NovelToon NovelToon
Yang Hilang Tanpa Pergi

Yang Hilang Tanpa Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Single Mom
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.

Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.

Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.

Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yhtp *2

Lalu seperti kebiasaannya yang tak pernah berubah sejak hari pertama mereka menikah, laki-laki itu langsung merentangkan kedua lengannya, menarik tubuh Merlin masuk ke dalam pelukan yang erat, hangat, dan sangat akrab.

Badan mereka saling menempel rapat. Merlin bisa merasakan detak jantung Reyno yang sedikit cepat, merasakan hawa dingin yang terbawa dari luar, tapi juga merasakan kehangatan tubuh laki-laki itu yang selalu bisa menghangatkan dirinya dalam sekejap.

Seolah tempat itu memang milik mereka berdua. Seolah tidak ada tempat lain di dunia ini yang lebih nyaman selain berada di dalam pelukan satu sama lain.

"Aku kangen," bisik Reyno pelan, suaranya teredam saat ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Merlin, menghirup aroma sabun dan wangi tubuh istrinya yang menjadi ketenangan baginya.

Merlin mendengus kecil, tangannya naik melingkar di leher Reyno, jari-jemarinya bermain pelan di ujung rambut belakang leher itu. "Padahal baru sehari lho kita pisah. Pagi tadi kan masih ketemu," jawabnya pelan.

"Tetep aja namanya pisah, tetep aja kangen," gumam Reyno, mengeratkan pelukannya sedikit lagi seolah takut istrinya akan hilang jika dilepas.

Merlin tidak bisa menahan senyumnya yang makin melebar. Sejujurnya, ia selalu selemah itu pada Reyno. Pada kata-kata manis sederhananya. Pada perhatian kecil yang ia berikan. Pada caranya memeluk seolah Merlin adalah harta paling berharga. Pada caranya memandang, seolah wanita itu adalah satu-satunya rumah yang paling ingin ia pulangi di seluruh dunia.

"Udah ah, nanti pelukannya gak kelar-kelar," kata Merlin akhirnya, berusaha melepaskan diri pelan meski hatinya enggan sekali. Ia menatap wajah suaminya, menyeka sisa air hujan kecil di pipi laki-laki itu dengan ujung jarinya. "Aku masak sup ayam. Panas banget, wanginya udah nyebar dari tadi."

Reyno mengendus udara di sekitarnya dengan heboh, matanya berbinar lapar.

"Mmm ... pantesan dari depan pintu aja udah kecium wangi enak. Kamu emang paling jago bikin aku kangen rumah."

Ia melepas jasnya yang basah, lalu menggantungkannya di gantungan dekat pintu. Ia mengusap perutnya yang sedikit keroncongan.

"Laper banget aku, dari siang cuma makan roti isi doang," keluhnya polos.

"Ya ampun ... makanya kalau di kantor makan yang bener. Ayo sana cuci tangan dulu, makanannya udah siap di meja," suruh Merlin, nadanya terdengar seperti ibu yang sedang menasihati anaknya sendiri.

"Iya, Bu Istri. Siap laksanakan!" jawab Reyno semangat sambil memberi hormat kecil, lalu berjalan cepat ke arah kamar mandi kecil di sudut ruangan.

Merlin tertawa kecil melihat tingkah laku suaminya yang kadang masih saja kekanak-kanakan itu. Sederhana sekali. Hal-hal kecil seperti inilah yang membahagiakan hatinya lebih dari apa pun. Tidak butuh kemewahan, tidak butuh hal besar. Cukup kebersamaan, canda tawa, dan rasa saling memiliki.

Malam itu mereka makan malam berdua di bawah cahaya lilin yang lembut, ditemani suara hujan yang masih setia turun di luar sana. Mereka bercerita tentang segalanya. Tentang pekerjaan Reyno yang melelahkan dan penuh tekanan. Tentang rekan kerjanya yang sedikit cerewet tapi baik hati. Tentang tanaman kecil berdaun hijau yang Merlin taruh di balkon, yang tadinya hampir mati karena kurang air, tapi kini akhirnya tumbuh subur dan berdaun lebat. Tentang film baru yang sedang tayang di bioskop, yang ingin mereka tonton bersama di akhir pekan nanti.

Pembicaraan biasa. Hal-hal kecil. Tidak ada yang luar biasa. Tidak ada topik besar atau masalah berat. Tapi bagi Merlin, semuanya terasa cukup. Semuanya terasa lengkap.

Saat piring mereka sudah kosong dan perut sudah terasa kenyang, Reyno tiba-tiba meletakkan sendoknya dengan rapi. Ia menatap istrinya lekat-lekat, lalu berdiri perlahan dari kursinya.

"Aku ada sesuatu buat kamu," katanya pelan, suaranya tiba-tiba jadi calmer dan lebih serius.

Ia berjalan menuju tas kerjanya yang ada di dekat sofa, lalu mengambil sesuatu dari dalam sana. Saat kembali ke meja makan, di tangannya tergenggam sebuah kotak kecil persegi berwarna hitam polos.

Merlin langsung membelalakkan matanya, tangannya menutup mulut sedikit karena kaget.

"Rey ... kamu beli apa lagi sih? Kan udah bilang gak usah repot-repot beli kado, cukup kamu pulang aja udah jadi kado buat aku," katanya cepat, hatinya berdesir senang bercampur rasa tidak enak hati.

"Buka dulu aja. Baru ngomong," jawab Reyno sambil menyodorkan kotak itu ke depan dada istrinya, senyumnya misterius namun hangat.

Dengan tangan yang sedikit gemetar karena haru, Merlin menerima kotak itu. Ia membukanya perlahan, pelan-pelan, seolah takut merusak apa yang ada di dalam sana.

Di dalam bantalan beludunya, tergeletak sebuah gelang sederhana dari perak yang mengkilap. Rantai-rantainya kecil dan halus, pas sekali untuk ukuran pergelangan tangan wanita. Namun yang membuat napas Merlin tertahan bukan bentuknya, melainkan tulisan kecil yang terukir rapi di bagian dalam gelang itu. Tulisan yang kecil, tapi jelas terbaca. Home.

Rumah.

Merlin langsung mendongak, menatap Reyno dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Air mata bahagia mulai menggenang di pelupuk matanya, mengaburkan wajah suaminya.

"Kamu suka?" tanya Reyno pelan, nada suaranya penuh harap dan kecemasan kecil. Ia menyentuh sisi luar gelang itu perlahan. "Gak mewah sih, cuma ... aku kepikiran buat ngasih ini."

"Cantik Rey, ini cantik banget," jawab Merlin terbata-bata, air matanya mulai menetes jatuh membasahi pipi. Ia mengusap sudut matanya cepat dengan punggung tangan. "Tapi ... kenapa tulisannya Home?"

Reyno tersenyum kecil, senyum yang paling tulus dan paling dalam yang pernah wanita itu lihat malam ini. Ia mengulurkan tangan, mengambil gelang itu, lalu perlahan memasangkannya sendiri ke pergelangan tangan Merlin.

"Karena kamu rumah aku, Lin," jawabnya pelan dan jelas, berbisik tepat di depan wajah istrinya. "Ke mana pun aku pergi, sejauh apa pun aku melangkah, seberapa capek pun aku rasanya ... cuma kamu tempat aku pulang. Cuma kamu tempat aku merasa aman, tenang, dan utuh. Kamu rumah aku."

Kalimat itu sederhana. Sangat sederhana.

Namun kalimat itu berhasil membuat dada Merlin terasa penuh, sesak oleh rasa bahagia yang meluap-luap. Ia langsung memeluk pinggang suaminya erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang itu, mendengarkan detak jantung yang selalu menjadi ketenangannya.

Malam itu, di bawah rintik hujan dan cahaya lilin yang lembut, Merlin benar-benar percaya dengan sepenuh hatinya. Ia yakin, ia berjanji, dan ia meyakini bahwa mereka akan baik-baik saja selamanya. Bahwa kehangatan ini akan abadi. Bahwa ikatan mereka tak akan pernah putus. Bahwa rumah kecil ini akan selalu menjadi tempat paling indah di dunia.

Ia tidak tahu, tidak pernah sedikit pun membayangkan, bahwa beberapa bulan setelah malam yang penuh kebahagiaan itu,

segalanya akan berubah. Bahwa hubungan mereka akan mulai retak perlahan, sangat pelan, hampir tidak terasa, hampir tidak terdengar suaranya.

Retakan yang muncul diam-diam di celah-celah kebersamaan mereka. Sampai akhirnya, rumah yang dulu terasa begitu hangat, begitu nyaman, dan begitu berarti itu, tidak lagi menjadi tempat untuk pulang. Melainkan hanya menjadi bangunan kosong yang menyimpan banyak kenangan.

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Moms Shinbi
lanjut thor
Himna Mohamad
gass kk
Green_Rose: yuhu... esok yah. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: oke siap. tapi esok yah. insyaallah
total 1 replies
Moms Shinbi
keren thor
Gricelda Pereira
oiiiiiiiii lanjuuuut dong thoor
Moms Shinbi
gasss thor
Green_Rose: yuhu, esok ya esok. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: Oke, siap.

makasih banyak udah mau mampir
total 1 replies
Wayan Sucani
Nyesek
Green_Rose: makasih banyak. 😭😭😭😭😭 terharu aku tuh
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: siap laksakana
total 1 replies
Moms Shinbi
cepat pergi merlin buat ray menyesal tpi jngn mo kenbali padanya.
Green_Rose: hiks hiks hiks.
total 1 replies
Moms Shinbi
astaga dadaku rasanya sesak bnget pasti saki jdi marlin
🥹🥹
Green_Rose: huhuhu... banget. merlin cukup sabar yah. kalo aku, mmm entahlah
total 1 replies
Moms Shinbi
ayo lnjtut thor buat rey nyesel
Green_Rose: siap. entar kita bikin dia jungkir balik ngejar
total 1 replies
Alia Chans
keren😍
Green_Rose: yuhu🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Himna Mohamad
merlin tinggalin aja laki2 seperti itu
Green_Rose: iy ih... udah aku katakan gitu sama Merlin. eh... tu anak kekeh sih
total 1 replies
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Green_Rose: Ya allah. makasih banyak udah mau mampir. 😭 pen nangis rasanya saat dapat komen di karya aku. aku pemula
total 1 replies
Moms Shinbi
pergi saja tingglin suamimu biar dia sadar
Green_Rose: Ya Allah makasih banyak buat komen pertama yang datang ke karya aku. makasih udah mau mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!