NovelToon NovelToon
Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: yuliza sisi

DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEMPAT YANG MENYAMARKAN PULANG

TEMPAT YANG MENYAMARKAN PULANG

Pagi datang tanpa permisi.

Cahaya matahari menembus tirai kamar Aira dengan cara yang malas, seolah enggan sepenuhnya hadir. Hujan semalam meninggalkan bau tanah basah yang samar, bercampur dengan aroma pendingin ruangan yang sudah terlalu lama menyala.

Aira membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamarnya yang polos, tempat pikirannya semalam tertinggal.

Ia tidak langsung bangun. Ada hari-hari di mana tubuh terasa berat bukan karena kurang tidur, melainkan karena terlalu banyak yang dipikirkan.

Ponselnya bergetar di atas meja kecil.

Aira menghela napas sebelum meraihnya.

Raka:

Kamu sudah bangun? Jangan lupa, kita ketemu di kampus jam sembilan.

Jangan telat lagi kayak kemarin. Aku nggak mau diceramahi Bima sendirian 😌

Aira tersenyum tipis. Jarinya bergerak pelan.

Aira:

Sudah bangun, ini baru mau otw, Tenang saja, aku tidak akan mengkhianati jadwal.

Beberapa detik kemudian, balasan muncul.

Raka:

Bagus.

Oh ya, nanti setelah rapat, aku mau ngomong. Penting.

Aira berhenti mengetik.

Satu kata itu, penting, selalu membawa banyak kemungkinan.

Aira:

Tentang apa?

Typing bubble muncul. Hilang. Muncul lagi. Lalu pesan terkirim.

Raka:

Nanti saja, kepo banget sihh

Aira mematikan layar ponsel. Dadanya terasa sedikit sesak, bukan karena takut, tapi karena ia terlalu akrab dengan perasaan akan ada sesuatu yang berubah.

Di meja makan, suasana masih sama. Ayah sudah berangkat lebih dulu. Ibu duduk dengan secangkir teh hangat, menatap koran tanpa benar-benar membacanya.

“Kamu kelihatan capek,” ujar Ibu tanpa mengalihkan pandangan.

“Aira baik-baik saja, Bu,” jawab Aira sambil tangannya meraih roti panggang.

Ibu meliriknya. Tatapan itu terlalu mengenal untuk dibohongi.

“Kamu tidak pernah baik-baik saja sejak lama,” kata Ibu pelan.

Aira terdiam. Ia menggigit rotinya, mengunyah perlahan, seolah memberi waktu agar kata-kata itu tidak perlu dibalas.

“Ayahmu benar-benar akan mengurus magang itu,” lanjut Ibu, kini menatapnya. “Tante Desi sudah menghubungi Ibu subuh tadi.”

Aira menurunkan rotinya. “Bu… aku belum setuju.”

Ibu mengangguk kecil. “Ibu tahu.”

“Lalu kenapa dibiarkan?” suara Aira sedikit lirih

“Kenapa tidak ada yang bertanya apa yang Aira mau?”

Ibu menghela napas panjang. “Karena di rumah ini, pertanyaan sering dianggap pembangkangan.”

Aira menatap meja. Urat-urat kayu di permukaannya terlihat jelas. Ia mengingat semua percakapan yang tidak pernah selesai.

“Bu,” kata Aira akhirnya. “Kalau nanti Aira menolak… Ibu akan kecewa?”

Ibu tersenyum kecil, pahit tapi tulus. “Ibu akan takut. Tapi tidak kecewa.”

Takut. Kata itu jujur. Dan kejujuran selalu menyakitkan sekaligus melegakan.

...####...

Kampus selalu punya cara membuat Aira bernapas lebih lega. Derap langkah mahasiswa, suara tawa yang berserakan, aroma kopi dari kantin, semuanya terasa hidup. Tidak ada yang menuntutnya menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.

Di ruang diskusi kecil, Naya sudah duduk dengan laptop terbuka, wajahnya kusut.

“Aku benci dosen psikolinguistik,” katanya tanpa salam.

“Aku benci semua dosen kalau lagi deadline,” sahut Bima sambil menjatuhkan tas.

Raka datang terakhir. Seperti biasa, rapi, tenang, dengan tatapan yang terlalu perhatian untuk sekadar teman.

“Kita mulai?” ujarnya.

Rapat berlangsung intens. Proposal proyek sosial mereka dibedah habis-habisan. Aira aktif berpendapat, suaranya stabil, pikirannya tajam. Di ruang ini, ia bukan anak dari Wira Group. Ia adalah Aira, mahasiswa dengan gagasan.

Namun, Aira sadar, sejak awal rapat, Raka lebih sering mencuri pandang ke arahnya, entahlah Itu hanya sekedar perasaan Aira atau memang Raka memandanginya.

Setelah rapat selesai, Naya dan Bima pergi lebih dulu,

"kita berdua duluan ya rak,Ra, soalnya kita udah keburu lapar" ucap Naya, sambil menarik tangan Bimo untuk ikut.

Sedangkan Raka menahan langkah Aira yang ingin meninggalkan tempat rapat.

“Ra.”

“Iya?”

“Kita bicara sebentar, sesuai dengan kataku tadi, ada yang ingin aku sampaikan”

...####...

Mereka berdua duduk di bangku taman kampus. Angin siang menggerakkan dedaunan, menciptakan bayangan yang bergerak di tanah.

“Ra,” panggilnya.

“Kenapa ka?”

“Kamu nggak langsung pulang, kan?”

Aira menggeleng. “Masih mau ke kafe sebentar.”

“Bagus,” kata Raka cepat, lalu ia ralat. “Maksudku, jangan langsung pulang. Kamu kelihatan butuh udara.”

Aira mengernyit tipis. “Kamu kenapa hari ini?”

Raka terdiam. Tangannya masuk ke saku jaket, kebiasaan kecil yang selalu muncul saat ia gugup.

“Ayahmu soal magang itu…” katanya akhirnya. “Kamu benar-benar akan nurut?”

Aira menghela napas. “Aku belum tahu.”

“Kamu selalu bilang begitu,” ucap Raka, nadanya tidak marah, tapi lelah. “Dan akhirnya kamu tetap mengalah.”

“Ini hidupku, Rak.”

“Justru itu,” Raka menatapnya lurus. “Aku capek lihat kamu hidup seperti tamu di hidupmu sendiri.”

Kalimat itu membuat Aira terdiam.

“Aku tahu aku bukan siapa-siapa,” lanjut Raka cepat, seolah takut kata-katanya kebablasan. “Aku cuma teman. Tapi sebagai teman, aku boleh khawatir, kan?”

Aira menelan ludah. “Kamu terlalu peduli.”

Raka tersenyum tipis. “Atau kamu yang terlalu jarang dipedulikan dengan benar.” balas Raka Tiba-tiba Sunyi seolah menyela. Angin sore lewat di antara mereka.

“Aku nggak minta kamu memilih apa-apa,” ujar Raka lebih pelan. “Aku cuma mau kamu tahu… kalau suatu hari kamu jatuh, jangan jatuh sendirian. Jangan biasakan itu.”

Aira menatapnya lama. Ada sesuatu di mata Raka, sesuatu yang ingin keluar, tapi ditahan paksa.

“Kamu baik,” kata Aira akhirnya.

Raka tertawa kecil. “Itu kalimat paling berbahaya yang bisa kamu ucapkan ke seseorang.”

“Maksudmu?”

“Biasanya orang baik dijadikan tempat aman,” jawab Raka, setengah bercanda. “Bukan tempat tujuan.”

Aira tidak membalas. Karena untuk pertama kalinya, ia sadar, Raka mungkin sedang melindungi hatinya sendiri.

...#####...

Aira tidak langsung menuju kafe.

Langkahnya justru membawanya ke halte bus lama di sudut kampus, tempat yang jarang dipakai sejak rute baru dibuka. Bangkunya dingin, catnya mengelupas, dan lampu jalannya berkedip tidak stabil.

Ia duduk di sana bukan untuk menunggu bus, melainkan untuk menunggu pikirannya berhenti ribut.

Hujan turun lagi. Tidak deras. Hanya cukup untuk membasahi ujung sepatunya.

“Aneh ya,” suara asing tiba-tiba muncul. “Hujan selalu tahu kapan orang lagi capek.”

Aira menoleh refleks.

Seorang lelaki berdiri beberapa langkah darinya, memegang payung hitam yang tidak ia pakai. Rambutnya sedikit basah, wajahnya tenang, terlalu tenang untuk orang yang tiba-tiba menyapa orang asing.

“Maaf,” kata Aira. “Kamu ngomong sama aku?”

Lelaki itu mengangguk. “Di sini cuma ada kita.”

Aira hampir tertawa, tapi tidak jadi.

“Kamu sering ke sini?” tanya Aira.

“Enggak,” jawabnya jujur. “Aku biasanya menghindari tempat yang sudah ditinggalkan.”

“Terus kenapa sekarang ke sini?”

Lelaki itu menatap papan rute bus yang pudar. “Karena kadang, tempat yang ditinggalkan itu bukan kosong. Cuma nggak dipilih lagi.”

Kalimat itu membuat Aira terdiam.

“Kamu mahasiswa sini?” tanya Aira akhirnya.

“Iya. Langit,” katanya singkat. “Kamu?”

“Aira.”

“Nama yang cocok sama hujan,” ucap Langit tanpa senyum, tapi juga tanpa basa-basi.

Aira menatapnya. “Kamu selalu bicara seperti itu ke orang asing?”

“Enggak,” jawab Langit. “Biasanya aku diam.”

“Terus kenapa ke aku?”

Langit menatapnya sebentar. Lama. Bukan tatapan menilai, tapi seolah membaca sesuatu yang sudah ia kenal.

“Karena kamu duduk di sini,” katanya pelan,

“tapi kelihatan seperti ingin pergi jauh.” saat kalimat itu di ucapkan hujan makin turun dengan deras, dan Mereka tidak saling bertanya lagi. Tidak bertukar nomor. Tidak janji bertemu.

Tapi saat Aira berdiri untuk pergi, Langit berkata satu hal yang membuat langkahnya terhenti.

“Kalau suatu hari kamu capek pulang ke tempat yang sama,” ujar Langit tanpa menoleh, “jangan salahkan dirimu. Ada rumah yang memang bukan untuk ditinggali terlalu lama.”

Aira tidak menjawab.

Namun untuk pertama kalinya, ia merasa, seseorang baru saja melihatnya, tanpa meminta apa pun.

...####...

Aira berjalan pulang tanpa benar-benar sadar ke mana kakinya melangkah. Payung yang ia beli dari minimarket terdekat tidak sepenuhnya melindunginya dari hujan. Beberapa tetes tetap jatuh di pergelangan tangannya, dingin, tapi nyata.

Kata-kata Langit terus berputar di kepalanya.

Ada rumah yang memang bukan untuk ditinggali terlalu lama.

Kalimat itu tidak menawarkan solusi. Tidak juga penghiburan. Tapi justru karena itulah ia terasa jujur.

Di rumah, lampu ruang tengah menyala. Ibu masih terjaga.

“Kamu pulang malam,” kata Ibu pelan saat Aira masuk.

“Iya, Bu. Hujan.”

Ibu mengangguk, seolah hujan cukup menjelaskan segalanya.

“Kamu sudah makan?”

“Belum lapar.”

Ibu tidak memaksa. Ia hanya menuangkan teh hangat ke dalam cangkir dan mendorongnya ke arah Aira.

“bagaimana hari ini nak, semuanya berjalan lancar?,” ujar Ibu sambil duduk berhadapan, dan memandang muka anak nya yang nampak pucat “di mana pulang tidak membuat badan beristirahat. Justru pikiran yang semakin ramai.” ujar ibu

Aira menatap cairan teh yang mengepul. “Bu… kalau seseorang datang ke hidup kita bukan untuk mengubah apa pun, tapi hanya… memahami, itu salah atau benar?”

Ibu tersenyum kecil. “Itu jarang. Dan justru karena jarang, sering terasa asing.”

“Kalau asing, kenapa terasa tenang?”

“Karena tidak semua ketenangan datang dari hal yang kita kenal.”

Aira terdiam. Ia menyeruput tehnya perlahan.

“Bu,” katanya kemudian, “Aira takut salah memilih.”

Ibu menatapnya lama. “Yang perlu kamu takutkan bukan salah memilih, Nak. Tapi memilih tanpa mendengarkan dirimu sendiri.”

...####...

Keesokan harinya, kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Aira tiba lebih pagi. Ia duduk di tangga gedung fakultas, membuka catatan, mencoba fokus.

“Pagi.”

Suara itu membuat Aira mendongak.

Raka berdiri di hadapannya, membawa dua gelas kopi.

“Kamu kelihatan kayak orang yang tidak tidur,” katanya sambil menyerahkan satu gelas.

“Karena aku memang tidak tidur cukup,” jawab Aira.

Raka duduk di sampingnya, menjaga jarak yang sopan, jarak yang akhir-akhir ini terasa sengaja.

“Kemarin kamu pulang jam berapa?” tanya Raka.

“Tidak terlalu malam.”

“Sendirian?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Aira menoleh.

“Kamu lagi interogasi?”

Raka tersenyum kaku. “Refleks.”

Aira menyesap kopi. “Aku bertemu seseorang.”

Raka tidak langsung menjawab. “Seseorang… siapa?”

“Orang asing,” jawab Aira jujur. “Dan anehnya, aku tidak merasa perlu menjelaskan diriku ke dia.”

Raka menunduk, mengaduk kopinya pelan. “Kedengarannya nyaman.”

“Iya.”

Tiba-tiba Sunyi datang merambat di antara mereka.

“Ra,” kata Raka akhirnya. “Aku mau tanya sesuatu. Dan kamu tidak harus menjawab sekarang.”

Aira menoleh. “Apa?”

“Kamu masih melihat masa depanmu… termasuk aku di dalamnya?”

Pertanyaan itu tidak frontal. Tidak romantis. Tapi justru itu yang membuatnya berat.

Aira menatap lurus ke depan. “Aku masih berusaha melihat masa depanku sendiri dengan jelas, Rak.”

Raka mengangguk. “Jawaban yang adil.”

“Aku tidak ingin kehilangan kalian,” lanjut Aira cepat. “Aku cuma… takut kalau aku bertahan terlalu keras, aku malah kehilangan diriku sendiri.”

Raka tersenyum kecil, getir. “Kamu tahu, kadang aku iri sama caramu bertahan. Tapi kadang juga aku ingin marah karena kamu tidak pernah mau diselamatkan.”

“Aku tidak tahu cara minta tolong,” bisik Aira.

“Aku tahu,” jawab Raka pelan. “Dan itu yang bikin aku diam lebih lama dari seharusnya.”

Bel tanda kelas berbunyi, memecah percakapan mereka.

“Kita lanjut nanti,” kata Raka sambil berdiri.

Aira mengangguk. Ia menatap punggung Raka yang menjauh, dan untuk pertama kalinya ia bertanya dalam hati:

Berapa lama seseorang bisa diam tanpa melukai dirinya sendiri?

Siang ini, Aira menerima pesan dari Ayahnya.

Ayah:

Jam tujuh malam ini, kita bicara. Jangan ada alasan.

Aira mematikan layar ponsel. Jantungnya berdetak lebih cepat.

...####...

Malam datang dengan cepat.

Ayah duduk di ruang kerja. Ibu tidak ada. Itu selalu pertanda buruk.

“Kamu bertemu siapa kemarin?” tanya Ayah tanpa basa-basi.

Aira terkejut. “Ayah tahu dari mana?”

“Kamu bukan anak kecil lagi, Aira. Ayah tidak buta.”

“Ayah melanggar privasi Aira,” suara Aira bergetar.

Ayah menatapnya tajam. “Ayah melindungimu.”

“Dengan mengatur hidup Aira?”

“Dengan memastikan kamu tidak salah langkah.”

“Apa salahnya Aira bertemu orang baru?”

“Karena hidupmu bukan ruang kosong!” bentak Ayah, suaranya akhirnya naik. “Setiap keputusanmu membawa nama keluarga ini!”

Aira mengepalkan tangan. “Aira bukan nama keluarga. Aira manusia.”

Ayah terdiam sesaat. Lalu tertawa kecil, dingin. “Kamu mulai berani sekarang.”

“Bukan berani,” balas Aira. “Aira lelah.”

“Kelelahan itu kemewahan,” potong Ayah. “Orang seperti kita tidak punya waktu untuk itu.”

Aira menatap Ayahnya dengan mata basah, tapi suara teguh.

“Kalau begitu, Ayah tidak pernah benar-benar mengenal Aira.”

Sunyi jatuh berat.

“Keluar,” kata Ayah akhirnya. “Kita lanjutkan saat kamu sudah bisa berpikir rasional.”

Aira berbalik, melangkah pergi dengan dada bergetar. Di depan kamarnya, ia berhenti sejenak, menekan dadanya sendiri, mencoba bernapas.

Ia mengambil buku catatannya. Membuka halaman kosong.

Dan menulis satu kalimat:

Rumah tidak selalu tempat orang menunggumu. Kadang ia hanya tempat orang menuntut mu tetap sama.

Air mata jatuh satu per satu, membasahi kertas.

Ponselnya bergetar.

Tapi Nomor nya tak dikenal.

08xx xxx xxxx

Aku tidak tahu kenapa aku mengirim ini.

Tapi semoga malammu tidak terlalu berat.

jangan bingung aku Langit, orang yang baru hadir di hidupmu.

Aira menatap layar lama. Lalu membalas.

Aira:

Terima kasih.

Malam ini… berat. Tapi tidak sendirian.

Ia memejamkan mata.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa bersalah karena membalas pesan seseorang yang baru ia kenal sehari.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!