NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lamaran

Keputusan Ezra untuk menikahi Azizah menjadi obat paling manjur yang pernah ada. Seakan mendapat mukjizat, kondisi Amisha yang kritis perlahan membaik sesaat setelah Ezra mengucap janji itu. Detak jantungnya berangsur stabil dan pernapasannya kembali normal. Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, dokter pun akhirnya mengizinkan wanita paruh baya itu untuk pulang, dengan syarat harus menjaga pikirannya agar tidak muncul stres berlebihan.

Kini, kediaman keluarga Arkananta tampak sibuk. Malam ini adalah momen yang dinantikan Amisha karena Laksmi dan Arif akan datang berkunjung. Tadi pagi Dewi sudah berangkat ke desa bersama sopir pribadi untuk menjemput mereka.

Amisha terlihat begitu bersemangat ketika ikut menyiapkan hidangan di dapur. Ia tidak bisa berhenti tersenyum walaupun wajahnya masih sedikit pucat. Dengan gerakan yang sesekali terhenti karena lelah, ia sibuk menata berbagai hidangan dan camilan di atas piring.

“Nyonya, biar kami saja yang menyelesaikannya. Anda harus banyak istirahat,” ujar Iyem dengan nada cemas.

Namun Amisha menggeleng mantap. Ia bersikeras untuk tetap ikut serta.

“Tidak apa-apa, Mbak Iyem,” jawabnya dengan nada ceria, “Ini adalah momen penting. Aku ingin memberikan sambutan terbaik untuk calon besanku. Lagipula, melihat rumah ini kembali hidup adalah kebahagiaan tersendiri bagiku.”

Bagi Amisha, setiap detik yang ia lalui saat ini adalah anugerah dan ia bertekad untuk memastikan perjamuan nanti berjalan sempurna sebagai bentuk syukurnya atas takdir yang akhirnya mempertemukan dua keluarga itu.

Berbanding terbalik dengan antusiasme Amisha, hubungan Ezra dan Azizah justru semakin merenggang. Sejak keputusan di rumah sakit itu, atmosfer di antara mereka terasa hampa. Tidak ada kata-kata, tidak ada sapaan. Ezra bersikap seolah Azizah hanyalah bayang-bayang yang tidak terlihat di rumah itu. Azizah sendiri memahami posisinya. Ia sadar bahwa keterpaksaan yang ia rasakan sama besarnya dengan yang dirasakan Ezra, sehingga ia hanya bisa menunduk dan memilih untuk tidak mengusik ketenangan pria itu.

Seperti yang terjadi di malam itu, Azizah tidak sengaja memergoki Ezra yang sedang duduk sendirian di pinggir kolam renang. Pria itu menatap permukaan air dengan tatapan kosong dan memancarkan aura kehancuran yang begitu nyata saat ia tidak sedang berhadapan dengan orang lain.

Azizah terdiam sejenak.

Apakah dia sedang meratapi perjodohan ini? Atau mungkinkah karena wanita itu? Batinnya.

Pikirannya langsung tertuju pada Sienna. Azizah bertanya-tanya, apakah kekasih Ezra itu tahu bahwa pria yang dicintainya akan segera menikahi wanita lain? Jika Sienna tahu, seharusnya wanita itu sudah datang dan melabrak mereka, atau setidaknya membuat keributan. Namun, semuanya tenang, wanita itu tidak menampakkan batang hidungnya.

Azizah akhirnya menggelengkan kepala, mencoba mengenyahkan pikiran itu dari benaknya. Ia segera berbalik, melangkah menjauh dari sisi kolam renang untuk menuju ke dapur.

Setelah dinanti-nanti, akhirnya Laksmi, Arif, dan Dewi tiba di rumah itu. Amisha bahkan menyambut mereka di depan pintu utama dan memeluk mereka sebagai sapaan. Perlakuan itu pun membuat Laksmi dan Arif melangkah masuk dengan perasaan yang tidak nyaman. Mereka tampak terintimidasi oleh kemewahan dan aura Nyonya keluarga Arkananta.

“Mari, Pak, Bu, silakan duduk,” sambut Amisha ramah. Darel dan Windy berdiri mendampingi sambil memberikan senyuman hangat.

“Maaf, Ibu Amisha, kami sungguh tidak enak,” ujar Laksmi sambil mendudukkan diri dengan sangat hati-hati di sofa. Matanya menyapu langit-langit rumah yang tinggi dengan takjub, “Rumah ini... jauh lebih besar dari yang kami bayangkan. Kami merasa... benar-benar tidak pantas berada di sini.”

Arif hanya mengangguk setuju dengan tatapan canggung, “Benar, Bu. Kami mengirim Azizah ke sini hanya karena keinginannya untuk bekerja, bukan untuk mengharapkan hal seperti ini.”

“Apalagi... keadaan Azizah kurang beruntung. Mana mungkin keluarga kaya seperti kalian menerima menantu yang tidak bisa bicara. Bukankah itu akan menjadi aib bagi keluarga kalian?” ujar Laksmi terus terang, ia masih tidak yakin dengan perjodohan itu.

Amisha menggenggam tangan Laksmi dengan hangat, “Bu Laksmi, tolong buang jauh-jauh pikiran itu. Azizah adalah wanita yang sangat pantas. Cucu anda jauh lebih berharga dari yang anda pikirkan. Kebaikan dan sifatnya sudah berhasil meluluhkan keluarga ini. Hanya dia yang cocok menjadi menantu saya. Keluarga ini akan melindunginya dan saya bahkan bersedia menjadi perisainya jika ada yang berani menghina menantu saya.”

Mendengar itu, Laksmi tidak kuasa menahan haru. Setelah nasib Azizah kehilangan orang tuanya sejak kecil, sekarang cucunya mendapat mertua yang sangat baik. Ia bersyukur do’anya dikabulkan oleh Allah.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar. Azizah muncul bersama Clara. Begitu melihat cucunya, pertahanan diri Laksmi runtuh. Ia berdiri dan langsung mendekap Azizah dengan erat.

“Azizah... Ya Allah, cucuku. Aku sangat merindukanmu, Nak,” bisik Laksmi dengan isakan.

“Aku juga Nek. Azizah juga merindukan Nenek,” jawab Azizah yang juga tidak kuasa menahan tangis, “Bagaimana kabar nenek?”

Laksmi melepaskan pelukannya, lalu menangkup kedua pipi cucunya, “Alhamdulillah, Nenek baik.”

“Alhamdulillah,” balas Azizah.

Amisha yang melihat itu hanya bisa tersenyum haru, “Silakan duduk, Bu Laksmi.”

Azizah pun menuntun neneknya untuk duduk bersebelahan. Ia terus menggenggam tangan Laksmi untuk menyalurkan kelegaan atas pertemuan mereka.

Namun di sisi lain, Amisha tampak gelisah. Ia terus menoleh ke belakang, “Darel, di mana kakakmu?”

Baru saja Darel hendak berdiri, sosok Ezra muncul. Aura pria itu tampak begitu suram dan tidak berkenan membalas tatapan penuh tanya dari para tamu.

“Ezra, kemarilah, Nak!” Amisha menarik lengan Ezra hingga pria itu terduduk di sampingnya, “Ibu Laksmi dan Pak Arif, ini putra saya, Ezra. Dan ini Darel serta menantu saya Windy, ini putri bungsu saya, Clara, lalu cucu saya Keira yang sudah tidur di kamarnya.” Amisha menunjuk satu per satu anggota keluarganya.

Arif dan Laksmi mengangguk sopan dan membalas senyuman setiap orang yang dikenalkan Amisha.

Kecuali Ezra yang hanya terdiam tanpa senyum sedikit pun. Hal itu pun mengusik relung hati Laksmi. Insting keibuannya mulai bekerja. Ia menoleh pada Azizah, mencari secercah cahaya kebahagiaan di mata cucunya.

Namun Azizah justru membalas tatapan itu dengan senyuman yang sangat lembut agar sang nenek tidak khawatir.

“Ezra,” panggil Amisha sambil menyentuh paha putranya, “Sapa calon mertuamu dengan baik.”

Ezra menatap nenek Azizah dengan sorot mata pasrah.

“Saya Ezra,” singkatnya.

Amisha merapatkan bibirnya gemas karena putranya yang terlihat cuek.

“Saya Laksmi, nenek Azizah, dan ini Arif adik saya sekaligus ayah Dewi,” ucap Laksmi berusaha ramah, “Nak Ezra bisa memanggilku Nenek dan Arif sebagai Kakek, seperti yang dilakukan Azizah.”

Arif pun tersenyum ke arah Ezra yang hanya dibalas anggukan oleh pria itu.

Amisha terbatuk kecil, mencoba menutupi kecanggungan yang ditimbulkan putranya, “Kita ke intinya saja, jadi kapan—”

“Sebentar, Bu Amisha,” sela Laksmi sambil menatap Ezra lurus. Sejak melihat Ezra datang sampai bagaimana pria itu menunjukkan ekspresinya, ia tidak bisa lagi menahan kegelisahannya, “Maaf karena menyela, tapi Nak Ezra, apa kau akan mencintai cucuku?”

Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan. Dewi dengan panik berbisik di samping bibinya, “Bi, bukankah aku sudah menceritakan kenapa pernikahan ini terjadi? Jangan ditanyakan sekarang. Gawat kalau penyakit jantung Nyonya Amisha kambuh.”

Namun Laksmi tetap pada pendiriannya, “Saya hanya ingin Azizah bahagia. Saya tidak ingin Azizah menderita di masa depan hanya karena sebuah kewajiban,” sahut Laksmi tegas.

Amisha segera menstabilkan amarah wanita tua itu, “Ibu Laksmi, saya mengerti kekhawatiran anda. Itu sangat wajar bagi seorang nenek.”

Azizah juga tidak tinggal diam. Ia segera meremas lembut tangan Laksmi, lalu menggeleng perlahan sambil memberikan senyuman meyakinkan.

“Aku bahagia, Nek. Sungguh,” isyaratnya dengan tatapan penuh ketulusan, “Aku yang bersedia menerima perjodohan ini.”

Melihat Azizah tampak menerima keadaan, Amisha beralih menatap putranya dengan tatapan memohon, memberi kode agar Ezra memberikan jawaban.

Ezra menghela napas panjang, “Saya... saya akan berusaha,” ucapnya dingin.

Amisha yang sigap menangkap momen itu segera menambahkan, “Maksud Ezra, dia akan berusaha menjadikan Azizah istri yang paling bahagia di dunia ini, benar kan, Nak?”

Ezra terdiam sejenak sebelum menjawab dengan singkat, “Ya.”

Laksmi menatap cucunya sekali lagi, lalu menghela napas panjang, “Jika memang ini keputusan Azizah dan dia setuju, maka saya pun tidak bisa membantah.”

Mendengar restu itu, semua orang yang ada di ruangan itu bernapas lega. Amisha yang tidak ingin memberi kesempatan bagi keraguan untuk tumbuh, segera mengusulkan, “Karena semuanya sudah sepakat, bagaimana jika pernikahan mereka dilaksanakan tiga hari lagi?”

Semua orang terbelalak kaget. Sementara Ezra memejamkan matanya rapat-rapat. Jika saja dokter tidak memperingatkannya berkali-kali untuk tidak membuat ibunya syok lagi, ia pasti sudah membantah keras.

“Tiga hari adalah waktu yang cukup,” lanjut Amisha penuh semangat, “Persiapan pernikahan akan saya tanggung semuanya. Bu Laksmi dan Pak Arif, kalian berdua hanya tinggal memberikan restu dan menikmati acaranya saja.”

Laksmi dan Arif saling pandang, merasa sangat tidak enak karena merasa hanya akan menjadi tamu di pernikahan cucu sendiri.

“Tapi, Bu.. kami merasa tidak pantas jika hanya—“

“Tolong, Bu Laksmi,” Amisha memotong dengan suara memohon, “Ini adalah keinginan saya untuk melihat putra saya menikah. Saya ingin memberikan yang terbaik untuk mereka.”

Akhirnya, dengan berat hati, Laksmi dan Arif mengangguk setuju. Satu per satu anggota keluarga lain pun menyatakan persetujuan, kecuali Ezra dan Azizah yang berteriak dalam hati bahwa tiga hari itu terlalu cepat.

Tiga hari lagi, pernikahan yang tidak pernah mereka inginkan akan benar-benar terjadi.

1
Lilik Juhariah
bagus banget ceritanya
Lilik Juhariah
suka ceritanya
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!