Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Siasat di Balik Pintu Parkir
Atmosfer di area parkir pasar modern mendadak berubah menjadi medan pertempuran bisu yang sangat mematikan. Hina, dengan kacamata hitam yang menutupi tatapan matanya yang penuh obsesi, berdiri di samping pintu mobilnya sendiri, mengamati interaksi antara Hino dan Erni. Hina tidak hanya sedang "belanja", dia sedang memanen informasi.
"Urus urusanmu sendiri sana, jangan dekati aku... bisa gatal!" seru Erni dengan nada jijik yang dibuat-buat, menatap Hina dari atas ke bawah seolah wanita kaya itu hanyalah tumpukan sampah yang tidak sengaja terinjak.
Hina hanya tersenyum dingin. Dia tidak tersinggung. Bagi Hina, menghina kebersihan tubuhnya adalah permainan anak-anak jika dibandingkan dengan beban rahim yang sedang dia bawa. "Hey, lihat siapa yang sedang sombong," balas Hina tenang, sengaja merendahkan suaranya agar hanya terdengar oleh mereka bertiga.
"Sudah, Mas! Sana kamu pergi saja," Erni memotong dengan nada ketus, mengabaikan kehadiran Hina yang makin membuat suasana canggung. "Aku bisa sewa ojek mobil atau taksi nanti untuk barang belanjaan bersalin ini. Sana, sana!"
Hino tidak tahan lagi. Dia menarik napas dalam-dalam, menatap Erni dengan mata yang memerah menahan ledakan amarah, lalu berpaling menatap Hina yang masih menunggunya dengan senyum penuh ancaman. Hino berbisik sangat pelan, namun nadanya seperti raungan binatang yang sekarat: "Hina! Apa lagi rencana busukmu ini?!"
"Siapa yang rencana busuk?" Hina balik berbisik, mendekat ke arah Hino hingga aroma parfum mahalnya menusuk penciuman pria itu. "Aku memang mau belanja. Tapi, gila ya istri sahmu ini... dia tidak tahu saja, sebentar lagi dia akan butuh teman untuk berbagi cerita soal kehamilan, kan?"
Hino berbalik cepat, menolak berdebat lebih jauh. Dia sadar dia sudah kalah telak dalam skakmat psikologis ini. "Ingat, rahasia ini benar-benar harus dibungkam seperti nanti malam aku bungkam kamu, Hina!" gertak Hino sebelum dia melangkah pergi menjauh, meninggalkan dua wanita itu di parkiran.
"Cih!" Hina mendengus, matanya menatap punggung Hino dengan sorot kepemilikan yang gila. Dia tahu, dia sudah menang satu langkah.
***
Sementara di ruang tengah rumah kontrakan, suasana jauh lebih mencekam. Irmi baru saja selesai menata seprei di kamar depan untuk Pak Juned dan Ibu Meliska. Tangannya gemetar saat dia harus menyembunyikan kenyataan bahwa rumah ini bukanlah tempat yang aman untuk cucu yang diharapkan orang tuanya.
"Ini kamar Bapak dan Ibu," ucap Irmi, suaranya mencoba tegar meski batinnya menjerit. "Hari ini Irmi harus ke toko, ada urusan stok barang yang mendesak."
Irmi berbalik cepat, matanya melirik jam dinding dengan gelisah. Dia tidak bisa tinggal di rumah ini. Jika dia tetap di sini, orang tuanya akan segera sadar bahwa dia tidak pernah lagi melakukan hubungan suami istri yang sehat, atau lebih buruk lagi, mereka akan menanyakan di mana suaminya yang sebenarnya.
"Tunggu dulu, Irmi!" suara Ibu Meliska terdengar keras, menghentikan langkah kaki anaknya. Sang ibu berdiri dengan tangan berkacak pinggang, matanya menatap tajam ke arah perut Irmi yang tampak sedikit membuncit meski sudah disiasati dengan baju longgar. "Kamu mau ke toko lagi? Kamu ini janda, bukan budak toko! Kenapa tidak cari pria yang bisa menjagamu, bukannya malah sibuk mengurus kontrakan penuh penyewa seperti ini?"
Pak Juned yang sedari tadi duduk di kursi rotan, ikut menatap anaknya dengan tatapan penuh kecurigaan. "Bapak dengar dari tetangga, kamu punya penyewa pria yang tidak becus bekerja. Hino namanya? Kalau dia tidak becus, suruh dia pergi hari ini juga sebelum Bapak yang mengusirnya!"
Irmi menelan ludah dengan susah payah. Pikirannya melayang pada Hino yang sekarang sedang berada di parkiran pasar, terjepit di antara dua wanita hamil yang sama-sama ingin menguasainya. Jika ayahnya sampai mengusir Hino sekarang, maka hancurlah seluruh rantai rahasia kehamilan siri di rumah ini.
"Bapak... ini tidak sesederhana itu..." Irmi mencoba mencari celah untuk melarikan diri, bahkan sempat terlintas di pikirannya untuk meminta diculik orang saja agar tidak perlu menghadapi interogasi lebih lanjut. Namun Pak Juned justru berdiri dari kursinya, melangkah mendekat dengan langkah berat yang membuat Irmi merasa seperti sedang dipojokkan di ujung lorong kematian.