Rachel adalah definisi dari kesempurna, masa depannya begitu cerah, hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Ibunya, hingga banyak yang merasa iri pada Rachel. Namun, tanpa mereka tahu, Rachel merasa hidupnya seperti boneka, terutama setelah perceraian Ayah dan Ibunya.
Hingga akhirnya, Rachel sudah muak dengan hidupnya yang selalu diatur oleh Ibunya dan memutuskan untuk pergi menemui Ayahnya dan memilih tinggal bersamanya, Rachel yang terbiasa dengan kemewahan, begitu tersiksa ketika berada di tempat Ayahnya yang jauh berbeda dengan kehidupan mewahnya bersama Ibunya.
Tanpa Rachel sadari, kedatangannya untuk menemui Ayahnya membawa sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di mana ia dipertemukan dengan seorang pria dengan seribu macam permasalahan dalam hidupnya.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Rachel mampu bertahan tanpa kemewahan dari Ibunya? Siapakah pria dengan seribu macam permasalahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah?
Begitu Rachel masuk ke dalam rumah Ayahnya, Anna menghampiri Rachel dan menyambutnya, "Rachel! Ya Tuhan!" seru Anna sambil berlari memeluk Rachel dengan erat.
Meskipun Anna bukan ibu kandung Rachel, namun kasih sayang wanita itu seringkali terasa lebih nyata daripada Mommy Viona. Anna memeriksa wajah Rachel, menyentuh bahunya dan memastikan tidak ada luka fisik yang tertinggal.
"Tante khawatir sekali... Daddy-mu bilang kamu dikejar-kejar orang suruhan Mommy-mu. Kamu nggak apa-apa, kan? Mereka tidak menyakitimu, kan?" tanya Anna bertubi-tubi dengan suara bergetar.
"Rachel nggak apa-apa, Tante. Ada yang menjaga Rachel di sana," jawab Rachel lembut dan mencoba menenangkan Anna.
"Syukurlah, Tante tenang kalau begitu," ucap Anna.
Melihat kekhawatiran Anna yang begitu tulus, Rachel merasa dadanya sesak oleh haru, sangat berbeda dengan sambutan dingin penuh intimidasi yang ia terima dari Mommy Viona. Di rumah susun yang sempit ini, ia merasa lebih aman daripada di mansion megah milik Ibunya.
"Sudah, sayang. Rachel butuh istirahat," ucap Daddy Brian lembut, sambil meletakkan tas kecil milik Rachel di atas meja kayu yang taplaknya sudah mulai memudar.
Anna mengangguk cepat, "Ah iya, benar. Tante sudah siapkan teh hangat dan camilan. Kamu mandi dulu ya, kamu pasti capek," ucap Anna.
Rachel tersenyum tipis dan menunduk menatap kaos hitam Daniel yang masih ia kenakan, "Iya, Tante. Rachel mandi dulu," jawab Rachel.
.
Malam harinya, Rachel duduk di tepi ranjang kamarnya yang kecil. Kamar ini jauh dari kata mewah, namun baginya, ini adalah tempat paling nyaman di dunia.
Pintu kamar terbuka sedikit, Daddy Brian melongok ke dalam dengan wajah yang tampak lebih tenang namun masih menyimpan gurat kelelahan.
"Boleh Daddy masuk?" tanya Daddy Brian.
"Tentu, Dad. Sini duduk," jawab Rachel sambil menggeser posisi duduknya.
Daddy Brian duduk di kursi kayu di samping ranjang, ia terdiam sejenak dan memandangi putrinya yang selama dua belas tahun ia tinggalkan dalam asuhan wanita sekaku Mommy Viona.
"Rachel... soal Daniel," Daddy Brian memulai pembicaraan dengan nada serius.
"Kenapa soal Daniel, Dad?" tanya Rachel.
"Daddy tahu kamu merasa berhutang budi padanya dan Daddy juga tahu, ada sesuatu yang berbeda di matamu setiap kali kamu melihat pria itu," ucap Daddy Brian.
Rachel tersentak dan wajahnya mendadak panas, "Dad, aku... aku cuma merasa dia orang yang baik di balik penampilannya yang menyeramkan," jawab Rachel.
Daddy Brian terkekeh pelan dan menatap kembali putrinya, "Daniel itu seperti mesin tua yang karatan di luar, Rachel. Kamu harus membongkarnya pelan-pelan untuk tahu kalau mesin di dalamnya masih sangat bagus dan kuat. Tapi kamu harus ingat satu hal, dunianya dan duniamu itu seperti minyak dan air," ucap Daddy Brian.
"Minyak dan air bisa bersatu kalau ada pengemulsi yang tepat, kan?" jawab Rachel cerdas dan mencoba menutupi kegugupannya.
Daddy Brian menghela napas panjang, "Mommy-mu tidak akan tinggal diam, kejadian kemarin hanya peringatan kecil baginya. Dia akan menyerang dari sisi yang tidak kita duga, mungkin bukan dengan senjata, tapi dengan kekuasaannya di dunia bisnis," peringat Daddy Brian.
"Aku tidak takut, Dad. Aku tidak akan jadi Rachel yang dulu lagi," ucap Rachel tegas.
"Sebenarnya Daddy tahu cara supaya Mommy-mu berhenti menganggumu," ucap Daddy Brian.
"Apa Dad?" tanya Rachel.
"Ta-tapi... Daddy ragu," ucap Daddy Brian.
"Ragu kenapa Dad? Kalau ada cara agar Mommy nggak paksa Rachel, maka Rachel akan mencoba untuk melakukannya," ucap Rachel.
"Sudahlah, kamu lupakan saja. Daddy akan cari cara lain," ucap Daddy Brian.
"Apa caranya sulit sampai Daddy nggak mau bilang ke Rachel?" tanya Rachel.
Daddy Brian menatap wajah putrinya dan tanpa basa basi, ia memeluk Rachel. "Bagi seorang Ayah, cara ini sangat sulit. Daddy akan cari cara lain, kamu percaya sama Daddy," ucap Daddy Brian.
"Daddy yakin?" tanya Rachel.
"Iya, Daddy yakin. Daddy nggak akan melakukan cara yang...sudah malam, kamu istirahat ya," ucap Daddy Brian lalu keluar dari kamar Rachel.
Rachel terdiam dan memikirkan kira-kira cara apa yang dimaksud Daddy Brian sampai ia tidak bisa mengatakannya pada Rachel, namun Rachel tahu jika Ayahnya sedang menyembunyikan sesuatu darinya dan Rachel akan cari tahu itu.
Malam semakin larut dan suasana di rumah susun itu terasa mencekik bagi Rachel, meskipun suara televisi tetangga sayup-sayup terdengar dan deru angin pelabuhan masih terasa familiar, kata-kata Daddy Brian yang menggantung menjadi duri di benak Rachel.
Rachel tidak bisa memejamkan matanya, ia terus menatap kaos hitam milik Daniel yang kini tersampir di sandaran kursi. Aroma oli yang samar masih menempel di sana, seolah menjadi pengingat akan dunia keras yang baru saja ia tinggalkan.
"Apa yang Daddy sembunyikan?" gumam Rachel.
Tiba-tiba Rachel merasa haus dan gelasnya pun kosong, ia lupa mengambil minum sebelum masuk kamar tadi, akhirnya Rachel bangkit dari tempat tidur dan melangkah pelan menuju ruang tengah yang gelap.
Begitu Rachel sampai di ruang tamu, ia melihat bayangan Daddy Brian duduk di balkon sempit, dengan kepalanya yang tertunduk di antara kedua tangannya. Pria itu tampak begitu rapuh di bawah cahaya lampu jalan yang remang, Rachel hendak menghampirinya, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara bisikan Brian yang bergetar.
"Maafkan aku Anna," bisikan Daddy Brian pada Anna yang berdiri di hadapan Brian.
"Mas, kamu gila! Kamu mau menyerahkan Rachel pada takdir seperti itu?" Suara Anna terdengar bergetar dan menahan tangis.
"Ini demi keselamatannya, Anna! Viona tidak akan berhenti sampai Rachel hancur atau kembali padanya, Daniel adalah satu-satunya orang yang ditakuti para preman pelabuhan dan dihormati oleh orang-orang yang tidak bisa disentuh uang Viona," jawab Daddy Brian dengan nada frustrasi.
"Tapi menjodohkan mereka secara paksa? Menikahkan Rachel dengan pria seperti Daniel hanya agar Rachel punya perlindungan, itu namanya keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya!" ucap Anna yang mulai meninggikan suaranya.
"Anna, pelankan suaramu. Jangan sampai Rachel mendengarnya," ucap Daddy Brian.
Rachel membeku di balik dinding, gelas di tangannya hampir jatuh setelah mendengar obrolan Daddy Brian dan Anna.
'Menikah? Perjodohan? Jadi itu cara yang dimaksud Daddy? Menjadikan Daniel perisai buat aku melalui ikatan pernikahan?' batin Rachel.
"Daniel itu pria yang baik! Dan yang paling penting... dia bisa melindungi Rachel," bisik Daddy Brian lagi.
Tanpa sadar, Rachel mundur perlahan dan kembali ke kamarnya dengan jantung berdegup kencang, ia meremas dress yang ia kenakan. Di satu sisi, pemikiran berada di samping Daniel selamanya memberikan rasa hangat yang aneh. Namun di sisi lain, ia merasa seperti barang yang kembali dipindahtangankan dan kali ini oleh Ayahnya sendiri.
.
.
.
Bersambung.....
yaaa kaaannnnn
bahwa suatu saat Rachel akan kembali kepada Cintanya yg tinggal di Vietnam
akankah Daniel mengejar Rachel ke Indonesia
like lah Daddy Bryan sudak lampu ijo😁😁🤗
ini emaknya Rachel bener2 kebangetan deh, nyari anak kayak nyari tahanan yg kabur. gila sih udah kayak psikopat aja emaknya.😤😤😤
hemmmm bakal ngamuk nih nanti si daniel
dan sang alpha yg menjaga 🤭
dr interaksi kecil, sentuhan ringan, obrolan yg menjurus keranah pribadi. akhirnya nyaman😄😄😄
lanjut thorrr😁