Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.
Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 AKU TERBANGUN... TAPI... INI DI MANA?
"Nisa..."
.....
.....
.....
"Nisaaa..."
.....
.....
.....
"Nisaaa... Bangunlah..."
.....
....
.....
"Eeemmmhhh... Siapa?" ucapku sambil mulai terbangun dari tidurku...
Aku mengedipkan mata perlahan yang masih buram, sambil sedikit mengusap wajahku yang masih terasa mengantuk ini. Aku masih terlentang sambil sedikit mulai terlihat langit-langit kamarku di pondok putri Ustadz Furqon ini.
Lalu suara itu terdengar lagi, kali ini sambil terasa sebuah sentuhan tangan yang dingin membelai pipi kananku.
Dan... Aku langsung sedikit terkejut...
Saat mulai jelas pandangan mataku...
Kulihat Dayang Putri berada di sampingku, duduk dengan tatapannya yang tajam, namun diiringi senyumannya yang selalu ku kenal...
"Nisa... Bangunlah..."
"Eeemmmhhh... Dayang Putri?" kataku sambil mulai mencoba untuk duduk, masih di atas kasur yang terasa amat sejuk dan nyaman ini.
"Kenapa Dayang Putri ada di sini? Aku kan lagi tidur... Masih mengantuk aku..."
"Hihihi... Sudah waktunya kamu untuk bangun Nisa..." ucapnya dengan nada suara yang terdengar jauh lebih lembut dari biasanya.
Lalu... Dengan perlahan... Tangan kanannya membelai lagi pipi kananku, dan juga menyentuh daguku sambil sedikit mengangkat wajahku.
Seketika itu juga, wajahku dan wajah Dayang Putri sejajar. Ke dua mataku dan matanya lurus bertatapan. Tampak senyuman yang sangat anggun darinya.
Tanpa banyak bicara, Dayang Putri beranjak berdiri dari kasurku, dan ia berjalan pelan menuju pintu kamarku, dan langsung saja tubuhnya menembus pintu itu.
Aku yang sudah semakin tersadar dari tidur, bertanya pada Dayang Putri dari dalam kamar ini.
"Dayang Putri mau kemana? Kenapa aku dibangunkan? Kenapa aku ditinggal?"
Dan... Langsung dijawab olehnya dari arah luar kamarku...
"Ikutlah denganku Nisa... Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu..."
Aku tak meresponnya, justru aku malah sedikit merasa malas untuk mengikutinya. Dan dengan raut wajahku yang terasa sedikit kesal karena sengaja dibangunkan olehnya, bergumam sendiri dalam hati, "Mau ngapain sih? Ganggu aja sih Dayang Putri..."
Seketika itu juga terdengar jawaban darinya...
"Maaf jika aku mengganggu tidurmu Nisa... Tapi kemarilah, keluarlah dari kamarmu... Ada yang ingin kutunjukkan padamu..."
"Hmmm... Iya-iya... Aku bangun..." jawabku.
Tanpa ada rasa curiga, rasa penasaran, atau bertanya-tanya lagi, aku segera berdiri dari kasurku. Dan berjalan menuju pintu kamarku.
"Krieeeeeet..." suara pintu kamar terbuka olehku.
.....
.....
.....
Dan sungguh...
Ketika pintu kamar terbuka...
Seketika itu pula seluruh rasa kantuk menghilang...
"Da-Da-Dayang... Pu-Putri?"
Ucapanku langsung terbata-bata, sambil tubuhku berdiri kaku, ke dua mataku melihat Dayang Putri di depanku, membelakangiku.
Akan tetapi... Penampilannya... Berubah...
Dayang Putri yang sudah kukenal, biasanya memakai baju berwarna hijau cerah, dengan selendang kuning emas di pundaknya yang menjuntai, dengan kain jarik cokelat bermotif batik, kini berubah...
Dayang Putri memakai pakaian seperti seorang ratu di sebuah kerajaan. Dengan warna dominan emas cerah. Dan kain jarik cokelat bermotif batik dengan seluruh jahitannya seperti dari benang emas.
Lengkap dengan anting-anting, kalung, gelang, yang seluruhnya terbuat dari emas...
Dan... Tepat di kepalanya yang berambut lurus menjuntai sampai ke punggung, terdapat sebuah mahkota yang begitu indah berkilauan...
Dan... Aroma sosoknya sangatlah harum... Seolah ia bermandikan beragam jenis bunga yang belum pernah ku cium...
Aku takjub melihat perubahan penampilan Dayang Putri...
Lalu, ia membalikkan tubuhnya, kini berhadapan denganku...
Tapi, ke dua matanya tidak lagi berwarna hijau cerah seperti biasanya. Melainkan ke dua matanya itu berubah sama persis layaknya seorang manusia. Berwarna putih bersih dengan pupil yang hitam.
Lantas, ia tersenyum padaku... Dan bertanya padaku...
"Kenapa Nisa?"
Aku yang masih saja takjub dalam posisi berdiri, tak mampu menjawabnya. Seolah energi yang terpancar darinya sangat besar. Seolah pula, aku seperti merasa terhipnotis.
Selang beberapa saat, aku pun bisa menggerakkan mulutku...
"Da-Dayang Putri? Kenapa... Kamu... Berubah secantik ini?"
Dayang Putri tak menjawabku, ia terus saja tersenyum sangat manis dan anggun padaku.
Sedetik kemudian, ia berjalan mendekat. Kemudian ia julurkan tangan kanannya. Seolah hendak mengajakku, dan aku langsung menyambut tangannya itu perlahan.
Dan... Aku dibuat terkejut oleh kesadaranku berikutnya...
Ternyata aku terbangun, atau lebih tepatnya dibangunkan oleh Dayang Putri, bukan di dimensi nyataku...
Melainkan aku dibangunkan di dimensi ghoibku...
Aku diajak berjalan oleh Dayang Putri. Sedetik kemudian lagi, aku terkejut dengan tempat di mana aku berada sekarang.
Aku berada di sebuah jalanan tanah yang bersih. Di tengah-tengah sebuah tempat yang sangat mirip dengan pasar!
"Da-Dayang... Putri... I-ini... Di-di mana?" tanyaku terbata-bata, masih dengan berjalan perlahan sambil dituntun tangan kananku oleh Dayang Putri yang ada di depanku.
"Jangan takut Nisa... Kau akan selalu aman bersamaku di alam ini..."
Aku tak meresponnya...
Terus saja aku melangkah mengikuti langkah Dayang Putri. Dengan wajahku yang menoleh ke kanan dan ke kiri.
Tampak dengan sangat jelas di ke dua mataku ini, sebuah area pasar yang ramai dengan segala aktifitasnya.
Akan tetapi, seluruh wujud yang ada di sekeliling, aku tahu mereka bukanlah bangsa manusia. Meskipun wujud mereka sama persis seperti manusia.
"Dayang Putri... Kenapa kamu membawaku ke sini?"
"Tak apa-apa Nisa... Aku sengaja ingin menunjukkan bangsaku padamu..."
"Untuk apa? Bukankah aku sudah terbiasa melihat bangsamu sebelumnya?"
"Hihihi... Kamu masih sangat jauh dari kemampuan itu Nisa..."
"Ma-maksudnya?" tanyaku sambil mulai terasa sedikit takut diriku, masih dalam kondisi berjalan bersama Dayang Putri, di tengah-tengah pasar yang berisi ratusan atau bahkan ribuan bangsa lelembut ini.
Langkah kakiku terhenti ketika Dayang Putri menghentikan langkahnya, kemudian ia berbalik badan dan menatapku dalam-dalam. Tapi kini, wajahnya yang sudah sangat mirip seperti manusia itu tak tersenyum padaku sedikitpun.
Tiba-tiba saja... Dayang Putri menghilang dari pandanganku. Bagaikan debu yang tertiup angin kencang!
"Loh?! Da-Dayang Putri?! Kemana kamu?! Jangan tinggalkan aku sendiri di sini!!"
Aku langsung merasa panik, seperti seorang anak kecil yang kehilangan Ibunya di tengah ramainya pasar.
"Dayang Putri?! Dayang Putri?! Kemana kamu?! Apa maksudnya semua ini?!"
Aku mencoba mencarinya, menoleh ke kanan dan ke kiri dengan cepat, tapi masih di tempat yang sama.
Lalu... Aku mencoba berjalan... Mencoba mencari di mana keberadaan perewanganku itu...
Dan seketika aku merasa sangat asing di sini, dengan rasa panik dalam hatiku, dengan pertanyaan dalam pikiranku.
Kenapa Dayang Putri berbuat seperti ini?
Apa maksudnya?
Apa tujuannya?
Lalu, terdengar suara Dayang Putri, namun entah dari mana asalnya. Seolah suaranya menggema dari segala penjuru...
"Sudah waktunya aku ingin menguji hatimu Nisa..."
"A-apa?! Apa maksudmu Dayang Putri?!"
Seketika itu juga...
Aku menyadari sesuatu...
Semua sosok bangsa lelembut di sekelilingku...
Sudah menatapku...