Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Pembantaian Terbuka
Dua puluh fluktuasi Qi meledak secara bersamaan, mengguncang udara di sekitar mulut Lembah Pedang Patah. Berbagai elemen—api yang berkobar, angin yang melolong, dan kilatan petir buatan—mewarnai langit kelabu Reruntuhan Ribuan Siluman. Bagi mata kultivator biasa, rentetan serangan gabungan dari elit Ibukota Kekaisaran ini adalah badai kematian yang tidak memiliki celah untuk dihindari.
Namun, di mata Lin Tian, badai mematikan itu tidak lebih dari sekumpulan vektor energi yang bergerak dengan kecepatan dan lintasan yang sangat bisa diprediksi. Otaknya yang dingin dan rasional memproses informasi dalam pecahan milidetik.
"Dua puluh penyerang. Lima di antaranya memiliki kecepatan di atas rata-rata. Serangan elemen api dari sisi kiri memiliki kepadatan terendah, menciptakan celah struktural selebar setengah meter. Logika pertempuran keroyokan: hancurkan formasi mereka dari titik terlemah, ciptakan kepanikan, dan biarkan momentum mereka saling bertabrakan," analisa Lin Tian secara internal.
Ia tidak mundur untuk mengambil jarak tempuh, melainkan menekan kakinya ke tanah obsidian. BUM! Tanah di bawahnya retak membentuk jaring laba-laba, dan tubuhnya melesat maju menyongsong badai energi tersebut seperti anak panah abu-abu.
"Mati kau, Sampah!" teriak salah satu penjaga elit di garis depan, mengayunkan pedang apinya dalam lengkungan horizontal yang lebar.
Alih-alih menangkis, Lin Tian merendahkan posturnya hingga nyaris sejajar dengan tanah, membiarkan bilah api itu menyapu beberapa milimeter di atas kepalanya. Tanpa membuang momentum, ia menggunakan tangan kirinya sebagai tumpuan di tanah, memutar tubuhnya, dan menyapu kaki penjaga tersebut dengan tendangan yang dilapisi Qi Primordial.
Suara tulang kering yang patah terdengar nyaring. Saat penjaga itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke depan, pedang besi di tangan kanan Lin Tian melesat ke atas, menusuk lurus dari bawah rahang hingga menembus ubun-ubun penjaga tersebut.
Satu detik. Satu nyawa melayang.
Lin Tian tidak berhenti. Ia menarik pedangnya, menggunakan cipratan darah yang menyembur untuk mengaburkan pandangan dua penjaga di belakang target pertamanya. Mengandalkan Langkah Pedang Menembus Bayangan, kecepatannya melampaui batas pandang fana. Ia berkelebat menembus celah di antara mereka. Dua kilatan abu-abu berdesir di udara.
Kedua penjaga itu terus berlari maju sejauh tiga langkah sebelum kepala mereka perlahan tergelincir dari leher, jatuh ke tanah dengan suara berdebum yang mengerikan.
Melihat tiga elitnya dibantai dalam waktu kurang dari dua tarikan napas layaknya memotong ilalang, Xue Ren, jenius pemegang tombak perak di Pendirian Yayasan Tingkat 6, mengaum marah.
"Jangan serang secara acak! Kepung dia dengan Formasi Kunci Logam!" perintah Xue Ren, menyadari bahwa pemuda ini memiliki kecepatan reaksi di luar nalar. Ia melompat ke udara, mengalirkan seluruh Qi elemen logam ke dalam tombaknya. Tombak itu memancarkan cahaya perak yang menyilaukan, berubah menjadi proyeksi naga perak yang menukik tajam ke arah jantung Lin Tian.
"Naga Perak Pembelah Gunung!"
Serangan ini mengunci ruang di sekitar Lin Tian, sebuah teknik yang sangat rasional untuk menghentikan kultivator yang mengandalkan kecepatan.
Lin Tian menengadah. Matanya sedingin es abadi. "Mengunci ruang dengan elemen logam yang kaku. Pilihan yang masuk akal, tapi kau salah menilai kepadatan energiku."
Lin Tian tidak menghindar. Ia mengangkat tangan kirinya yang bebas dari senjata. Dantiannya bergemuruh, mengalirkan Qi Kekacauan secara maksimal ke telapak tangannya. Alih-alih membentuk perisai, ia membiarkan telapak tangannya diselimuti oleh aura abu-abu pekat yang memancarkan hukum kehancuran primitif.
TRANG!
Ujung tombak perak yang membawa kekuatan untuk menghancurkan bukit itu menghantam telapak tangan kosong Lin Tian.
Gelombang kejut meledak, menyapu debu dan bebatuan dalam radius tiga puluh meter. Kelompok bangsawan itu tersenyum kejam, yakin bahwa tangan Lin Tian pasti hancur lebur berkeping-keping.
Namun, saat debu menipis, pemandangan yang tersisa menghancurkan akal sehat mereka.
Lin Tian berdiri kokoh di tempatnya, telapak tangannya mencengkeram ujung mata tombak perak tersebut. Tidak ada setetes darah pun yang menetes. Sebaliknya, Qi Kekacauan abu-abu dari tangan Lin Tian mulai merayap naik menyelimuti tombak tingkat Bumi tersebut, meluruhkan dan merusak struktur logam spiritualnya dengan suara mendesis yang memekakkan telinga.
"B-Bagaimana mungkin?!" Xue Ren terbelalak ngeri. Tombaknya terasa seperti terperosok ke dalam rawa asam yang mematikan. Koneksi spiritualnya dengan senjatanya diputus secara paksa.
"Senjata panjang memberikan jangkauan, namun memberikan musuh tuas untuk menghancurkan keseimbanganmu," ucap Lin Tian datar.
Dengan satu sentakan kuat yang ditenagai oleh Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian menarik tombak itu ke arahnya. Xue Ren, yang masih berada di udara dan menolak melepaskan senjata kebanggaannya, ikut tertarik ke depan dengan kecepatan tinggi.
Tepat saat Xue Ren meluncur ke arahnya, pedang besi Lin Tian melesat ke atas dalam satu tusukan yang sangat sederhana dan mematikan.
Cras!
Bilah pedang itu menusuk tepat di tengah dada Xue Ren, menembus jantungnya, dan keluar menembus punggungnya. Mata pemuda jenius dari Klan Xue itu membelalak lebar, memuntahkan darah segar yang bercampur dengan pecahan organ dalam.
Lin Tian menendang mayat Xue Ren dari pedangnya layaknya membuang sampah, lalu memutar tubuhnya untuk menangkis tebasan kapak ganda dari jenius lainnya.
"Xue Ren mati! Monster ini bukan manusia!" jerit kultivator pemegang kapak ganda itu, keberaniannya menguap seketika. Arogansi emas yang selama ini mereka banggakan runtuh berkeping-keping di hadapan kematian yang mutlak dan efisien.
Hirarki kekuasaan di Ibukota Kekaisaran didasarkan pada status, kekayaan, dan koneksi. Namun, Lin Tian membawa mereka kembali ke hierarki alam semesta yang paling purba: predator memakan mangsa. Di medan perang ini, status pangeran tidak lebih berharga dari setitik debu.
Kepanikan menyebar seperti wabah. Para penjaga elit yang tersisa mulai ragu untuk maju. Koordinasi mereka hancur total.
Lin Tian tidak memberi mereka waktu untuk bernapas. Ia melesat masuk ke tengah kerumunan yang kacau balau. Pedang besinya, yang kini telah retak di beberapa bagian karena tidak mampu menahan tekanan Qi Kekacauan terlalu lama, terus menari dengan presisi matematis. Ia tidak melakukan gerakan akrobatik yang membuang energi. Setiap tebasannya bertujuan untuk memutus arteri, memenggal leher, atau menghancurkan Dantian.
Tiga menit kemudian, seluruh lima belas penjaga elit dan tiga dari lima pemimpin jenius telah terkapar di tanah, mengubah perkemahan itu menjadi danau darah. Tubuh mereka terpotong-potong, kehilangan segala kemegahan yang mereka miliki sebelumnya.
Kini, hanya tersisa dua orang yang berdiri: Huangpu Ye, sang Pangeran Ketiga yang gemetar hebat dengan wajah sepucat kertas, dan seorang jenius tingkat 6 lainnya yang kakinya telah lumpuh karena teror.
Jenius yang tersisa itu menjatuhkan senjatanya, berbalik, dan mencoba merangkak melarikan diri sambil menangis. "Aku menyerah! Aku mundur dari ujian! Biarkan aku menghancurkan tokenku!"
Tangannya merogoh token hitam di pinggangnya.
Mata Lin Tian menyipit. Membiarkan informasi tentang kekuatannya bocor sebelum waktunya adalah kesalahan strategis. Ia melemparkan pedang besinya yang sudah retak parah layaknya sebuah lembing.
Wuuush!
Pedang itu melesat membelah udara, menembus punggung jenius yang mencoba kabur itu tepat di jantungnya, lalu menancapkannya ke sebuah pilar batu obsidian. Jenius itu kejang sesaat sebelum akhirnya terdiam selamanya, tangannya hanya berjarak satu inci dari token keselamatannya.
Lin Tian perlahan mengalihkan pandangannya pada Huangpu Ye. Ia berjalan mendekat dengan langkah pelan yang ritmis. Setiap langkah kakinya terdengar seperti detak jam kematian di telinga sang pangeran.
"Tinggal kau sendiri, Pangeran," ucap Lin Tian datar, tidak ada emosi kemenangan, hanya konfirmasi fakta. "Gunakan apa pun kartu as pelindung jiwa yang diberikan klanmu. Mari kita selesaikan kalkulasi ini."
Huangpu Ye menggertakkan giginya hingga berdarah. Harga diri dan teror bercampur menjadi satu, mengubah kewarasannya. Ia tidak pernah dipermalukan seperti ini sepanjang hidupnya.
"Rakyat jelata rendahan! Kau pikir kau telah menang?!" raung Huangpu Ye gila. Ia menepuk Dantiannya dengan keras.
Seketika, sebuah pilar cahaya keemasan meledak dari tubuhnya. Fluktuasi energinya melonjak tajam, melampaui Pendirian Yayasan Tingkat 7 dan menembus ke puncak Tingkat 9. Di dadanya, sebuah jimat kuno berwarna darah bersinar terang—Jimat Pembakar Esensi Tingkat Surga. Ia mengorbankan separuh masa hidup dan potensi kultivasinya untuk mendapatkan kekuatan sementara.
"Aku akan mencincangmu menjadi debu! Seni Naga Emas Penelan Langit!"
Huangpu Ye mengayunkan pedang tingkat Buminya. Seekor naga raksasa yang terbuat dari murni Qi emas mengaum membelah udara, membawa tekanan yang mampu meratakan seluruh perkemahan. Ruang di sekitar Lin Tian terdistorsi dan terkunci oleh gravitasi ekstrem dari naga tersebut.
Ini adalah serangan setingkat Setengah Langkah Inti Emas.
Para tawanan yang masih terikat di pinggir perkemahan menutup mata mereka, yakin bahwa kiamat telah tiba.
Namun, Lin Tian hanya mendesah pelan. "Membakar fondasi demi kekuatan semu. Langkah putus asa dari mereka yang tidak mengerti esensi sejati dari kultivasi."
Menghadapi naga emas raksasa yang menukik ke arahnya, Lin Tian tidak mengambil senjata baru dari cincinnya. Ia hanya mengepalkan tangan kanannya. Mutiara Kekacauan di dalam Dantiannya berputar gila-gilaan, menyedot seluruh energi dari danau Qi-nya. Embrio Pedang abu-abu di pusat Dantian itu bergetar, mengirimkan seutas niat pedang yang murni, kuno, dan membawa hukum kehancuran absolut ke kepalan tangannya.
"Semua energi di bawah hukum Kekacauan hanyalah ilusi. Hancur."
Lin Tian melancarkan satu tinju lurus ke depan, menghantam udara kosong.
Tidak ada cahaya menyilaukan. Tidak ada auman binatang buas. Hanya ada sebuah pilar energi abu-abu kusam yang melesat keluar dari kepalan tangannya.
Ketika pilar abu-abu itu bertabrakan dengan naga emas raksasa milik Huangpu Ye, fenomena yang mengerikan terjadi. Naga emas yang gagah itu tidak meledak; ia terurai. Qi emas yang menyusunnya didefragmentasi secara paksa oleh hukum Kekacauan, dikikis layaknya lilin yang dilemparkan ke dalam tungku vulkanik.
Dalam satu tarikan napas, serangan pamungkas Huangpu Ye lenyap tanpa sisa, meninggalkan kehampaan yang mencekam.
"T-Tidak..." Huangpu Ye mundur selangkah, pedang Buminya jatuh dari tangannya. Jimat di dadanya retak dan pecah berkeping-keping. Kekuatan sementaranya sirna, menyisakan tubuh yang menua secara instan dan meridian yang layu.
Lin Tian berkelebat, muncul tepat di hadapan Huangpu Ye, dan mencengkeram leher sang pangeran dengan tangan kirinya, mengangkatnya ke udara.
"Kekuasaanmu di luar sana tidak berlaku di sini," bisik Lin Tian dingin. Tangan kanannya melesat, menggunakan bilah Qi untuk memotong lengan kanan Huangpu Ye di pangkal bahu, menghancurkan segala kemampuan pria itu untuk membalas dendam di sisa umurnya.
"Arrrghhh!" Jeritan Huangpu Ye melengking membelah lembah.
Namun Lin Tian tidak memberinya waktu untuk meratapi penderitaannya. Qi Kekacauan menembus melalui cengkeramannya, masuk ke dalam Dantian Huangpu Ye, dan menghancurkannya hingga menjadi debu. Setelah memastikan sang pangeran lumpuh total, Lin Tian mematahkan lehernya dengan satu putaran telak. Eksekusi absolut.
Lin Tian menjatuhkan mayat pangeran itu ke tanah. Ia menyapu sekelilingnya. Lebih dari dua puluh elit telah terbunuh tanpa satu pun yang berhasil lolos. Ia berjalan perlahan, mengumpulkan token hitam dan cincin penyimpanan dari setiap mayat. Ketika semua token digabungkan, angka merah di tokennya meledak drastis.
[14.500 Poin]
Sebuah angka yang konyol, cukup untuk menjamin posisi pertama di ujian akademi ini puluhan kali lipat. Namun bagi Lin Tian, ini hanyalah kebetulan logistik.
Ia melangkah mendekati puluhan tawanan yang masih berlutut dengan tubuh gemetar, tidak berani menatap wajah sang algojo abu-abu. Mereka menduga mereka akan dibunuh selanjutnya untuk menutupi jejak.
"Kalian tidak memiliki nilai taktis untuk dibunuh, juga tidak memiliki nilai tukar untuk diselamatkan," ucap Lin Tian datar tanpa sedikit pun simpati. "Orang-orang yang menahan kalian sudah mati. Tali kalian mengandalkan fluktuasi Qi pemiliknya. Dalam lima menit, tali itu akan melonggar dengan sendirinya. Jika kalian tetap di sini, bau darah ini akan mengundang kawanan siluman Tingkat 3."
Lin Tian tidak repot-repot memotong ikatan mereka. Ia berbalik dan berjalan lurus melewati garis batas mulut Lembah Pedang Patah. Tindakannya didasarkan pada logika murni; ia tidak menyisakan waktu untuk beramah-tamah atau menerima sujud terima kasih yang tidak berguna.
Fokusnya kini sepenuhnya beralih pada altar di tengah lembah, tempat Formasi Sembilan Istana Pemotong Jiwa bersinar dengan aura pembunuhan yang tajam.
Saat ia melangkah ke dalam area formasi, tanah obsidian menyala seketika. Ribuan bilah pedang Qi terbentuk di udara, siap untuk mencincangnya layaknya korban-korban sebelumnya.
Namun, Lin Tian tersenyum. Sebuah senyum yang tidak memancarkan ketakutan, melainkan antisipasi kelaparan.
"Formasi ini dibangun dari esensi niat pedang. Menggunakan darah untuk mengurasnya adalah tindakan orang bodoh." Lin Tian merentangkan kedua tangannya. Embrio Pedang Kekacauan di Dantiannya beresonansi hebat.
"Datanglah. Biarkan tubuhku menelan seluruh energi ini."
Ribuan bilah pedang Qi itu melesat menghantam tubuhnya, namun bukannya memotong daging, energi tersebut diserap paksa melalui pori-porinya, ditelan oleh pusaran Kekacauan yang rakus, membuka jalan langsung menuju pedang Surga yang telah menunggu di tengah altar.