Pangeran Gautier de Valois.
Ia mengenakan seragam Duke-nya, seragam berwarna biru tua dengan hiasan perak yang berkilauan. Postur tubuhnya tegak sempurna, memancarkan aura bahaya dan otoritas yang membuat ruangan terasa kecil. Matanya—abu-abu sekeras baja—menatap Amélie tanpa ekspresi, seolah-olah sedang menilai kuda pacu yang tak berguna.
"Pernikahan. Kau, Amélie LeBlanc, akan menikah dengan Pangeran Gautier de Valois dalam waktu satu bulan."
"Apa? Ini gila! Saya tidak akan—"
"Ini bukan permintaan, Countess,"
"Ini adalah dekrit dari Tahta. Aku butuh pewaris dan Raja membutuhkan stabilitas politik yang diberikan oleh aliansi dengan Countess yang memiliki koneksi luas. Keluargamu, melalui Éloi, menawarkan penyelesaian utang kuno ini. Pernikahan, dengan segera. Aku tidak tertarik padamu, atau pada intrik keluargamu. Anggap ini transaksi dan aku tidak menerima penolakan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iseeyou911, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 (Kehidupan Ganda di Balik Tirai)
Dua minggu setelah pernikahan, kehidupan Duchess Amélie de Valois telah menemukan ritme yang aneh dan teratur di Sayap Duke Valois di Versailles. Ritme yang didominasi oleh kebohongan dan perpisahan yang disengaja.
Di pagi hari, Amélie adalah Duchess yang sempurn, menghadiri sesi sarapan kerajaan dengan wajah tenang, menyambut para bangsawan dengan senyum anggun dan mengelola aset LeBlanc dari kejauhan dengan kecerdasan yang membuat siapapun iri. Di depan publik, dia dan Gautier adalah pasangan yang didominasi oleh kewajiban politik, mereka saling menghormati dan selalu muncul bersama di acara-acara penting, namun sentuhan mereka jarang dan formal.
Di balik pintu, mereka adalah orang asing, terikat oleh kontrak yang dingin dan ruang tidur yang terpisah. Gautier sering menghilang. Terkadang, ia pergi pagi-pagi sekali, mengenakan pakaian berkuda yang sederhana, tanpa pengawalan militer resminya. Ia akan kembali larut malam, tampak lelah, tetapi matanya memancarkan ketenangan yang hilang ketika berada di Versailles. Amélie tahu ke mana Gautier pergi. Dia pergi ke Seraphine.
Kewajiban Gautier yang sering absen adalah anugerah terbesar Amélie. Itu memberinya waktu luang dan alasan yang sempurna untuk pergerakan diam-diam.
Pagi itu, Gautier baru saja kembali dari salah satu perjalanannya. Amélie sedang berpakaian untuk audiensi pagi dengan Permaisuri, mengenakan gaun sutra biru tua yang menonjolkan keanggunannya.
Gautier masuk ke ruang pertemuan pribadinya, yang terhubung dengan kamar suite mereka. Dia baru saja mandi, rambutnya yang gelap masih lembap.
"Kau pergi pagi ini?" tanya Amélie, tanpa menoleh, memasang anting-anting mutiara.
"Aku harus bertemu Jenderal Vaudreuil di Paris. Urusan militer," jawab Gautier, nadanya datar dan acuh tak acuh. Dia mengenakan jubah Duke Valois-nya.
Amélie berbalik, matanya menatapnya lurus. "Anda bisa berbohong kepada Permaisuri, Pangeran. Tetapi tidak kepada saya. Paris adalah 2 jam. Anda pergi dua hari. Saya harap kekasih Anda baik-baik saja."
Gautier menegang. Kemarahannya terpancar dari matanya yang abu-abu. "Aku bilang jangan pernah mencampuri urusan pribadiku, Amélie. Seraphine tidak ada hubungannya dengan permainan ini."
"Seraphine adalah kelemahan Anda, Pangeran. Dan saya harus tahu kelemahan musuh saya," balas Amélie, berjalan mendekat. "Jika Anda menghabiskan dua hari di Paris hanya untuk menemuinya, maka Anda tidak fokus pada Tahta. Dan jika Anda gagal, kehancuran itu akan menyeret saya dan nama LeBlanc."
Gautier mendekat, auranya memancarkan bahaya. "Aku tahu tugas dan batasku. Dan batasku, Countess, adalah ruang pribadiku. Jangan pernah mengikuti jejakku. Jika kau melakukannya, aku akan menganggapnya sebagai pelanggaran kontrak."
"Saya menghormati kontrak yang menyatakan kita hidup terpisah," balas Amélie. "Saya hanya memanfaatkan jeda itu untuk tujuan saya sendiri."
"Dan apa tujuanmu sekarang?" tanya Gautier, nadanya berubah menjadi waspada. "Aku sudah memberimu akses ke arsip untuk silsilah LeBlanc. Apakah itu tidak cukup?"
Amélie tersenyum dingin. "Arsip silsilah hanya membuat saya sadar betapa berantakannya warisan yang Anda pinjamkan kepada saya, Pangeran. Sekarang, saya harus memperluas penyelidikan saya ke dalam keuangan Tahta. Saya harus memastikan uang yang Anda gunakan untuk melunasi utang keluarga saya telah dicatat secara sah. Jika tidak, Éloi bisa menggunakannya untuk menuntut pengembalian atau bahkan membatalkan pernikahan kita dengan alasan penipuan."
Ini adalah pembenaran yang cerdas. Gautier menatapnya, mempertimbangkan.
"Kau cerdik, Countess," kata pria itu akhirnya, membalikkan badan dan mengambil sarung tangannya. "Baik. Kau mendapatkan apa yang kau inginkan. Akses ke arsip keuangan. Tapi ingat, setiap pergerakanmu dipantau Dubois. Jangan berani-berani mencari dokumen yang berkaitan dengan rencana militer, Tahta, atau wanita."
"Saya hanya mencari neraca keuangan, Pangeran," jawab Amélie. "Saya tidak tertarik pada perang Anda, atau pada selera Anda."
Gautier keluar tanpa kata-kata lagi. Pintu tertutup. Amélie menghela napas, lega. Dia berhasil. Akses ke arsip keuangan adalah kunci. Di sanalah dia akan menemukan jejak Éloi dan rahasia kematian orang tuanya.
...*****...
Amélie memulai penyelidikan yang sebenarnya malam itu. Setelah memastikan Gautier benar-benar pergi ke Paris dan Dubois sibuk dengan tugasnya di sayap Duke, Amélie menggunakan lorong rahasia dari kamarnya untuk menuju ke Perpustakaan Valois.
Namun, kali ini, dia tidak hanya mencari arsip keluarga yang berdebu. Dia mencari Arsip Keuangan Kerajaan.
Setelah tiga jam mencari di antara buku-buku besar yang berat dan rumit, Amélie menemukan bagian yang tersembunyi. Buku besar dengan label Pengeluaran Rahasia Tahta – Tahun 1792. Itu adalah tahun di mana ayahnya, Count LeBlanc, meninggal.
Amélie membuka buku itu. Di dalamnya, sebagian besar dicatat sebagai 'Pengeluaran Militer' dan 'Donasi Kerajaan'. Tetapi di antara catatan-catatan itu, ada satu entri yang menonjol, di bagian yang berbeda dari pengeluaran lain.
17 April 1792: Penyaluran dana besar ke Comte Éloi de Beaumont di bawah persetujuan Kanselir Lama. Tujuannya "Pembelian Aset Strategis di Paris Timur." Jumlahnya besar—sepuluh kali lipat utang keluarga LeBlanc.
Amélie membeku. Éloi menerima uang dari Tahta di tahun yang sama dengan kematian ayahnya dan itu bukan untuk melunasi utang, tetapi untuk "Pembelian Aset Strategis."
"Pembelian aset strategis apa?" bisik Amélie pada dirinya sendiri, jemarinya menelusuri tinta yang pudar.
Ini tidak masuk akal. Ayahnya meninggal dalam kecelakaan saat perjalanan ke Paris. Éloi yang mengurus semua urusan dan mengumumkan utang keluarga segera setelahnya.
Amélie terus membalik halaman, mencari korespondensi yang mungkin menjelaskan entri ini. Ia menemukan surat yang diselipkan di antara dua lembar catatan bank.
Surat itu ditulis oleh Kanselir Lama kepada Éloi de Beaumont. Tulisan tangannya berantakan, jelas ditulis dalam keadaan tertekan.
...Éloi, dana telah disalurkan sesuai permintaanmu. Tetapi kau harus memastikan LeBlanc tidak pernah tahu. Terutama Count Henri. Jika Henri tahu aset yang ia persiapkan untuk...
Tinta surat itu tiba-tiba berhenti, seolah-olah penulisnya disela secara paksa. Surat itu terpotong di tengah kalimat.
Amélie merasakan dingin yang mengerikan merayapi punggungnya. Aset strategis? Pembayaran besar? Surat yang terputus?
Ini bukan tentang utang. Ini adalah tentang perdagangan rahasia yang melibatkan Tahta dan Éloi. Ayahnya mungkin mencoba menghentikannya dan Éloi menggunakan uang itu untuk membungkamnya atau mengambil alih sesuatu yang sangat berharga yang dimiliki Count LeBlanc. Dan kematian ayahnya mungkin bukan kecelakaan.
Amélie menyalin setiap kata, setiap tanggal, ke dalam buku catatannya. Ia harus membawa bukti ini kepada Sœur Céleste.
...*****...
Beberapa hari kemudian, Amélie menghadapi dilema baru. Ia perlu meninggalkan Versailles untuk menemui Céleste, tetapi pergerakannya dibatasi selama enam bulan.
Ia memutuskan untuk mengikuti jejak Gautier. Jika Gautier bisa meninggalkan istana tanpa terdeteksi untuk menemui kekasihnya, ia juga bisa.
Amélie menyamar dengan gaun pelayan sederhana dan tudung, menggunakan uang yang ia simpan. Ia menunggu malam dan mengikuti rute yang biasa digunakan oleh Gautier—ia telah mengamati pelayan yang menyiapkan kuda Gautier di pagi hari dan membersihkan gudang tertentu di malam hari.
Dia meninggalkan Versailles melalui gerbang layanan, berjalan kaki hingga ke kota kecil di luar Paris, tempat yang dikenal sebagai perkampungan seniman dan penari.
Jantungnya berdebar kencang saat ia menyusuri jalanan yang ramai. Ia merasa rentan, jauh dari perlindungan (dan penjara) Valois.
Ia mencari teater kecil, tempat di mana penari biasa tinggal. Setelah bertanya-tanya pada beberapa pedagang, ia menemukan alamat yang sering dikunjungi oleh seorang Duke kaya yang mencintai seni.
Di ujung jalan setapak yang sempit, terdapat rumah kecil yang terawat. Ada bayangan cahaya di jendela.
Amélie memberanikan diri mendekat. Ia melihat ke dalam melalui celah kecil di jendela kayu.
Di dalam, Seraphine sedang menari. Dia tidak menari di atas panggung, tetapi di ruangan kecilnya, menari dengan musik yang hanya ada di kepalanya. Dia mengenakan gaun putih sederhana, gerakannya anggun, bebas dan penuh gairah. Dia adalah kebalikan dari Amélie yang kaku.
Dan kemudian, Gautier muncul.
Dia tidak mengenakan seragam, melainkan kemeja longgar yang sederhana. Dia tidak berdiri tegap seperti Duke Valois, melainkan bersandar santai di kusen pintu, dengan mata penuh cinta dan kekaguman. Dia tampak muda, rileks, dan—yang paling mengejutkan Amélie—bahagia. Itu adalah Gautier yang sama sekali berbeda dari pria yang ia nikahi.
"Kau menari seolah-olah kau sedang mencoba terbang, mon amour," kata Gautier, suaranya lembut, sama sekali berbeda dari nada perintahnya di Versailles.
"Aku menari untuk melupakan," jawab Seraphine, suaranya merdu. "Melupakan bahwa suamiku ada di Versailles, di samping wanita lain, yang mungkin sebentar lagi akan mengandung anakmu."
Wajah Gautier seketika menjadi gelap. Ia berjalan ke Seraphine dan memeluknya erat-erat, seolah-olah dunia mereka akan berakhir.
"Aku minta maaf, Seraphine," bisik Gautier. "Itu hanya formalitas. Kau tahu, hatiku, jiwaku, segalanya adalah milikmu. Pernikahan itu... hanya sementara. Begitu aku mendapatkan pewaris dan mengamankan posisiku, Raja tidak akan bisa mengancammu lagi. Aku akan membawamu keluar dari Prancis dan kita akan bebas."
Seraphine mendongak, matanya penuh air mata. "Aku tidak takut pada Raja, Gautier. Aku takut pada kebohongan yang mengikatmu pada wanita itu. Countess Amélie. Dia cantik. Dia cerdas. Bagaimana jika kau mulai mencintainya, karena dia adalah istrimu yang sah dan dia yang bisa memberimu segalanya?"
Gautier memegang wajah Seraphine dengan kedua tangannya, tegas dan meyakinkan. "Jangan pernah berpikiran seperti itu. Amélie adalah alat politik dan aku sudah memastikan dia tahu itu. Kami memiliki perjanjian. Dia ingin kebebasan untuk dirinya sendiri. Aku ingin kebebasan untuk kita. Kami tidak pernah akan menjadi pasangan yang sebenarnya."
Amélie, di luar jendela yang dingin, mendengar setiap kata. Itu menyakitkan, tetapi juga memberikan konfirmasi yang kuat.
Pertama, Gautier mencintai Seraphine. Cinta ini adalah kelemahan terbesarnya dan kunci kebebasan Amélie.
Lalu yang kedua, Gautier berencana membatalkan pernikahan setelah mendapatkan pewaris, agar dia bisa bebas bersama Seraphine.
Amélie tidak bisa menahan diri. Dia harus memastikan satu hal lagi.
Saat Gautier mencium Seraphine dengan penuh hasrat, Amélie melihat dompet kulit yang tebal tergeletak di meja kecil di sudut.
Ini adalah waktunya.
...*****...