NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Selamat Datang di "Game" Kami, Kakak Pengasuh!

Bab 7: Selamat Datang di "Game" Kami, Kakak Pengasuh!

​Hening seketika merayap di dalam kamar tidur yang luas itu. Pendar cahaya biru dari jajaran monitor raksasa memantul di lensa kacamata bulat tebal milik Aline, menciptakan refleksi geometris yang dingin. Di depannya, dua anak berusia lima tahun menatapnya bukan dengan pandangan polos anak-anak yang tertangkap basah begadang, melainkan dengan binar mata sepasang sosiopat cilik yang baru saja menemukan mainan paling menghibur di dunia.

​Aline menatap layar-layar di dinding. Sistem pengawasan yang ada di kamar si kembar ini bahkan jauh lebih canggih daripada pusat kendali keamanan utama yang berada di pos penjagaan depan mansion. Mereka meretas jalur mandiri.

​"Wah, Kakak Pengasuh cepat sekali kembalinya," Keira membuka suara terlebih dahulu. Suara cempreng khas anak kecilnya terdengar begitu kontras dengan senyuman lebarnya yang terkesan dingin. Ia mengayun-ayunkan kaki kecilnya yang terbungkus kaus kaki berenda di atas kursi putar mewah. "Padahal kami baru saja selesai bertaruh berapa lama Daddy akan menahan lehermu sebelum kau menangis ketakutan."

​Kenzo menurunkan headphone nirkabelnya hingga menggantung di leher beludru marunnya. Jemari kecilnya bergerak lincah di atas papan ketik mekanis tanpa suara, mematikan rekaman ulang interaksi Aline dan Adrian di lorong tadi dengan satu ketukan tombol enter.

​"Alibi susu hangat yang sangat klise," komentar Kenzo datar, nadinya yang dingin meniru persis intonasi suara Adrian saat menginterogasi musuh bisnisnya. "Gadis desa yang ketakutan pada suara badai dan hantu? Sungguh, Kak Aline? Di abad ini, bahkan anak-anak di panti asuhan pinggiran kota tahu kalau hantu tidak sekreatif itu untuk mengetuk jendela di lantai dua saat hujan badai."

​Aline tahu, mempertahankan topeng "gadis desa bodoh" di depan dua bocah yang memiliki akses penuh ke sistem saraf mansion ini adalah tindakan yang sia-sia. Mereka telah melihatnya bergerak tanpa suara di koridor gelap. Mereka telah merekam gerak-gerik tubuhnya yang terlalu terlatih untuk ukuran seorang pelayan miskin.

​Perlahan, Aline menegakkan bahunya. Sikap tubuhnya yang tadinya membungkuk kikuk berganti menjadi tegak, anggun, dan penuh kendali. Ia melepas kacamata bulat tebalnya, menyekat lensanya yang berembun dengan ujung kaus hitamnya, lalu menatap si kembar dengan mata kucingnya yang tajam dan dingin.

​"Jadi," suara Aline berubah, tidak ada lagi nada cicit ketakutan atau gagap yang sengau. Suaranya terdengar jernih, tenang, dan berbahaya. "Kalian menonton sejak awal?"

​Keira bertepuk tangan kecil dengan riang, matanya berbinar senang melihat perubahan drastis dari pengasuh barunya. "Yesss! Aku menang taruhan, Ken! Aku sudah bilang kan, dia pasti akan melepas topengnya kalau kita sudutkan di kamar ini!"

​Kenzo hanya mendengus pelan, merespons kekalahannya dari sang adik dengan melipat tangan di depan dada. "Kami tahu kau punya rahasia besar, Kak Aline. Profilmu di database kependudukan nasional memang bersih, tapi enkripsi data riwayat hidupmu terlalu rapi untuk ukuran orang miskin. Seseorang sengaja membuatkan identitas baru untukmu. Pertanyaannya adalah... siapa namamu yang sebenarnya? Dan apa yang kau cari di rumah Daddy?"

​Aline melangkah maju, berjalan perlahan mendekati meja kendali si kembar tanpa menimbulkan suara sedikit pun di atas lantai kayu berpemanas. Ia meletakkan kedua tangannya di atas sandaran kursi Kenzo dan Keira, menundukkan tubuhnya di antara kedua bocah itu dengan senyuman tipis yang misterius.

​"Jika aku memberi tahu kalian namaku yang sebenarnya, aku harus melenyapkan kalian berdua malam ini juga," bisik Aline dengan nada bercanda yang mengandung sedikit intimidasi psikologis. "Dan kurasa, kalian berdua terlalu berharga untuk mati secepat ini sebelum menyelesaikan permainan kalian, bukan?"

​Bukannya takut, si kembar justru saling bertukar pandang dengan ekspresi yang semakin antusias. Bagi anak-anak genius yang terisolasi di dalam mansion berdarah ini, kehadiran Aline bagaikan sebuah teka-teki silang tersulit yang akhirnya menantang otak mereka.

​"Kami tidak akan membongkar kedokmu pada Daddy," ujar Kenzo tiba-tiba, menegakkan punggungnya untuk menegaskan posisinya sebagai negosiator utama. "Daddy sangat membosankan belakangan ini. Sejak Bibi Rena... ah, maksudku, sejak tidak ada lagi hiburan di rumah ini, Daddy selalu pulang dengan wajah seperti monster yang siap mengeksekusi orang."

​Mendengar nama "Rena" disebut, rahim jari Aline di belakang kursi Kenzo mendadak mencengkeram kayu sandaran begitu erat hingga urat-urat tangannya menonjol. Namun, ia berhasil mengendalikan ekspresi wajahnya agar tetap datar.

​"Jadi, apa kesepakatannya?" tanya Aline langsung pada inti masalah.

​Keira memutar kursinya penuh semangat, lalu merosot turun dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju laci meja kecil di sudut kamar, membukanya dengan sebuah kunci kecil yang ia kalungkan di lehernya. Dari dalam laci, Keira mengeluarkan sebuah botol kaca kecil transparan yang berisi cairan bening tanpa warna dan tanpa bau.

​"Kami menawarkan sebuah kesepakatan kerja sama," kata Keira, mengangkat botol kecil itu di antara ibu jari dan telunjuknya yang mungil. "Kami tidak akan memberi tahu Daddy kalau kau memasang kamera mikro di bingkai lukisan lantai dua, dan kami juga akan mematikan beberapa sensor area tertentu jika kau ingin menyelinap... asalkan kau mau menuruti permainan kami."

​"Permainan apa?" Aline menyipitkan matanya penuh selidik.

​"Permainan pertama: Membuat Daddy tersenyum," sahut Kenzo dengan wajah tanpa dosa. "Daddy sudah lupa bagaimana cara menggerakkan otot wajahnya untuk tersenyum selama tiga tahun terakhir. Jadi, kami ingin melihat reaksi wajahnya besok pagi."

​Kenzo menunjuk botol yang dipegang Keira. "Campurkan ini ke dalam cangkir kopi hitam tanpa gula kesukaan Daddy besok pagi jam tujuh tepat, sebelum dia berangkat ke kantor pusat Dirgantara Group."

​Aline meraih botol kecil itu dari tangan Keira, membawanya ke dekat hidungnya untuk mengendus baunya. Tidak ada aroma apa pun. "Apa ini? Racun?"

​"Tentu saja bukan, Kakak Bodoh!" Keira tertawa renyah. "Kalau Daddy mati, siapa yang akan membiayai langganan server superkomputer kami? Itu hanya cairan pencahar dosis tinggi yang kami modifikasi dengan sedikit ekstrak mint herbal. Kami hanya ingin melihat Daddy berlari panik ke toilet dengan wajah tegangnya yang hancur. Bukankah itu akan sangat menyenangkan untuk dilihat?"

​Aline menatap botol di tangannya, lalu menatap dua pasang mata iblis kecil di depannya. Ini adalah jebakan dua arah yang sangat mematikan. Jika ia menolak, si kembar akan langsung mengirimkan rekaman CCTV aksinya memasang kamera mata-mata ke ponsel Adrian malam ini juga, dan ia akan berakhir di dalam peti mati seperti ancaman Adrian tadi.

​Namun, jika ia menuruti keinginan gila si kembar dan mencampurkan cairan ini ke kopi Adrian, risikonya jauh lebih besar. Adrian bukanlah pria bodoh. Jika dia mendeteksi ada yang salah dengan kopinya, atau jika dia benar-benar mengalami diare setelah meminum kopi buatan sang pengasuh baru, Aline akan langsung dituduh melakukan percobaan pembunuhan terhadap pemimpin tertinggi mafia Gorgon. Nyawanya akan melayang seketika.

​Aline memutar otak dengan kecepatan penuh. Ia harus menemukan jalan tengah di mana si kembar merasa ia mematuhi perintah mereka, namun Adrian tidak akan menyadari bahwa ia sedang dikerjai.

​"Baiklah," Aline memasukkan botol kecil itu ke dalam saku celananya, kembali memasang kacamata bulat tebalnya dan mengubah ekspresi wajahnya menjadi pelayan lugu dalam sekejap. "Kesepakatan diterima. Sekarang, tidurlah sebelum aku benar-benar berubah menjadi hantu di jendela kalian."

​Kenzo dan Keira tersenyum puas. Mereka langsung melompat ke atas ranjang besar mereka, menarik selimut beludru hingga ke dada, sementara layar-layar monitor di dinding otomatis meredup dan mati dalam hitungan detik.

1
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!