NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Di kamar yang sunyi. Gilang berdiri di samping ranjang, kemejanya sudah setengah terbuka. Wanita di depannya menatap penuh selera, lalu menariknya mendekat.

Dia pasrah. Sentuhan di kulitnya tidak lagi membuatnya terkejut—sudah terlalu sering. Gilang tahu harus berperan. Senyum tipis dipaksa muncul di wajahnya, padahal dalam hati ia hanya ingin malam cepat selesai.

Wanita itu berbisik sesuatu di telinganya.

"kamu memangnluar biasa Romeo, ahh..."

Gilang menunduk, mengikuti permainan. Di kepalanya hanya ada satu hal: berapa lama lagi ia bisa menahan beban ini?

Suara desahan mulai terdengar, ruangan yang tadinya sunyi seolah dipenuhi ritme napas yang tak beraturan. Gilang memejamkan mata, menggerakkan tubuhnya sesuai irama yang diinginkan wanita itu.

Baginya ini hanya pekerjaan. Rutinitas yang harus ia jalani agar besok masih ada nasi di meja makan, masih bisa bayar pengobatan ibunya, dan adik-adiknya tetap sekolah.

Beberapa saat kemudian, wanita itu terkulai di ranjang, napasnya terengah. Senyum puas mengembang di bibirnya.

“Kamu memang luar biasa, Romeo,” bisiknya lirih, menatap Gilang dengan tatapan penuh kepuasan.

Romeo adalah nama samaran Gilang saat dia bekerja menyelesaikan tugasnya.

Gilang hanya menarik napas dalam, lalu menunduk. Rasa lelah dan kosong menyergapnya. Ia ingin segera keluar dari ruangan itu sebelum pikirannya semakin kacau.

Gilang menelan ludah, wajahnya memerah bukan karena bangga, tapi karena rasa jijik yang sulit ditahan. Jantungnya berdebar, bukan karena gairah, tapi karena cemas dan ingin segera menjauh.

Wanita itu akhirnya mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di meja. “Terima kasih, Romeo,” katanya sambil tersenyum, kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan.

Gilang tetap berdiri beberapa detik, menatap pintu yang menutup perlahan. Napasnya tersengal, hatinya campur aduk antara lega dan jijik. Ia segera berlari ke toilet hotel, menutup pintu rapat-rapat, lalu muntah.

Setelah itu, ia menyalakan air, menyikat giginya dengan kasar, mencoba menyingkirkan rasa pahit dan bau busuk yang masih terngiang di hidungnya. Ia menahan napas sebisa mungkin, mengingat kembali bau wanita itu—bau yang membuatnya mual sejak tadi. Gilang terdiam di depan cermin, merasa lemas, tubuhnya gemetar sedikit karena adrenalin dan rasa jijik yang menumpuk.

Setelah membersihkan diri, Gilang meninggalkan hotel dengan perasaan campur aduk. Ia berjalan ke toko terdekat, membeli beras, roti, mie instan, dan beberapa cemilan serta sembako lain yang bisa menambah stok di rumah.

Sesampainya di rumah, Gilang disambut dengan hangat oleh ketiga adiknya yang sudah menunggu di ruang tamu. “Kak Gilang pulang!” seru mereka serempak, mata mereka berbinar.

Begitu melihat tas belanjaan Gilang, mereka langsung berebut cemilan yang dibawa. “Aku mau roti!” teriak adik bungsunya sambil meraih tas. “Eh, itu mie instan buatku!” sahut yang lain.

Gilang hanya bisa tersenyum lelah, menatap adik-adiknya yang riang. Meski badannya masih terasa letih, hatinya sedikit terhibur melihat keceriaan mereka.

Setelah belanjaan diturunkan, Sekar—adik pertamanya—langsung menghampiri Gilang. “Kak, makan dulu, ya. Aku udah masak tadi,” katanya sambil menyiapkan piring di meja sederhana.

Gilang mengangguk, duduk, lalu mulai menyuap nasi dengan tempe goreng yang sudah dingin dan lepek, Gilang makan dengan lahap meski tubuhnya masih terasa letih. Sekar duduk di depannya, memandang ragu. Tangannya meremas ujung rok panjang rumahan yang ia kenakan.

“Kak…” Sekar akhirnya bersuara pelan. “Aku… udah ditagih uang buat prakerin. Katanya harus dibayar Senin depan.”

Suapan Gilang terhenti sejenak. Ia menatap adiknya, lalu menurunkan sendok perlahan. Raut wajah Sekar terlihat cemas, takut kalau beban itu akan membuat kakaknya tambah pusing.

“Biayanya berapa, Kar?” tanya Gilang pelan.

Sekar menunduk. “Dua juta, Kak. Terus… lokasi prakerinnya di luar kota. Katanya harus kos juga, sebulannya enam ratus ribu.” Ia menarik napas, lalu menatap kakaknya dengan mata berkaca. “Hmm… tapi kalau Kakak belum punya uang, aku nggak maksa buat bayar sekarang, kok.”

Gilang terdiam. Ia mengangguk perlahan, menahan berat di dadanya. “Nanti, ya. Sekarang uangnya buat beli obat Ibu dulu. Lusa juga jadwal Ibu kemoterapi.”

Sekar hanya bisa mengangguk kecil, bibirnya menahan kata-kata yang ingin keluar. Suasana meja makan mendadak hening, hanya terdengar suara sendok yang beradu pelan di piring Gilang.

Usai makan, Gilang masuk ke kamar kecilnya. Ia duduk di tepi kasur, menarik napas panjang, lalu meraih ponselnya. Jemarinya gemetar ketika membuka aplikasi bank. Angka yang muncul di layar membuat dadanya semakin sesak—uangnya hanya pas-pasan kemoterapi ibu lusa.

Ia menutup mata sejenak, lalu membuka dompet yang sudah kusam di tangannya. Beberapa lembar uang lusuh terhitung cepat, dan hasilnya sama saja: hanya cukup untuk biaya rumah sakit, tanpa sisa untuk kebutuhan lain.

Bayangan wajah Sekar terlintas di benaknya—adik pertamanya yang harus prakerin di luar kota. Lalu wajah dua adiknya yang lain, yang masih butuh biaya tambahan sekolah dan makan sehari-hari.

Gilang mengusap wajahnya dengan kasar. Hatinya terasa diremas. “Ya Tuhan… harus gimana lagi, ini?” gumamnya lirih.

Pikiran Gilang masih kalut ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Tante Jesica terpampang jelas di layar. Hatinya langsung berdegup tak enak, tapi ia tak punya pilihan selain mengangkat.

“Halo, Romeo?” suara Tante Jesica terdengar tegas tapi manis di seberang. “Ada pelanggan baru. Dia maunya dilayani kamu, dan sekarang lagi nunggu di rumah. Bisa datang?”

Gilang terdiam, pandangannya kosong menatap dinding kamar yang kusam. Tubuhnya masih lelah, perutnya terasa mual setelah pengalaman tadi, tapi wajah Sekar dan kedua adiknya terbayang jelas di kepalanya. Mereka masih butuh biaya, sementara uang yang ada bahkan belum cukup untuk berobat ibunya.

Dengan sisa tenaga, ia menarik napas panjang. “Iya, Tante… saya datang,” jawabnya pelan.

Begitu sambungan telepon terputus, Gilang menunduk. Tangannya mengepal, matanya panas menahan air yang hampir jatuh. Ia tahu dirinya makin terperangkap, tapi untuk saat ini, ia tak punya pilihan lain.

Sesampainya di rumah itu, Gilang baru saja melangkah masuk ketika seorang perempuan berpenampilan seksi langsung menarik lengannya. Usianya mungkin hanya dua tahun lebih tua darinya. Wajahnya tersenyum penuh gairah, seolah tak sabar menemuinya lagi.

“Romeo… akhirnya kamu datang,” ucap perempuan itu dengan nada manja.

Gilang menelan ludah, tubuhnya menegang. Ia mengenali perempuan ini—ia pernah melayaninya sebelumnya. Rupanya kali ini perempuan itu datang lagi, ketagihan dengan pelayanan Gilang yang dianggap berbeda.

“Cepat, aku sudah kangen sama kamu,” bisiknya sambil menarik Gilang lebih dalam ke kamar.

Langkah Gilang terasa berat, tapi ia membiarkan dirinya ditarik. Di kepalanya, wajah ibu dan adik-adiknya kembali terbayang. Itu satu-satunya alasan ia masih sanggup melangkah, meski hati kecilnya terus berteriak menolak.

Begitu pintu kamar tertutup, perempuan itu langsung mendekat tanpa ragu. Tangannya yang lembut namun agresif menyusuri tubuh Gilang, mengelusnya seolah sudah menjadi miliknya.

“Mm… aku suka banget sama kamu, Romeo. Kamu beda dari yang lain,” bisiknya manja, bibirnya melengkung penuh puas.

Gilang menahan napas. Dadanya terasa sesak, bukan karena elusan itu membuatnya nyaman, melainkan karena rasa jijik yang kembali menyergap. Kepalanya berputar-putar mengingat tatapan dan senyum-senyum palsup yang harus ia hadapi demi uang.

Namun, di balik keterpaksaan itu, Gilang tetap diam. Ia membiarkan perempuan itu memperlakukannya, meski dalam hati ia berulang kali berteriak, Aku nggak mau… tapi aku harus… demi mereka.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!