Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tujuh
Aku hanya tersenyum miring melihat foto yang Aaliyah kirimkan padaku tiga jam yang lalu. Foto manusia gengsi setinggi menara sedang makan klepon buatanku sembari membaca buku.
Cih!
Aku menyimpan kembali ponselku ke dalam tas ransel. Saat ini Aku sedang menunggu hujan reda. Sudah jam dua siang Aku masih terjebak di kantor lurah, di tambah perut yang mulai keroncongan minta diisi. Lengkaplah sudah ujian Kim Dinda hari ini.
Sedari tadi Aku menunggu penjual makanan lewat, tapi satu pun tidak ada yang menampakkan diri. Padahal biasanya ramai berbagai gerobak menjual jenis makanan, nangkring di depan pagar kantor lurah.
Bagas lah yang selalu membelikan Aku jajanan-jajanan itu, terutama ketika sedang dalam keadaan seperti ini. Dia juga akan menungguiku sampai hujan berhenti.
Kalau saja Aira memberikan tantangan pacaran sama Bagas, maka Aku tidak perlu repot-repot lagi untuk mengejar lelaki yang Aku tidak tahu seperti apa penilaiannya terhadapku.
Ditambah Nilai plus-nya Bagas adalah dia yang mengejarku.
‘Ah kenapa Aku jadi teringat dengan tuh bocil?’
“Kak Dindaaa... ”
Aku tersadar dari lamunanku, suara itu Aku mengenalnya. Aku mencari asal suara.
Di depan gerbang kantor lurah muncul sebuah mobil putih dan salah satu kacanya sengaja di turunkan. Aisyah, gadis kecil itu tengah melambaikan tangan ke arahku.
“Kakak... ” panggilnya lagi. Aku membalas lambaian tangannya.
Aku tidak punya payung untuk menghampiri. Aku hanya mengisyaratkan melalui gerakan tangan tentang diriku yang masih menunggu hujan dan belum bisa pulang.
Suara lagu Jump-BTS part Kim Taehyung berasal dari dering ponselku mengejutkan semua orang di teras kantor lurah yang juga tengah menunggu hujan.
Telpon masuk dari nomor yang tidak dikenal. Aku sengaja mengabaikan panggilan itu, Aku malas meladeni nomor yang tidak kukenal, kirim pesan saja, itulah status WA-ku. Tapi ketika panggilan ketiga membuat seorang ibu-ibu menegurku;
“Dek, mau diangkat nggak sih? Kalo nggak mau, sini nanti budhe yang angkat. Budhe pusing dengernya, jantung budhe juga jadi berdebar kencang.” ungkapnya, memang Aku lihat ibu itu selalu memegang dada kirinya setiap dering ponselku berbunyi.
“Iya Bu, Maaf. Maklum, ini orang nelpon mau pinjam duit.” jawabku asal.
Ibu itu mengangguk dan meng-oh kan ucapanku, “Kalau gitu emang lebih baik diemin aja deh, nggak usah diangkat.” sahut ibu itu tampak kesal, sepertinya dia punya pengalaman tersendiri.
Ting!
Nomor itu mengirimkan pesan. Ternyata nomor Aisyah. Aku memang belum sempat bertukar nomor dengan gadis kecil itu, sebab Aku pikir dia belum punya ponsel.
Karena khawatir mengejutkan orang-orang lagi, Aku yang menghubungi Aisyah lebih dulu.
“Kak Dindaaa... ” Aku menjauhkan ponsel dari telingaku, suara Aisyah sungguh memekakkan telinga, hingga orang di sebelahku langsung menoleh. “Kakak pulang bareng kita aja!”
Aku dan Aisyah berbicara melalui ponsel, namun kami saling lihat dan mengekspresikan setiap yang kami ucapkan. Aku pikir mobil putih itu sudah pergi, ternyata hanya maju sedikit agar tidak menghalangi jalan, “Makasih, Cha. Tapi Kakak bawa motor. Kamu duluan aja. Kakak mau tunggu sampai hujan berhenti.”
Aku lihat dia menggeleng, “Jangan, Kak! Kakak bibirnya udah pucat banget itu, udah kayak kumbang larva. Nanti Kakak sakit.” ucap Aisyah penuh perhatian tapi berbalut ejekan.
Dasar!
“InsyaAllah nggak. Nanti Kakak pakai liptint aj—”
Aku tidak bisa melanjutkan kata-kata saat suamiku, ah maksudnya Kim Taehyung Kw keluar dari pintu kemudi. Dia berjalan cepat memasuki halaman kantor lurah, dengan payung berukuran sedang berwarna pink di tangan kanannya, dia menghampiriku?
“Ayo cepat!” katanya.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri barangkali bukan Aku yang diajaknya sebab dia tidak menatapku, tapi semua orang malah menatap ke arahku, Aku menunjuk jari telunjuk tepat depan hidungku, “Aku?” tanyaku.
“Dek, kalau nggak mau budhe aja yang ikut mas ganteng.” kata ibu tadi.
Aku mengerjap beberapa kali, masih mencerna. Apa dia baik karena makan klepon harga tiket konser buatanku pagi tadi?
“Cepat, Dinda!” katanya lagi sedikit mendesak.
Aku tersentak, “Ah, i-iya Kakanda.”
“Cieeee... ” goda orang-orang yang ada di sekitarku.
“Dinda dan Kanda, uhuy!”
“Dinda cepetan Kakanda udah nungguin tuh!”
*Blushing*... Aku yakin pipiku sudah semerah cabe mercon saat ini. Bisa aja sih orang-orang godain Aku.
Dengan menundukkan wajah, Aku mendekati lelaki itu yang masih menungguiku di bawah payung pink.
“Ayo, Mas.” ucapku pelan, khawatir didengar lagi oleh orang-orang. Khawatir juga akan ada godaan part dua.
Kami berjalan beriringan menuju mobil, dia pun membukakan pintu tengah untukku.
“Terima kasih.” ucapku sebelum masuk.
Tapi dia tidak menjawab. Ish!
“Kak Dinda, akhirnyaaa!” ujar Aisyah saat Aku masuk dalam mobil, dia memelukku. “Kakak nggak basah sama sekali?”
Aku memperhatikan baju juga tas ransel yang masih dalam pelukanku. Aman, semuanya aman. Hanya rokku saja yang terkena sedikit cipratan genangan air hujan.
Ceklek, Bruk! Suara pintu mobil belakang di buka dan di tutup.
“Jangan menoleh!” kata suara manusia kulkas, seolah tahu Aku akan menoleh.
Tapi emang iya sih, jiwa kepoku meronta-ronta padahal.
“Bang Aydan sedang ganti baju, bajunya yang tadi basah semua.” Aisyah membisikkanku.
Seketika Aku tertegun. ‘Apa bajunya basah karena menolongku?’
“Santai aja, Kak. Nggak usah tegang nggak usah merasa bersalah. Jangankan Kakak, kucingku aja Abang tolong kalo terjebak hujan.” kata Aisyah saat Abangnya keluar untuk pindah ke kursi kemudi.
Aku menghela ringan, baru saja ke-ge-eran karena diperhatiin. Ternyata...
Jangan-jangan dia melakukan ini juga karena desakan Aisyah.
Krucuk... Krucuk...
Aku memejamkan mata saat perutku mengeluarkan suara.
“Jangan bilang Kak Din belum makan?” kata Aisyah menatapku khawatir.
Aku hanya menarik kedua sudut bibirku, “Aman kok, aman. Udah biasa.” jawabku santai.
Mobil putih yang Aku tumpangi tiba-tiba berputar arah.
Loh? Ini bukan jalan pulang, dia pasti lupa jalannya—loh? Kok berhenti?
‘Oh dia mau belanja.’ ucapku dalam hati, saat melihat lelaki itu masuk ke dalam minimarket.
Aku dan Aisyah mulai mengobrol bebas, sebab jika ada manusia kulkas atmosfer dalam mobil terasa angker. Tapi Lima menit kemudian, lelaki yang memakai pakaian casual itu kembali ke mobil dengan membawa dua plastik putih. Satu diletakkannya di kursi samping kemudi, plastik sisanya dia ulurkan di depanku, tentunya tanpa menoleh.
Aku hanya menaikkan sebelah alisku.
Sedangkan Aisyah berinisiatif mengintip isi plastik yang belum Aku terima. “Ini untuk Kak Dinda ya, Bang?” tanyanya.
“Hm.” jawabnya singkat.
Aisyah mengambil plastik itu, dan mengeluarkan isinya. Satu box bening buah potong berukuran besar.
Aku menatap kosong buah itu, tapi hatiku seketika menghangat, rasanya ada kupu-kupu menari dalam perutku. Tapi Aku juga tidak mau ke-ge-eran lagi.
“Ayo Kak Din, dimakan. Buah memang paling bagus dimakan saat perut kosong.” ujar Aisyah seraya tangannya membuka box itu.
Aku menerimanya, dan mulai menusukkan garpu plastik ke salah satu buah. Air mataku tiba-tiba jatuh saat satu potong buah masuk ke dalam mulutku.
“Loh? Kak Din kenapa nangis?”
Sontak Aku menundukkan wajah, dan menghapus air mataku dengan ujung jilbab.
“Nggak kok, itu—buahnya asem banget sampai bikin keluar air mata.” Aku memberikan alasan.
Aydan tiba-tiba menoleh ke belakang, dia mengambil garpu yang tadi Aku pakai dan menusuk buah yang sama.
‘Lah kok dia tahu buah yang Aku makan?’
Mataku membola, dan Aku menahan napas ketika melihat dia makan dengan garpu yang sama denganku?
“Saranku, secepatnya kamu periksakan diri ke rumah sakit.” katanya setelah menelan buah semangka yang sangat merah menggoda.
Apa katanya?
Aisyah tertawa cekikikan mendengar ucapan Abangnya.
“Kak Din, mana ada semangka yang asemnya sampe ngeluarin air mata.” ujarnya.
Aku mendengar suara kekehan dari depan sana, ‘Apa dia menertawaiku?’
Huh! Kurang asem!
Aku makan buah potong itu hingga tandas setelah sebelumnya menawarkan Aisyah, namun gadis kecil itu menolak. Dia tidak suka buah katanya. Padahal tadi dia bilang buah itu bagus!? Dasar perempuan memang sulit ditebak.
Aku baru menyadari bahwa Aisyah sudah tertidur saat ingin memasukkan box kosong bekas buah potong ke dalam plastiknya. Pantas saja sedari tadi Aku ajak bicara, tidak ada sahutan darinya.
Kini tinggallah Aku dan manusia kulkas yang masih terjaga di dalam mobil. Tapi Aku memilih menatap luar jendela, nanti saja melanjutkan usaha tiket konser. Sedang tidak mood.
Karena hujan lebat membuat jalanan menjadi macet total. Entah akan sampai kapan—semua kendaraan berjalan bagaikan siput. Beruntung Aku sudah makan, tidak tahu apa jadinya Maag-ku jika telat makan lebih lama lagi.
\*
“Dinda sudah bangun?” suara lembut itu langsung menyapa telingaku saat membuka mata.
Mataku langsung terbuka lebar, Aku tidak mengenal tempat ini.
“Dinda?” panggil suara itu lagi.
Aku perlahan bangkit, “Ummi?” ucapku setelah melihat sosok itu.
Wanita itu tersenyum lembut, “Kamu ada di rumah Ummi, Cantik.”
Aku menatap netra teduh wanita paruh baya itu dengan kening mengkerut.
“Dinda pasti bingung ya?” tanyanya, dengan senyum yang selalu menghiasi wajah teduhnya, “Ayah sama ibu kamu menitipkan kamu sama Ummi. Karena harus pulang kampung, ada saudara yang meninggal katanya.”
Aku mengangguk pelan, kepalaku sedikit pusing.
“Kenapa, Nak?” tanya Ummi Lailatul cemas.
“Dinda belum shalat, Ummi.”
“Ummi bantu ya?”
Aku ingin menolak tapi Ummi Lailatul langsung memegang tanganku.
“Astaghfirullah... Dinda kamu demam, Nak?” ujarnya, lalu menyentuh keningku dan seluruh wajahku. Wajah Ummi terlihat sangat khawatir.
Aku mengambil tangan Ummi, “Nggak papa Ummi, nanti sembuh sendiri.”
Meski demam Aku harus tetap melaksanakan shalatku yang sudah sangat terlambat, bahkan hanya jarak lima menit selesai shalat, sudah terdengar suara adzan untuk waktu shalat berikutnya. Waktu shalat ini juga sebagai penundaan untukku menelan sesuatu yang sangat Aku hindari. Aku tidak suka minum obat, obat adalah musuhku. Aku berharap setelah shalat Aku tidak demam lagi.
‘Sebentar—’ Aku baru menyadari sesuatu, ‘siapa yang membawaku ke kamar ini?’
***
lanjut thor pen tau reaksi mas dokter apa masih murka atau malah berbunga-bunga 🤭
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo