Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.
Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LDCYTD
BYUR!
Arnold memuntahkan kembali teh hangat yang baru diminumnya. "Ke... kenapa, Pak?" tanya Siti, OB kantor-nya.
"Teh yang biasa nggak ada, Sit? Ini udah 3 hari kamu buatin teh yang rasanya sama persis kayak teh pertama dulu. Padahal selama 4 tahun ini teh buatan kamu enak loh," jawab Arnold heran.
Semua hal jadi nggak baik semenjak Hana tidak lagi disisinya. Siti tak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas.
"Habis, Pak."
"Teh-nya?"
"Iya, Pak."
"Yaudah beli. Apa susahnya?"
"Susah, Pak. Saya nggak tahu di mana belinya."
"Kok bisa? Kan biasanya kamu yang beli semua keperluan pantry?"
"Iya, Pak. Tapi khusus teh Pak Arnold ini, biasanya Bu Hana yang beli," jawab Siti.
Arnold terhenyak.
"Hana?"
Siti mengangguk lantas pamit meninggalkan Arnold yang terpaku diam. Ternyata selain pengurus ART-nya yang bingung mencari pewangi dan pelembut pakaian yang sama. Yang biasa dibelikan Hana. Kini OB-nya pun bingung mencari teh yang sama.
Arnold menghela napas lalu berdiri dari kursinya. Ia berjalan keluar, menuju ruang reading film komedi romantis yang dibintangi Hana. Ramai. Sudah banyak aktor dan kru lain yang datang. Hana tidak akan menghindarinya ataupun menanggapinya dingin. Setidaknya tidak sedingin jikalau mereka lagi berdua. Arnold membuka pintu. Hana memang tengah duduk di kursi yang membelakangi pintu. Hingga tak tahu Arnold datang. Bibir Arnold tersenyum. Ah, pas sekali posisinya. Pria itu berjalan penuh keyakinan sampai sisa beberapa langkah dan sebuah dering video call dari handphone Hana menghentikan Arnold. Pria itu terpaku dan lebih memilih menontoni Hana menerima video call.
"Han, kiri atau kanan?" tanya Zidane sambil mengangkat raket tenis.
Hana menyunggingkan senyum cukup lebar.
Cantik sekali. Arnold terperangah. Baru kali ini Hana yang memang amat sangat cantik itu tampak jauh lebih cantik dari biasanya.
"Lo ngapain, Dane??"
"Beli raket lah. Kita harus menang kan lawan Arnold sama Lana!" jawab Zidane semangat 45.
Hana makin terkekeh.
"Teknik lu yang harus dibenerin, Dane. Bukan raket lu!" celetuk Tristan sudah ikut nimbrung video call grup yang dilakukan Zidane itu.
Tawa Hana tambah berderai.
Arnold kembali terperangah. Sejak kapan Hana sudah sebegitu akrab dengan circle Reiga Reishard yang begitu eksklusif itu? Arnold saja hanya sekedar kenal dengan mereka meski pernah satu kampus dengan Niyo di Columbia.
"Setuju sih sama, Itan," sahut Hana yang bahkan sudah memanggil sahabat Mas Ayang dengan panggilan kecilnya.
Zidane cemberut.
"Cukup Rama aja yang jutek dan judes, lu berdua nggak usah ikutan kenapa sih?" sebal Zidane.
"Ada apa nih? Kok gue dibilang jutek dan judes?"
Rama muncul padahal ia sedang mengurus bisnis Radiputrodiningrat grup yang ada di London bersama Syein.
"Lu sebut-sebut namanya, muncul deh jin-nya," ujar Tristan.
"Sialan lu, Tan!" galak Rama.
Mereka semua tertawa.
"Lo sama siapa beli raket? Kok gue nggak diajak, Dane? Udah selesai praktek nih gue," protes Tristan.
"Sama Brandon," ujar Zidane.
Baik, Hana, Rama, dan Tristan mencari-cari sosok Brandon.
"Mana orangnya?" tanya Rama.
Zidane langsung bermuka bete.
"Si Anjing, bukannya fokus bantuin gue cari raket. Eh doi malah gombalin SPG," jawab Zidane sambil menyorot Brandon yang sedang mendekati SPG.
Mereka semua tergelak tawa seraya geleng-geleng kepala.
"Sekali bajingan mah tetap bajingan," cetus Rama nggak aneh dengan kelakuan Brandon.
Terdengar tawa Reiga. Kedua mata Hana langsung menyudut.
"Ada Reiga ya, Ram?" tanya Hana.
Rama tersenyum sambil menoleh ke belakang.
"Rei, dicariin Ayang nih," ujar Rama setengah meledek.
Reiga muncul sambil senyum. Masuk ke dalam frame. "Hai," sapa Reiga.
Bukannya membalas sapaan Reiga. Hana malah cemberut seraya bersidekap.
"Mampus lu, Rei. Dicemberutin Hana!" tukas Zidane.
Mereka semua tertawa kecuali Hana yang sebal banget melihat Reiga malah ada di London. Padahal hari ini jadwal pulang pria itu kembali ke Jakarta. Dan Reiga sendiri sadar mengapa Hana secemberut itu padanya.
"Aku pulang hari ini kok, Sayangku," ucapnya langsung tanpa ba bi bu lagi.
Semua temannya berwajah hilarius mendengar cara Reiga membujuk Hana.
"Bodo amat!" sebal Hana dengan muka galak.
Tawa teman mereka semakin pecah.
"Ini aku di London juga karena temenin Dimas beli oleh-oleh. Kasian dia, udah lama nggak ketemu pacar, masa nggak dibawain oleh-oleh," bela diri Reiga yang mengulum senyum senang akan sikap bete Hana yang berarti wanita ini merindukannya.
"Yah pasutri berantem," celetuk Tristan.
Mereka semua tertawa.
"Hana, test cam!" ujar Ratna selaku astrada.
Hana menoleh. "Iya," jawabnya. Lalu kembali beralih kearah layar handphone-nya.
"Genks! Cabut ya! Mau test cam dulu," ujar Hana ramah.
"Semangat, Cantikku," ucap Reiga.
Hana kembali menyipitkan mata sebal kearah Reiga. "I hate you, Reishard!" sewot Hana lalu mematikan tombol telepon.
Ia berdiri. Berbalik dan begitu terkejut melihat Arnold. Suasana jadi canggung seketika.
"Han," panggil Ratna sekali lagi.
"Iya," sahut Hana lalu melewati Arnold yang masih diam. Menuju kru dan pemain lain yang sudah test cam duluan.
Arnold merasakan sesuatu yang aneh menjalar di sekujur tubuhnya. Perasaan kehilangan yang menyebalkan mulai menghinggapinya.
*
"I hate you, Reishard!" sewot Hana lalu mematikan sambungan video call yang ternyata masih berlanjut itu.
Dengan puas mereka bertiga mentertawai Reiga. Bahkan, Brandon kini ikut nimbrung berkat mendengar pekikan Hana.
"Apa sih lo pada!?" ujar Reiga tersenyum.
"I hate you, Reishard," Brandon meng-impersonate Hana. Tawa itu kembali berderai.
"Pulang, Rei. Lu juga sih malah samperin Rama," ujar Tristan.
"Gue beneran temenin Dimas, Jing!" ujar Reiga.
Niyo muncul.
"Ini ada apaan sih? Gue lagi kerja pakai ditelepon segala," omel Niyo.
"Lu nggak boleh melewatkan momen kita ledekin Reiga Sayangku," ujar Tristan.
"Sialan lu, Tan," tukas Reiga terkekeh.
"Sayangku?" Brandon tergelak tawa.
"Heh daripada lu ledekin Reiga mending lu mengingat omongan lu semua empat tahun yang lalu, Nyet," ujar Niyo.
"Omongan apaan?" gumam Zidane.
Mereka semua mendadak berpikir. Reiga tersenyum.
"Lu semua bilang, kalau Reiga sampai jatuh cinta lagi dan berakhir menikah. Lu semua pun harus begitu! Lupa?"
Lantas mereka semua terhenyak.
"Si Anjing! Siapa sih yang ngomong kayak gitu dulu!? Gue masih pengen main cuy!" gerutu Brandon.
"Mampus! Cari cewek di mana gue!?" keluh Zidane mendadak spaneng.
Tristan dan Niyo ketawa.
"Santai aja sih," ujar Tristan yang memang sudah punya pacar.
"Tai lu, Tan! Lu enak udah punya pacar!" sewot Zidane.
Tawa Tristan makin menggelegar.
"Rama sih santai aja, malah kayaknya dia yang duluan," celetuk Syein yang tahu-tahu muncul merangkul Reiga.
"Diem nggak lu, Syein!" sebal Rama.
Syein mengikik.
"Ekspekstasi lu semua terlalu tinggi, Nyet," ujar Reiga membuka suara.
Semua temannya terdiam. Rama dan Syein menatap Reiga heran.
"Sejujurnya, gue sama Hana bahkan belum pacaran," aku Reiga.
Ekspresi heran mereka berganti terkejut.
"Belum pacaran udah Sayangku, Cantikku, lu ketularan si Brandon, Rei!?" kaget Zidane.
Reiga terkekeh.
lagi. "I just can't help my self with her," aku Reiga
Semua temannya takjub mendengarnya.
"Seorang Reiga Reishard nggak bisa menahan dirinya!??" kaget Tristan.
Reiga hanya tersenyum.
"Ini bukan berarti Hana udah ada bibit mainin lu kan, Rei?" Rama mulai sinis dan naik tensi.
"Andai saja Hana berpikiran yang sama seperti yang lo bilang, Ram," sahut Reiga berharap Hana sama dengan manusia lain. "She wants me to be her bestfriend. And of course i don't want just to be her bestfriend," tambah Reiga.
Semua teman baiknya diam. Lalu kemudian tawa mereka semua pecah. Begitu lepas dan riang. Bahkan, Rama dan Syein memeluk Reiga.
"Genks, kayaknya lu semua beneran harus siapin cewek deh! Ini Reiga seriusan loh!" tukas Tristan.
"Mari kita pastikan Hana nggak akan menolak lu, Rei!" ujar Zidane.
"Setuju! Setuju! Pepet terus, Rei. Genks, keluarin semua kemampuan kalian!" timpal Brandon serius.
"Siapa tuh cowok yang Hana gebet selama 4 tahun ini?" celetuk Syein.
"Arnold?" gumam Niyo.
"Iya. Sejauh ini gimana, Dane? Kan lu fans berat Hana nih!? Pasti banyak gosip kan di grup alay itu?" ujar Syein.
"Anjir, dibilang grup alay," gerutu Zidane sambil merengut. Mereka semua tertawa.
"Arnold udah jadian kan sama Lana?"
Zidane berdehem.
"Setahu gue sih, era-nya Arnold udah end yak. Tapi kan yang paling tahu Hana itu bukan fans-nya. Gue yakin Reiga lebih tahu tentang Hana lebih dari siapapun," ujar Zidane.
Mereka semua menunggu jawaban Reiga. Yang ditunggu jawabannya malah memberikan senyum.
"Just stay calm, genks. Gue menikmati semua ini kok. Gangguin Hana. Godain dia. Membuat dia pelan dan perlahan merasakan apa yang gue rasakan juga. Jadi lu semua masih punya banyak waktu untuk cari cewek," ujar Reiga santai.
Mereka semua terhenyak. Lalu secara kompak mendengus. Ada rasa haru dan terenyuh yang mereka rasakan.
"Kita selalu berharap bisa melihat lu yang sekarang ini, Rei," ucap Niyo.
"Kembali bersenang-senang sama yang namanya cinta," tambah Brandon tersenyum.
"Well, kita sekarang tahu lu akan ada di mana saat hati lu lagi nggak baik-baik aja," timpal Syein.
"Nggak heboh nyariin lu udah kayak emak yang kehilangan anak, Rei," ucap Tristan.
"Si Monyet, bukannya pada bantuin gue pilih raket malah bikin gue nangis," gerutu Zidane sambil merengut.
Mereka semua tertawa.
"Tapi kalo yang namanya Arnold macam-macam, biar gue yang beresin," ucap Rama serius.
Mereka kembali tergelak dalam tawa. Rama memang yang paling mudah terbakar emosi.
"Jangan, Nyet. Anak yatim dia. Kasian," tukas Zidane mengundang tawa semuanya.
"Nggak usah elu, Ram. Dari kemarin udah mau gue beresin. Dilarang sama Hana," ucap Reiga.
Mereka semua terdiam. Lalu, pecah tawa tergelak mereka.
"Gokil ye si Hana! Bisa membangkitkan aura malaikat kematian Reiga Reishard," seloroh Brandon takjub.
"Cinta banget nih kayaknya," ujar Rama meledek.
"Persis seperti yang lo rasakan buat seseorang yang bikin lo rela bolak-balik London-Jakarta meskipun lo takut ketinggian, Ram," ledek balik Reiga.
Muka Rama berubah masam. Syein tergelak tawa.
"Si Anying banget!" umpat Rama.
"Siapa sih orangnya!??" Tristan makin penasaran.
"Udah gue share di grup!" seru Syein.
Rama melotot.
"Kampret! Jangan macam-macam lu, Nyet!" seru Rama menghampiri Syein yang lari dan meninggalkan handphone-nya pada Reiga.
Brandon, Tristan, dan Niyo sibuk memeriksa handphone masing-masing. Penasaran dengan sosok wanita yang berhasil mencuri perhatian kulkas 15 pintu bernama Rama Radiputrodiningrat. Hanya Zidane yang masih saling memandangi layar bersama Reiga. Bertatapan penuh kode dengan Reiga. Tersenyum penuh haru.
"Biasa aja, Dane," ujar Reiga membaca pikiran Zidane yang begitu senang dirinya berani untuk kembali percaya.
"She will show you how love and trust supposed to be, Rei," ucap Zidane dalam hati.
"Gue senang akhirnya lo kembali percaya," ucap Zidane.
Reiga tersenyum.
"Berkat doa sepertiga malam lu juga kan, Dane?" ledek Reiga.
Zidane tertawa.
"Si Monyet, ngapain gue doain lu. Gue sendiri aja belum ketemu," ucap Zidane nge-dumel.
*
Hana merapikan isi tas-nya selesai mencuci tangan di wastafel. TUNG! Notifikasi pesan masuk ke dalam handphone miliknya. Hana meraihnya. Mas Ayang. Ih, pasti Ibu nih yang ganti nama nomor telepon-nya Reiga.
Reiga
15 menit lagi aku naik pesawat
Hana tersenyum malu. Ia menggigit bibir bawahnya. Rasa senang mengetahui Reiga akan segera kembali ke Jakarta. Hana mengetik sebuah balasan.
Hana
Bodo amat!
()、):
Namun sehabis mengetiknya, Hana malah menyunggingkan senyum lebih lebar dari sebelumnya. Reiga tersenyum membaca balasan Hana. Belum pernah ia tidak sesabar ini untuk kembali ke Jakarta selesai dinas panjangnya di luar negeri.
Reiga
3(3)
See you soon, Sayangku
"Idih, apaan sih!? Sayangku. Sayangku!" dumel Hana dengan muka senang.
Hana lantas berjalan keluar kamar mandi. Lurus menuju lift untuk turun ke lobi. Arnold berdiri di depan meja resepsionis. Membuat Hana sedikit terkesiap. Canggung. Namun ia kembali melanjutkan langkahnya.
"Han," panggil Arnold saat Hana malah berjalan melewatinya.
Hana mengacuhkannya.
"Hana, wait! Han," panggil Arnold.
Hana mendengus lalu berhenti dan berbalik.
"Apalagi?" tanya Hana dengan muka lelah.
"Aku ..."
"Merk teh udah aku kasih tahu Siti. Merk pewangi sama pelembut pakaian kamu juga udah aku kasih ke asisten kamu," potong Hana.
Arnold kaget Hana mengetahui kesusahan kecil namun eksplisit yang tengah dihadapinya.
"Ngopi sama aku ya?" Arnold bertanya penuh harap.
Hana diam sebentar. Bukan menimbang mau mengiyakan atau menolak. Hana jauh lebih bingung dengan sikap Arnold yang seperti korban. Sudah jelas-jelas dia pelaku-nya.
"Urusan?" tanya Hana.
Sebenarnya Hana juga bingung kenapa ia bisa se-lega ini saat bicara dengan Arnold. Padahal ia kira, melihat pria ini pun Hana tak sanggup.
"Pribadi," jawab Arnold.
"Then my answer is no," sahut Hana.
Muka kecewa Arnold muncul.
"Hana, please," bujuknya seraya menyentuh lengan kiri Hana yang refleks Hana tarik.
Gerakan yang sungguh melukai hati Arnold. Sungguh ia telah kehilangan 'kemewahan' bisa dekat dengan Hana.
"Aku tahu aku salah, Han. Tapi, please jangan giniin aku. Aku nggak sanggup. Kamu berarti banget buat aku," aku Arnold tak tahu malu.
Hana terhenyak dengan kesungguhan dari sorot mata Arnold.
"Tapi nggak se-berarti Lana kan?" ucap pelan Hana menyinggung luka miliknya sendiri.
Arnold terhenyak. Tak bisa menjawab.
"You already choose it, Nold. Dan bukan aku yang kamu pilih," tambah Hana menunjukkan kekecewaannya yang masih begitu nyata.
Arnold diam. Sekali lagi tidak menjawab apapun. Hana menatap wajah kuyu milik Arnold.
"Han, ayo! Masih ada dua photoshoot!" ujar Juni keluar dari Alphard yang sudah terparkir di lobi.
Arnold mengusap wajahnya.
"Aku duluan," pamit Hana lalu berbalik pergi.
Arnold memandangi kepergian Hana dan belum pernah ia merasa se-gamang ini. Dadanya terasa sesak dalam kelengangan yang tak pernah Arnold sangka akan dirasakannya. Apalagi menebak akan kehilangan Hana.
Hana diam seribu bahasa setelah percakapannya dengan Arnold di lobi MDB Pictures tadi. Juni menatapnya dengan penasaran. "Ngapain si Arnold? Ajak lu rujuk?" tanya Juni penasaran.
"Rujuk apaan sih, Jun?! Jadian aja nggak pernah," judes Hana.
Juni mendengus.
"Dih! Jadi gue yang kena damprat-nya," ujar Juni.
Hana berdecak. "Semua cowok tuh emang brengsek, kampret, nggak tahu diri!" pekik Hana sewot seraya bersidekap.
Juni sudah ngeri jika Hana ngomel begini.
"Termasuk Mas Ayang, Han?" takut-takut Juni berkomentar untuk sedikit menurunkan emosi Hana.
"Ya enggak kalau Reiga!" sahut Hana spontan menjawab Juni.
Wajahnya sontak merah. Emosinya yang naik akibat tingkah nggak mau rugi Arnold berubah menjadi asam lambung naik dengan ratusan kupu-kupu bergerombol dalam relung dadanya berkat Mas Ayang, eh salah... Reiga.
"Apa sih, Jun!? Kenapa jadi Reiga!?" omel Hana.
Juni tertawa.
"Udah mulai mengakui Reiga sebagai Mas Ayang," goda Juni dengan sebuah lirikan menyebalkan yang membuat Hana ingin menoyornya.
"Diem lu!" galak Hana.
Juni masib mesam-mesem.
"Bakal ada yang jadian nih begitu Mas Ayang pulang," Juni belum selesai meledeknya.
"Bisa diam nggak, Jun!"
Juni tertawa renyah.
"Jodoh tuh ternyata kayak gini ya?" gumamnya.
Kening Hana mengerut.
"Apanya?"
"Ya kayak yang terjadi antara lo, Reiga, dan Arnold," ujar Juni.
"Maksudnya?"
Juni memutar tubuhnya menghadap Hana.
"Lo menghabiskan waktu selama 4 tahun mengejar cinta Arnold. Tanpa jaminan. Dengan resiko kegagalan karena lo sendiri udah tahu Arnold cintanya sama Lana. Tapi lo begitu keras kepala dan gila-gilaan melakukan apapun supaya dia berubah pikiran. And now, akhir yang lo dapat persis sama seperti akhir yang udah kita semua bisa tebak, Han. Kesimpulannya ya berarti lo sama Arnold mungkin jodohnya hanya sebagai teman aja. Nggak lebih..."
"Terus sekarang lihat lo sama Reiga..."
"Kenapa?" potong Hana tak sabaran.
"Sabar kenapa sih, Han!? Belom juga gue kelar ngomong," protes Juni.
"Ya habis lo lama banget ngomongnya," timpal Hana tak mau mengaku salah.
Juni mencibir. Hana kalau lagi kesal, semuanya bisa kena damprat. Ampun deh! Juni bertanya-tanya apa Reiga juga mengalami hal yang sama dengannya? Kena damprat tidak jelas dari Hana.
"Jun?" Hana bagai anak balita menunggu janji ditunaikan.
Juni menghela napas. "Lo sama Reiga tuh cuma berawal dari Nana yang bilang kalian bertiga mau dijodohin sama nih satu orang. Terus kalian berdua cari tahu tetek bengeknya nih manusia. Habis itu lanjutannya gue emang kurang tahu, yang jelas gue liat lo bahkan pelukan sama dia di teras rumah lo ya, Han, sampai gue diomelin nyokap lo karena pecahin telor. More than that... hubungan kalian sekarang? Gilak! Progressnya cepat banget. Lo bahkan masuk circle-nya si Reiga! Tanpa lo minta pula. Semua sahabat terbaiknya. Jejeran manusia favorit yak, yang lo bilang sama gue. They're welcoming you! What the hell!? Sekarang pun lo jadi akrab kan sama mereka. Emang pernah Arnold memperlakukan lo seserius Reiga? Enggak, Han! Enggak pernah!" ujar Juni dengan nada orasi penuh semangat.
Semua analogi asistennya itu membuat Hana bengong. Karena semua yang dikatakan Juni memang benar adanya. Dan sialnya, ia pun memikirkan hal yang sama. Hanya saja tak mau mempercayai kebenaran semua fakta yang terjadi.
"Kesimpulannya, jodoh udah pasti bertemu.
Entah gimana caranya. Dan kalau udah ketemu, ya semuanya mudah, memang sudah pada tempatnya, posisinya, Persis kayak lo dan Reiga!" ujar Juni lagi.
Hana makin terdiam. Tak ingin mempercayai semua kebetulan ini begitu saja. Bagaimana kalau kali ini pun salah? Tapi memang bersama Reiga, semua yang diimpikan Hana terjadi. Dirayu, disayang, diperjuangkan, diikuti maunya... sudah banyak hal yang diragukan Reiga dengannya dalam waktu kurang dari seminggu.
Arnold?
Selama 4 tahun ini, faktanya lebih banyak Hana yang 'memberi'. Selalu Hana yang sendirian memperjuangkan segalanya. Memang bukan salah Arnold. Lelaki itu memang tidak cinta Hana. Sejak awal memang Hana yang keras kepala.
Dada Hana mendadak sesak sendiri. Ia memilih menatap kearah jendela. Tak lagi melihat kearah Juni. Pelupuk matanya memanas. Juni merasa tak enak. "Han, lo jadi sedih ya? Sori, gue nggak mak..."
"It's okay, Jun. Emang gue aja yang bego. Gue yang terlalu keras kepala," potong Hana.
Juni meraih lengan kanan Hana lalu mengelus punggung Hana.
"Seenggaknya semua itu udah berlalu kan. Lo udah sadar. Itu poin pentingnya, Han," hibur Juni.
"Apa iya gue udah keluar? Apa semudah itu melupakan Arnold? Manusia yang paling gue inginkan selama 4 tahun ini?" tanya Hana pada dirinya sendiri.
"Iya. Gue yakin, lo pasti udah keluar dari lingkaran setan itu!" seru Juni yakin.
Hana menoleh lantas tergelitik dengan kalimat lingkaran setan. "Lingkaran setan! Emangnya gue se-nestapa itu apa, Jun!?" tukas Hana membuat Juni memasang muka sebal karena merasa sia-sia menghibur Hana. Juni langsung kembali ke tempat duduknya.
"Kok jadi lo yang bete?" ledek Hana.
"Ya abisnya lu lagi sedih-sedih tiba-tiba senyam-senyum. Ketularan siapa sih lu!? Jadi cheesy banget. Nggak kayak Adrianne Hana yang cool! celetuk Juni berseloroh.
Hana menanggapi ucapan itu dengan serius. Tepat setelah kalimat ketularan siapa suh lu itu terucap dari mulut Juni, wajah Reiga langsung terpampang dalam otaknya. Ah, sial! Hana berujar sendiri.
*
Devan duduk dalam keadaan cemas. Ia terus bolak-balik melihat jam tangannya. Ini memang masih lama 15 menit dari waktu janjian yang mereka tentukan. Namun hatinya tidak sabar untuk membahas topik ini. Sesegera mungkin dengan Rahardian Reishard.
"Benar yang Papa dengar, Lan?" Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Devan masuk ke kamar putrinya. Lana yang sedang menyisir rambut.
"Benar apanya, Pah?" tanya Lana sambil berbalik.
"Kamu pacaran sama Arnold Poernomo!?" Suara Devan meninggi.
Lana menghela napas. Cepat atau lambat Papa-nya pasti tahu. Apalagi setelah jadian, Arnold semakin sering datang ke rumah sakit. Makin sering pula mengirim makanan, hadiah, dan bunga.
"Namanya Arnold Baskara Mahenra, Pah. Kalau yang Papa sebut tadi itu nama seorang chef. Nah Arnold yang ini seorang produser dari salah satu rumah produksi terbesar di Indonesia," jawab Lana.
"Jadi benar kamu pacaran dengan si Arnold itu?" tanya Devan lagi.
Lana mengangguk.
Devan langsung berwajah marah. Ia memegang kepalanya.
"Tujuan kita itu Reiga! Katanya suka Reiga! Kenapa malah jadian sama Arnold!?" seru Devan.
"Karena Lana mau memberi pelajaran sama Hana, Pah," jawab Lana dalam hati. Sebuah jawaban yang tak mungkin diucapkannya langsung.
"Papa pasti belum lihat fotonya kan?" Lana berusaha mengalihkan perhatian Papa-nya dengan menyebutkan gosip Hana.
"Foto apa!?"
"Foto Hana dan Reiga di Singapura dan di depan rumah Hana," jawab Lana sambil menunjukkan fotonya pada Deva.
Lana memang pintar. Begitu sempurna skenario yang dibuatnya. Ia sudah mengira Papa-nya akan marah dan bertanya. Karena itu Lana sengaja menyimpan foto-foto penggerus rasa sabarnya itu.
Devan terkejut. "Sejak kapan Hana kenal Reiga? Dan bukannya mereka belum bertemu?" Devan kembali bertanya.
"Pertanyaan Papa nggak bisa Lana jawab," ujar Lana berwajah innocent.
Devan mendengus.
"Biar Papa yang urus ini! Kamu putusin tuh produser. Memangnya produser seperti dia bisa membantu karir Papa untuk jadi dokter kepresidenan?! Papa sudah muak kalah dari si Satyanegara itu!" Sebal Devan.
Lana diam.
Awalnya ia pun kaget, dibalik persetujuan Papa-nya merestui perjodohan ini. Untuk pertama kalinya menyetujui keinginan Lana yang mengaku tertarik pada Reiga sejak awal. Ternyata restu itu ada, karena tak lain dan tak bukan disebabkan oleh ambisi pribadi Devan Soediro. Ia butuh kekuasaan Reishard Corporation demi mendapat tempat di dokter kepresidenan. Lana tak ambil pusing lagi karena ia pun menginginkan Reiga. Anggap saja ia tengah barter keuntungan dengan Papa-nya. Semua beda cerita setelah berita Hana dan Reiga menyebar. Foto-foto yang jauh dari kata pertemanan yang sangat memuakkan Lana. Sungguh membuat iri Lana. Sampai ia memutuskan hal besar, yaitu memacari Arnold demi alasan konyol, membuat Hana menderita.
Pertanyaannya, apa benar Hana menderita? Saat sebagai gantinya, Hana memiliki Reiga Rahardian Reishard.
"Paham kamu, Lan!?" pekik Devan.
Lana masih dalam pikirannya sendiri.
"Lan?" panggil Devan lagi.
"Lana!?" seru Devan setengah membentak.
Lana tersadar.
"Iya, Pah," jawab Lana.
Devan lantas keluar dari kamar anaknya. Dan percakapan semalam bersama Lana berakhir membawanya pada janji lunch yang kesorean dengan Rahardian di sebuah restoran steak.
"Maaf ya, Dev. Lama ya tunggunya?" Suara Rahardian yang ternyata sudah berdiri didepannya mengagetkan Devan.
"Nggak kok. Gue aja yang datangnya kepagian. Duduk, Rah," jawab Devan.
Rahardian duduk. Bersandar. Seperti baru menemukan posisi enak.
"Udah pesan?" tanya Rahardian.
"Udah," jawab Devan.
Lantas Rahardian memanggil waitress dan memesan satu porsi steak wagyu sirloin dengan tingkat kematangan medium well. Beserta segelas air mineral dingin.
"Jadi kenapa, Dev?"
Devan mengatur napas.
"Sudah dengar gosipnya?"
"Gosip apa?" tanya Rahardian seakan tidak tahu niat dan isi kepala Devan yang ingin membicarakan perkara Hana dan Reiga. Sebenarnya dari awal Rahardian sudah tahu alasan mengapa Devan yang memiliki karakter keras kepala mau menyetujui ikut perjodohan dengan tiga kandidat seperti ini. Devan butuh pengaruh nama Reishard untuk ambis pribadinya menjadi dokter kepresidenan. Semua terlihat jelas oleh Rahardian berkat kemampuan anehnya.
"Reiga pergi ke Singapore sama ponakan gue. Anaknya Denis. Hana," jawab Devan
Tak lama pesanan mereka berdua datang.
Anehnya, bisa bersamaan. Mereka mulai makan sambil mengobrol.
"Yang nggak mau terusin kedokteran dan malah jadi artis ya?" tanya Rahardian.
Devan berekspresi senang. Seakan itu aib Hana.
Yang akan meminuskan penilaian Rahardian untuk menjadikan Hana sebagai calon menantunya.
"Betul!" pekiknya.
"Terus?"
Ekspresi senang Devan berubah menjadi tanda tanya.
"Kita masih dalam kesepakatan perjodohan kan, Rah?"
Rahardian mengangkat kepala. Kadang ada momen di mana ia masih tidak sanggup mendengarkan ambisi manusia yang demi mewujudkannya sampai harus menyakiti hati manusia lain. Persis seperti Devan ini.
"Iya," jawab Rahardian.
"Kalau begitu apa sebaiknya kamu bilang ke Reiga untuk menjauhi Hana?"
Devan mulai melancarkan serangannya.
"Kenapa harus menjauhi Hana?"
"Ya karena perjodohan itu."
"Loh Hana juga salah satu kandidat kan? Bukan hanya Lana. Bahkan ada satu keponakan kamu lagi, siapa namanya? Arana?" ujar Rahardian.
"Gue kira semua ini cuma formalitas biar Lana dan Reiga bisa..."
"Kalau Reiga pilih Hana, gue bakal mendukungnya sepenuh jiwa raga gue, Dev," potong Rahardian membungkam Devan.
Kini direktur rumah sakit Reishard itu tak mampu berkata.
"Maksudnya?"
"Gue juga kaget pertama kali dengar anak gue sampai batalin meeting cuma buat temenin anaknya Denis ke Singapura. Tapi jujur gue senang. Gue senang, Reiga akhirnya mulai bergelut sama cinta-cintaan lagi. Well, itu memang yang gue tunggu," jawab Rahardian lugas.
"Dia cuma seorang artis, Rah," ucap Devan seakan profesi Hana begitu hina. Dan profesi Lana lebih mulia.
Rahardian tersenyum.
"Kok bisa sih kamu meremehkan keponakan sendiri seperti itu, Dev?" ujar Rahardian membuat Devan salah tingkah.
"Hana mungkin gagal menjadi dokter, Dev. Itu juga karena dia yang mau kan? Pilihan hidupnya. Namun dia menyudahinya dengan sebuah gelar cumlaude. Bahkan menjadi perwakilan lulusan untuk berpidato di acara wisuda. Setelahnya ia ambil kuliah fashion design di Paris dan sekali lagi Hana membuktikan bahwa dia memang bertanggung jawab dengan pilihannya. Hana lulus sebagai yang terbaik. Keluar dari sana pun, Hana membuat brand pakaian sendiri dan sukses. Sekarang dia juga punya beberapa coffee shop dan bakery. More than that, kurang bijaksana untuk dipandang sebelah mata, Dev. Hana itu salah satu artis paling berpengaruh di Indonesia. Bahkan Asia Pasifik. Wajahnya muncul di berbagai cover majalah mancanegara, nggak cuma majalah lokal. Image Hana sebagai aktris itu bukan kaleng-kaleng. Dia Brand Ambassador dari banyak brand ternama.
Semua film yang dibintanginya jadi box office. Laris manis. Namanya merupakan jaminan kesuksesan. Bahkan pemerintah sering menggaet Hana untuk jadi salah seorang influencer yang menyebarluaskan program pemerintah. Keponakan kamu itu luar biasa loh, Dev. Persis seperti orangtuanya, Denis dan Sara," ujar Rahardian membela Hana sekaligus menyenggol Devan.
Devan terdiam.
Hana memang luar biasa. Ia sendiri mengakui itu. Kesalahan Hana hanya satu, tidak menjadi dokter seperti para Soediro lain yang menerima takdir mereka. Dan sebenarnya itu tidak penting lagi. Karena popularitas Hana sedikit banyaknya telah mendongkrak karier kedokteran keluarga besar Soediro.
"Gue hanya ingin melihat Reiga bahagia, Dev. Sesederhana itu," ucap Rahardian lagi.
"Dan kalau memang bahagianya Reiga sama Hana. Maka gue akan mendukungnya," tambahnya.
Sebuah kalimat pamungkas yang menegaskan bahwa Rahardian memberikan restunya pada hubungan Reiga dan Hana.