Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Bertolak belakang
Ivy tak percaya dengan takdirnya ini. Tak pernah menyangka lebih tepatnya, ia yang perputaran hidupnya, ibukota--salon--kampus--mall. Tiba-tiba berubah 180 derajat, pelosok---lanal---penampungan air.
Ia benci sekali tak ada air, ia tak suka dengan perilaku jorok, ia juga tak suka dengan kondisi serba keterbatasan tapi Tuhan justru menempatkannya di kondisi yang serba ia tak sukai itu. Bersama seseorang yang tak pernah ada dalam radarnya pula. Mimpi buruk ini sii....
Tapi Ivy tak bisa untuk tak mencuri-curi pandang ke samping dimana Panji makan begitu khusyuk, seolah nikmat-nikmat saja. Seharusnya ia membawa ponsel tadi demi mengusir rasa canggung. Dan suapannya itu oh my God! Apakah Panji tidak mengunyah dan baca bismillah dulu?
Ia meringis beberapa kali, benar sih...ia sejenis Hanoman, Hulk atau raksasa menyeramkan berbadan bagai beton, what ever you name it---di matanya.
"Serius ngga mau? Isinya ayam balado, pokoknya 4 sehat 5 kenyang." Katanya sudah melipat sampahnya dan kembali Panji mengucurkan air dari jerigen untuknya mencuci tangan.
"Liat Lo makan aja udah kenyang sii. Lo do'a dulu ngga sih makannya? Kaya orang keseta nan."
Panji tertawa dan meneguk air minumnya, "ya do'alah..."
"Dikunyah tuh sampai lembut, baru ditelen biar meringankan kerja pencernaan. Dinikmatin ngga sih makannya?"
"Enak kok enak." Jawab Panji lagi, hmmm! Ivy merotasi bola matanya.
Panji sudah berdiri tapi kemudian kini Ivy yang menarik saku celana gamblok Panji dan mendongak, "mau kemana?"
"Jalan lagi. Katanya nanti kesiangan."
"Duduk dulu, nasinya kan belum turun, ya ampun! Hidup Lo tuh ya, oke...gue tau ya tentara tuh mesti segala cepet, tapi yang bener aja, kita lagi ngga perang sekarang." Tariknya memaksa Panji untuk duduk kembali di sampingnya.
"Harusnya nunggu 30-60 menit dulu buat aktivitas kaya jalan kecil,bahkan 2 sampai 3 jam buat aktivitas berat dan rebahan biar ngga gerd, tapi minimalnya 10-15 menitan biar asam lambung ngga naik." Alisnya menukik tajam, tanda ia tak ingin dibantah, "jadi paham kan maksud gue jangan makan disini tadi? Kalo di rumah Lo bisa ngaso dulu nunggu sejam, disini nunggu yang ada gue kering kaya kerupuk." Kini ketusnya.
Panji tersenyum, nyatanya bukan alasan manja dan jijik saja yang membuat Ivy menolak makan bersama barusan, "jadi sebenernya kamu itu calon guru atau calon dokter?"
Ivy masih manyun, tak tau...setiap ucapan yang keluar dari mulut Panji itu seperti nada mencibir di telinganya, "buat tau info sepenting itu ngga perlu jadi dokter. Tapi Lo memang mesti tau, karena Lo kan suka makan...mesti tau aturannya biar semua makanan yang masuk ke dalam tubuh Hulk Lo ini ada manfaatnya. Bukan cuma dapet kenyangnya doang!" sengak Ivy dengan mata menyipit dan memajukan wajahnya ke arah Panji. Bersamaan dengan Panji yang justru sendawa.
"Aaaaa! PANCIIII! JOROKKK!" kali ini Ivy tak bisa untuk tak mendaratkan pukulan-pukulan telaknya di bahu Panji dan membuat Panji tertawa tergelak, "lagian kamu deketin saya waktu saya mau sendawa."
"Huweekkk bau tau ngga! Bau ayam!"
Panji benar-benar dibuat puas tertawa pagi ini.
/
Mereka sudah kembali berjalan, sampai akhirnya di pertengahan jalan bertemu dengan Arsa dan yang lain yang hendak mengambil air juga.
"Arsaaaa!" teriak Ivy melambai pada kawan-kawannya.
"Vy...ah curang dibawain si Abang...." itu Bumi yang bicara.
"Duh bang, maaf jadi merepotkan." Arsa menunduk, "biar saya yang bawa?"
Panji menggeleng, "ngga usah. Kamu aja ambil lagi sendiri. Biar ini saya yang bawa tanggung."
"Si Ivy, kirain beneran dibawa sama Ivy...taunya yang bawa, bang...." mereka membungkuk sopan.
"Enak bener neng!"
"Gue ngga minta, nih bapak tentaranya aja yang mau..." gidik Ivy.
"Santai aja." Jawab Panji.
"Ya udah kalo gitu diterusin. Mesti ngantri soalnya."
Mereka berpisah kembali dengan Ivy yang beberapa kali menoleh ke belakang begitupun Bumi, Tami dan Made.
Hening tercipta sejenak diantara mereka hanya ada bunyi langkah dan nafas mereka saja, sampai akhirnya Ivy angkat bicara, "sore itu----"
"Saya langsung pulang. Mereka diurus perangkat RT setempat dan keluarga mereka."
Padahal awalnya Ivy hanya ingin bicara dan meminta maaf sudah meninggalkan tkp tanpa bicara, tapi ya sudahlah...
"Maaf kamu jadi terbawa-bawa." Ucap Panji lagi digelengi Ivy, "ngga apa-apa sih, gue juga kaget sebenernya. Gue ngga pernah tau kalau Mayra bisa sejauh itu...lucu aja temen deket tapi ngga tau." Ivy menyipitkan mata ke arah langit yang mulai menunjukan matahari cerah, sesekali dekapannya di seragam Panji ia naikan di dada bersama kresek yang masih berisi satu porsi makan dan sisa air di botol minum.
"Tapi bagus juga. Lo tau Mayra sebelum bener-bener jauh..."
Panji mengangguk, betul. Sebelum perasaannya hanyut dan semakin sakit nantinya.
"Untuk air ini, thanks ya...besok mesti ngerayu yang lain deh buat dibawain air." Arah matanya merujuk pada jerigen yang dibawa Panji, alis lelaki ini naik sebelah, sosok tom pada serial tom and jerry mendadak lembut kaya marie si kucing putih, bukan tanda-tanda akan kiamat kan?
"Kalo kamu mau saya bisa tolong bawakan..."
"Eh! Engga..." Ivy menggeleng, "ngga usah. Seriusan ngga usah." Yang benar saja, 2 jam perjalanan bolak balik 3 sampai 4 jam, belum lagi berjalan yang butuh sekali jalan bolak balik 4 km.
"Serius. Anggap aja pengganti biaya salon yang saya janjikan."
Ivy menggeleng, "kalo gue bilang ngga usah ya ngga usah. Jadi jangan maksa."
See? Right?! Sulit untuk diraih dan mahal!
Panji mengangguk, "oke."
Mereka sampai di basecamp, Gege berjingkrak, "yeeee! Air Dateng!"
Namun Ivy langsung menyetop kebahagiaan Gege itu, "eh! Ini punya gue ya....lagian Lo pake air kaya lagi mandiin gajah sekeluarga, Ge. Cari air susah loh, Lo mesti jalan jauh, angkat berat, mana ngantri, disana orang-orang juga butuh air...so, hemat air!!" Kini Ivy berujar tega membuat Gege melengkungkan bibirnya.
"Lo boleh pake, tapi kita share, satu jerigen ini cukup buat mandi seorang, air bagian bilas bersihnya Lo tampung di baskom, buat dipake sikat wesee atau bersiin lainnya, deal?!"
"Tega...Vy, kesambet jin air ya?!"
"Jin Dasim!" suara Ivy yang telah melengos ke dalam meninggalkan Gege dan Panji di luar, "Ra! Bikin peraturan pemakaian air dong!" serunya.
"Ivyyy!" teriak Gege merengek, lalu ia menatap Panji, "makasih ya bapak udah dibawain air."
Tapi tak lama Ivy keluar lagi dan membawa serta air hangat di gelas urap singkong dan tentu saja mengembalikan seragam dan kresek Panji, "nah sekarang Lo boleh makan. Istirahat sebentar terus balik." Ivy juga membawa serta ponselnya menunjukan waktu, padahal jelas-jelas di pergelangan tangan Panji ia memakai jam.
"Udah jam segini, mau nyampe jam berapa ke kesatuan. Jangan gara-gara bantu anak KKN Lo kena damprat komandan."
Panji sudah memakai kembali seragamnya, tapi menyerahkan kresek berisi porsi makan, "buat kamu."
Ivy hampir menggeleng namun Panji menunjukan alisnya, "terima. saya ngga mau bawa-bawa beginian ke kesatuan." Ia sudah melahap urap singkong yang masih hangat itu, lalu mengangkat botol air mineralnya saja.
Imel turut keluar dari dalam rumah, "bang Panji makasih ya...udah dibawain air sampai tiga kali begini."
"Sama-sama, kebetulan aja lagi ada urusan sama Ema Flo."
Dan yeah...tentu saja Panji merasa sedikit tak bersemangat kala mengingat esok Ivy melarangnya untuk membantu mengambil air, ditambah....ia juga tak mungkin jika harus bolak balik kesini setiap hari mengingat jarak tempuh.
"Ini sinyal disini sedikit susah ya, kadang manteng kadang turun lagi lemot." Ucap Ivy memeriksa ponselnya diangguki Panji.
"Mau menghubungi keluarga?"
Ivy menggeleng, "ngga bisa scroll sosmed. Nih, sekarang lagi manteng nih, tapi ntar beberapa menit kemudian langsung merosot."
Ddrttt...
Ponsel Ivy bergetar diantara perbincangan pagi ini, bukan panggilan melainkan vicall.
Mama melakukan panggilan video, pemandangan yang pertama Ivy lihat adalah si kucing putih dengan wajah memelasnya di pangkuan mama.
"Vy, Velvet sakit..ngga mau makan dari kemarin, muntah terus."
Ivy nampak----" ya ampun, Veve kenapa, Veve lihat mamiii! Veve mamii kangen..."
Baik Panji ataupun Imel langsung menoleh horor pada Ivy.
Mamii? Anak?
.
.
.
.
sampe bawah, bang Nji g nongol 😢
alibi aja nyari sarapan, jauh bener lu nyari sarapan doank, sarapan mata ya nji 🤣🤣🤣🤣🤣
gua berdoa semoga para koruptor dan di hukum mati