📝 Tang Siyun adalah seorang pengembang game online berbakat, tetapi hidupnya hancur berantakan saat ia dikhianati secara bersamaan oleh pacar yang diselingkuhinya dan rekan kerja yang merebut hasil jerih payahnya.
⚰️ Kematiannya yang menyusul penuh dengan rasa pahit dan penyesalan.
🌍 Ia terbangun di dunia novel "Soul Land" yang sangat dikenalnya, terlahir kembali sebagai seorang bayi yatim piatu.
⏱️ Soul-nya yang bangkit bukanlah senjata atau binatang buas, melainkan Pocket Watch (Jam Saku) misterius dengan kemampuan yang belum tergali sepenuhnya.
🏚️ Nasibnya berubah drastis ketika ia diselamatkan oleh Tang Hao, ayah dari protagonis dunia itu, Tang San. Melihat potensi dan nasib malang Siyun, Tang Hao memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak angkat, menjadikan Tang Siyun kakak angkat Tang San.
🔖 Isekai, Reinkarnasi, Fantasi, Romansa Dewasa, Harem, Aksi, Petualangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meong Punch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[ Bab 2 ] » Bayang-Bayang Sang Penempa
Hujan di Hutan Star Dou tidak pernah terasa sesederhana air yang jatuh dari langit. Bagi Tang Hao, setiap tetesan yang menghantam pundaknya terasa seperti ribuan jarum yang mencoba menembus pertahanannya. Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehampaan di dadanya. Ah Yin telah pergi, meninggalkan aroma rumput biru perak yang memudar dan seorang bayi yang menangis di pelukannya.
Langkah kakinya berat, menyeret palu raksasa yang telah menghancurkan banyak tulang namun gagal melindungi satu nyawa yang paling ia cintai. Di tengah amukan badai itu, ia menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
Sebuah keranjang kayu. Dan di dalamnya, seorang bayi laki-laki.
Tang Hao berhenti. Matanya yang merah karena duka dan kurang tidur menatap bayi itu. Petir menyambar, menerangi wajah kecil yang tampak tenang meski badai mengamuk di sekelilingnya. Bayi itu tidak menangis seperti Tang San yang berada di dalam jubahnya. Bayi di dalam keranjang itu hanya menatap langit dengan mata yang jernih, seolah-olah dia sedang menghitung setiap tetes hujan yang jatuh.
"Dunia ini adalah tempat yang kejam, kecil," gumam Tang Hao, suaranya parau seperti gesekan batu. "Mengapa kau tidak menangis? Apakah kau sudah tahu bahwa tangisan tidak akan mengubah takdir?"
Awalnya, Tang Hao berniat membiarkannya. Ia sendiri adalah buronan Aula Roh, seorang pria yang membawa maut ke mana pun ia pergi. Membawa satu anak adalah beban; membawa dua adalah kegilaan. Namun, saat ia berbalik untuk pergi, sebuah perasaan aneh menghentikannya. Ruang di sekitar bayi itu seolah-olah memiliki ritme yang berbeda. Udara terasa lebih berat, namun lebih tenang.
Ia kembali mendekat dan memungut bayi itu. Saat jemari kasarnya menyentuh kulit bayi tersebut, sebuah getaran samar merambat ke lengannya. Bukan Spirit Power yang agresif, melainkan sesuatu yang terasa seperti... ketukan.
Tik. Tok. Tik. Tok.
"Nasib yang aneh," bisiknya. Ia membungkus bayi itu di sisi lain jubahnya. "Mulai hari ini, kau adalah Tang Siyun. Jika kau bisa bertahan hidup di bawah perlindunganku, maka kau memang ditakdirkan untuk menantang langit."
Perjalanan menuju Desa Holy Spirit memakan waktu berbulan-bulan yang sunyi. Tang Hao memilih untuk menetap di sebuah desa terpencil yang dipimpin oleh seorang lelaki tua bernama Old Jack. Di sana, ia menyewa sebuah gubuk kumuh dan mendirikan tungku pandai besi. Ia ingin menghilang. Ia ingin tenggelam dalam arak dan aroma besi yang terbakar.
Namun, kehadiran dua anak laki-laki itu tidak membiarkannya tenggelam sepenuhnya.
Tahun-tahun pertama adalah ujian bagi kesabaran Tang Hao. Tang San adalah anak yang ajaib, dia jarang menangis, mulai berjalan lebih cepat dari anak normal, dan memiliki kedisiplinan yang tidak masuk akal untuk seorang balita. Tapi Tang Siyun? Siyun adalah misteri yang berbeda.
Tang Hao sering duduk di depan pintu gubuknya pada malam hari, menenggak arak murahan sambil memperhatikan kedua anak itu di bawah cahaya bulan. Tang San biasanya akan berlatih gerak kaki atau sekadar duduk bermeditasi di sudut ruangan. Sementara itu, Siyun akan berbaring di tumpukan jerami, menatap langit-langit dengan ekspresi bosan yang terlalu dewasa untuk anak berusia tiga atau empat tahun.
Ada satu malam yang tidak akan pernah dilupakan Tang Hao. Saat itu, ia sedang mabuk berat, tertidur di meja dengan palu pandai besinya yang masih panas tergeletak di lantai. Tanpa disengaja, ia menendang meja, menyebabkan sebuah botol kaca berat meluncur jatuh tepat ke arah kepala Tang San yang sedang merangkak di lantai.
Dalam keadaan setengah sadar, Tang Hao melihat sesuatu yang mustahil.
Siyun, yang saat itu seharusnya sedang tertidur di sudut lain, tiba-tiba berada di samping Tang San. Gerakannya tidak terlihat seperti larian; itu seolah-olah Siyun muncul di sana. Dalam satu gerakan malas, Siyun menangkap botol itu hanya beberapa sentimeter sebelum menghantam kepala adiknya.
Tang Hao mengerjapkan mata. Efek alkoholnya hilang seketika. Ia melihat Siyun meletakkan kembali botol itu ke meja, lalu menguap lebar dan kembali ke sudutnya, meringkuk di bawah selimut tipis seolah tidak terjadi apa-apa.
"Anak itu..." Tang Hao bergumam dalam hati. Ia tahu tentang bakat bawaan dan Roh kembar, tapi apa yang ditunjukkan Siyun bukan sekadar bakat. Itu adalah kesadaran. Siyun memiliki tatapan seseorang yang telah melihat akhir dari sebuah cerita dan memutuskan bahwa tidur jauh lebih menarik daripada ikut bermain.
Seiring bertambahnya usia mereka menuju angka enam, perbedaan karakter itu semakin tajam. Tang San menjadi tangan kanan Tang Hao di bengkel. San kecil akan memegang palu, menempa besi dengan presisi yang membuat Tang Hao diam-diam bangga. Di sisi lain, Siyun adalah tangan kiri yang tidak terlihat.
Pernah suatu ketika, persediaan arak Tang Hao habis, dan ia tidak punya uang karena tidak ada pesanan alat tani. Ia bersiap untuk menahan rasa sakit dari luka lamanya tanpa bantuan alkohol. Namun, sore itu, Siyun masuk ke rumah sambil membawa sebuah botol arak kecil.
"Dari mana kau mendapatkan itu?" tanya Tang Hao dengan nada mengancam. "Kau mencuri dari Old Jack?"
Siyun hanya mengangkat bahu, wajahnya menunjukkan ekspresi malas yang khas. "Old Jack bilang atap gudangnya bocor dan tidak ada tukang kayu yang mau datang di tengah hujan. Aku hanya menunjukkan padanya di mana letak lubangnya dan memberikan beberapa saran tentang bagaimana menyumbatnya dengan getah pohon. Dia memberiku ini sebagai ucapan terima kasih karena membantunya berhemat."
Tang Hao menatap anak itu lama. Ia tahu Siyun berbohong, atau setidaknya tidak menceritakan semuanya. Tidak mungkin seorang anak berusia lima tahun bisa meyakinkan pria tua sekikir Old Jack untuk memberikan arak hanya karena "saran". Pasti ada sesuatu yang Siyun lakukan, sesuatu yang cerdik, sesuatu yang manipulatif.
"Kau terlalu pintar untuk kebaikanmu sendiri, Siyun," kata Tang Hao sambil mengambil botol itu.
"Dan Ayah terlalu berisik saat menggerutu karena haus," balas Siyun sambil berbaring di ambang pintu, menatap awan. "Tidakkah menurutmu awan itu terlihat seperti paha ayam? Aku lapar, San... kapan buburnya matang?"
Tang Hao membuang muka untuk menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul. Siyun adalah penyeimbang bagi Tang San. Jika Tang San adalah baja yang sedang ditempa keras, lurus, dan kuat. Maka Siyun adalah bayangan di bawah tungku. Tidak terlihat, tidak dianggap, tapi selalu ada di sana untuk memastikan panasnya api tidak membakar seluruh rumah.
Namun, ada satu hal yang mencemaskan Tang Hao. Setiap kali ia melihat Siyun sendirian, ia melihat kilatan di mata anak itu, kilatan dingin, seperti seseorang yang pernah dikhianati oleh seluruh dunia. Itu bukan tatapan seorang anak. Itu adalah tatapan seorang pria yang telah mati sekali dan tidak berniat untuk membiarkan siapa pun menyentuh hatinya lagi.
Aku menyelamatkannya dari badai, pikir Tang Hao sambil menatap kedua putra angkatnya yang kini sedang berdebat kecil tentang kayu bakar. Tapi apakah aku benar-benar bisa menyelamatkannya dari kegelapan yang ia bawa di dalam dirinya sendiri?
Tang Hao tahu bahwa Hari Kebangkitan Roh tinggal menghitung hari. Ia tahu bahwa nasib kedua anak ini akan segera meledak keluar dari desa kecil ini. Tang San akan mengikuti jalan seorang kultivator yang lurus, penuh dengan kehormatan dan perjuangan. Tapi Siyun?
Siyun adalah variabel yang tidak bisa ia hitung. Ia melihat Siyun sering memutar-mutar tangannya secara halus, seolah-olah sedang memegang sesuatu yang bulat dan kecil yang tidak bisa dilihat mata.
Tik. Tok. Tik. Tok.
"Jika dunia ini mencoba mengkhianatimu lagi, Siyun," bisik Tang Hao dalam hati, teringat pada dendamnya sendiri terhadap Aula Roh, "pastikan kau adalah orang yang memegang jamnya, bukan orang yang tergilas oleh jarumnya."
Ia meminum araknya dalam satu tegukan besar. Besok, mereka akan pergi ke bukit untuk melihat matahari terbit. Tang San akan berlatih dengan tekun, dan Siyun akan tidur di bawah pohon. Persis seperti yang telah mereka lakukan selama lima tahun terakhir. Sebuah ketenangan sebelum badai yang sebenarnya datang menghampiri garis keturunan Tang.
Tang Hao berdiri, mengambil palu godamnya, dan mulai menghantam besi. Suara dentuman itu berirama, menyatu dengan napas Tang San yang teratur dan dengkuran halus Siyun. Di dalam gubuk kecil itu, di bawah perlindungan seorang pria paling dicari di benua, seorang legenda dan seorang pengatur waktu sedang tumbuh berdampingan.