NovelToon NovelToon
Nano Machine Girl

Nano Machine Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Anak Genius
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: [ Fx ] Ryz

Novelette

Di tengah keputusasaan, harapan datang dari masa yang belum terjadi.

Iris Astridewi, seorang siswi sekolah menengah atas yang hidup dalam keterbatasan di Makassar, harus menelan pil pahit kehidupan.

Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, takdir memaksanya menjadi sebatang kara setelah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan beban hidup dan hutang yang mengancam masa depannya.

Seorang pria tampan dengan penampilan yang tidak wajar bernama Kim, tiba-tiba muncul di hadapan Iris.

Ia mengaku sebagai Humandroid tipe RK800, ciptaan tahun 2109 yang dikirim melintasi dimensi waktu.

Kim membawa pesan yang sulit dipercaya

Di masa depan, dunia akan hancur oleh tangan Iris sendiri. Bisakah Iris merubah masa depan ataukah hancur di tangan nya sendiri.

Ini kisah Iris bersama Humanoid bernama Kim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 09 | Transformasi Menuju Kesempurnaan

...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...

Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah tirai jendela kamar tidur Iris, menyinari ruangan yang luas dan mewah itu. Iris perlahan membuka matanya, merasakan kenyamanan yang luar biasa di setiap inci tubuhnya. Ia meregangkan otot-ototnya, dan anehnya, ia merasa jauh lebih ringan, segar, dan bertenaga dibandingkan biasanya. Rasanya seolah-olah ia telah tidur selama berminggu-minggu tanpa gangguan.

"Uhm... Pagi yang enak sekali," gumam Iris seraya turun dari tempat tidur.

Namun, saat kakinya menyentuh lantai, langkahnya terasa sedikit berbeda. Ia merasa pandangan matanya kini berada di titik yang sedikit lebih tinggi dari biasanya. Awalnya ia mengira itu hanya perasaannya saja, namun rasa penasaran itu membuatnya segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Saat ia berdiri di depan cermin besar yang terpasang di dinding kamar mandi, langkah kaki Iris seketika terhenti. Matanya terbelalak menatap pantulan dirinya sendiri di kaca tersebut. Ia menyibakkan rambutnya ke belakang, mencoba memastikan apakah itu benar-benar dirinya.

"Apakah ini... aku?" bisiknya pelan.

Iris mendekatkan wajahnya ke arah cermin. Kulitnya yang sebelumnya sudah terlihat cukup mulus kini tampak jauh lebih halus, putih bersih, dan memancarkan aura cahaya alami yang lembut, seolah-olah ada cahaya redup yang terpancar dari pori-porinya. Tidak ada noda hitam, jerawat, ataupun bekas luka sedikitpun yang terlihat. Bentuk wajahnya yang sudah cantik kini terlihat semakin sempurna dengan rahang yang sedikit lebih tegas namun tetap lembut, serta mata yang berbinar indah bak bintang di langit malam.

Iris kemudian mundur beberapa langkah untuk melihat tubuhnya secara utuh. Ia menoleh ke bawah dan menyadari bahwa pandangan matanya kini jauh lebih tinggi dari biasanya. Ia segera mengukur tingginya menggunakan garis ukur yang tertera di dinding.

"Wah! Tinggiku bertambah sekitar 9 sentimeter dalam semalam? Luar biasa!" seru Iris takjub.

Bukan hanya tingginya yang bertambah drastis, namun bentuk tubuhnya pun mengalami perubahan yang signifikan. Tubuhnya yang tadinya berukuran rata-rata kini berubah menjadi sangat proporsional dan seimbang. Pinggangnya terlihat lebih ramping namun tetap memiliki lekuk tubuh yang indah dan feminin, bahunya sedikit melebar namun tetap terlihat anggun, serta kakinya yang terlihat jenjang dan lurus sempurna. Tubuhnya memancarkan pesona atletis namun tetap terlihat lembut dan seksi.

Iris memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan, menatap pantulannya dengan takjub yang bercampur rasa bangga yang luar biasa. Ia tidak bisa berhenti tersenyum melihat perubahan dirinya yang begitu menakjubkan.

"Kalau aku melihat orang secantik dan seindah ini di jalan, aku pasti akan minta tanda tangan atau foto bareng. Hahaha, maaf ya Iris, tapi kamu terlalu cantik sampai kamu sendiri pun jadi terpukau melihatnya," gumam Iris sambil memegang pipinya sendiri dan terkekeh puas, tanpa sadar sedang memuji dirinya sendiri dengan percaya diri yang meluap-luap.

Setelah puas mengagumi dirinya sendiri, Iris pun bersiap pergi ke sekolah. Kali ini, saat ia memakai seragam sekolahnya, seragam yang biasanya terlihat biasa saja itu kini tampak seperti busana model profesional saat dipakai olehnya. Potongannya justru semakin menonjolkan lekuk tubuhnya yang sempurna.

Sesampainya di gerbang sekolah, suasana pagi itu terasa sedikit berbeda dari biasanya. Iris turun dari kendaraan dan berjalan menuju gerbang. Belum sempat ia melangkah masuk, beberapa siswa yang sedang berkumpul di dekat gerbang tiba-tiba terdiam dan menatap ke arahnya dengan mata terbelalak.

"Hei... lihat itu. Bukankah itu Iris? Kok beda banget ya?"

"Wah, cantiknya nggak main-main. Apa dia yang jadi 'Wonder Girl' yang viral itu ya?"

"Bisa jadi! Lihat postur tubuhnya, tingginya, dan gerakannya. Mirip banget sama di video itu!"

Bisik-bisik dan gunjingan terdengar di mana-mana saat Iris berjalan menyusuri koridor sekolah. Semua mata tertuju padanya. Para siswa laki-laki menatapnya dengan pandangan terpesona dan kagum, bahkan ada yang sampai menabrak tiang atau pohon karena terlalu asyik menatapnya. Beberapa dari mereka ada yang beranikan diri untuk melambaikan tangan atau tersenyum ke arahnya.

Namun, tidak semua pandangan itu bersahabat. Di antara kerumunan itu, ada sekelompok siswi yang terkenal populer dan sombong berdiri di ujung lorong. Mereka menatap Iris dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan sinis dan iri yang mendalam.

"Huh, dasar pamer. Baru saja jadi viral sedikit sudah berjalan dengan angkuh seperti itu," celetuk salah satu dari mereka dengan nada ketus.

"Entah pakai obat apa dia sampai bisa berubah begitu. Pasti pakai barang-barang mahal atau operasi plastik murahan. Lagian, mana mungkin jadi pahlawan dengan sembarangan, pasti ada maunya," sambung temannya yang lain.

Meskipun Iris tidak mendengar percakapan itu secara gamblang, ia bisa merasakan aura permusuhan dan kecemburuan yang terpancar dari arah sana. Iris hanya bisa menghela napas pelan dan mempercepat langkah kakinya.

Sesampainya di depan kelas, Iris bertemu dengan Bayu, sahabatnya sejak kecil yang sudah menunggunya di depan pintu. Saat melihat Iris berjalan mendekat, mulut Bayu tiba-tiba menganga lebar dan matanya melotot seolah mau copot. Ia menatap Iris dari atas ke bawah berkali-kali seolah tidak percaya.

"Ya ampun... Ya ampun... Ya ampun... Iris? Itu kamu kan, Ris? Bukan hantu atau alien yang menyamar kan?" gumam Bayu berulang kali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya takjub.

"Ada apa, Yu? Kenapa melihatku seperti itu? Apa ada yang kotor di wajahku atau di bajuku?" tanya Iris sambil buru-buru memegangi wajahnya dan menatap bajunya, merasa sangat canggung dengan tatapan Bayu yang begitu intens.

Bayu segera mendekat dan menepuk-nepuk bahu Iris pelan namun dengan nada nada ledekan yang akrab.

"Waduh, waduh, waduh... Jadi, semalam kamu diculik alien lalu diubah jadi model antariksa ya, Ris? Atau jangan-jangan kamu menelan kacang ajaib seperti di cerita Roro Jonggrang? Lihat tuh, tinggimu menjulang tinggi, wajahmu bersinar terang, badanmu bagus banget kayak patung. Awas nanti kamu malah diminta jadi iklan lampu neon atau sampo, lho! Hahaha, terus sekarang kamu jadi 'Wonder Girl' juga. Wah, sahabatku ini makin hebat saja," ledek Bayu sambil tertawa cekikikan, meski di matanya tersirat rasa kagum yang tulus.

Iris langsung cemberut dan memukul pelan lengan Bayu. "Dasar mulutmu tidak ada filter sedikitpun! Ini murni karena aku sedang rajin merawat diri dan berolahraga, tahu! Dan soal kemarin, itu hanya kebetulan saja," bantah Iris dengan pipi yang sedikit memerah karena malu.

Bayu tertawa makin keras melihat ekspresi wajah Iris. Namun, ledekan Bayu itulah yang sedikit banyak membuat rasa gugup Iris berkurang.

Saat mereka masuk ke dalam kelas, suasana kelas pun seketika menjadi hening. Semua kepala menoleh ke arah pintu. Kehadiran Iris seolah menjadi pusat perhatian utama di ruangan itu. Beberapa teman sekelasnya yang laki-laki langsung berbisik-bisik dengan wajah terpesona, sementara yang perempuan ada yang menatap dengan iri, ada pula yang menatap dengan takjub.

Iris yang dulunya bisa masuk ke dalam kelas dengan tenang tanpa banyak orang yang mempedulikannya, kini harus berjalan melewati lautan mata yang mengawasinya. Ia merasa sangat canggung, gugup, dan ingin sekali menyembunyikan diri di balik bayang-bayang atau lari pulang ke rumah secepatnya. Ia berjalan dengan menundukkan kepala sedikit, berharap hari ini segera berlalu dengan cepat.

...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!