NovelToon NovelToon
Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".

Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.

"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 : Jalan Menuju Utara

Mereka berangkat pada pagi hari keempat.

Tidak ada upacara perpisahan.

Tidak ada pula orang yang mengantar hingga gerbang kota.

Hanya Lin Chen dan Huo Ling'er yang berjalan meninggalkan Klan Lin saat matahari pagi baru muncul di balik cakrawala. Masing-masing membawa tas seperlunya, tidak terlalu berat, namun cukup untuk perjalanan panjang yang menanti di depan.

Penjaga Tong sudah berjaga di gerbang ketika mereka tiba.

Pria tua itu membuka gerbang tanpa banyak bicara.

Namun saat Lin Chen melangkah melewatinya, ia memberikan sebuah anggukan.

Lin Chen membalasnya dengan tenang.

Mereka meninggalkan kediaman Klan Lin dan berjalan menyusuri jalan utama Kota Langit Biru yang mulai ramai oleh aktivitas pagi.

Para pedagang membuka kios.

Aroma makanan hangat memenuhi udara.

Suara tawar-menawar mulai terdengar dari pasar.

"Jadi semuanya sudah selesai?" tanya Huo Ling'er sambil berjalan di sampingnya.

"Sebagian."

"Sebagian?"

Lin Chen tersenyum tipis. "Masih ada beberapa hal yang belum menemukan jawabannya."

"Orang tuamu?"

Lin Chen mengangguk.

"Dan alasan mengapa Istana Surgawi terlibat dalam hilangnya mereka."

Huo Ling'er terdiam beberapa saat.

Mereka terus berjalan tanpa memperlambat langkahnya.

"Kau benar-benar yakin semua itu berhubungan dengan warisan Phoenix?"

"Aku tidak yakin." Jawaban itu keluar cepat. "Tapi terlalu banyak kebetulan yang saling terhubung."

Ia memandang jalan di depan.

"Orang tuaku menghilang saat menjalankan misi untuk Istana Surgawi."

"Beberapa tahun kemudian aku menemukan warisan yang secara langsung bertentangan dengan kepentingan Istana Surgawi."

Matanya menyipit sedikit. "Mungkin hanya kebetulan."

"Mungkin juga bukan."

Huo Ling'er mengangguk pelan. Ia memahami pola pikir itu.

Mereka akhirnya tiba di ujung kota.

Di sana jalan batu berakhir dan berubah menjadi jalan tanah lebar yang bercabang ke berbagai wilayah di benua.

Lin Chen berhenti sejenak.

Ia mengeluarkan sebuah peta dari dalam tasnya.

Peta yang selama beberapa malam terakhir ia pelajari berulang kali.

Di atasnya terdapat beberapa tanda yang ia buat sendiri berdasarkan informasi dari warisan Phoenix dan catatan kuno yang berhasil ia kumpulkan.

Huo Ling'er melirik peta itu.

"Ke mana sekarang?"

Lin Chen menunjuk ke arah utara. "Ke sana."

"Utara?"

"Ada wilayah bernama Domain Es Terlarang."

"Perjalanan sekitar dua bulan dari sini."

Huo Ling'er mengangkat alisnya. "Kedengarannya menyenangkan."

Lin Chen melipat kembali petanya. "Di sana kemungkinan besar ada Phoenix kedua."

Huo Ling'er langsung memahami maksudnya. "Phoenix Es?"

Lin Chen mengangguk. "Phoenix Es Abadi."

"Menurut warisan yang kuterima, kemungkinan besar ia bereinkarnasi di wilayah itu."

"Mungkin hidup sebagai manusia biasa."

"Mungkin bahkan tidak menyadari siapa dirinya sebenarnya."

Mereka mulai berjalan kembali.

Kali ini menuju utara.

Menuju wilayah yang belum pernah mereka kunjungi.

Menuju bagian dunia yang jauh lebih luas dari Kota Langit Biru.

"Dua bulan perjalanan untuk mencari seseorang yang bahkan tidak tahu dirinya sedang dicari." Nada suara Huo Ling'er terdengar datar.

Lin Chen tertawa kecil. "Kalau diringkas, ya. Itu terdengar gila."

"Aku tahu." Ia menatap cakrawala yang membentang jauh di depan.

"Tapi menjadi kultivator dengan tujuh Meridian rusak lalu bertahan hidup setelah dibuang ke Gunung Cang Lei juga terdengar gila."

"Dan ternyata aku masih hidup."

Huo Ling'er tidak langsung menjawab. Kemudian sudut bibirnya terangkat tipis. "Setidaknya perjalanan ini tidak akan membosankan."

"Itu satu hal yang bisa kupastikan."

Mereka terus melangkah.

Sedikit demi sedikit, Kota Langit Biru mulai mengecil di belakang mereka.

Menjadi deretan atap yang samar.

Lalu berubah menjadi bayangan. Dan akhirnya menghilang di balik perbukitan.

Namun di dalam kota itu, cerita mereka baru saja mulai menyebar.

Tentang seorang pemuda yang kembali dari Gunung Cang Lei dengan kekuatan yang tak dapat dijelaskan.

Tentang gadis berambut merah yang selalu berada di sisinya.

Tentang api merah keemasan yang membuat para tetua terdiam.

Dari mulut ke mulut.

Dari klan ke klan.

Dari kota ke kota.

Berita itu akan terus bergerak.

Dan cepat atau lambat, dunia akan mulai memperhatikan.

Sementara itu, jauh di atas langit yang tak terlihat oleh manusia biasa, jaringan Qi dunia kembali bergetar.

Dua cahaya kecil bergerak menuju utara.

Masih lemah.

Masih jauh dari cukup kuat untuk mengguncang dunia.

Namun bagi mereka yang mengetahui apa yang harus dicari, kedua cahaya itu tidak mungkin diabaikan.

Karena api yang telah bangkit tidak akan kembali menjadi abu.

Dan perjalanan menuju Phoenix kedua...

Baru saja dimulai.

Jalan utama yang menghubungkan Kota Langit Biru dengan wilayah utara membentang panjang melewati perbukitan, hutan, dan beberapa pos perdagangan kecil.

Jalan itu tidak terlalu ramai, tetapi juga tidak bisa disebut sepi.

Dalam dunia kultivasi, kondisi seperti itu justru sering kali paling berbahaya.

Terlalu sepi akan membuat penyergapan mudah terdeteksi.

Terlalu ramai membuat para pelaku berpikir dua kali karena terlalu banyak saksi.

Namun jalan seperti ini berada di tengah-tengah. Cukup ramai untuk terlihat aman, tetapi cukup lengang untuk membuat seseorang menghilang tanpa banyak pertanyaan.

Lin Chen memahami hal itu sejak hari pertama perjalanan.

Mereka baru saja melewati sebuah pos perdagangan kecil ketika ia merasakan beberapa tatapan yang bertahan sedikit lebih lama dari seharusnya.

Tatapan yang tidak berasal dari rasa penasaran biasa.

Tatapan yang sedang mengamati.

"Kita sedang diawasi." Suara Huo Ling'er terdengar pelan tanpa menoleh sedikit pun.

Ia tetap berjalan seperti biasa, seolah sedang menikmati pemandangan sepanjang jalan.

Lin Chen tersenyum tipis. "Aku tahu."

"Kapan kau menyadarinya?"

"Sejak memasuki pos perdagangan."

Ia mengangkat pandangan sekilas ke arah bangunan-bangunan di sekitar jalan.

"Dua orang di warung sebelah kiri."

"Satu lagi di atap gudang dekat gerbang keluar."

Huo Ling'er tetap berjalan santai. "Perampok?"

Lin Chen menggelengkan kepalanya.

"Bukan. Aliran Qi mereka terlalu stabil, dan mereka juga terlatih."

"Mantan murid sekte atau anggota organisasi tertentu."

Huo Ling'er langsung memahami maksudnya. "Sekte Tengkorak Perak."

"Kemungkinan besar."

Mereka berhenti sejenak di sebuah kios makanan.

Lin Chen membeli dua roti hangat lalu menyerahkan satu kepada Huo Ling'er.

Percakapan mereka tetap berlanjut dengan santai, seolah hanya membahas perjalanan biasa.

Tetapi keduanya tahu topik yang mereka bahas jauh dari biasa.

"Tetua yang kita hadapi di Gunung Cang Lei pasti sudah melaporkan semuanya."

Lin Chen menggigit rotinya perlahan. "Mereka tahu kita masih hidup."

"Mereka tahu kita turun gunung, dan mereka juga tahu jalur tercepat menuju utara adalah jalan ini."

Huo Ling'er mengunyah rotinya tanpa tergesa gesa. "Berapa banyak?"

"Yang bisa kudeteksi saat ini ada tiga."

"Yang tidak bisa kudeteksi..." Lin Chen tersenyum tipis. "Kita anggap lebih banyak."

Mereka meninggalkan pos perdagangan dan kembali berjalan.

Jalan mulai semakin lengang.

Bangunan-bangunan berkurang sedikit demi sedikit.

Pepohonan mulai mendominasi sisi kanan dan kiri jalan.

Angin membawa aroma tanah dan daun-daun liar.

Huo Ling'er memandang ke depan. "Kapan mereka bergerak?"

"Begitu kita cukup jauh dari area perdagangan."

"Mungkin satu jam lagi."

"Mungkin lebih cepat."

"Mereka tidak akan bertindak di dalam pos perdagangan."

"Terlalu banyak saksi."

"Terlalu banyak klan dagang yang tidak suka bisnis mereka terganggu."

Huo Ling'er mengangguk pelan. Logika yang masuk akal. " Terus rencanamu?"

Lin Chen menghabiskan sisa rotinya. "Kita tidak menghindar."

Huo Ling'er menoleh sedikit. "Bukan pilihan yang biasa kau ambil."

"Menghindar hanya menunda masalah." Lin Chen membuang sisa roti terakhir dari tangannya.

"Mereka sudah mengetahui arah tujuan kita. Jika kita menghilang sekarang, mereka hanya akan mengirim lebih banyak orang."

"Kita justru memberi mereka waktu untuk bersiap."

Huo Ling'er tidak membantah. Karena ia tahu Lin Chen benar.

Kadang ancaman harus dihentikan sebelum sempat tumbuh lebih besar.

"Kita hadapi mereka." Suara Lin Chen tetap tenang.

"Tapi cukup keras hingga mereka mulai mempertimbangkan apakah mengejar kita sebanding dengan harga yang harus mereka bayar."

Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, sudut bibir Huo Ling'er sedikit terangkat. Senyum tipis yang hampir tidak terlihat.

"Aku suka bagian itu."

Lin Chen melirik ke arahnya. "Kukira kau akan bilang terlalu berisiko."

"Aku memang bilang begitu kalau rencananya buruk."

Mereka terus berjalan.

Langkah mereka tetap santai. Namun keduanya sudah mulai mengalirkan Qi secara perlahan di dalam tubuh.

Persiapan tanpa terlihat seperti persiapan.

Beberapa saat kemudian Huo Ling'er kembali berbicara. "Satu hal."

"Apa?"

"Kali ini aku bertarung di depan."

Lin Chen mengangkat alisnya. "Bukan di samping?"

"Bukan."

"Aku sudah cukup pulih."

"Kau yakin?"

Huo Ling'er menatapnya datar. "Satu pertanyaan lagi dan aku akan membakar makan siangmu besok."

Lin Chen tertawa kecil. "Itu jawaban yang cukup jelas."

Mereka melanjutkan perjalanannya.

Di depan, jalan menuju utara membentang panjang hingga menghilang di balik hutan.

Tenang dan sunyi.

Karena di suatu tempat di sepanjang jalan itu, seseorang sedang menunggu.

Dan kali ini, Lin Chen tidak berniat menghindarinya.

1
Green Boy
ayo lanjut lagi thor🙏🙏
Daryus Effendi
bosan bacanya terlalu lambat alzrnya.bertele tele
Hadi Hadi
up up 👍
Hadi Hadi
up up 😍😍
Anonymous
lanjut thor seru ceritanya🙏
Si Suka Baca
Vote meluncur
Ihwan12
mantap lanjut lagi thor💪💪👍👍
Xiao Lin—Gold Author
satu mawar 🌹
Xiao Lin—Gold Author
niceeeee👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Suyin mungkin udah ketagihan sama pedang ajaib Wei Hao🤔/Sly//Doge/
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍
Shu Qing
Luar biasa
Fatih Al
awal yang bagus👍👍
Green Boy
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!