NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

"Kepala Desa tidak perlu khawatir soal biaya," Lin Ye menjelaskan dengan tenang. "Kemarin sore, Manajer dari Hotel Grand Yushan datang ke rumah saya. Mereka menemukan sayuran yang saya jual di pasar dan sangat menyukai kualitasnya. Mereka memberikan uang muka kontrak pasokan jangka panjang. Saya punya cukup uang tunai untuk membayar tukang sekarang."

Kepala Desa Wang terbelalak. Dia hampir tersedak tehnya sendiri.

"Hotel Grand Yushan? Hotel mewah yang ada di pusat kota itu? Astaga, Lin Ye. Kakekmu dulu juga menjual sayurannya ke orang-orang besar di kota. Kamu benar-benar mewarisi bakat bertaninya. Kalau begitu ceritanya, aku tenang." Kepala Desa Wang tertawa lebar, merasa sangat bangga pada pemuda di depannya ini.

"Syukurlah kalau begitu. Apakah ada tukang yang bisa Anda rekomendasikan?"

"Tentu saja ada. Aku akan memanggil Paman Lu. Dia kepala tukang kayu terbaik di desa ini. Dengan upah dua ratus yuan sehari, dia dan dua anak laki-lakinya bisa membereskan rumahmu dan sumurmu dalam waktu singkat," saran Kepala Desa Wang.

"Itu harga yang sangat masuk akal. Tolong panggilkan mereka sekarang, Kepala Desa. Saya akan siapkan teh dan camilan di rumah untuk menyambut mereka," kata Lin Ye mengangguk setuju.

Satu jam kemudian, Paman Lu, seorang pria tua bertubuh kekar dengan kulit gelap, tiba di halaman rumah Lin Ye bersama dua pemuda yang membawa gergaji, palu, dan tali tambang panjang.

"Jadi ini rumah tua Lin Tian," kata Paman Lu sambil menatap atap yang bolong di beberapa bagian. "Sudah lama aku tidak ke sini. Dulu atap ini aku yang bantu kakekmu membangunnya."

"Selamat pagi, Paman Lu. Maaf merepotkan Anda sepagi ini," sapa Lin Ye sambil membawa nampan berisi gelas teh panas.

"Tidak repot sama sekali, anak muda. Kami senang ada pekerjaan. Kepala Desa Wang bilang kamu ingin atap dan sumurmu dibersihkan. Kami akan bagi tugas. Kedua anakku akan masuk ke sumur, aku yang akan memanjat atap," kata Paman Lu dengan semangat.

"Silakan, Paman Lu. Jika butuh tambahan paku atau kayu, tolong beri tahu saya agar saya bisa membayarnya," balas Lin Ye.

Trak. Trak. Trak.

Suara palu yang menghantam kayu mulai meramaikan rumah Lin Ye. Kedua anak Paman Lu berjalan ke halaman belakang. Mereka memasang katrol baru dan salah satu dari mereka turun ke dalam sumur gelap itu menggunakan tali tambang untuk mengeruk lumpur dan daun kering di dasarnya.

Byur. Srek. Srek.

Suara kerukan lumpur basah bergema dari dalam sumur.

Sementara mereka bekerja, Lin Ye memanfaatkan waktu untuk menanam benih barunya. Dia berjalan ke petak tanah yang dilindungi Pagar Angin. Tomat matahari terbitnya sudah tumbuh setinggi lutut, pertumbuhannya benar-benar tidak masuk akal.

Lin Ye mengambil Bambu Pengembun Otomatis dari sakunya. Dia menancapkan bambu sejengkal itu tepat di tengah-tengah petak lahan.

Sring.

Seketika, bambu itu memancarkan cahaya hijau redup. Dari lubang kecil di atas bambu, keluarlah kabut air yang sangat halus namun tebal. Kabut itu menyebar perlahan, menyelimuti seluruh area seluas lima meter persegi dengan sangat merata. Udara di sekitar ladang itu langsung terasa lembab dan sejuk layaknya embun pagi di dataran tinggi.

"Luar biasa. Aku tidak perlu lagi memikirkan cara menyiram lahan ini setiap pagi dan sore," batin Lin Ye sangat puas.

Lin Ye kemudian menggemburkan sedikit tanah di petak yang tersisa dan menaburkan Benih Lobak Putih Giok serta Pupuk Tulang Bumi yang baru dia beli semalam. Begitu pupuk itu menyentuh tanah, tanahnya berubah warna menjadi sedikit lebih gelap dan terlihat jauh lebih subur dari sebelumnya.

Krek.

Suara ranting patah terdengar dari arah batas pagar jagung.

Lin Ye menoleh. Zhao He sedang berdiri di sana, memanggul cangkulnya. Pria tua itu menatap takjub ke arah tukang bangunan yang sedang bekerja keras di atap rumah Lin Ye.

Paman Lu yang berada di atas atap kebetulan melihat Zhao He.

"Hei, Zhao He. Anak kota ini punya banyak uang rupanya. Dia mempekerjakan kami bertiga sekaligus," teriak Paman Lu dari atas atap sambil tertawa.

Zhao He melirik Lin Ye yang sedang berdiri santai di halaman belakang. Zhao He teringat janji yang dia buat di bawah ancaman malam itu. Dia harus melindungi reputasi Lin Ye di depan warga desa.

"Tentu saja," balas Zhao He dengan suara keras agar terdengar oleh tukang lainnya. "Lin Ye ini pemuda yang sangat pekerja keras dan pintar berbisnis. Sayurannya bahkan dibeli oleh hotel bintang lima di kota. Wajar kalau dia punya modal besar sekarang. Kalian kerjakan yang benar, jangan kalian coba-coba menipunya soal harga material bangunan."

"Hahaha, tentu saja tidak. Kami tukang yang jujur di desa ini," balas Paman Lu sambil melanjutkan pekerjaannya.

Lin Ye tersenyum simpul dan mengangguk pelan ke arah Zhao He. Zhao He membalas anggukan itu dengan kaku, lalu bergegas pergi mengurus ladang jagungnya sendiri. Pria tua itu benar-benar menepati janjinya karena takut dilaporkan ke polisi.

Melihat ladangnya aman dan rumahnya sedang diperbaiki, Lin Ye teringat akan resep umpan yang dia dapatkan dari sistem semalam. Pikirannya yang jernih dengan mudah memanggil kembali daftar bahan yang dibutuhkan dari ingatannya.

"Resep umpan herbal membutuhkan daun mint liar, getah pohon pinus, dan buah beri merah yang dihancurkan. Semua bahan itu bisa ditemukan di pinggiran hutan bukit belakang," ingat Lin Ye.

Dia mengambil sebuah mangkuk batu tua yang tidak terpakai dari gudang dan melangkah melewati pohon raksasa menuju batas tanahnya yang berbatasan dengan bukit. Pagar pembatas di area ini sudah hancur sepenuhnya, memberikan akses langsung ke alam liar.

Lin Ye menyusuri semak-semak dengan hati-hati. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan tanaman mint yang merambat di bebatuan. Dia memetik segenggam daunnya yang sangat harum. Di pohon pinus terdekat, dia mengikis getah lengket dari batangnya. Terakhir, dia menemukan semak buah beri merah liar yang ukurannya sebesar kelereng.

Dia duduk di atas batu besar di pinggir hutan, memasukkan semua bahan itu ke dalam mangkuk batu. Menggunakan gagang pisau parangnya, dia mulai menumbuknya.

Dug. Dug. Dug.

Aroma tajam dari getah pinus bercampur dengan kesegaran mint dan manisnya beri merah menciptakan bau yang sangat aneh namun memikat. Bau ini bukan bau makanan manusia, melainkan bau yang dirancang khusus untuk memancing insting hewan air.

Lin Ye membentuk campuran lengket itu menjadi bola-bola kecil seukuran kacang tanah. Setelah selesai, dia mendapatkan sepuluh butir pelet Umpan Herbal Penarik Ikan.

"Selesai. Sepuluh butir umpan magis," kata Lin Ye sambil menyimpan pelet itu ke dalam kotak kecil. "Nanti sore, saat tukang-tukang ini selesai bekerja dan pulang, aku akan kembali ke sungai. Dengan umpan ini, mari kita lihat monster apa yang bisa kutangkap dari perairan Desa Qingshui."

Lin Ye bangkit berdiri dan berjalan kembali ke rumahnya. Hari masih panjang, dan kehidupan santainya perlahan mulai terbentuk menjadi sebuah rutinitas pedesaan yang mapan dan menjanjikan.

1
Heri Susanto8246
😄😄 jadi ingat novel nelayan yang tidak pernah mendapatkan ikan saat memancing.
Gege
bukannya ada ruang penyimpanan sistem ya tor.. simpan saja sampe menggunung didalamnya...
Junior Ian
Bgus
Manusia Biasa
keren thor mekanik Sistem nya🤣 benar benar kaya game rpg
Manusia Biasa
jir kirain dapat ikan grade s atau gede🗿
Yui: harus out of the box kak/Smile/
total 1 replies
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Manusia Biasa
jir ada fitu memancing juga asik🤣
Manusia Biasa
wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!