NovelToon NovelToon
Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kutukan / Fantasi Timur / Fantasi Wanita / Demon Slayer / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:54
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
​Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Utusan dari Selatan

​Musim semi pertama di Obsidiana adalah sebuah keajaiban yang tidak pernah diprediksi oleh siapa pun. Enam bulan setelah penobatan, tanah yang dulunya hanya batu hitam dan es kini mulai ditumbuhi lumut hijau yang lembut dan bunga-bunga Starfire—flora magis berwarna perak yang mekar berkat radiasi Api Pertama.

​Aethela berjalan menyusuri pasar kota di kaki benteng. Tidak ada pengawal yang memagarinya terlalu ketat. Rakyat menyapanya dengan senyum tulus, menawarkan roti hangat atau kerajinan tangan.

​"Ratu, lihat!" seorang anak kecil berlari mendekat, menunjukkan sekuntum bunga kristal yang baru tumbuh. "Bunganya menyala seperti matamu!"

​Aethela tersenyum, berlutut untuk menyamakan tingginya dengan anak itu. "Itu artinya tanah ini bahagia, Nak."

​Ia merasa damai namun waspada. Kedamaian ini terasa terlalu nyata, namun juga rapuh. Selama enam bulan, Solaria membisu. Tidak ada serangan, no surat ancaman, tidak ada apa-apa. Keheningan dari Raja Sol—ayahnya—jauh lebih menakutkan daripada teriakannya. Ia tahu ayahnya adalah tipe orang yang merencanakan langkah catur lima giliran ke depan sebelum menggerakkan bidak pertama.

​Tiba-tiba, lonceng menara pengawas berbunyi. Iramanya bukan tanda serangan (cepat dan panik), melainkan tanda kedatangan tamu asing (lambat dan berat).

​Valerius muncul di gerbang pasar, menunggangi kuda hitam. Wajahnya tegang.

​"Aethela," panggilnya, mengulurkan tangan. "Naiklah. Kita punya tamu."

​"Siapa?" tanya Aethela sambil menerima uluran tangan suaminya dan naik ke atas kuda.

​"Bendera Matahari Emas," jawab Valerius singkat. "Tapi mereka datang dengan bendera putih."

​Di Aula Utama yang telah dipugar sepenuhnya—kini lebih terang dengan jendela kaca yang diperkuat sihir—Valerius duduk di takhtanya, dengan Aethela di sampingnya. Di sekeliling mereka berdiri Jenderal Thorne, Darius, dan para kapten Legiun.

​Pintu raksasa terbuka. Masuklah rombongan kecil yang terdiri dari sepuluh orang. Mereka tidak mengenakan zirah perang, melainkan jubah sutra putih dan emas yang menyilaukan.

​Pemimpin rombongan itu adalah seorang pria tua dengan tongkat jalan dari kayu Ebony dan wajah yang penuh kerutan namun matanya tajam seperti elang.

​Ia merasakan kejijikan. Ia mengenali pria itu dari deskripsi Aethela. Grand Chancellor Lucian—penasihat terdekat Raja Sol, ular berbisa yang menyembunyikan racunnya di balik kata-kata manis diplomatik.

​"Salam, Penguasa Utara," kata Lucian. Ia membungkuk sedikit, derajat kemiringan yang secara halus menunjukkan kurangnya rasa hormat. "Saya datang membawa pesan dari Yang Mulia Raja Sol Vespera, Cahaya Dunia."

​"Kami tidak butuh salam basabasi, Lucian," potong Aethela dingin. "Katakan apa yang diinginkan Ayah."

​Lucian tersenyum tipis, menatap Aethela seolah melihat anak nakal yang lari dari rumah. "Ah, Putri Aethela. Atau haruskah saya memanggil Anda... Ratu Pemberontak? Yang Mulia Raja sangat kecewa Anda tidak pulang bersama Pangeran Alaric."

​"Pangeran Alaric beruntung aku membiarkannya pulang dengan kepala masih menempel di leher," geram Valerius. "Sampaikan intinya, atau kau akan keluar dari sini lewat jendela."

​Lucian tidak gentar. Ia memberi isyarat pada pelayannya, yang maju membawa sebuah kotak kayu cendana yang diukir indah dengan lambang matahari.

​"Raja Sol tidak menginginkan perang lagi," kata Lucian, nada suaranya lembut namun penuh implikasi. "Beliau menyadari bahwa Obsidiana kini memiliki kekuatan... baru. Oleh karena itu, beliau menawarkan Gencatan Senjata Abadi."

​Jantungnya berdegup kencang. Gencatan senjata? Ayah tidak pernah menawarkan perdamaian tanpa imbalan yang mengerikan.

​"Apa syaratnya?" tanya Aethela.

​"Sangat sederhana," Lucian membuka kotak itu. Di dalamnya, terdapat sebuah gulungan perkamen yang disegel dengan lilin merah darah, dan sebuah kalung liontin sederhana yang terlihat kusam.

​Aethela tersentak melihat kalung itu. Itu milik ibunya, Ratu Isolde.

​"Ibunda Ratu Isolde..." lanjut Lucian dengan nada prihatin yang dibuat-buat, "...saat ini sedang 'beristirahat' di Menara Penyesalan karena kegagalannya mendidik putrinya. Beliau mengirimkan kalung ini sebagai tanda rindu."

​Darah di wajahnya surut. Menara Penyesalan adalah penjara isolasi bagi pengkhianat negara. Ayahnya memenjarakan ibunya sendiri hanya untuk menekan Aethela. Rasa marah dan takut bercampur menjadi satu.

​"Syarat gencatan senjata ini," Lucian mengambil gulungan perkamen itu, "adalah penyerahan First Flame. Raja Sol percaya bahwa kekuatan sebesat itu terlalu berbahaya jika dibiarkan di tangan ras yang tidak stabil. Serahkan Apinya, dan Obsidiana akan diakui sebagai negara vasal yang merdeka. Tolak... dan konsekuensinya ada di sini."

​Lucian melemparkan gulungan itu ke lantai, tepat di kaki tangga takhta.

​Valerius turun, memungut gulungan itu dan membacanya. Ekspresinya berubah dari marah menjadi murka yang menakutkan.

​"Ini bukan tawaran perdamaian," kata Valerius, suaranya bergetar menahan amarah naga. "Ini adalah Dekrit Ekskomunikasi."

​Valerius membacakan isi surat itu dengan suara lantang agar seluruh aula mendengarnya.

​"Dengan ini, Solaria menyatakan Aethela Vespera sebagai Penyihir Malam, pengkhianat darah manusia, dan musuh Cahaya. Segala kerajaan manusia yang bersekutu, berdagang, atau membantu Obsidiana akan dianggap sebagai musuh Kekaisaran Matahari. Perang Suci dideklarasikan untuk memadamkan api iblis di Utara."

​Valerius meremas perkamen itu hingga terbakar menjadi abu hitam di tangannya.

​"Jadi ini rencananya," kata Valerius, menatap Lucian dengan mata yang mulai berubah vertikal. "Ayahmu tidak menyerang kami sendirian. Dia memobilisasi seluruh benua manusia untuk melawan kami dengan dalih agama."

​"Dunia takut pada naga, Yang Mulia," jawab Lucian tenang. "Dan sekarang, dengan Ratu Isolde di tangan kami... kami harap Putri Aethela akan berpikir bijak. Serahkan Apinya, kembalilah pulang untuk 'dimurnikan', dan ibumu akan selamat."

​Ia ingin membunuh Lucian sekarang juga. Mencabik-cabiknya. Tapi membunuh utusan akan membenarkan tuduhan Solaria bahwa mereka adalah monster barbar.

​Ia menoleh ke Aethela. Istrinya duduk mematung di takhta, matanya tertuju pada kotak berisi kalung ibunya.

​Dunia seolah berhenti. Aethela melihat pilihan yang diberikan ayahnya: Kehancuran Obsidiana oleh aliansi dunia manusia, atau keselamatan ibunya dengan mengorbankan segalanya.

​Ia berdiri perlahan. Langkahnya mantap saat menuruni tangga takhta menuju Lucian.

​Aethela mengambil kotak kayu itu, mengambil kalung ibunya, dan mengalungkannya di lehernya sendiri.

​"Lucian," kata Aethela lembut.

​"Ya, Putri?"

​"Sampaikan pada Raja Sol," suara Aethela mengeras, dingin seperti es di Puncak Void. "Bahwa dia baru saja membuat kesalahan terbesarnya. Dia pikir dengan menyandera Ibu, aku akan menyerah. Tapi dia lupa siapa yang mengajariku menjadi dingin."

​Aethela mendekatkan wajahnya ke wajah Lucian. "Dia tidak menyandera ibuku untuk melindunginya dariku. Dia menyandera ibuku karena dia takut padaku. Katakan padanya... aku akan datang. Bukan untuk menyerah. Tapi untuk meruntuhkan gerbang emasnya dan membebaskan ibuku di atas reruntuhan takhtanya."

​Aethela berbalik, jubahnya berkibar. "Valerius, usir mereka. Jika mereka masih terlihat di wilayah kita saat matahari terbenam, beri makan mereka pada Wild Drakes."

​Valerius tersenyum buas. Ia memberi isyarat pada Thorne.

​"Kau dengar Ratu," kata Valerius pada Lucian yang wajahnya kini pucat pasi. "Lari, tikus kecil. Matahari sebentar lagi terbenam."

​Saat rombongan Solaria berlari keluar aula dengan panik, Valerius mendekati Aethela yang berdiri membelakangi pintu, bahunya gemetar.

​Ia tidak bertanya apakah Aethela baik-baik saja. Ia tahu jawabannya.

​Valerius memeluk Aethela dari belakang, dagunya di atas kepala wanita itu.

​"Kita akan menyelamatkan ibumu," bisik Valerius. "Dan kita tidak akan melakukannya sendirian. Jika Solaria mengumpulkan aliansi manusia, maka kita akan mengumpulkan aliansi bayangan."

​"Maksudmu?" tanya Aethela, menghapus air mata kemarahan dari pipinya.

​"Di seberang laut timur, ada kerajaan-kerajaan yang juga dibenci oleh Solaria," kata Valerius, matanya menatap peta dunia di dinding. "Kaum Elf Laut, Penyihir Hutan Besi, dan para Nomad Gurun. Mereka semua adalah korban imperialisme ayahmu. Sudah waktunya Naga mencari teman baru."

​Perang telah berubah bentuk. Bukan lagi pertahanan benteng, melainkan perang dunia. Dan langkah pertama mereka adalah menyeberangi lautan.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!