Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?
Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Kepergian Alana ternyata tidak membuat api dendam padam, ia justru meninggalkan bara yang kini ditiup kembali oleh tangan yang sama. Nadya merasa kemenangannya belum tuntas. Alana seharusnya menjadi penghancur, bukan martir yang pergi dengan pengorbanan.
Satu minggu setelah Ares diperbolehkan pulang ke rumah, dengan kondisi fisik yang lemah dan ingatan yang masih berkabut, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan gerbang utama kediaman Wijaksana.
Andrew sedang membantu mendorong kursi roda Ares berjalan di taman belakang saat pelayan rumah datang dengan wajah pucat. "Mas Andrew... ada tamu di depan. Beliau memaksa masuk dan bilang... dia adalah Ibu Mas Andrew."
Andrew mengernyit. Papi Adrian sedang di kantor, dan Mommy Revana sedang berada di dalam rumah. Ia menyerahkan kursi roda Ares pada perawat, lalu berjalan menuju ruang tamu dengan langkah waspada.
Di sana, di tengah ruang tamu yang luas, berdiri seorang wanita yang seolah membawa atmosfer dari masa lalu yang terkutuk. Nadya berdiri membelakangi pintu, menatap foto keluarga besar Adrian Wijaksana yang tergantung di dinding, foto di mana Revana tersenyum anggun di samping Adrian.
"Riasan yang bagus, Revana. Tapi tetap saja... Wajahmu itu wajah seorang pencuri," suara Nadya menggema, dingin dan tajam.
Suasana di ruang tamu kediaman Wijaksana mendadak berubah menjadi medan energi yang sangat berat. Andrew berdiri di hadapan wanita yang secara biologis adalah ibunya, namun bagi Andrew, wanita itu terasa seperti orang asing yang mengenakan wajah yang mirip dengannya.
Nadya tidak meledak-ledak. Ia justru tampil dengan kelembutan yang sangat terukur. Ia mendekat ke arah Andrew, matanya tampak berkaca-kaca, sebuah performa yang hampir sempurna.
"Andrew... putraku," bisiknya dengan suara serak yang seolah menyimpan kerinduan puluhan tahun. "Mama tahu Mama tidak punya hak untuk muncul tiba-tiba begini. Tapi Mama hanya ingin melihatmu sebentar saja. Mama rindu sekali."
Di puncak tangga, Mommy Revana berdiri terpaku. Wajahnya pucat, tangannya gemetar memegang pagar kayu. Ia melihat pemandangan yang selama ini menjadi mimpi buruknya: ibu kandung anak-anaknya kembali, membuat memori masa kelam, dan rasa traumanya muncul seketika.
Andrew melirik ke arah Revana. Ia melihat ketakutan yang nyata di mata ibu sambungnya itu. Namun, Andrew bukanlah pria yang mudah meledak. Ia adalah pria yang penuh kendali.
Andrew menghela napas panjang, lalu menatap Nadya dengan tatapan datar—tidak benci, namun tidak juga hangat.
"Kalau memang hanya itu alasan Mama datang," ucap Andrew dengan suara rendah namun tegas, "Aku akan berikan waktu aku. Tapi tidak di sini. Kita bicara di luar."
Nadya tersenyum tipis, sebuah kemenangan kecil di dalam hatinya. Ia melirik ke arah Revana dengan tatapan kilat yang penuh kemenangan, seolah ingin berkata, 'Lihat, dia masih tetap putraku.'
"Andrew..." panggil Revana pelan, suaranya mengandung kekhawatiran yang dalam.
Andrew berbalik, menatap Revana dengan tatapan yang melembut. "Aku hanya akan pergi sebentar, Mommy. Jangan khawatir. Andrew akan segera kembali."
Panggilan "Mommy" yang keluar dari mulut Andrew dengan begitu tulus itu terasa seperti tamparan bagi Nadya. Senyum di bibirnya sedikit kaku. Ia sadar, ikatan antara Andrew dan Revana jauh lebih kuat dari yang ia perkirakan.
Mereka duduk di sebuah kafe sepi tak jauh dari kawasan perumahan. Andrew tidak menyentuh minuman yang dipesan. Ia duduk tegak, menatap Nadya dengan sikap profesional, bukan sebagai seorang anak kepada ibunya.
"Andrew, Mama ingin menjelaskan kenapa Mama pergi dulu," Nadya mencoba meraih tangan Andrew, namun Andrew perlahan menarik tangannya dan menyilangkan dada.
"Itu masa lalu, Ma. Dan itu urusan Mama dengan Papi," potong Andrew tenang. "Aku setuju bertemu bukan untuk membahas kenapa Mama pergi atau apa yang dilakukan Papi dulu. Aku hanya ingin tahu, apa tujuan Mama muncul sekarang?"
Nadya terdiam. Ia tidak menyangka Andrew akan sedingin ini. "Mama hanya ingin memperbaiki hubungan kita. Mama ingin kamu tahu bahwa Mama mencintaimu lebih dari apa pun. Revana... dia hanya orang asing yang menggantikan posisiku."
Andrew tersenyum tipis, namun senyum itu terasa pahit. "Orang asing yang Mama maksud adalah orang yang membersihkan luka aku saat aku jatuh dari sepeda. Dia yang begadang saat aku sakit, dan dia yang memeluk Kak Alesya saat dia menangis karena merasa tidak punya ibu di momen-momen tertentu. Bagiku, mommy Revana adalah Ibuku. Tidak ada yang bisa menggantikannya, bahkan Mama sekalipun."
Wajah Nadya mengeras di balik riasan tebalnya. "Kamu sudah dicuci otak oleh mereka, Andrew."
"Tidak ada yang mencuci otakku, Ma. Aku hanya menilai berdasarkan siapa yang ada saat aku dan Kak Alesya butuh, bukan siapa yang datang saat semuanya sudah stabil," Andrew berdiri, merapikan kemejanya. "Aku menghargai keberanian Mama untuk muncul. Tapi jika tujuan Mama datang adalah untuk mengguncang ketenangan Mommy Revana atau keluarga kami, aku minta Mama berhenti. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti hati wanita yang sudah membesarkan aku dengan cinta."
Andrew mengeluarkan beberapa lembar uang, meletakkannya di meja untuk membayar kopi yang bahkan tidak ia minum.
"Terima kasih untuk waktunya, Ma. Aku harap ini pertemuan terakhir kita yang membawa ketegangan masalalu yang sudah lewat, aku akan selalu ada untuk Mama, jika Mama sudah berubah, sudah berdamai dengan masalalu, tapi jika Mama masih menyimpan kebencian, sampai kapanpun aku tak akan ada waktu untuk Mama."
Andrew berjalan keluar dari kafe dengan langkah pasti. Namun, di dalam hatinya, ia merasa lelah. Ia tahu Mama Nadya tidak akan berhenti semudah itu. Sorot mata wanita itu tadi mengandung sesuatu yang lebih gelap dari sekadar rindu.
Begitu Andrew sampai di rumah, ia langsung mencari Mommy Revana. Ia menemukan Mommy-nya sedang duduk termenung di kamar. Andrew berlutut di depan ibunya, menggenggam tangannya yang dingin.
"Semuanya baik-baik saja, Mom. Jangan takut, Andrew di sini. Andrew nggak akan ke mana-mana," bisik Andrew tulus.
Namun, di luar sana, Nadya masih duduk di kafe itu, meremas tissu kertas di tangannya hingga hancur. Ia tidak menyangka Andrew akan sebegitu memuja Revana.
"Kalau Mama tidak bisa mengambil hatimu, Andrew," desis Nadya pelan, "maka Mama akan pastikan kamu tahu rahasia yang disimpan Revana dan Papi darimu. Kita lihat, apa kamu masih akan memanggilnya 'Mommy' setelah tahu apa yang mereka lakukan pada ibu kandungmu."
...🌼...
...🌼...
...🌼...
...Bersambung......