NovelToon NovelToon
Diam-diam Hamil Anak Mantan

Diam-diam Hamil Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Mantan / Romansa / Cintapertama
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.

Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.

Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.

Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

"Dek, gimana? Udah mendingan? Kamu itu jangan terlalu memaksakan diri. Kalau merasa nggak kuat, ya istirahat. Sekarang, jadi jatuh sakit, kan?" ucap Intan penuh kepedulian, meski hatinya bergejolak karena masih menyembunyikan kondisi Sonya yang sebenarnya.

Sonya mencoba tersenyum tipis, tapi jelas terlihat ada kegelisahan di matanya. "Kak, aku—"

"Udah, nggak usah dipikirin. Kata dokter kamu baik-baik aja," potong Intan cepat, suaranya dibuat setenang mungkin.

Namun, kali ini Sonya tidak bisa begitu saja menerima jawaban kakaknya. Ada sesuatu yang terasa ganjil. Biasanya, ia akan percaya dan melupakan semuanya, tapi tidak sekarang. Perasaan itu terlalu nyata.

"Kak," suara Sonya mulai meninggi, "aku terus melihat bayangan bayi kembar. Dan kali ini... ada suara laki-laki. Dia bilang akan mengambil bayi itu, Kak!" ucapnya lantang, tanpa menyembunyikan rasa takut dan frustrasinya.

Sasa dan Arya, yang masih berada didekat Sonya, terkejut mendengar nada tinggi Sonya. Mereka saling pandang, kebingungan dan cemas. Intan langsung mengalihkan perhatian ke dua anak itu.

"Kalian main di sana sebentar, ya? Ada yang ingin kami bicarakan," ujar Intan lembut namun tegas.

Sasa dan Arya mengangguk patuh. Mereka berjalan ke sudut ruangan, Sasa mengambil mainan yang ia dapatkan dari seorang nenek, dan mulai bermain bersama Arya. Meski begitu, sesekali mereka mencuri pandang ke arah Sonya.

Intan kembali memusatkan perhatiannya pada Sonya. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan adiknya dengan lembut. "Dek, suara laki-laki seperti apa yang kamu dengar?" tanyanya hati-hati, mencoba mengorek informasi lebih dalam.

Sonya mengerutkan kening, berusaha mengingat. "Suara itu... keras. Tegas. Dia bilang... 'Anak itu hanya pembawa petaka. Aku akan mengambilnya.' Kak, suara itu terus terulang di kepalaku."

Kata-kata Sonya membuat Intan tercekat. Jantungnya berdegup lebih cepat. Kenangan lama yang selama ini ia coba kubur kembali mencuat. Trauma lima tahun lalu, ketika Sonya mengalami baby blues dan kehilangan ingatan seolah menyeruak dari balik bayang-bayang.

Intan mengingat bagaimana polisi tidak pernah menemukan bayi yang hilang. Bagaimana ia, dengan berat hati, membuang semua bukti tetang kehamilan janin kembar milik Sonya. Rumah sakit tempat Sonya melahirkan bekerja sama dengannya untuk menutupi identitas Sasa, bahkan setuju untuk menjaga rahasia itu agar tidak menghadapi tuntutan hukum atas keteledoran mereka.

Namun kini, semuanya seolah kembali menghantui. Arya, yang baru muncul, menambah lapisan baru pada misteri ini. Jika benar Arya adalah salah satu bayi yang hilang, bagaimana ia harus menjelaskan semua ini kepada Sonya?

Intan menatap Sonya yang masih terlihat cemas, lalu menggenggam tangan adiknya lebih erat. "Dek, tenang. Apa pun yang kamu alami, aku akan bantu kamu melewatinya. Kamu nggak sendirian," ucapnya, suaranya penuh emosi yang mencoba memberikan kekuatan.

Sonya menatap Intan, matanya mulai berkaca-kaca. "Kak, rasanya ini begitu nyata, aku harus mencari tahu."

Intan menelan ludah, menahan air matanya sendiri. "Kita akan cari tahu bersama. Kamu nggak perlu takut lagi, Dek. Aku janji."

Setelah Sonya mulai tenang, Intan tersenyum lembut pada Arya dan Sasa. Ia berjongkok, menyamakan tinggi badan mereka, lalu berkata, "Sasa, Arya, boleh minta tolong temani Bunda. Ada administrasi lagi yang harus diurus, habis itu kita pulang."

Kedua anak itu mengangguk patuh, meski sorot mata mereka masih mencerminkan kekhawatiran. Sasa menggenggam tangan Arya erat, seolah ingin memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun, saat Intan beranjak, Sonya tampak gelisah. Wajahnya mendadak pucat, dan tangannya mencengkeram lengan kakaknya dengan panik. "Kak, pinjam ponselnya!" pintanya mendesak karena melihat ponselnya sendiri yang sudah mati kehabisan batre.

Intan tertegun. "Dek, kenapa? Ada apa?"

"Aku lupa, Arya. Aku bawa Arya terlalu lama. Yudha pasti marah... dia pasti sedang mencarinya!" Suara Sonya gemetar, dan matanya memancarkan rasa bersalah yang mendalam.

Intan segera menyerahkan ponselnya tanpa banyak bertanya. Namun, saat Sonya berusaha menghubungi Yudha, wajahnya kembali berubah. Ia menatap layar ponsel dengan ekspresi bingung dan cemas. "Kak... aku lupa nomornya. Kamu punya nomor Yudha?" tanyanya dengan suara serak.

Intan menggeleng pelan. "Dek, mana mungkin kakak punya nomornya. Aku kan nggak pernah kontak dia."

Arya, yang sejak tadi mendengarkan, tiba-tiba menyela dengan suara kecil namun mantap, "Apa Tante mau menghubungi Ayah?"

Sonya menoleh ke arah Arya, air matanya hampir menetes. "Iya, Nak. Tante takut Ayahmu panik kalau nggak dikasih kabar."

Dengan tenang, Arya menjawab, "Aku ingat nomornya, Tante."

Sonya terkejut sekaligus lega. Ia menatap Arya penuh harap. "Kamu benar-benar ingat, Nak?"

Arya mengangguk dengan yakin. "Iya, aku ingat." Ia mulai menyebutkan angka-angka dengan perlahan, satu per satu. Sementara itu, Sasa tampak berpikir keras di sebelahnya.

Ketika Arya hampir selesai menyebutkan nomor itu, Sasa tiba-tiba berseru, "Dua, tujuh, satu!"

"Kamu tahu nomor Ayahku?" tanya Arya, matanya membulat tak percaya.

Alih-alih menjawab langsung, Sasa balik bertanya dengan polos namun tajam, "Kakak anaknya Paman yang baik hati?"

Sonya menatap mereka berdua dengan kebingungan yang perlahan berubah menjadi kecemasan. Kata-kata Sasa menusuk sesuatu yang dalam, sesuatu yang belum pernah ia hadapi dengan keberanian penuh. Namun, sebelum ia sempat merespons, pintu ruangan terbuka lebar.

Sosok tinggi tampan muncul, dengan aura yang mendominasi ruangan. Wajah lelaki itu, Yudha, memancarkan kemarahan yang sulit ditahan. Suara langkahnya berat, seperti beban emosinya yang tak terbendung.

"Sonya!" serunya tajam, penuh kemarahan. Mata gelapnya menyapu ruangan sebelum kembali fokus pada wanita itu. "Kita memang sudah kembali bersama, tapi aku paling tidak suka jika kamu berbuat semaumu. Apalagi membawa Arya tanpa memberitahuku!"

Sonya merasakan tubuhnya menegang. Napasnya tersendat, tetapi ia mencoba tetap tenang. "Yudha, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan," ucapnya, suaranya gemetar.

Namun, Yudha, yang sudah dibutakan oleh amarah, tak ingin mendengar apa pun. Ia mengangkat tangannya, seolah ingin menegaskan dominasinya dalam situasi itu. Tetapi sebelum kata-kata tajam keluar dari mulutnya, dua pasang tangan kecil menarik ujung jasnya.

Arya berdiri di sisi kanannya, sementara Sasa berada di sebelah kirinya. Keduanya menatap Yudha dengan wajah polos namun penuh harap.

"Ayah."

"Paman."

Waktu seperti berhenti. Mata Yudha bergantian menatap kedua anak itu. Ia memandangi wajah mereka yang terasa terlalu serupa untuk diabaikan. Alis, hidung, garis bibir... semuanya seperti salinan cermin yang sempurna. Napas Yudha tertahan.

Matanya membulat sempurna, dipenuhi keterkejutan yang membeku. Kata-kata akhirnya keluar dengan berat, hampir seperti bisikan. "Kalian...?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!