NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:639
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Tidak Berniat Baik, Tapi Jantungku Berdegup Kencang

Dia menatapku terlalu lama.

Bukan tatapan biasa—bukan tatapan cowok yang baru pertama kali lihat cewek cantik. Tapi tatapan seseorang yang sedang mengecek ulang data. Seperti detektif yang baru menemukan petunjuk.

Maka aku melakukan hal yang paling tidak terduga: aku tersenyum.

Biasa. Manis. Ramah.

Seperti gadis SMP yang tidak tahu apa-apa.

"Halo," sapaku, suaraku dibuat setinggi mungkin. "Kamu kelihatan asing. Pindahan?"

Dia mengerjap. Beberapa detik. Lalu dia menjawab, "Iya. Pindahan dari Surabaya."

Bohong.

Di kehidupan sebelumnya, dia tidak pindahan. Dia memang sudah tinggal di Jakarta sejak lahir. Tapi dia selalu menghindar, selalu jadi bayangan. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku yakin dia punya alasan untuk berbohong sekarang.

"Ooh, Surabaya. Jauh juga." Aku mengangguk-angguk, sok tahu. "Nama aku Nayla. Kelas 1C. Kamu?"

"Rasya." Dia memasukkan tangan ke saku celana, gerakannya santai tapi matanya tetap waspada. "Kelas 1A."

"Wah, kelas unggulan." Aku menepuk pundaknya—berani sekali, ya, padahal baru kenal. "Semangat, ya. Kalau butuh teman, aku di bawah."

Aku tidak menunggu jawaban. Langsung berbalik, melangkah ke arah kelasku, sambil merasakan tatapannya masih membakar punggungku.

Dan di dalam hati, aku tertawa kecil.

Rasya, ya? Nama kecilmu di kehidupan sebelumnya adalah Aldo. Tapi entah kenapa kau menggantinya sekarang. Tidak masalah. Aku akan mencari tahu.

---

Satu Jam Kemudian...

Upacara bendera usai. Kami berbaris masuk ke kelas masing-masing.

Kelas 1C berada di lantai dua, tepat di seberang tangga dari kelas 1A. Posisi strategis untuk mengintai.

Aku duduk di bangku nomor tiga dari depan, dekat jendela. Di sebelahku, seorang cewek berponi tebal dengan kacamata bundar sedang asyik menggambar di buku. Dia tidak memperhatikanku sama sekali.

"Eh, hai." Aku menyapanya.

Dia mengangkat kepala. Matanya membulat di balik lensa. "Hai... kamu siapa?"

"Nayla. Kita sekelas. Duduknya berdampingan, ingat?"

"Oh." Dia tersenyum canggung. "Maaf, aku kurang fokus tadi. Aku Sasha."

"Nice to meet you, Sasha." Aku mengulurkan tangan. Sasha menjabatnya dengan ragu.

Sasha. Aku ingat Sasha. Di kehidupan sebelumnya, dia bukan siapa-siapa—hanya anak pendiam yang duduk di pojok kelas, tidak punya teman, tidak pernah diajak ngobrol oleh siapapun. Termasuk aku.

Tapi sekarang aku tahu sesuatu yang tidak kutahu dulu: Sasha adalah orang yang paling setia yang pernah kukenal. Di kehidupan sebelumnya, ketika aku difitnah dan orang-orang membuangku seperti sampah, Sasha adalah satu-satunya yang mengirimiku surat ke penjara. Surat itu pendek, hanya dua baris:

"Aku percaya kamu. Kamu tidak bersalah."

Aku hampir menangis waktu itu. Tapi di kehidupan sebelumnya, aku terlalu sombong untuk membalasnya.

"Kita bakal berteman baik, Sasha," kataku sekarang, tiba-tiba.

Sasha mengedipkan mata. "E-eh? Maksudnya?"

"Aku punya feeling." Aku tersenyum misterius. "Kamu orangnya asyik."

Sasha tersipu. "A-aku mah biasa aja..."

"Justru itu."

Sebelum Sasha sempat menjawab, bel masuk berbunyi. Seorang guru dengan kumis tebal masuk ke kelas—Pak Rahmat, guru matematika yang terkenal killer.

"Selamat pagi, anak-anak!" sambarnya.

"Selamat pagi, Pak Rahmat!" jawab kami serempak.

"Baik, sebelum mulai, catat ini dulu." Dia memutar badannya ke papan tulis. "Minggu depan ada ulangan harian. Yang nilainya di bawah 70, harus ikut remedial."

Aku menghela napas. Matematika. Di kehidupan sebelumnya, aku lumayan jago. Tapi di kehidupan ini, setelah 15 tahun tidak menyentuh rumus-rumus? Bisa-bisa aku lupa semuanya.

Tapi aku tidak khawatir. Karena aku punya senjata rahasia: memori dari kehidupan sebelumnya.

Di kehidupan sebelumnya, aku tahu persis apa yang akan terjadi di masa depan. Siapa yang akan jatuh cinta pada siapa. Siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menjadi kaya. Dan yang paling penting—siapa yang harus dijauhi.

Seperti Vania.

Vania akan masuk ke sekolah ini minggu depan. Pindahan dari Bandung. Rambutnya sebahu, matanya sipit, senyumnya manis. Semua orang akan menyukainya. Termasuk aku, di kehidupan sebelumnya.

Tapi Vania adalah ular. Ular berbisa yang menyamar sebagai sahabat.

Pertemuan pertama kami di kehidupan sebelumnya: Vania meminjam pulpenku, lalu mengembalikannya dengan ucapan terima kasih yang manis. Kami berteman. Kami menjadi dekat. Kami bahkan berduet untuk lomba menyanyi antar kelas, dan menang.

Tapi di balik semua itu, Vania iri. Iri dengan keluarganya yang kaya raya. Iri dengan wajahku yang katanya lebih cantik. Iri dengan caraku mendapat perhatian dari semua orang.

Dan ketika Vania tumbuh dewasa, dia menikah dengan mantanku. Lalu mereka bekerja sama untuk menghancurkanku.

Bukan, maaf. Bukan mantanku. Mantan suamiku. Andre. Cowok yang dulu bilang akan menjagaku selamanya, tapi malah menusukku dari belakang.

"Eh, Nayla, kamu nangis?" tiba-tiba Sasha bertanya.

Aku mengerjap. Tangan otomatis naik ke pipi. Basah.

Oh.

"Enggak." Aku menyeka air matanya buru-buru. "Cuma... debu masuk."

Sasha menatapku tidak percaya. Tapi dia tidak bertanya lebih lanjut.

Untung.

---

Jam Istirahat

Kantin SMP Negeri 7 Jakarta ukurannya sedang, dengan meja-meja panjang dari kayu dan bangku plastik warna-warni. Aroma mi goreng, sate usus, dan es teh manis menyatu jadi satu bau khas yang sulit dijelaskan tapi sangat familiar.

Aku membeli seporsi mi goreng dan segelas es jeruk, lalu mencari tempat duduk. Di pojok, dekat tiang listrik, aku melihat sosok yang kucari.

Rasya.

Dia duduk sendirian di bangku paling ujung, memegang buku bacaan tipis dengan sampul biru. Tidak ada teman di sekitarnya. Matanya sesekali melirik ke arah keramaian, tapi dengan ekspresi datar. Seperti dia sedang mengamati, bukan berpartisipasi.

Aku melangkah mendekat.

"Halo, boleh duduk di sini?"

Dia mengangkat kepala. Melihatku. Diam sejenak. Lalu menjawab, "Boleh."

Aku duduk di seberangnya. Meletakkan mi dan es jerukku di atas meja. "Kamu sendirian aja? Teman-teman sekelasmu enggak ikut?"

"Biasa." Dia balik membaca bukunya.

"Kamu tipe yang suka menyendiri ya?"

"Iya."

"Tapi di Surabaya, kamu pasti punya banyak teman, kan?" aku menyelidik dengan santai.

Dia tidak menjawab. Tangannya yang memegang buku tidak bergerak. Tapi aku bisa melihat rahangnya mengeras sedikit.

Ah, titik sensitif.

"Maaf kalau kepo." Aku tersenyum. "Cuma penasaran aja. Soalnya... rasanya aku pernah lihat kamu sebelumnya. Di suatu tempat."

Pernyataan terakhir itu kulempar seperti bom waktu.

Dua detik. Lima detik.

Dia menutup bukunya. Perlahan, dia menatapku lurus-lurus. "Kamu merasa pernah lihat aku?"

"Aneh, ya?" Aku menyuap mi ke mulut, mengunyah dengan tenang. "Kayak dejavu gitu. Tapi tenang, aku bukan orang aneh yang suka nge-stalk."

Dia tidak tertawa. Sebaliknya, sudut bibirnya justru naik—bukan senyum, tapi lebih seperti mengejek.

"Atau mungkin, kamu memang sudah pernah melihatku," katanya pelan. "Tapi di hidup yang lain."

Aku berhenti mengunyah.

Sial.

Dia tahu. Dia tahu bahwa aku tahu. Dia bermain dengan api, dan dia sengaja membiarkan aku melihatnya.

"Kamu aneh," kataku akhirnya.

"Kamu juga," balasnya.

Dan untuk beberapa detik, kami hanya saling menatap. Di kantin yang ramai dengan tawa dan teriakan anak SMP, di tengah aroma mi goreng dan sate usus—rasanya seperti ada lapisan kaca tipis yang memisahkan kami dari dunia luar.

"Oke." Aku menghela napas, meletakkan sendok. "Aku tidak akan bertele-tele. Kamu juga terlahir kembali, kan?"

Keheningan.

"Ya."

Satu kata. Tapi terasa seperti bom meledak di kepalaku.

"Sejak kapan?" tanyaku.

"Sejak aku membuka mata di rumah sakit, 15 tahun lalu." Dia melipat tangannya di dada. "Tubuh ini waktu itu baru lahir. Aku menangis bukan karena bahagia, tapi karena aku ingat semuanya. Semuanya."

Aku menarik napas panjang.

"Jadi kamu tahu, tentang... aku?"

"Tahu."

"Tentang Vania?"

"Tahu."

"Andre?"

Matanya berubah dingin. Lebih dingin dari sebelumnya. "Dia yang paling aku tahu."

Aku menelan ludah. "Kamu... siapa sebenarnya di kehidupan sebelumnya? Kenapa aku tidak pernah kenal kamu?"

Dia menunduk. Membuka bukunya lagi, seolah ingin menghindari pertanyaanku. "Itu tidak penting."

"Jelas penting!"

"Aku tidak berharga untuk diingat, Nayla." Dia berdiri, mengambil buku dan minumannya. "Tapi aku di sini untuk mengingatkanmu: jangan percaya siapa pun. Termasuk aku."

Dia berbalik. Melangkah pergi.

"Tunggu—"

Dia tidak berhenti.

Aku hanya bisa duduk, dengan mi yang sudah dingin dan es jeruk yang sudah mencair, merasakan jantungku berdegup tidak karuan.

Dia juga terlahir kembali. Dia tahu semuanya. Tapi dia tidak pernah muncul di kehidupanku sebelumnya. Kenapa? Siapa dia sebenarnya?

Dan kenapa—di saat yang paling tidak tepat, di tempat yang paling tidak romantis—kenapa jantungku berdegup kencang setiap kali dia menatapku?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!