Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Yang Mencurigakan
Pagi datang tanpa suara.
Rumah itu tenang, Rio sedang menonton TV,hanya suara TV menemani Rio bersandar di kursi nya. Hari ini ia libur, tetapi Rani justru tampak terburu-buru sejak bangun tidur.
Cara ia merapikan tas, langkah kakinya, bahkan napasnya—semuanya seperti seseorang yang tergesa-gesa. dan itu membuat Rio sedikit khawatir.
“Kau mau ke mana?”
tanya Rio tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. Ia mencoba terdengar santai, tapi matanya menangkap perubahan kecil pada ekspresi adiknya.
“aku ingin pergi dengan teman ku.."
jawab Rani lalu dia membuka pintu. Namun wajahnya datar, tidak ada secercah antusias yang biasanya muncul ketika ia menyebut kata teman.
Ada sesuatu yang tertahan di matanya, dan apa pun itu membuat kalimatnya terasa ringan di mulut tapi berat di udara. dan Rani pun keluar dari rumah.
Begitu pintu tertutup, keheningan kembali mengisi ruang. Rio duduk beberapa detik, tetapi pikirannya tidak bisa diam. Rasa curiga dari kemarin kembali bangkit, perlahan merayap seperti suara gesekan kayu. Ia menarik napas, lalu berdiri. Ada batas tertentu di mana seorang kakak bisa diam.
Ia mandi, mengenakan pakaian rapi, Kemeja Berwarna Biru dan celana hitam.
lalu merapikan rambutnya yang biasanya jatuh lembut ke bawah. Kali ini ia mengangkatnya sedikit, membuat wajahnya tampak lebih dewasa dan tegas. Ia tidak tahu kenapa, tetapi penampilan itu membuatnya merasa lebih siap menghadapi sesuatu.
Saat keluar rumah, ia menyalakan ponsel dan menelpon Kris. Suara Kris terdengar baru bangun, sedikit berat dan malas. “Ada apa? Ini hari libur.”
“Tidak banyak. Aku hanya memastikan…” dan lalu dia menutup ponselnya dan Rio berhenti sesaat, menimbang kata-kata.
Ia berjalan menuju taman kecil di tengah perempatan. Tempat itu sederhana, kursi-kursi tua mengelilingi lingkaran rumput, seolah menunggu seseorang berbagi rahasia. Rio duduk, menatap lalu-lalang orang tanpa sungguh melihat mereka. Ia mencoba membaca arah langkah adiknya tanpa petunjuk apa pun, hanya bermodalkan firasat.
Beberapa menit berlalu, lalu ia menelpon Kris sekali lagi. Kris mengangkat dengan suara lebih kesal, tapi tetap mengangkat. “Rio… kau benar-benar menelpon dua kali?”
“Maaf,” ucap Rio pelan. “Kris… kau bisa melacak ponsel seseorang?”
“tentu, Itu cukup mudah.”
Jawaban itu singkat, tapi cukup membuat Rio bisa bernapas sedikit lebih tenang. Ia menatap taman yang sunyi, dan entah kenapa, dunia terasa mulai bergerak ke arah yang tidak ia kenal.
“Baik. Aku butuh bantuanmu.”
Rio mengirimkan nomor Rani ke Kris. Suaranya terdengar tenang, tapi jarinya menggenggam ponsel terlalu kuat. “Ini nomor adikku. Bisa kau lacak?”
Kris mengangguk dari kamar nya ,terdengar mengetik cepat. “Jika sudah, akan kukirim tautan map. Kau tinggal mengikuti titiknya.” Sambungan telepon terputus, tetapi kecemasan tetap menempel di dada Rio.
Ia bersandar di kursi taman sambil menunggu. Orang-orang lewat, beberapa menyapa dengan sopan, dan Rio hanya membalas seadanya. Dalam pikirannya, wajah Rani naik turun seperti riak air yang tidak mau tenang.
“Semoga dia baik-baik saja,” gumamnya, lebih seperti doa daripada harapan.
Seorang lelaki tua dengan seragam coklat.mungkin petugas kebersihan taman ,datang dan duduk di sampingnya. Gerakannya lambat, matanya teduh.
“Banyak pikiran, anak muda?” tanyanya, suaranya pelan seperti angin sore. Rio tersenyum kecil dan menatap matahari yang mulai naik. “Sedikit....Apa yang harus kulakukan jika satu-satunya keluargaku terkena masalah?”
lelaki tua itu tersenyum.
“Kau bisa mulai dengan menemui dia,” ucap lelaki tua itu tanpa ragu.
“Kadang alasan kita masih bertahan adalah seseorang yang sedang kita pikirkan itu.” Rio menahan tawa kecil,
"Sial.. tebakan nya benar."pikir Rio.
tebakan sederhana, tapi tepat seperti panah yang sudah hafal sasarannya. “Sial… benar juga.”
“Tapi adikku itu kuat,” Rio mencoba meyakinkan dirinya sendiri, meski nada suaranya bergetar.
“Selama ini dia mengkhawatirkan aku, tapi aku bahkan jarang menanyakan kehidupannya di sekolah. Kadang aku merasa… aku ini kakak yang buruk.” keluh Rio dengan lemas.
Lelaki tua itu tersenyum, matanya terpejam seperti sedang merasakan kata-katanya sendiri. “Kau tidak buruk. Justru karena kau duduk di sini, kau sudah membuktikan bahwa kau menyayanginya.”
Rio mengangguk, menerima kalimat itu seperti seseorang menerima obat pahit tapi perlu. Pak tua itu melanjutkan, “Dan ingat, meski dia terlihat kuat di depanmu… belum tentu dia kuat di luar sana.” Kalimat itu membuat Rio menghela napas panjang. Ada kebenaran yang tidak bisa ia sangkal.
“Dan selemah-lemahnya dia,” lanjut lelaki tua itu, “dia masih memiliki diri mu."
Kata-katanya sederhana, tapi berat dan menenangkan seperti selimut di malam hujan. Rio hampir menjawab, namun bunyi notifikasi memotong percakapan. Kris telah mengirimkan lokasi Rani. “Akhirnya,” gumamnya.
Rio berdiri dan meregangkan tubuh, semangatnya kembali seperti api yang baru disulut. “Terima kasih, Pak. Aku dapat pencerahan hari ini.” Lelaki tua itu tersenyum, mengangguk pelan. “Pergilah. Kakak yang benar selalu tiba tepat waktu.”
Rio tidak menjawab. ia hanya berlari kecil, mengikuti titik yang menunggu di layar.
Rio berlari dengan langkah cepat, napasnya teratur namun pikirannya tidak. Ponsel di tangannya menunjukkan titik merah yang semakin dekat. Jejak itu berakhir di sebuah gang sempit yang mengarah ke gedung karaoke muram dengan lampu ungu yang seolah menyembunyikan bau masalah.
"Jadi ini tempatnya?." Rio hanya menatap dari bawah ke atas di dalam tempat itu.
Di dalam, lobi dipenuhi orang mabuk.gelas, tawa serak, dan tatapan tidak bersahabat.
"Apa urusan mu ke sini?."
Bartender menegurnya dengan nada dingin.
"Aku ada janji dengan teman ku."
Tetapi Rio hanya melempar senyum santai dan alasan sederhana. Ia dibiarkan lewat.
Pelacak berhenti di depan satu ruangan. Sepatu Rani ada di sana. Rio menghela napas, meraih gagang pintu, namun ponselnya berdering.
Kris terdengar panik, suaranya seperti dipaksa keluar dari tenggorokan. “Aku meretas kamera dekat ponsel Rani… dia sedang dirundung.” Rio tak menunggu kalimat berikutnya. pikiran raut wajah Rio berubah saat dia mendengar adiknya di rundung di dalam.
"Rio!??." Kris masih menanyakan nya, bahkan Rio tidak menjawabnya sedikitpun, pikiran yang tercampur aduk saat mendengar adiknya di rundung.
"Kakak yang baik selalu datang tepat waktu." Hanya itu yang di pikirkan oleh Rio saat ini , bahkan dia tidak sadar membuka pintu itu langsung tanpa ragu.
Ruangan itu penuh asap tipis dan bau alkohol. Tiga pria besar duduk di sofa terpisah, sementara beberapa siswi bersembunyi di belakang mereka. Rani, dengan pipi memar, ditarik rambutnya oleh salah satu preman.
"Siapa anak ini?!!." kata preman yang di tengah dan kelihatannya dia yang paling kuat di antara dua lainnya,Dan Rani duduk di sampingnya.
Rio tidak menjawab pertanyaan siapa dirinya.
tatapannya langsung terkunci pada kondisi adiknya. Rio benar benar tenggelam dalam lautan emosi,yang menenggelamkan pikirannya.
Saat salah satu preman menyerangnya dari kanan, Rio dengan refleks nya bisa menunduk cepat bahkan tanpa melihat dan membalas dengan jab keras ke dada.
Tubuh lawan itu terlempar menabrak meja hingga botol-botol berjatuhan. dan preman itu pingsan.
Namun emosi Rio mulai menekan tubuhnya sendiri.
"Pukulan nya bisa membuat orang terpental begitu saja?." pikir preman di tengah."Dan tatapan nya itu??." lalu dia menatap ke Rani."Ahh ternyata begitu ya." Senyuman jahat dan kejam terlihat di mukanya saat melihat Rani.
lalu emosi Rio semakin meluap,niat membunuhnya menyebar di ruangan itu. bahkan Rani ketakutan,Rani tidak bisa membayangkan itu adalah kakaknya yang biasanya lemah dan ramah menjadi terlihat menyeramkan.
Preman lain memanfaatkan momen itu dan memukul wajahnya keras hingga ia terjatuh di pojok ruangan. dan tetap di pukuli muka nya.
"Apa ini?.. kenapa tubuhku tidak merespon??." Rio benar benar tenggelam dalam emosi saat melihat adik nya
Rio merasa seluruh tubuhnya gemetar tanpa kendali. Ia ingin bangkit, ingin merobek tangan yang menyakiti adiknya, tetapi tubuhnya seperti menolak perintah. “Kenapa… tidak mau bergerak,” bisik hatinya.
dalam pikiran Rio dia sedang terjatuh tanpa ujung di sebuah dunia alam bawah sadar nya."Apakah King's Sense.. menghilang?.". Rio menyadari selama ini dia tidak merasa takut dan memiliki mental yang kuat berkat King's Sense,dan itu bukan dari dirinya sendiri.
King's Sense melindungi pikiran dan memperkuat mental nya. dan saat King's Sense menghilang,Rio kembali menjadi penakut
."Ahh ini adalah perasaan ku yang dulu...ini adalah aku yang penakut, jadi,..aku tidak mau bergerak karena ketakutan ya..?"
Rani melihat kakaknya di pukuli tidak bisa terdiam, tetapi dia di tahan oleh pemimpin para preman itu.
"Kakak...!.", bahkan Rio tetap tidak bisa merespon.
sementara suara Rani memanggilnya memecah dinding emosinya.
Rani semakin ditarik sampai terangkat dari kursi. Rio hanya bisa melihat; tatapannya kosong tapi penuh amarah yang tidak menemukan jalan keluar.
Kris, yang memantau dari kamera hasil retasan, hanya bisa menggertakkan gigi. Situasi di ruangan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar perundungan."Ini berbahaya.. cepat lah rikoo.".Hanya Riko yang bisa Kriss harapkan saat ini
brakkk!! Suara pintu yang hancur di dobrak oleh seseorang.
Tiba-tiba pintu ruangan hancur didorong keras dari luar. Riko masuk dengan napas masih berat dari lari, dan apa yang ia lihat membuat tubuhnya kaku sesaat.
"Nahh!!!.' Akhirnya Kris kembali bersemangat karena Riko sudah sampai, Walaupun sedikit luka "Maaf aku terlambat,ada sesuatu yang menghalangi tadi.."
Rio penuh luka, tersungkur, dan tatapannya seperti dicabut dari cahaya. Riko menatap tiga preman itu—tatapan yang membuat udara berhenti sedetik.
“Apa yang kalian lakukan…,” ucapnya rendah, namun tajam seperti ujung pisau. Tubuhnya merendah sedikit, bahunya siap, tendonnya menegang. Preman-preman itu akhirnya sadar: mereka baru saja menarik perhatian orang yang salah.