celah jendela, atmosfer di dalam ruangan itu terasa dingin dan kaku bagi Raisa. Sejak ia melangkahkan kaki masuk, bisik-bisik yang terhenti tiba-tiba dan lirikan sinis dari beberapa rekan sejawat menjadi sambutan yang tidak menyenangkan.

Raisa meletakkan tasnya di meja, mencoba mengabaikan tatapan-tatapan itu. Namun, Bu Ratna, guru senior yang dikenal vokal dan cenderung selalu mengkritik rekan kerjanya, sengaja berbicara dengan nada keras kepada guru di sebelahnya agar terdengar oleh Raisa.

"Zaman sekarang, jadi guru itu yang penting mengajar saja, ya kan? Enggak perlu sok jadi pahlawan sampai mengusik urusan orang besar. Kalau sekolah kita kena imbasnya, siapa yang mau tanggung jawab?" sindir Bu Ratna sambil mengikir kukunya.

Pak Heru yang biasanya netral, kali ini ikut menimpali dengan nada khawatir. "Betul juga. Saya dengar Pak Baskoro itu donatur tetap beberapa kegiatan wilayah. Kalau dia tersinggung karena masalah internal siswi yang... yah, kita tahu sendiri latar belakangnya, bisa repot kita semua."

Raisa menarik napas dalam-dalam, tangannya merapikan tumpukan buku tugas murid. Ia tahu sindiran itu ditujukan padanya.

"Maksud Bapak dan Ibu, kita harus diam saja saat melihat ketidakadilan di depan mata?" tanya Raisa tenang, meski hatinya bergemuruh. ia memutar kursi menghadap rekan-rekannya.

Bu Ratna tertawa hambar. "Bukan diam, Bu Raisa. Tapi 'tahu diri'. Kita ini cuma guru honorer dan PNS biasa. Pak Baskoro itu punya kuasa. Gara-gara tindakan impulsif Bu Raisa kemarin yang membawa-bawa polisi dan mendesak anak itu bercerita, sekarang nama sekolah kita jadi sorotan. Bagaimana kalau Pak Baskoro menuntut balik?"

"Vina adalah murid kita, Bu Ratna. Melindunginya bukan tindakan impulsif, itu kewajiban," balas Raisa tegas.

"Kewajiban itu ada batasnya, Raisa," potong Pak Heru. "Jangan sampai karena idealisme satu orang, seluruh guru di sini kena getahnya. Kami dengar Pak Baskoro sudah mulai mengirim 'orang-orangnya' untuk memantau sekitar. Apa Bu Raisa tidak merasa terancam? Atau jangan-jangan Bu Raisa sengaja cari panggung?"

Kalimat terakhir itu benar-benar menusuk. Raisa nyaris membalas ketika pintu ruang guru terbuka lebar. Pak Surya masuk dengan wajah serius, membuat suasana mendadak senyap.

"Sudah cukup " ujar Pak Surya dengan suara baritonnya. "Saya yang bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil Bu Raisa kemarin. Jika ada yang merasa keberatan dengan ditegakkannya kebenaran di sekolah ini, silakan menghadap saya di ruang kepala sekolah."

Bu Ratna dan Pak Heru segera pura-pura sibuk dengan dokumen di meja masing-masing. Pak Surya berjalan mendekati meja Raisa dan memberikan secarik kertas kecil.

"Jangan dengarkan mereka. Tetap fokus pada pemulihan Vina. Dan... ada seseorang yang menunggu Anda di depan gerbang. Katanya, dia ingin memastikan Anda sampai di sekolah dengan aman," bisik Pak Surya dengan senyum penuh arti.

Raisa mengernyit bingung. Ia melangkah menuju jendela yang menghadap ke gerbang sekolah. Di sana, terparkir sebuah mobil sedan hitam yang sangat ia kenal. Sosok pria tinggi dengan kemeja rapi tampak berdiri bersandar di pintu mobil sambil sesekali melihat jam tangannya.

Dokter Fatih.

Raisa tertegun. Mengapa pria itu ada di sini? Dan yang lebih mengejutkan lagi, Fatih seolah tahu ia sedang diperhatikan, pria itu mendongak, menatap langsung ke arah jendela ruang guru, dan memberikan anggukan kecil yang sangat tipis namun tegas.

......................

Gavin yang baru saja turun dari motor di parkiran siswa, nyaris melepaskan helmnya dengan tidak santai saat melihat pemandangan di depan gerbang. Matanya menyipit, memastikan bahwa pria tinggi yang berdiri di samping sedan hitam itu benar-benar orang yang ia kenal.

"Lah? Itu kan Si Kutub Utara?" gumam Gavin tak percaya.

Tanpa membuang waktu, Gavin berlari kecil menghampiri Fatih. Rian yang baru sampai di sampingnya pun ikut melongo. "Vin, itu bukannya dokter Fatih ya? Ngapain dia pagi pagi di sekolah kita?"

Gavin tidak menjawab. Ia justru mempercepat langkahnya dengan seringai jahil yang mulai terukir di wajahnya.

"Waduh, waduh! Ada angin apa nih, Om Dokter yang super sibuk sampai bisa terdampar di depan gerbang sekolah?" seru Gavin dengan nada tengil yang khas, sengaja mengeraskan suaranya agar beberapa siswi yang sedang mencuri pandang ke arah Fatih bisa mendengar.

Fatih hanya menoleh sedikit, ekspresinya tetap datar seperti papan penggilasan. "Gavin. Masuk ke kelas, sudah hampir jam pelajaran dimulai."

Gavin justru bersedekap, bersandar di pilar gerbang tepat di samping pamannya. "Bentar dulu dong, Om. Gue lagi menganalisis fenomena langka nih. Seorang Muhammad Fatih Ar-Rais, yang biasanya kalau nggak di rumah sakit ya di perpustakaan, tiba-tiba jadi satpam gerbang sekolah pagi-pagi begini."

Gavin melirik ke arah jendela ruang guru di lantai dua, lalu kembali menatap Fatih dengan tatapan menyelidik. "Jangan-jangan... Om lagi nungguin Bu Raisa ya? Hayoo, ngaku!"

"Gavin, jaga bicaramu," ucap Fatih dingin, meski ada sedikit kilatan tidak nyaman di matanya karena digoda oleh keponakannya sendiri.

"Halah, sok jaim! Kemarin di rumah sakit aja sok-sok perhatian nganterin pulang," cerocos Gavin tanpa rem.

Rian di belakang Gavin hanya bisa menahan tawa sambil menutup mulutnya, ngeri-ngeri sedap melihat aura dingin yang mulai terpancar dari tubuh Fatih.

Tepat saat itu, Raisa berjalan keluar dari gedung sekolah menuju gerbang karena merasa tidak enak melihat Fatih menjadi tontonan. Saat ia sampai, ia disambut oleh cengiran lebar Gavin.

"Pagi, Bu Raisa! Lihat nih, ada paket kiriman dari masa depan sudah stand-by di depan gerbang," goda Gavin sambil menunjuk Fatih dengan jempolnya.

"Gavin! Masuk kelas sekarang atau Ibu tambah tugas nya?" ancam Raisa dengan wajah yang mulai memerah, antara malu dan kesal.

"Siap, laksanakan! Duh, baru digoda dikit aja sudah kompak banget kalian berdua marahnya," celetuk Gavin sambil mulai melangkah mundur. "Semangat ya Om Fatih perjuangannya! Inget, Bu Raisa itu tipenya yang harus didekati pakai hati, bukan pakai resep obat!"

Gavin tertawa lepas sambil lari terbirit-birit masuk ke dalam sekolah sebelum Fatih sempat melakukan tindakan medis darurat untuk membungkam mulutnya.

Fatih menghela napas panjang, lalu kembali menatap Raisa yang kini berdiri di hadapannya dengan kikuk. "Maafkan keponakan saya. Dia memang kurang dididik soal sopan santun di rumah."

Raisa mencoba mengatur napasnya. " saya faham dok "

Fatih mengangguk singkat. "Dan kedatangan saya ke sini bukan hanya untuk memastikan keamanan Anda dari orang-orang Baskoro, tapi juga karena saya tahu hari ini Anda akan menghadapi tekanan di dalam sana."

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!