NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUMAH TANGGA ITU SAKRAL, BUKAN RUMAH SINGGAH

Suasana ruang tamu seketika membeku. Napas Bu Susi tercekat. Kata-kata Maira bagai tamparan keras di tengah wajahnya. Tapi Maira tak berhenti di situ.

“Apa Ibu lupa..." Suaranya melemah, tapi setiap katanya terdengar sangat jelas. “Dulu, Ibu ninggalin aku dan ayah terus pergi sama laki-laki itu… dan bahkan ibu nggak pernah sekalipun nengok aku waktu Ayah jatuh sakit!"

Tangan Bu Susi gemetar, entah karena marah, syok, atau… malu. Tapi seperti biasa, ia memilih bertahan dengan egonya. “Kenapa kamu lalu bahas masa lalu? Itu urusan dulu! Lagian juga Ibu udah minta maaf kan waktu Ibu balik ke rumah ini!" Ucapnya santai.

Maira menggeleng, air matanya jatuh satu-satu. Ia tahu ibunya tak akan pernah merasa bersalah atas perbuatannya di masa lalu.

Perlahan Maira menghapus air matanya, tak ada gunanya juga mengungkit yang lalu—kata-kata ibunya benar.

"Aku cuma mau bilang, mulai dari sekarang Danu udah nggak boleh lagi tinggal di rumahku. Ini rumahku, peninggalan ayahku!" Tegas Maira, menatap ibunya lurus-lurus. Tak ada keraguan sedikit pun di matanya.

Kemudian tanpa menunggu respons, ia berbalik dan melangkah masuk ke kamar dan membanting pintu kamar dengan keras. Ya, kesabarannya telah habis.

Bu Susi terdiam beberapa detik, seakan tak percaya dengan ucapan yang ia dengar barusan. Wajahnya memerah bukan hanya karena marah, tapi karena harga dirinya diinjak oleh anak yang dulu pernah ia tinggalkan.

Matanya menatap kosong ke arah pintu kamar Maira, lalu beralih ke arah kamar belakang tempat biasanya Danu berada. Perlahan ia berjalan, mendengus keras sambil mengumpat pelan.

“Enak aja ngusir anak orang kayak ngusir tikus… Emangnya kamu siapa, Mai…” Desisnya, lalu berjalan cepat masuk ke kamar belakang, menghampiri Danu yang sedang duduk di atas kasur dengan earphone di telinganya, asyik menonton video dari ponsel.

Tanpa basa-basi, Bu Susi menyentuh eraphone yang pemuda itu gunakan dengan gerakan yang sedikit kasar. “Danu...!"

Danu mengangkat wajahnya, setengah kesal. “Apa sih Bu, ganggu aja. Orang lagi nonton juga!"

“Kamu diusir dari rumah ini." Ucap Bu Susi tajam.

Danu mengangkat kedua alisnya, lalu tertawa kecil. “Apa? Diusir? Sama siapa?”

“Sama mbakmu itu!” Ujar Bu Susi sengit. “Dia bilang kamu nggak boleh tinggal di sini lagi!"

Wajah Danu berubah. Tawa remehnya lenyap, digantikan dengan ketegangan yang jelas terlihat. “Dia serius, Bu? Kenapa aku diusir?"

Bu Susi mengangguk cepat, lalu menunduk sedikit. “Iya… Ibu tadi keceplosan bilang kamu yang bawa pergi TV itu…”

Danu sontak bangkit dari duduknya. “Bu?! Kenapa sih Ibu ngomong gitu? Arghh... Semuanya jadi kacau gara-gara ibu!”

"Ya mau gimana, ibu juga kelepasan tadi!"

Danu mengatup rahangnya, tangannya mengepal dengan wajah tampak memikirkan sesuatu. "Nggak! Mau dia ngusir aku sekalipun, aku nggak akan pernah pergi dari rumah ini. Lagian aku jual tu TV juga karna salahnya dia, siapa suruh nggak ngasih aku uang bulanan lagi!" Desisnya tak terima.

Bu Susi menatap anaknya dengan sorot penuh keyakinan. "Kamu bener! Paling juga dia cuma emosi tadi makanya ngusir kamu... Nggak mungkin juga dia tega ngusir kamu." Ujar Bu Susi membenarkan pemikirannya.

Selama ini yang ia tahu Maira—putrinya itu adalah anak yang paling baik. Tak pernah membentaknya, apalagi bersuara tinggi.

Bahkan ketika ia dan Farid—menantunya—sering berselisih, Maira-lah yang datang menengahi, menenangkan, bahkan membela dirinya.

“Siapa tadi, Bu?” Tanya Farid sambil menutup pintu rumah orangtuanya.

Bu Neni yang baru saja masuk lebih dulu dengan tangan masih menenteng kresek berisi kue lapis legit, menoleh dengan senyum semringah ke arah putranya.

“Tetangga baru sebelah rumah.” Jawabnya riang. “Anaknya cantik ya, mana sopan lagi. Tadi nganter kue katanya sekadar perkenalan karena baru pindah.”

Farid hanya mengangguk pelan. “Oh..." Wajahnya tampak tak antusias dan terus berjalan ke arah sofa.

Ia pun langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tamu, duduk dengan posisi menyandar malas sambil merenggangkan tubuh. Kedua tangannya naik ke wajah, menggosok pelipisnya dengan kasar.

“Kenapa kamu?” Tanya Bu Neni setelah ikut duduk di sebelah putranya. “Ada masalah lagi sama Maira?”

Farid tidak langsung menjawab. Matanya tertutup, bibirnya terkatup rapat. Tapi Bu Neni tahu, sejak dulu jika anaknya datang ke rumah sendiri pasti sedang bermasalah dengan menantunya.

Apalagi semenjak besannya itu ikut tinggal di rumah menantunya, Farid selalu datang ke rumahnya dengan wajah kusut.

“Biasa Bu…” Sahut Farid akhirnya.

"Kali ini apalagi masalah kamu?" Tanya Bu Neni kemudian.

Farid menarik napas panjang. “TV di rumah hilang.”

Mata Bu Neni membulat. “Apa? Kok bisa? Ibu yakin itu nggak hilang, paling dijual sama keluarga istri kamu!" Seloroh Bu Neni penuh sindiran.

“Aku nggak tahu, Bu… pusing kepalaku.” Jawabnya, lalu kembali mengusap wajahnya dengan kasar.

Bu Neni mendengus, matanya menatap kesal ke depan meski orang yang ia bicarakan tidak ada di ruangan itu. “Istri kamu itu kurang tegas, Rid. Sejak awal dia tuh harusnya tahu batas. Harusnya tidak mengijinkan keluarganya untuk tinggal di rumah kalian. Rumah tangga itu sakral Rid, bukan rumah singgah!”

Farid tak menjawab. Ia tahu apa yang ibunya katakan tidak sepenuhnya salah. Istrinya memang terlalu diam dan terlalu sering mengalah.

“Sekarang lihat.” Lanjut Bu Neni, makin semangat karena tak ada yang menyela. “Udah bukan cuma ganggu kenyamanan, tapi mulai ambil barang juga! Lha wong TV aja bisa raib gitu aja. Besok-besok kulkas, mesin cuci, motor—semua bisa ilang!”

Melihat putranya yang hanya diam, Bu Neni melanjutkan ucapannya. “Apa kamu yakin, Rid… dia tuh bener-bener cocok jadi istri kamu?” Tanya Bu Neni tiba-tiba, dengan nada lebih pelan tapi menusuk.

Farid menoleh pelan, menatap ibunya. Alisnya sedikit berkerut. “Maksud Ibu?” Tanyanya, suara serak menahan campuran heran dan letih.

Bu Neni menarik napas, lalu melepaskannya dengan suara berat. Ia tahu ini waktu yang tepat untuk menyampaikan isi hatinya yang sudah lama ia tahan.

“Ibu tuh kasihan sama kamu, Rid. Setiap kali kamu datang ke rumah ini, pasti karena ada masalah sama Maira. Gimana kalian mau punya anak, kalau hampir tiap hari selalu aja kalian bertengkar!" Dengusnya.

Farid hanya menatap kosong ke depan. Kata-kata ibunya seperti cermin—memantulkan kekacauan yang selama ini ia coba abaikan.

Bu Neni berdiri dari sofa, mengambil kantong kresek yang tadi berisi kue dari tetangga. Ia sempat melirik Farid yang masih terpaku di tempat duduknya.

“Ibu gak nyuruh kamu cerai. Cuma kamu juga harus sadar, pernikahan kamu ini sudah berjalan hampir lima tahun. Apa kamu nggak iri lihat teman-teman seumuran kamu udah pada gendong anak?!..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!