NovelToon NovelToon
Ada Cinta Di Balai Desa

Ada Cinta Di Balai Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni

Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.

Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.

Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.

Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.

Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"

Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Berjarak Di Balai Desa

Hari keberangkatan Zahwa menuju Ibu Kota tinggal menghitung hari, ia harus kembali ke Ibu Kota untuk menyelesaikan kuliahnya.Tas-tas besar berisi kitab dan keperluan kuliah sudah tertata rapi di sudut kamar. Masa liburnya telah usai, dan kini babak terakhir dalam perjuangan akademisnya, tugas akhir atau skripsi sudah menanti di depan mata. Selama di Ibu Kota ia akan menetap di Pesantren Al Munawar, sebuah pesantren cabang yang masih berada di bawah naungan garis keluarga besar Al Hadid.

​Ada sembilu yang menyayat hati Zahwa setiap kali ia menatap ke arah jalan setapak yang menuju kantor desa. Ingin rasanya ia berpamitan secara langsung kepada Arka. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa ia akan pergi untuk sementara waktu.

Namun, mengingat sikap dingin Arka belakangan ini dan permintaannya sendiri agar Arka mundur, Zahwa merasa tidak memiliki hak atau alasan yang cukup kuat untuk sekedar mengetuk pintu kantornya.

​Zahwa pasrah. Ia berpikir mungkin perpisahan mereka akan seperti ini saja, senyap, tanpa kata, dan penuh dengan tanda tanya yang tak terjawab.

​Namun, skenario Allah selalu lebih indah dan tak terduga daripada kekhawatiran manusia.

​Sore itu, saat Zahwa sedang merapikan beberapa buku-buku kuliahnya yang akan ia bawa, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari pihak akademik kampusnya. Zahwa membacanya dengan saksama, dan jantungnya mendadak berdegup kencang.

​Karena Zahwa mengambil studi kasus di Desa Sukamaju untuk skripsi nya nanti, pihak kampus mewajibkan adanya surat rekomendasi resmi dan izin penelitian dari Pemerintah Desa setempat. Tanpa surat yang ditandatangani oleh Kepala Desa, data penelitiannya dianggap tidak sah dan ia tidak bisa melanjutkan ke bab berikutnya.

​Zahwa tertegun. Surat itu harus segera diserahkan saat ia tiba di Ibu Kota lusa. Itu artinya, tidak ada jalan lain. Ia harus mendatangi Balai Desa Sukamaju. Ia harus menemui Sang Pj Kepala Desa.

​Keesokan paginya, dengan mengenakan gamis berwarna abu-abu muda jaket jeans dan kerudung warna yang senada, Zahwa melangkah menuju balai desa. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah bumi Sukamaju menahan kakinya agar tidak pergi, atau mungkin hatinya yang terlalu gugup untuk berhadapan kembali dengan sosok yang selama ini ia hindari.

​Sesampainya di sana, suasana balai desa tampak sibuk. Pak Sugeng yang sedang merapikan beberapa berkas di lobi langsung berdiri saat melihat kehadiran putri kiai tersebut.

​"Neng Zahwa? Masya Allah, ada keperluan apa, Neng?" tanya Pak Sugeng ramah, namun matanya penuh arti.

​"Pak Sugeng. Zahwa mau mengurus surat rekomendasi penelitian untuk tugas akhir kuliah. Apakah... apakah Pak Kades ada di ruangannya?" tanya Zahwa dengan suara yang hampir tak terdengar.

​"Oh, ada! Pak Kades sedang meninjau peta proyek di dalam. Mari, Neng, langsung masuk saja. Kebetulan Pak Kades sedang tidak ada tamu," ujar Pak Sugeng sambil memberikan jalan dengan penuh semangat, seolah ia adalah sutradara yang sedang mempertemukan kembali pemeran utamanya.

​Zahwa mengetuk pintu kayu yang bertuliskan nama Arka Baskara dengan pelan. Tiga kali ketukan yang terasa seperti dentuman di dadanya sendiri.

​"Masuk," suara berat dan bariton itu terdengar dari dalam.

​Zahwa membuka pintu perlahan. Di sana, Arka sedang duduk di balik meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan dokumen administratif. Arka tidak langsung mendongak, ia masih sibuk menandatangani sebuah laporan.

​"Taruh saja di meja, Pak Sugeng," ucap Arka tanpa melihat.

​"Ini... saya, Pak Arka" lirih Zahwa.

​Arka seketika membeku. Pena di tangannya berhenti bergerak. Ia perlahan mengangkat wajahnya dan menatap sosok yang berdiri di ambang pintu. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Arka menatap mata Zahwa yang teduh, sementara Zahwa terpaku melihat gurat kelelahan namun penuh ketegasan di wajah Arka.

​"Zahwa?" Arka berdiri dari kursinya. Sikapnya langsung berubah menjadi formal, meski hatinya bergejolak hebat.

"Silakan duduk. Ada yang bisa saya bantu?"

​Zahwa duduk di kursi di depan meja Arka, memberikan jarak yang cukup luas di antara mereka. Ia menyerahkan map berisi berkas dari kampus.

"Eu.. Zahwa butuh surat rekomendasi penelitian dari desa, Pak. Skripsi Zahwa mengambil data di Sukamaju."

​Arka menerima map itu, jemarinya tak sengaja menyentuh ujung kertas, dan sensasi itu cukup membuat keduanya merasa canggung. Arka membacanya dengan teliti. Ia melihat judul skripsi Zahwa dan menyadari bahwa gadis ini ternyata sangat peduli pada desa yang sedang ia bangun.

​Arka mulai mengetik sesuatu di komputernya untuk mencetak surat yang dibutuhkan. Ruangan itu kembali hening, hanya terdengar suara detak jam dinding dan ketikan keyboard.

​"Besok jadi kembali ke Ibu Kota?" tanya Arka tiba-tiba, tanpa menoleh dari layar monitor.

​Zahwa tersentak. "Iya, Pak. Insya Allah berangkat pagi-pagi."

​"Berapa lama di sana?"

​"Mungkin sampai sidang selesai. Kira-kira 6 bulan ke depan."

​Arka terdiam. Itu berarti saat Zahwa kembali nanti, masa jabatan Arka di Sukamaju sudah berakhir. Arka mungkin sudah ditarik kembali ke Ibu Kota oleh ayahnya, atau mungkin sudah pindah ke penugasan lain. Pikiran bahwa mereka akan benar-benar kehilangan kontak membuat dada Arka terasa sesak.

Di sudut meja, tepat di bawah tumpukan dokumen proyek kebun teh, Zahwa melihat sebuah map berwarna merah tua yang sedikit terbuka. Di sampulnya tertulis jelas, "SK PENUGASAN PENJABAT KEPALA DESA SUKAMAJU - ARKA BASKARA".

Mata Zahwa terpaku pada baris terakhir dokumen yang terlihat. Di sana tertera tanggal mulai tugas dan tanggal berakhirnya masa jabatan. Zahwa melakukan perhitungan cepat di kepalanya. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat menyadari kenyataan pahit itu.

Hanya tersisa tiga bulan.

Arka menyadari arah tatapan Zahwa. Ia melihat mata Zahwa yang berkaca-kaca menatap map merah di mejanya. Dengan gerakan pelan, Arka menutup map tersebut, namun ia tidak menariknya. Ia justru menatap Zahwa dengan pandangan yang paling jujur yang pernah ia berikan selama sebulan terakhir.

"Iya, Zahwa," ucap Arka memecah keheningan. "Masa tugas saya di sini hanya tinggal tiga bulan lagi."

Zahwa terdiam, lidahnya kelu. Ia ingin bertanya "Apakah Bapak akan pergi begitu saja?", namun ia sadar ia tidak punya hak untuk bertanya demikian.

"Saya sedang mengejar waktu," lanjut Arka, suaranya kini terdengar lebih lembut namun sarat akan beban. "Itu sebabnya saya bekerja siang dan malam. Saya ingin memastikan semua proyek selesai sebelum saya menyerahkan jabatan ini kembali ke kabupaten. Saya ingin memberikan yang terbaik untuk Sukamaju sebagai kenang-kenangan terakhir saya."

Zahwa menatap Arka, mencoba mencari jejak keraguan di mata pria itu.

"Tiga bulan... itu waktu yang sangat singkat, Pak."

"Sangat singkat," Arka mengulang kalimat itu dengan nada getir. "Mungkin saat kamu menyelesaikan skripsimu dan kembali ke sini untuk merayakan kelulusan bersama Abah dan Ummi, saya sudah berada di tempat tugas yang baru. Mungkin kita tidak akan sempat bertemu lagi di desa ini."

Kalimat itu seperti hantaman godam bagi Zahwa. Ia baru menyadari bahwa pilihannya untuk meminta Arka mundur tempo hari, digabung dengan kesibukan mereka masing-masing, benar-benar membawa mereka ke arah perpisahan yang nyata.

Setelah ​Arka mencetak surat tersebut, membubuhkan tanda tangan, dan mengecapnya dengan stempel resmi desa. Ia menyerahkannya kembali kepada Zahwa.

​"Ini suratnya. Semua sudah lengkap. Jika butuh data tambahan soal anggaran atau luas lahan selama nanti di kampus, kamu bisa hubungi nomor kantor desa, atau... bisa lewat Pak Sugeng," ucap Arka. Ia ingin mengatakan "hubungi aku", tapi ia menahannya.

​Zahwa menerima surat itu. "Terima kasih banyak, Pak. Dan... Zahwa minta maaf kalau selama ini ada perkataan Zahwa yang menyakiti Pak Arka. Zahwa hanya ingin yang terbaik untuk Pak Arka dan keluarga."

​Arka menatap Zahwa dalam-dalam. "Saya sudah memaafkan segalanya, Zahwa. Fokuslah pada kuliahmu. Jangan pikirkan apa-apa lagi. Sukamaju akan tetap di sini, dan saya akan memastikan semua proyek ini selesai sebelum saya pergi."

​Zahwa berdiri, ia merasa ini adalah saat terakhir ia bisa menatap wajah Arka sebelum menempuh babak baru dalam hidupnya. Ada rindu yang membuncah, ada keinginan untuk mengatakan, jangan lupakan aku, namun yang keluar hanya sebuah salam perpisahan yang santun.

​"Zahwa pamit.. Assalamualaikum."

​"Waalaikumsalam," jawab Arka lirih.

​Arka berdiri di depan jendelanya, melihat punggung Zahwa yang perlahan menjauh meninggalkan balai desa. Ia mencengkeram pinggiran meja kerjanya. Jodoh memang tidak ke mana, batinnya. Fakta bahwa Zahwa harus meneliti Sukamaju untuk skripsinya berarti mereka akan selalu memiliki alasan untuk terhubung, sesulit apa pun keadaan restu di antara mereka.

​Di sisi lain, Zahwa berjalan pulang dengan hati yang lebih ringan namun penuh haru. Surat di tangannya bukan sekedar syarat kelulusan. Perjalanan ke Ibu Kota kali ini tidak lagi terasa menyedihkan, karena ia membawa sebagian dari Sukamaju dan sebagian dari Arka dalam draf tugas akhirnya.

...🌻🌻🌻...

1
Rina Nurvitasari
ceritanya bagus dan seru TOP👍👍👍👍👍
Suherni 123
sip pak kades,fokus dulu untuk masyarakat sukamaju
Suherni 123
bagai simalakama ya pak kades,,,
Suherni 123
lanjut
Suherni 123
cakep kek,,,aku padamu 🥰
Suherni 123
semoga kakek ada di pihak mu ya pak kades
Suherni 123
ada benarnya juga Zahwa,, jangan sampai tidak diridhoi orang tua
Suherni 123
adakah bab yang hilang kah kak othor,
Ayuni (ig/tt : author.ayuni ): iya kakak, satu bab kelewat gak aku apdet, hari ini diperbaharui yaa.. maafkan 😍
total 1 replies
demoet..
hadeuhhh.. bner2 c papa pengen diserbu!!
Suherni 123
semangat Arka ....
Suherni 123
waduuh... badai mulai menerjang
Bun cie
semoga niat baik arka disambut baik juga oleh mama papanya mau merestui arka
Bun cie
bismillah semangat pak kades👍
Bun cie
cie..cie..pak kades memanfaatkan suasana..goog job pak kades👍
Suherni 123
semoga pak Bhaskara tak menghalangi niat tulus mu pak kades
Suherni 123
pak kades nembak nih😁
Suherni 123
masih anteng ka,, sebentar lagi badai datang 😁
Bun cie
goodjob pak sugeng👍
Suherni 123
yes pak Sugeng 😚
Suherni 123
aku juga uhuyyy 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!