Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindar
Winda berangkat kerja lebih pagi dari biasanya. bahkan sebelum ayah,ibu atau adik adiknya bangun. ia bahkan tak sarapan dan hari ini Winda lebih memilih menaiki transportasi umum padahal biasanya ia di antar ibunya sekalian pergi belanja harian ke supermarket.
Ia tidak menoleh saat pintu rumah tertutup di belakangnya.Hari ini, ia tidak ingin meninggalkan apa pun di rumah itu—bahkan harapan.
“Besok pulang lebih awal,"suara ayahnya masih terngiang di kepalanya.
“Keluarga Om Bram akan datang.”
Kata "akan" saja sudah cukup membuat dadanya sesak.
Winda tahu, yang mereka tunggu bukan dirinya sebagai manusia.
Tapi sebagai keputusan.
Sepanjang perjalanan ke tempat kerja, perut Winda terasa sakit karena belum sarapan. Napasnya jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas, seolah ada sesuatu yang terus mengejarnya dari belakang. Telapak tangannya dingin, meski matahari pagi sudah mulai naik. Setiap langkah terasa berat, bukan karena lelah, tapi karena pikiran yang tak mau diam.
Kata-kata ayahnya kembali terngiang.
"Keluarga Om Bram akan datang hari ini."
Kalimat sederhana, tapi cukup untuk membuat dadanya sesak.
Winda membayangkan tatapan-tatapan itu. Tatapan yang menilai. Tatapan yang seolah sedang memilih barang, bukan berbicara dengan manusia. Ia membayangkan dirinya duduk diam, didengarkan tapi tak pernah benar-benar didengar, sementara masa depannya dibicarakan tanpa satu pun bertanya apakah ia mau.
Tidak.
Ia tidak sanggup.
Saat itulah, di antara langkah kaki dan suara kendaraan yang lalu-lalang, sebuah keputusan terbentuk di kepalanya—tenang, tapi tegas.
"Aku tidak akan pulang lebih awal hari ini " gumam winda pada diri sendiri.
____________________________________
Di tempat kerja, Winda langsung meminta tambahan jam. Winda baru saja sampai ketika ia langsung menuju meja administrasi. Ia bahkan belum sempat melepas tasnya.
"Pak Tristan..." ucap Winda gugup
Tristan menoleh sekilas. "Kamu datang lebih cepat,Winda"
"hehe..Iya, Pak." Winda menyengir sebelum menarik napas. " eum...saya mau minta tambahan jam kerja,pak."
Tristan menutup map di tangannya. "Tidak."
Jawaban itu keluar cepat, tanpa jeda.
Winda terdiam. "Pak… saya—"
"Jadwal sudah penuh,” potong Tristan dingin.
"Dan kamu belum mulai kerja hari ini."
" Tapi saya bisa bantu di bagian mana saja,pak"
"Bukan itu masalahnya." Tristan menatap Winda datar, nyaris tak berkedip.
"Kondisimu nggak bagus. 2 hari lalu kamu lembur, saya dengar dari manager. Kamu nabrak salah satu tamu."
Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
"Kau tidak bisa memaksakan diri, Winda. batas waktu kerja mu hanya sampai jam 3, lalu kau pulang. tak ada jam tambahan" Nada suaranya tegas, profesional, tapi ada garis khawatir yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.
Winda menelan ludah. "Saya baik-baik saja, pak"
"Orang yang baik-baik saja nggak minta lembur sebelum mulai shift."
Winda terdiam tak bisa berkata kata. Ia menunduk, jemarinya meremas tali tas.
" kalau bicara dengan seseorang biasakan tatap matanya. saya tidak suka dengan seseorang yang ketika saya berbicara dengan nya dia tidak menatap mata saya"
ujar Tristan lagi, kini nadanya keras dan memperingatkan
Winda perlahan mendongak menatap atasan nya itu.
Tatapan Tristan tajam, menelusup, seolah ingin membaca sesuatu yang disembunyikan Winda terlalu dalam.
" Ada apa dengan mu ,Winda?"
"Gak tau,pak.. tapi jangan tatap saya begitu,pak.." Winda kembali menunduk
"Kamu nggak pernah minta lembur. Biasanya justru buru-buru pulang."
Tristan berhenti sejenak.
"Kamu nggak lari dari sesuatu kan?"
lanjut Tristan namun Winda hanya diam.
" Winda?"
Nama itu terdengar lebih lembut dari sebelumnya—bukan sebagai atasan, tapi sebagai seseorang yang benar-benar menunggu jawaban.
“Kalau kamu punya urusan pribadi, selesaikan di luar jam kerja,” lanjut Tristan. “Aku nggak mau operasional terganggu.”
Tristan tidak lagi menunggu jawaban.
Keheningan Winda justru memperkuat kecurigaannya. Ia melirik wajah Winda, cara bahunya sedikit turun, cara napasnya tidak stabil meski ia berusaha tampak normal.
"Baik," kata Tristan akhirnya, suaranya datar. "Kalau kamu nggak mau bicara, aku yang ambil keputusan."
Winda mendongak cepat. "Pak—"
Ia melangkah ke meja administrasi, mengambil papan jadwal, lalu mencoret sesuatu dengan pena tanpa ragu. Gerakannya tegas, seolah keputusan itu sudah lama terbentuk di kepalanya.
"Kamu tetap kerja hari ini," ujar Tristan sambil menutup papan itu, "tapi hanya shift pagi."
Winda menggeleng kecil. "Pak, saya bisa—"
"Tidak," Tristan menatapnya lurus. "Kamu tidak lembur. Kamu tidak ambil shift malam. Dan kamu tidak memaksakan diri."
Nada suaranya mulai mengeras. Bukan marah yang meledak, tapi kemarahan yang dikendalikan—yang biasanya lebih berbahaya.
"Kamu dua kali hampir tumbang minggu ini," lanjutnya. "Dan kamu pikir aku akan diam saja?"
Winda menggigit bibir. "Saya butuh kerja, Pak."
"Aku butuh kamu selamat,"
balas Tristan cepat, lalu terdiam sesaat, seolah menyadari ia terlalu jujur. Rahangnya mengeras kembali. "Aku nggak mau kejadian di tempat kerjaku."
Ia mencondongkan badan sedikit. "Dengar baik-baik. Kalau hari ini kamu masih memaksa, aku yang akan antar kamu pulang."
Winda terdiam. Dadanya sesak, bukan karena takut—tapi karena pilihan yang semakin sempit.
"Aku bukan orang tua kamu," lanjut Tristan lebih pelan, "tapi selama kamu di bawah tanggung jawabku, aku tidak akan tutup mata."
Ia berdiri tegak kembali. "Setelah jam kerja selesai, kamu pulang. Atau kamu cuti paksa besok."
Winda menatap lantai. Suaranya lirih. "Kalau saya bilang saya nggak mau pulang?"
Tristan membeku sesaat.
Lalu ia berkata, dingin namun mantap,
"Ke mana pun kamu pergi setelah itu, itu bukan urusanku. Tapi malam ini—kamu tidak tinggal di sini."
Keputusan itu jatuh seperti palu.
Tristan berbalik. "Ganti seragam. Kerja sesuai yang aku bilang."
Winda tetap diam dan berdiri sebelum akhirnya mengangguk pelan " okay, pak."
sebelum berbalik pergi untuk meletakkan tas nya di loker karyawan.
Winda mengganti seragam lalu memakai celemek nya dan mulai bekerja.
Jam-jam berlalu. Hingga jam di dinding menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh.
Seharusnya Winda sudah mengganti seragam. Seharusnya ia sudah berjalan keluar. Tapi ia masih berdiri di area kerja, celemek masih terikat, wajahnya menunduk sambil merapikan pesanan seolah tidak ada apa-apa.
Setiap kali langkah kaki Tristan terdengar dari kejauhan, Winda berpindah posisi. Menghindar. Bersembunyi di balik kesibukan.
Ia mengambil tugas ringan, lalu yang sedikit lebih berat, lalu lupa diri.
Sore merambat tanpa ia sadari.
Tubuhnya mulai memberi peringatan yang tak bisa diabaikan. Pandangannya kabur di tepi. Dengungan halus muncul di telinga. Tangannya tak lagi sekuat tadi, tapi Winda tetap berjalan, tetap tersenyum, tetap berkata iya.
Karena pulang bukan pilihan.
Saat ia berbalik cepat membawa minuman, dunia tiba-tiba miring. Langkahnya tersandung. Gelas di nampan beradu pelan, hampir jatuh.
"Winda!"
Suara itu memotong semuanya.
Tristan sudah berdiri di hadapannya. Wajahnya bukan lagi datar—melainkan tegang, marah, dan cemas dalam waktu bersamaan.
"P-Pak...s-saya-"
"Aku bilang kamu pulang jam tiga."potongnya tegas.
Winda membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar. Lututnya melemas. Tubuhnya condong ke depan tanpa sempat ditahan.
Tristan menangkap lengannya sebelum ia jatuh sepenuhnya.
"Cukup." Suaranya keras. "Sudah."
Ia memindahkan nampan dari tangan Winda dan menyerahkannya ke staf lain tanpa menoleh. "Ambil alih."
Lalu ia menuntun Winda ke kursi terdekat, memaksanya duduk.
"Kamu keras kepala," katanya, napasnya berat. "Atau kamu memang nggak peduli sama diri sendiri?"
Winda menunduk. Kepalanya pusing hebat. "M-maaf, Pak…"
"Jangan minta maaf." Tristan berlutut setinggi matanya, sesuatu yang tak pernah ia lakukan pada staf mana pun. "Lihat aku."
Winda mencoba, tapi pandangannya goyah.
"Kamu hampir pingsan," lanjutnya. "Dan kamu masih bilang baik-baik saja?"
" Seumur umur saya hidup saya gak pernah pingsan pak meski saya capek. "
" lalu maksud kamu mau nunggu sampai pingsan?" ucap Tristan kasar.
Ia berdiri, nadanya berubah tegas, penuh kendali. "Ambil tasnya. Sekarang."
"Pak, saya—"
"Tidak ada tapi." Tristan menatap lurus. "Aku yang tanggung jawab."
Ia mengisyaratkan staf lain. "Tutup shift-nya. Dia pulang."
Winda ingin membantah, tapi tubuhnya mengkhianatinya. Dunia terasa terlalu terang, terlalu ramai.
Tristan menahan lengannya agar tetap berdiri. Kali ini, sentuhannya tidak kasar—melainkan kokoh.
"Kamu boleh keras kepala di luar," katanya pelan tapi tegas, "tapi tidak di tempat kerjaku."
Ia menoleh ke arah pintu.
"Sekarang kamu ikut aku. Aku antar pulang"
Dan untuk pertama kalinya, Winda tidak melawan.
dalem bnggt sehhh
Winda muka tembok ga sih ini