Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.
Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Kiano Merana
"Buset dah! Main hilang-hilangan aja kayak gebetan di-ghosting!" umpat Kiano frustrasi.
Tak mau kehabisan akal, Kiano mundur lima langkah. Ia memasang kuda-kuda, mengambil ancang-ancang bersiap mendobrak pintu tanpa gagang itu dengan kekuatan penuh otot remaja SMA-nya.
"Satu... dua... sepuluh... KYYYAAAATTTT!"
Sialnya, tepat satu milidetik sebelum bahu Kiano menghantam kayu, pintu besar itu mendadak terbuka lebar dengan sendirinya dari luar. Rombongan dayang istana melangkah masuk sambil membawa nampan berisi pakaian dan perlengkapan rias.
Karena posisinya sudah terlanjur meluncur dengan kecepatan roket, Kiano kehilangan keseimbangan. Tubuhnya melesat maju, tersungkur keluar kamar, dan mendarat mulus dengan wajah langsung menabrak wadah bedak putih ukuran jumbo yang sedang dibawa oleh dayang paling depan.
BRUKKK!
Uhuk! Uhuk!
Kiano terbatuk-batuk hebat di lantai lorong istana. Asap putih mengepul di sekitarnya. Ketika ia mengangkat kepala, mukanya sudah putih total dari dahi sampai dagu. Tebal, rata, dan tanpa pori-pori.
Wajah ganteng mirip Jungkook BTS yang ia banggakan seketika berubah mirip adonan cimol mentah yang belum digoreng.
Para dayang langsung membelalakan mata lebar-lebar. Mulut mereka ternganga membentuk huruf O, buru-buru menutupnya dengan telapak tangan masing-masing. Pundak mereka bergetar hebat menahan tawa yang hampir meledak ke ubun-ubun.
Tentu saja, tidak ada satu pun dari makhluk halus itu yang berani menertawakan pangeran mahkota tiruan ini kalau tidak mau kepalanya dipenggal oleh sang Prabu.
"P-Pangeran Wirasada..." cicit dayang paling depan, matanya kedip-kedip menahan mules karena menahan tawa. "A-Anda... mau luluran sekarang?"
Kiano mengusap matanya yang kelilipan bedak mistis, lalu menatap para dayang dengan pandangan pasrah. Sialan, batinnya merana. Harga diri gue runtuh seketika di alam gaib.
Dayang berwajah pucat itu dengan cekatan membantu Kiano berdiri. "Ayo Pangeran, saya bantu mandikan dan gosok daki Anda."
Kiano melotot seketika sampai matanya mau keluar. "Nggak! Gue gak mau! Gue bukan bocah! Hei, berhenti gak lo semua?!" teriak Kiano panik mampus.
Namun, para dayang itu sama sekali tidak menghiraukan jeritan histeris sang pangeran KW. Menggunakan kekuatan gaib mereka, tubuh Kiano mendadak melayang rendah dan terseret paksa kembali ke dalam kamar.
BLAM!
Pintu besar itu menutup kembali secara otomatis, mengunci Kiano di dalam sangkar emas.
"Heh, heh! Lo apa-apaan sih, Mbak Jin?! Ini jelas-jelas pelecehan visual namanya!" Kiano heboh menepis belasan tangan pucat para dayang yang mulai mengerubunginya, hendak melucuti kaus oversized miliknya.
"Anda cukup diam dan pasrah saja, Yang Mulia," ucap dayang senior dengan wajah datar tanpa dosa.
"Ogah! Gue masih suci, belum tersentuh! Lagian kita bukan muhrim, ya! Enak aja kalian mau liat-liat badan gue yang kotak-kotak estetis begini!" Kiano berteriak sambil buru-buru menyilangkan kedua tangan di depan dada, melindungi harga dirinya yang di ujung tanduk.
Salah satu dayang menghela napas panjang, tampaknya sudah lelah dengan drama "amnesia" sang pangeran.
"Dengar, Yang Mulia. Kami semua selalu ditugaskan untuk melayani Anda lahir dan batin. Biasanya juga Anda sendiri yang manja menyuruh kami memandikan sambil main bebek-bebekan. Dan pakaian ini...." Dayang itu menjeda kalimatnya, menatap jijik ke arah kaus kargo modern milik Kiano. "Sama sekali tidak pantas untuk putra mahkota Mandala Hyang!"
SREKK! BREWEEKKK!
"Astagfirullahaladzim!" Kiano terpekik religius.
Tanpa aba-aba, dayang itu dengan beringas merobek kaus kesayangan Kiano yang dibeli di butik futuristik Jakarta Barat seharga jutaan rupiah. Kain serat karbon itu koyak seketika, lalu disentak kasar hingga lepas dari tubuh Kiano.
"Toloooong! Mami... Papi... Anakmu mau dinodai jin sunda kuno!" jerit Kiano histeris. Ia kembali menyilangkan tangan di dada dengan posisi meringkuk di lantai, meratapi nasibnya yang malang sembari berharap pintu darurat menuju tahun 2050 tiba-tiba terbuka.
Belum sempat Kiano bangkit berdiri untuk kabur, para dayang itu kembali beraksi dengan kecepatan di luar nalar manusia.
"Pegangi dia!" perintah salah satu dayang senior dengan tatapan mata sedingin es.
Semua dayang mengangguk serentak. Tangan-tangan pucat mereka langsung mengunci pergelangan tangan dan kaki Kiano.
"Kalian mau ngapain lagi, hah?! Stop! Jangan macam-macam ya!!! Gue teriak nih!" jerit Kiano, mencoba meronta dengan sisa-sisa tenaga remaja jomponya.
Mengabaikan teriakan histeris sang pangeran KW, dayang senior itu dengan nekat menyentak celana kargo futuristik milik Kiano hingga lepas. Kini, pakaian bawah Kiano hanya menyisakan sebuah kolor kartun longgar berwarna kuning menyala, lengkap dengan gambar sablon wajah botak Upin dan Ipin yang sedang tersenyum polos.
Melihat harga dirinya benar-benar runtuh, Kiano makin histeris. "Heh! Lo semua beneran gila, ya?! Lepasin gue! Gue laporin lo pada ke Komnas HAM biar dideportasi dan dibui sekalian! Lu gak tahu bokap gue sekaya apa?!"
Kontras antara ancaman hukum modern Kiano dengan ekspresi dua bocah botak di kolornya membuat suasana kamar itu menjadi sangat absurd. Namun, para dayang tetap berwajah datar, seolah-olah sudah terbiasa melihat pakaian dalam aneh dari "dunia fana".
"Bawa dia ke kolam pemandian air bunga tujuh rupa sekarang!" perintah dayang senior itu lagi tanpa memedulikan ancaman hukum pidana dari Kiano.
Tubuh Kiano langsung diangkat beramai-ramai. Ia terus menggeliat, menendang-nendang, dan melawan dengan brutal di udara bak ulat keket yang kepanasan.
Ya Allah... salah hamba apa? Kenapa nasib hamba bisa sehina ini dan dapet paket sial level maksimal?! batin Kiano menjerit histeris saat tubuhnya mulai digotong beramai-ramai oleh para dayang gaib.
Seingat Kiano, dia adalah potret pemuda idaman masa depan. Dia cowok saleh, rajin mengaji di masjid kompleks, dan rajin ibadah salat lima waktu tanpa bolong. Ya... walaupun dia memang sedikit pecicilan, narsis, dan hobi berat menggombali cewek-cewek di sekolahnya.
Masa iya sih gue kena karma instan gegara hobi nge-gombalin Arummi? batinnya menebak-nebak, mendadak dihantui rasa bersalah.
Kiano teringat Arummi, teman sekelasnya yang akhir-akhir ini gencar dia dekati. Sayangnya, Arummi adalah tipe gadis judes, bar-bar, dan paling anti dengan cowok pecicilan modelan Kiano. Setiap kali Kiano melancarkan gombalan mautnya, Arummi selalu membalas dengan tatapan sinis atau ancaman bogem mentah.
Sampai detik ini, misi Kiano meluluhkan hati gadis itu selalu berakhir dengan kegagalan total.
Aduh, Rum! Kalau tahu taruhannya bakal dimandiin paksa sama jin satu batalyon gini, gue janji gak bakal caper lagi deh sama lo! Tolongin gue, Rum! ratap Kiano dalam hati seraya menatap langit-langit istana dengan pandangan kosong.
Begitu tubuh Kiano menyentuh air kolam pemandian bunga tujuh rupa, para dayang bergerak super cepat. Tangan-tangan pucat mereka langsung menyiram, menggosok, dan menyabuni tubuh Kiano tanpa ampun.
Pemuda itu sudah lelah lahir dan batin. Ia tidak lagi meronta, melainkan pasrah lahir batin menjadi manekin hidup. Toh, melawan pun tidak ada gunanya menghadapi kekuatan gaib para emak-emak versi jin ini.
Coba aja gue bawa Golok Pusaka milik Papi, batin Kiano merana sambil menatap riak air kolam.
Seenggaknya si Mbah Golok Sakti bakalan bantuin gue buat keluar dari dunia gaib ini.