Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 2 MENCARI TAHU
"Ibu tanya kamu dari mana Aline? Di tanya malah bengong!"
Di sisi lain, Nana yang melihat penampilan kakak tirinya yang tampak kacau. Tubuhnya bergidik saat membayangkan kakak tirinya itu menghabiskan sepanjang malam bersama laki-laki tua, jelek dan gemuk yang sudah dia bayar.
Tanpa menjawab lebih dulu pertanyaan ibu tirinya, Aline menatap adik tirinya dengan tatapan tajam yang menghunus.
"Kenapa kamu begitu tega melakukan ini? Apa kamu nggak memikirkan masa depan aku?" teriak Aline yang menahan amarah yang terasa meledak di dada.
"Aline jangan berteriak seperti itu, kenapa kamu jadi seperti ini?" Suara Sinta yang tampak terdengar santai. Namun, seolah menghakimi.
"Kamu benar-benar jahat Nana! Di mana hati nuranimu! Kamu kan yang memasukkan obat perangsang itu dalam minumanku." Aline langsung menyerang Nana membabi buta.
Gerakannya yang cepat membuat Nana tidak memiliki kesempatan untuk menghindar atau membalas. Bahkan tenaga Aline terasa besar dan ia kesulitan mengimbangi, kakak tirinya yang biasanya lemah lembut kali ini seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
"Ah, Ibu tolong! Aline narik rambut aku!" pekik Nana sambil berusaha melepaskan tangan Aline.
Sinta yang panik mendekat dan berusaha mendorong anak tirinya. Namun, kali ini Aline bener-bener sulit di hentikan.
"Heh, Aline apa kamu sudah gila? Lepaskan Nana."
"Tidak akan! Biarkan dia ikut merasakan sakit yang kurasakan!" jerit Aline.
"Lepaskan Nana, Aline!" Merasa geram, Sinta mendorong Aline dengan keras hingga terjerembab ke lantai. Kemudian Sinta memeluk Nana yang sedang meringis kesakitan. Jambakan Aline membuat sebagian rambut tercabut dari kulit kepala, bahkan mek-up di wajah Nana tampak berantakan.
"Sakit banget, Bu!" rintih Nana. Membuat Sinta menatap Aline penuh amarah.
"Berani sekali kamu menyerang Putriku! Apa kamu sudah bosan hidup, hah?"
"Kalau perlu aku akan membunuhnya!" Aline menatap geram. Seumur hidupnya ini adalah hari pertama ia berani melawan kedua orang itu. Biasanya ia hanya diam meski kerap di perlakukan tidak adil.
"Dasar anak kurang ajar! Sekarang juga pergi kamu dari rumah ini dan jangan pernah kembali lagi!"
"Pergi!" Aline mengulang kalimat itu dengan wajah sinis. "Kalian lah yang harus pergi, rumah ini milik Ayahku. Aku akan mengatakan semuanya jika dia sudah kembali nanti."
Aline menatap ibu dan adik tirinya dengan derai air mata, lalu mereka pergi begitu saja tanpa rasa bersalah meninggalkannya yang kini sudah hancur.
Di dalam kamar. Aline bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu, ia langsung menggosok seluruh badannya dengan kasar hingga kulitnya memerah. Hidupnya telah berantakan. Rasanya ia ingin mengakhiri hidup saja.
Aline luruh di atas lantai kamar mandi sambil terisak. Ia memeluk kedua lututnya, berharap ini semua hanya mimpi. "Semuanya telah hilang dan nggak akan bisa kembali lagi. Bagaimana aku melanjutkan hidupku, Tuhan!"
*
*
*
Sementara di tempat lain. Tepatnya di sebuah kamar hotel, laki-laki itu mulai terbangun. Ia mengerjapkan matanya saat merasakan di sampingnya sudah tidak ada gadis itu.
Erlangga Dewangga laki-laki tampan yang sudah menginjak umur dua puluh delapan tahun itu, menyibak selimut dan melihat bercak merah di atas sprei ada rasa senang saat mengetahui itu adalah pengalaman pertama wanita itu. Namun, rasa bersalah lebih mendominasi perasaannya saat ini.
Ia melihat sekeliling kamar itu, mencari wanita yang sudah menghabiskan malam dengannya yang ternyata sudah tidak ada.
"Pergi kemana dia?"
Erlangga tidak habis pikir dengan perbuatannya. Ya! Secara sadar dirinya melakukan hal tersebut pada gadis itu. "Bisa-bisanya aku lepas kendali."
Rasa bersalah itu membuat persaannya menjadi sesak. Erlangga yang biasanya menjaga batasanya dengan lawan jenis kenapa malam itu ia sama sekali tidak bisa menahan dirinya pada wanita itu.
Erlangga meraih ponselnya menghubungi seseorang, tidak lama kemudian sambungan telepon itu tersambung.
"Periksa CCTV sekarang juga, dan cari tahu siapa wanita yang bersama saya semalam."
Setelah mengatakan itu Erlangga menutup panggilannya. Ia harus segera bersiap karena memiliki jadwal operasi pagi ini.
Di sela-sela membersihkan dirinya, Erlangga menatap punggungnya di depan cermin kamar mandi, bekas cakaran itu seolah tanda yang paling indah. Seulas senyum muncul di bibirnya. Saat bayangan wanita itu melintas dalam benaknya.
Erlangga mengenakan jas putih kebesarannya. Ia melangkah keluar dari hotel itu menuju rumah sakit yang tidak jauh berada di sana.
Setibanya di rumah sakit, beberapa orang tampak ramah menyapanya.
"Pagi Dokter!"
Erlangga yang tampak sibuk sedang memeriksa data pasien dengan tablet di tanganya, hanya mengangguk pelan.
Di ruang operasi, aroma khas rumah sakit bercampur dengan rasa tegang. Seorang ibu muda yang berusia dua puluh enam tahun meringis di ranjang, perutnya yang besar karena hamil dan saat ini akan melakukan operasi caesar. Seorang perawat memberikan laporan pada Erlangga.
Untuk beberapa detik Erlangga, termenung sejenak bayangan wajah Aline melintas dalam pikirannya. Sebelum akhirnya ia fokus kembali.
Erlangga memimpin operasi itu dengan cekatan, membuat para perawat tidak bisa menyembunyikan kekaguman mereka pada sang dokter idaman itu.
Hingga beberapa saat kemudian suara tangisan bayi memenuhi ruangan operasi tersebut. Erlangga menatap bayi perempuan itu dengan pandangan lembut, sekilas wajah Aline kembali muncul membuatnya ingin segera menyelesaikan tugasnya. Agar secepatnya bisa mencari wanita itu.
Setelah menyelesaikan operasi tersebut, Erlangga menuliskan catatan medisnya dengan cepat. Kemudian ia menoleh ke arah salah satu perawat tersebut dan menyerahkan catatan itu.
"Bawa pasien ke ruang pemulihan. Saya akan menghubungi Dokter Reno untuk memantaunya."
Setelah mengatakan itu, Erlangga pergi keluar dari ruangan operasi tersebut. Ia kembali ke ruangan kerjanya.
Tidak lama kemudian ponselnya berdering, saat melihat nomor tersebut Erlangga tidak bisa menunggu waktu lagi. Ia segera menghubungkannya.
"Bagaimana? Apakah kamu sudah mengeceknya?" Suara Erlangga terdengar tidak sabaran.
Seseorang di sebrang sana terdengar menghela napas pelan. "Maaf Tuan, CCTV di hotel itu sudah di sabotase lebih dulu."
Erlangga mencengkram ponselnya erat-erat, wajahnya memerah karena kecewa dan amarah mendengar kabar itu.
"Saya tidak mau tahu! Kamu harus secepatnya cari tau kejadian semalam?!" Erlangga berteriak dengan nada murka lalu memutuskan panggilannya sepihak.
Ia menghempaskan tubuhnya dengan kasar pada kursi kebesarannya, pikirannya melayang jauh memikirkan bayangan Aline yang sudah ia renggut mahkotanya.
Erlangga ingin bertanggung jawab pada wanita itu, tapi kemana dia harus mencarinya. Ia seperti laki-laki brengsek yang memamfaatkan wanita itu di saat sedang dalam pengaruh obat.
Tiba-tiba suara ketukan pintu mengalihkan kegelisahannya.
TOK! TOK! TOK!
Ketika pintu terbuka, seorang dokter muda masuk ke dalam ruangan Erlangga. Ia tampak mengkerutkan keningnya saat melihat wajah sahabatnya.
"Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Reno penasaran. Hingga pandangannya menangkap sebuah tanda merah di lehernya.
"Tunggu apa itu? Erlangga, apa kau sudah membuka segelmu?" Reno menatap sahabatnya penuh selidik. Sahabatnya yang tampak tidak perduli bahkan terkesan menghindar dari wanita bisa-bisanya menghabiskan malamnya dengan seseorang.
Erlangga tampak acuh melihat sahabatnya yang begitu penasaran.
"Ayolah, Erlangga! Katakan siapa wanita itu?"
Seram, Erlangga seram😬😬😬😬🤣
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣