Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.
Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.
Tak ada yang mengira.
apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 : Kegaduhan di IGD
Langkah kaki mereka berderap cepat, bergema di sepanjang koridor yang dingin. Olivia dan Katrina masih bisa merasakan degup jantung mereka tak karuan, seolah suara denyut itu saja mampu mengungkapkan betapa takutnya mereka ketahuan menguping. Nafas mereka memburu, sementara tatapan terus berpindah-pindah, takut kalau sewaktu-waktu ada dokter senior lain yang memergoki.
Setibanya di IGD, pintu salah satu kamar pasien terbuka tiba-tiba. Dari sana, keluar sosok yang sangat mereka kenal—Victoria Price, teman satu angkatan mereka di masa residensi.
“Ahhh, Victoria!!” seru Olivia dengan nada setengah marah, tangannya refleks hampir melayang untuk memukul bahu temannya itu. “Jangan bikin kaget begitu! Aku hampir mati berdiri.”
Victoria mengerjap, bingung melihat reaksi berlebihan kedua sahabatnya. Ia masih memegang gagang pintu, sementara wajahnya tampak polos tanpa rasa bersalah. “Apa-apaan sih kalian? Kenapa lari-larian kayak dikejar hantu?”
“A-ahh… enggak… nggak ada apa-apa, hanya…” jawab Olivia gugup.
Namun Katrina sigap merangkul bahu Olivia, menahan agar rahasia tadi tidak terbongkar. “Kami cuma buru-buru. Eh, ngomong-ngomong, kamu habis ngapain di kamar ini?” katanya sambil melirik nomor kamar yang baru saja ditutup Victoria.
“Oh, itu.” Victoria tersenyum tipis. “Aku lagi masa pelatihan. Disuruh ikut melihat cara memeriksa kondisi pasien. Cuma observasi sederhana.”
“Wah, sibuk juga ternyata…” Katrina mencoba mencairkan suasana.
Victoria hanya mengangguk sambil menutup pintu rapat-rapat. Namun sebelum mereka bisa melanjutkan obrolan, pintu itu kembali terbuka, kali ini menampilkan seorang dokter muda. Jas putihnya tampak baru dipakai, rapi, dan ada stetoskop tergantung di lehernya.
Ia mengerutkan alis melihat tiga mahasiswa residensi berdiri berderet di depan kamar pasiennya. “Kenapa kalian nongkrong di sini? Tidak ada pasien lain yang bisa kalian urus?” tanyanya tajam, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas.
Olivia tercekat, lidahnya kaku. Kata-kata tak kunjung keluar.
Beruntung, perhatian dokter itu segera teralihkan ketika Victoria menoleh ke arah ruang IGD. Suaranya yang lirih membuat ketegangan sejenak pudar. “Dok… kenapa jadi makin ramai? Apa… rumah duka sampai naik ke lantai tujuh?”
Wajah dokter muda itu berubah tegas. “Aku akan periksa sendiri. Kalian bertiga segera ke ruang administrasi, batalkan semua jadwal kunjungan hari ini. Tidak boleh ada pasien atau keluarga masuk tanpa izin.”
“H-hah? Kita?” Victoria mendelik, jelas bingung. Sebagai mahasiswa tahun pertama, instruksi sebesar itu terasa di luar kapasitasnya.
“Tentu saja kalian!” jawabnya cepat, tanpa membuka ruang perdebatan.
Olivia dan Katrina langsung menyambar tangan Victoria, menyeretnya menjauh sebelum ia sempat mengajukan protes lebih banyak.
Langkah terburu-buru mereka bergema lagi, kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Victoria berlari di tengah-tengah, terengah menyesuaikan diri dengan ritme dua temannya. Tatapannya tak lepas dari wajah serius Olivia dan Katrina, yang membuatnya merasa seperti ketinggalan sesuatu yang penting.
“Kenapa harus kita yang mengurus ini?” serunya, nadanya tercampur kebingungan dan protes.
Katrina mendengus, nadanya jengkel. “Kenapa ada anak residensi sepolos kamu, sih! Ini jelas tanggung jawab kita. Tidak semua bisa dilempar ke perawat.”
Victoria mendecak, masih tidak puas. “Tapi… bukannya lebih tepat kalau—”
Bukkk!
Tubuhnya terpental ke belakang sebelum sempat menyelesaikan kalimat. Ia menabrak seseorang dengan keras, membuat Olivia dan Katrina ikut terseret langkahnya.
“M-maaf…” Victoria buru-buru membungkuk, tangannya refleks meraih lengan orang itu untuk menjaga keseimbangan.
Ketika ia mendongak, sosok yang berdiri di depannya membuat darahnya serasa berhenti mengalir. Seorang pria berjas hitam pekat, berpostur tegap, dengan dua orang lain berdiri di belakangnya. Wajahnya tanpa senyum, tatapannya dingin bagai pisau yang mengiris kulit.
“Apakah dokter di sini selalu berlarian di lorong?” suaranya dalam, berat, dan penuh tekanan. “Padahal tidak ada kode biru, bukan?”
Udara seketika menegang. Koridor yang ramai sebelumnya, terasa sunyi dalam sekejap.
“Tapi ini darurat, Tuan… maaf,” Katrina menunduk singkat lalu segera berlari, langkahnya tergesa seperti sedang dikejar sesuatu. Olivia mengikuti di belakangnya, tak berani menoleh, hanya sempat mengucap permintaan maaf singkat sebelum ikut menghilang di tikungan koridor.
Tinggallah Victoria seorang diri. Nafasnya masih memburu, namun ia mencoba menegakkan tubuh, berdiri di depan pintu kaca IGD seperti penghalang yang rapuh namun tak ingin runtuh.
“Saat ini IGD tidak menerima kunjungan. Silakan kembali nanti,” ucapnya datar, mencoba terdengar tegas meski getaran kecil masih terdengar di ujung suaranya.
Pria berjas hitam itu tidak segera menjawab. Tatapannya menusuk tajam, seolah sedang menilai keberanian gadis muda di hadapannya. Kedua matanya dingin, sementara bibirnya hanya menegang tanpa sepatah kata pun. Ia lantas menghela nafas kasar, memutar bola matanya penuh kesal.
Salah seorang pria di belakangnya, berpostur lebih kecil namun wajahnya kaku akhirnya bersuara. “Nona, kami ada urusan penting dengan manajer rumah sakit ini. Tentang Dokter Mily. Kami ini—”
Namun ucapan itu segera terputus. Pria di depan Victoria mengangkat tangan tanpa menoleh, sebuah isyarat yang cukup untuk membuat asistennya terdiam seketika.
“Di mana ruang manajer rumah sakit?” tanyanya dingin. Kalimatnya pendek, namun nadanya mengandung tekanan yang seolah menuntut jawaban mutlak.
Victoria menahan pandangannya sejenak, jantungnya berdebar tak karuan. Namun ia menolak memberi celah. Ia menghela napas dalam, lalu mendorong pintu kaca di sampingnya hingga menutup rapat. Suara klik dari kunci otomatis terdengar jelas, membuat lorong terasa lebih senyap.
“Tidak tahu. Cari saja sendiri.” Nada suaranya kaku, bahkan sedikit menantang. Tanpa menunggu reaksi, ia langsung berbalik, langkah kakinya cepat menyusul kedua temannya yang sudah lebih dulu pergi.
Pria itu menatap punggung Victoria hingga lenyap di ujung lorong. Alisnya berkerut, rahangnya mengeras. “Dokter macam apa dia…” gumamnya pelan, nada suaranya nyaris seperti kutukan yang tertahan.
Asistennya menatapnya bingung. “Tuan… apa kita akan—”
Pria itu tidak menjawab. Hanya berdiri tegak dengan tatapan gelap, seolah tengah merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar mencari ruang manajer.