"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"
Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.
Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.
Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Malam itu, kesunyian di rumah Dirgantara terasa lebih pekat dari biasanya. Arlan tidak keluar dari ruang kerjanya selama berjam-jam. Ia duduk di kegelapan, hanya diterangi cahaya remang dari layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV ruang tengah. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik Maya ,bagaimana wanita itu menidurkan Dion, bagaimana ia merapikan mainan dengan gerakan lemas, hingga akhirnya Maya masuk ke kamar mereka.
Arlan mengepalkan tangan. Ia tahu Sarah tidak akan tinggal diam. Wanita itu adalah predator yang lihai, dan jika Sarah merasa terpojok oleh penyelidikan "kasus lain" yang sedang disusun Arlan, Sarah bisa saja menyerang Maya sebagai upaya terakhir untuk menghancurkan Arlan.
"Aku akan melindungimu, Maya. Meski kau akan menganggap perlindungan ini sebagai belenggu," bisik Arlan pada layar monitor.
Keesokan paginya, suasana meja makan terasa sangat kaku. Arlan duduk di kepala meja, sementara Maya menyuapi Dion dengan wajah tanpa ekspresi. Tiba-tiba, bel rumah berbunyi. Tak lama kemudian, Sarah melangkah masuk dengan gaya angkuhnya yang biasa, tanpa memedulikan tatapan tajam dari para penjaga di pintu depan.
" Kak Arlan! Kenapa kau sulit sekali dihubungi? Dan penjagaan ini... apa kau sedang membangun benteng?" tanya Sarah sembari melirik Maya dengan hinaan yang nyata di matanya.
Arlan meletakkan sendoknya perlahan. Suasana di ruangan itu mendadak turun beberapa derajat. Ia menatap Sarah dengan sorot mata yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya , dingin, kosong, dan mematikan.
"Ada urusan apa kau ke sini, Sarah?" tanya Arlan pendek.
"Aku hanya merindukan Dion," Sarah mencoba mendekati Dion, namun Maya secara naluriah menarik kursi Dion lebih dekat ke arahnya, melindungi bocah itu.
"Jangan sentuh dia," desis Maya tajam.
Sarah tertawa kecil, suara yang biasanya membuat Arlan merasa kasihan, kini terdengar seperti gesekan pisau di atas kaca. "Lihat, kak Arlan! Istrimu ini semakin tidak tahu diri. Dia bersikap seolah dia ibu kandungnya, padahal dia hanyalah penyebab..."
"Cukup!" bentak Arlan. Suaranya menggelegar, membuat Sarah terlonjak. Arlan berdiri dan berjalan mendekati Sarah. Ia membungkuk sedikit, membisikkan sesuatu tepat di telinga wanita itu yang membuat wajah Sarah seketika memucat pasi."Aku tahu apa yang kau lakukan di tikungan jalan itu tiga tahun lalu, Sarah. Satu kata lagi keluar dari mulutmu tentang Maya, dan aku tidak akan menunggu tim hukumku untuk menghabisimu."
Sarah gemetar. Ia menatap Arlan dengan ketakutan yang murni, lalu melirik Maya yang tampak bingung dengan perubahan sikap Arlan yang begitu drastis. Tanpa pamit, Sarah berbalik dan lari keluar dari rumah itu seolah dikejar setan.
Maya menatap Arlan, mencari jawaban. "Apa yang kau katakan padanya, Mas?"
Arlan kembali ke kursinya, mengatur napasnya yang memburu. Ia tidak boleh goyah. "Hanya peringatan bahwa aku tidak akan mentoleransi drama apa pun di rumah ini lagi."
Maya tidak percaya begitu saja. Ia melihat ketakutan di mata Sarah, sebuah ketakutan yang hanya muncul jika seseorang memegang rahasia hidup dan matinya.
"Kenapa tiba-tiba kau membelaku, Mas? Bukankah kau selalu percaya padanya?" tanya Maya penuh selidik.
Arlan hanya diam, mengalihkan pandangan pada piringnya. Ia menyadari bahwa permainannya semakin berbahaya. Dengan mengusir Sarah dengan cara seperti itu, ia justru semakin membuat Maya curiga bahwa ada sesuatu yang besar yang sedang ia sembunyikan.
Malam itu, saat Arlan tertidur karena kelelahan di sofa ruang kerja menolak masuk ke kamar untuk menghindari pertanyaan Maya .Maya melangkah masuk dengan sangat pelan. Ia mendekati Arlan, melihat guratan lelah di wajah pria itu.
Tangannya perlahan merayap ke saku jas Arlan yang tersampir di kursi. Jantungnya berdegup kencang. Begitu jarinya menyentuh logam dingin kunci tersebut, Maya tahu, malam ini kebenaran yang dikubur Arlan akan segera terungkap ke permukaan, apa pun risikonya.
" Apa kamu merindukan ku?"
Maya tersentak hebat. Tangannya yang baru saja menyentuh ujung kunci logam itu membeku di dalam saku jas Arlan. Suara bariton itu tidak terdengar mengancam, justru terdengar parau dan penuh luka, seolah Arlan sedang berbicara dalam mimpinya atau mungkin, dia memang tidak benar-benar tidur sejak tadi.
Maya menarik tangannya dengan cepat, namun sebelum ia sempat menjauh, sebuah tangan besar yang hangat namun kuat mencengkeram pergelangan tangannya. Arlan membuka mata, menatap Maya dalam keremangan cahaya lampu meja yang temaram. Tidak ada kemarahan di sana, hanya ada kekosongan yang amat dalam.
" Apa yang kau lakukan,Maya? Kamu merindukan ku?" Goda Arlan hingga membuat pipi putih Maya memerah seperti buah ceri.
Maya mencoba bersikap tenang, meski jantungnya berpacu hebat. " Jangan narsis kamu. Aku hanya ingin tahu kenapa kau berubah, Mas. Kenapa Sarah ketakutan? Dan kenapa tiba-tiba kau bersikap seolah aku adalah sesuatu yang berharga untuk di lindungi , setelah memperlakukanku seperti sampah?"
Arlan terkekeh pelan, sebuah tawa hambar yang tidak mencapai matanya yang tampak lelah. Ia menarik tangan Maya lebih dekat, memaksa wanita itu untuk tetap berada di jangkauannya meski Maya berusaha mengeraskan tubuhnya.
"Sampah ya?" Arlan mengulang kata itu dengan nada getir. "Mungkin kau benar. Aku telah membuang permata dan mempercayai kerikil tajam yang selama ini melukai kita berdua."
Arlan perlahan bangun dari posisi berbaringnya tanpa melepaskan pergelangan tangan Maya. Ia menatap Maya intens, menelusuri setiap inci wajah yang selama setahun ini ia abaikan dengan sengaja. Pipi Maya yang merona karena malu sekaligus marah menciptakan kontras yang indah dengan matanya yang berkaca-kaca karena luka lama.
Pandangan mereka bertemu, dan suasana pun mendadak berubah. Udara di ruang kerja yang tadinya terasa dingin dan mencekam, kini seolah memanas karena dorongan emosi yang tertahan selama berbulan-bulan. Arlan perlahan mendekatkan wajahnya, menghilangkan jarak di antara mereka hingga hembusan napasnya terasa hangat di permukaan kulit Maya.
Maya ingin membuang muka, namun tubuhnya seolah dikhianati oleh hatinya sendiri. Ia merindukan pria ini pria yang dulu pernah menjadi dunianya sebelum kebencian merenggut segalanya. Jari-jari Arlan yang tadinya mencengkeram pergelangan tangannya, kini meluncur lembut ke arah pipi Maya, mengusapnya pelan seolah sedang membelai porselen yang sangat rapuh.
"Berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya, Maya," bisik Arlan sangat rendah, matanya turun menatap bibir Maya yang sedikit terbuka.
Maya tidak mampu menjawab. Ia hanya bisa memejamkan mata saat wajah Arlan semakin mendekat. Ketika ujung hidung mereka bersentuhan dan Arlan hampir saja menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang sarat akan kerinduan dan permohonan ampun.
"Mama... Papa... Dion mimpi buruk!"
Suara cempreng khas anak kecil itu memecah keheningan dengan seketika. Keduanya tersentak hebat, seolah baru saja tersengat aliran listrik. Maya segera menarik tubuhnya mundur dengan gerakan sangat cepat hingga hampir menabrak meja kerja, sementara Arlan langsung berdiri tegak, merapikan kemejanya yang sedikit kusut dengan wajah yang memerah padam hingga ke telinga.
Dion berdiri di ambang pintu yang sedikit terbuka, sambil memeluk boneka beruangnya erat-erat dan mengucek matanya yang masih mengantuk.
"D...Dion? Sayang, kok bangun?" tanya Maya dengan suara yang sedikit melengking karena gugup. Ia segera menghampiri Dion, mencoba menutupi kegalauannya dengan berpura-pura sibuk merapikan piyama bocah itu.
Arlan berdeham keras, mencoba mengembalikan wibawanya yang baru saja runtuh berkeping-keping. "Ah, jagoan Papa... mimpi apa? Sini, biar Papa gendong."
"Mimpi ada monster hitam besar yang mau ambil Dion," jawab Dion polos sambil merentangkan tangan ke arah Arlan.
Arlan menggendong Dion, namun matanya melirik ke arah Maya yang masih menunduk sambil merapikan rambutnya yang berantakan. "Monster itu tidak akan bisa mengambil Dion lagi. Papa sudah mengusirnya jauh-jauh."
Maya mendongak, menatap Arlan yang kini sedang mengusap punggung Dion dengan lembut. Ada sebuah janji yang tersirat dalam kalimat pria itu. Keduanya saling pandang selama beberapa detik dengan ekspresi salah tingkah yang nyata, sebelum akhirnya Maya berbalik dengan cepat.
"Ayo, Mama temani tidur lagi di kamar. Mas... aku bawa Dion ya," ucap Maya setengah berlari keluar dari ruang kerja, menghindari kontak mata lebih lanjut dengan Arlan.
Arlan hanya bisa menarik napas panjang, mengusap wajahnya dengan frustrasi namun ada sedikit senyuman tipis yang tersungging di bibirnya. Kesempatan itu memang terganggu, tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arlan merasa dinding es di antara mereka mulai retak sedikit demi sedikit. Di dalam sakunya, kunci logam itu masih tersimpan rahasia itu masih ada, namun malam ini, Arlan merasa memiliki harapan baru.
Satu jam berlalu,Arlan memutuskan untuk ke kamar Dion,ingin ikut bergabung dengan Istri dan ponakan yang sudah di anggap nya anak nya sendiri itu .