Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sonya melihat beberapa mobil bermerek terparkir di halaman rumahnya. Ia bisa menebak itu adalah mobil orang tua Reza, lelaki yang sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Keluarga Reza termasuk keluarga ternama di ibu kota, kekayaannya sebanding dengan keluarganya.
Sonya tersenyum miris, di abad modern seperti ini masih ada pernikahan berdasarkan kasta. Bukankah menikah dengan seseorang yang dicintai dan mencintai lebih baik? Hanya saja, Sonya lupa jika orang tuanya masih menganut adat, bibit, bebet, bobot.
Kaki jenjang Sonya melangkah memasuki ruang tamu yang kini sudah ramai dengan keluarga inti. Hatinya baru saja patah dan ia tidak peduli lagi dengan tata krama yang sudah diajarkan keluarga.
"Hallo semua," sapa Sonya.
Semua mata kini tertuju pada Sonya yang menggunakan gaun berwarna merah. Baju dengan belahan dada rendah yang mengekspose bahunya yang mulus.
"Sonya, apa yang kamu lakukan? Sudah Ayah bilang jangan mempermalukan keluarga!" Darwin berkacak pinggang. Sungguh, anak semata wayangnya telah mencoreng wajah tua itu.
"Sabar Ayah." Yohana mengelus bahu sang suami agar mengurangi emosi. Lalu ia menatap sang anak dan berkata, "Sonya, kamu dari mana, Nak? Kamu tahu kan hari ini keluarga Reza datang untuk melamarmu?"
Sonya dengan angkuh berjalan ke arah sofa mengabaikan ucapan orang tuanya, lalu duduk di samping Reza, sembari mengambil buah anggur yang berada di meja, dan menyenggol bahu Reza ia berkata, "Kamu tahu aku dari mana?"
Reza masih membeku, sembari menatap Sonya dengan tatapan memuji. Siapa yang tidak akan terpikat dengan kecantikan Sonya? Wajah oval dengan lesung pipi, rambut panjang hitam dan berkilau, tak hanya itu, hidung mancung dan kulit putih seakan Tuhan menciptakannya begitu sempurna.
Gerak-gerik Sonya yang kini memasukkan buah anggur ke dalam mulut terus menyita perhatian Reza hingga ucapan Sonya membuatnya terkejut.
"Aku baru saja pulang dari hotel. Lihat bekas merah ini?" Sonya menunjukkan leher dan pundaknya, lalu kembali berkata, "Semalam aku tidur dengan pacarku. Kami benar-benar menikmati malam panas kami. Kamu tahu aku sudah tidak perawan lagi."
"Ah... Iya, aku lupa. Aku juga tidak pakai pengaman. Mungkin beberapa minggu atau bulan lagi aku bisa saja hamil," ucap Sonya tanpa ada rasa malu.
Tidak ada wanita yang akan mengaku melakukan hal-hal negatif di depan umum seperti ini, kecuali dia seorang wanita murahan. Tentu saja pernyataan Sonya barusan menjadi pukulan besar bagi keluarga dan ibu dari Reza.
"Darwin, apa-apaan ini? Kamu mau mencoreng nama baik keluarga Rafael dengan menikahkan putraku dengan putrimu ini?"
"Benar, Ibu Ratna. Aku pikir kamu harus mempertimbangkan pernikahanku dengan putramu. Apa kata masyarakat nanti, ya kan?" sahut Sonya dengan tingkah cueknya.
"Sonya!" Tangan mulus seorang ibu yang telah merawat Sonya kini mendarat di pipi, membuat Sonya langsung mengunci mulutnya rapat-rapat sembari menahan nyeri.
"Calon besan, kita bisa membicarakan ini baik-baik. Aku yakin ini semua hanya salah paham," ucap Yohana.
"Benar itu, Pak Dimas. Kita bisa bicarakan ini semua," Darwin mencoba membujuk keluarga Reza.
Sayangnya, semua itu tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik. Tanpa mendengar pendapat sang anak, Ratna dan Dimas langsung menarik tangan Reza keluar dari rumah mewah itu diikuti dengan keluarga inti Reza.
"Kami bisa mencari wanita baik-baik lainnya untuk putra kami. Jadi kita putuskan perjodohan ini!" tandas Dimas sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Setelah kepergian keluarga Reza dan lainnya hingga kini rumah itu kembali sepi menyisakan keheningan, Sonya mendapatkan tatapan tajam dari kedua orang tuanya.
"Apa ini balasanmu?" tanya Darwin.
"Balasan apa? Aku hanya mengungkapkan fakta tentang diriku," jawab Sonya.
Sonya menyadari bahwa hari ini kapan saja akan tiba. Bermula dengan cinta yang tak direstui, kini ia harus kehilangan orang-orang yang berharga dalam hidupnya. Sungguh takdir mempermainkannya.
Tanpa menatap sang anak, Darwin mengajukan pertanyaan lagi, "Sonya, apa kini kamu ingin menunjukkan bahwa kamu bukan bagian dari keluarga Prawira?"
"Apa sekarang aku sudah dicoret dari kartu keluarga?" Sonya masih bersikap acuh tak acuh.
"Lancang!" Darwin tak bisa lagi menahan emosinya. Sejak tadi, Sonya mengajukan pertanyaan atas pertanyaannya.
"Nak, Mama tahu hubunganmu dengan Yudha tak mungkin bisa bersatu. Tapi bukan dengan cara seperti ini kamu membalas kami," Yohana mencoba ikut berbicara guna meredakan amarah sang suami.
Sonya justru tertawa mengejek, sifat egoisnya benar-benar muncul. Ia ingat satu minggu yang lalu, saat dirinya masih menjadi anak berbakti.
Saat itu Sonya sudah kehabisan cara agar bisa mendapatkan restu dari orang tuanya. Gadis itu bersimpuh dan meletakkan kepalanya di pangkuan wanita yang ia anggap sebagai seorang ibu.
"Ma, Sonya mohon bantu Sonya berbicara dengan Ayah. Yudha benar-benar lelaki bertanggung jawab," ucap Sonya menghiba.
Yohana mengangkat kepala Sonya, lalu menangkup kedua pipi sang putri, "Mama tidak bisa membantumu. Jalan yang bisa kamu tempuh adalah mengikuti keinginan ayahmu."
"Tapi, Ma. Aku sangat mencintainya."
"Dalam sebuah hubungan cinta saja tidak cukup. Kamu perlu finansial untuk memenuhi kebutuhanmu," jawab Yohana.
"Sonya dan Yudha bisa mencarinya bersama, Ma. Kami masih sangat muda. Tidak masalah untuk menunda pernikahan. Saat ini Yudha sedang merintis bisnis dan kuliahku tinggal satu semester lagi. Setelah itu aku bisa ikut bekerja untuk mewujudkan keinginan kami," papar Sonya yang masih berusaha untuk meyakinkan sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu anak Mama, anak yang Mama besarkan dengan penuh kasih sayang dan kemewahan, tidak pernah dalam hidupmu berada dalam kesusahan. Apa yang kamu katakan tadi, jika menjadi seorang ibu, apa kamu tega?"
"Bukankah melihat anaknya mandiri juga menjadi suatu kebanggaan untuk orang tua, Ma?" ungkap Sonya.
"Tapi kamu adalah anak keluarga Prawira. Tetap saja semua itu tidak berlaku untukmu dan untuk Mama." Yohana mengelus rambut Sonya, menunjukkan betapa sayangnya pada sang anak.
"Tapi—"
Belum selesai Sonya menyelesaikan kalimatnya, Darwin datang membawa berkas lalu dilempar ke arah Sonya. Membuat gadis itu terdiam seketika.
"Kamu lihat berkas itu. Aku sudah menggagalkan bisnis tak berguna yang dibangun kekasihmu itu! Jika kamu masih seperti ini, jangan salahkan Ayah kalau kekasihmu itu tidak akan pernah berhasil," ucapnya sembari berkacak pinggang.
Tangan Sonya bergetar saat melihat kertas berwarna putih yang kini berserakan. Beberapa tender proyek yang diajukan Yudha ditolak oleh perusahaan di bawah naungan sang ayah. Sungguh kejam, bukan? Padahal rancangan desain yang diajukan Yudha benar-benar bagus, tidak ada kesenjangan di sana.
"Ayah, apa yang Ayah lakukan?" tanya Sonya dengan suara serak.
"Membuat pemuda itu hancur. Jika kamu tidak menghentikan ini, Ayah bisa berbuat lebih," tandas Darwin.
Ancaman Darwin begitu membekas di ingatan Sonya. Apalagi semalam saat ia bertemu dengan Yudha, lelaki itu benar-benar jatuh. Sebagai seorang wanita yang begitu mencintai lelakinya, bukankah ia harus berkorban? Ya, menentang keluarga adalah jalan yang ia tempuh.
Sonya memandang sang ibu, lalu berkata, "Lalu dengan cara apalagi? Aku harus menyiksa diri dengan menikah dengan Reza? Membuat keluarga ini semakin kaya?"
Mendengar ucapan Sonya, Darwin sudah mencapai titik kesabarannya. Lagi dan lagi, Sonya bisa merasakan pipinya yang mulus terkena tangan sang ayah yang masih terlihat kekar.
Setelah memberikan tamparan pada Sonya, Darwin mencibir, "Memang darah orang luar tidak akan mungkin bisa menjadi keluarga."