Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.
Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.
Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.
Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Dalam Kampus
Di Kampung R-17, Tasya dan Nina berada di sebuah rumah tua yang kerap dijadikan tempat menyekap musuh-musuh Raka. Bangunannya usang, dindingnya penuh coretan tak bermakna, sementara botol-botol minuman berserakan di sudut ruangan. Udara di dalamnya lembap dan pengap, menciptakan suasana yang mencekam.
“Sya, lo yakin dia bisa dipercaya?” bisik Nina, melirik waspada ke arah Raka yang duduk di dekat pintu bersama beberapa anak buahnya.
“Semoga Dimas nggak ngejual kita,” balas Tasya lirih. Kegelisahan mengendap di dadanya, terlebih karena Dimas tak kunjung muncul sejak pagi.
Tiba-tiba ponsel Nina bergetar. Sebuah pesan masuk.
Gue nggak bisa dampingin lo ke sana. Bokapnya Tasya barusan ke kostan gue.
“Sya, lihat ini,” ujar Nina pelan sambil memperlihatkan layar ponselnya.
Tasya terdiam. Ia tahu, semua yang terjadi adalah konsekuensi yang harus ditanggung Dimas. Dan semuanya bermula dari keputusannya yang nekat kabur dari rumah sakit.
“Kalian bisa tidur di kamar gue,” kata Raka kemudian, menunjuk sebuah ruangan di dekat kamar mandi.
Tanpa banyak bicara, Tasya dan Nina masuk ke kamar itu dan menguncinya rapat. Ketakutan membuat mereka tak ingin memberi celah sekecil apa pun, bahkan pada Raka atau anak buahnya sendiri.
Keesokan harinya, Tasya dan Nina kembali menunggu. Namun hingga siang menjelang, batang hidung Dimas tak juga terlihat. Tasya mondar-mandir di dalam kamar, menggigit kukunya tanpa sadar. Rasa khawatir dan penasaran bercampur jadi satu, menggerogoti pikirannya.
Beberapa jam kemudian, Raka meminta mereka mengikutinya menuju taman kecil di dekat gerbang utama.
Di sana, Andreas dan Ivone sudah duduk bersama dua orang petugas kepolisian, ditemani dua anak buah Andreas.
“Sialan… kenapa lo bawa gue ke hadapan mereka?” pekik Tasya tertahan saat melihat kedua orang tuanya dari kejauhan.
“Lo tanya mereka, jangan tanya gue,” jawab Raka datar, lalu melangkah mendekati Andreas.
Ivone langsung bangkit. Wajahnya mengeras saat pandangannya bertemu Tasya. Namun Andreas cepat menarik lengannya, memberi isyarat agar Ivone menahan diri.
“Papi cuma kasih kamu satu pilihan,” ujar Andreas sambil berdiri.
“Kamu tetap kuliah di sini, tapi nama kamu dicoret dari keluarga Adibrata. Atau—”
“Aku tetap kuliah di sini,” potong Tasya cepat, suaranya bergetar tapi tegas.
“Meskipun papi cabut semua fasilitas aku.”
“Anak nggak tahu diuntung!” teriak Ivone spontan.
“Cukup, Mi,” potong Andreas dingin.
“Kita lihat berapa lama dia bisa hidup bareng manusia macam mereka.”
Ia melempar sebuah tas berisi pakaian ke arah Tasya, lalu berbalik pergi begitu saja.
Ivone sempat menahan langkah, ragu sejenak. Namun Andreas kembali menariknya, menjauhkan Ivone dari Tasya sebelum egonya runtuh oleh rasa bersalah.
Tasya berdiri terpaku. Kini ia benar-benar tak punya apa-apa selain pakaian di dalam tas itu. Laptop yang berisi data skripsinya—semuanya dibawa Andreas. Matanya berkaca-kaca, bukan hanya karena kehilangan, tetapi karena caranya diperlakukan: dingin, kejam, dan nyaris tak manusiawi.
“Kelar, kan, urusan lo?” ucap Raka singkat, lalu berbalik meninggalkan mereka.
Nina langsung memeluk Tasya erat, seolah mencoba menahan tubuh sahabatnya yang nyaris runtuh. Ia menggandeng Tasya menuju mobil.
“Lo bisa tinggal sama gue, Sya,” kata Nina saat Tasya duduk di kursi penumpang.
“Tapi gue nggak punya apa-apa lagi, Na,” bisik Tasya. Air matanya akhirnya jatuh, tak tertahan.
“Uang saku gue masih cukup buat makan kita berdua,” jawab Nina lembut.
“Yang penting lo tenang dulu. Abis itu kita cari jalan keluar biar lo tetap bisa beresin kuliah.”
Mobil melaju menuju kost Nina.
Sesampainya di sana, Tasya tak lagi mampu menahan kesedihannya. Selama ini hidupnya dipenuhi kemudahan—barang-barang mahal, tempat tinggal nyaman, dan uang yang tak pernah perlu ia hitung jumlahnya. Kini, semua itu lenyap dalam satu tarikan waktu.
Dan untuk pertama kalinya, Tasya benar-benar sendirian.
Selama dua hari terakhir, Dimas sama sekali tak menampakkan diri. Ia bahkan tak memberi kabar pada Nina. Pesan-pesan dari Tasya hanya berakhir pada tanda centang biru yang dingin, tanpa satu pun balasan.
“Lo yang sabar ya, Sya,” ucap Nina pelan, mencoba menenangkan.
“Gue ngerti, harusnya sekarang Dimas ada di sini buat dampingin lo.”
“Gue udah nggak tahu harus ngapain lagi, Na,” balas Tasya lirih. Matanya sembap, pikirannya masih terseret pada tatapan dingin Andreas di taman tempo hari.
“Pakai dulu laptop gue buat nyusun ulang bab pertama,” kata Nina sambil mendorong laptopnya ke arah Tasya.
“Siapa tahu bisa bantu.”
Tasya hanya mengangguk. Ia kembali menyusun rancangan skripsinya dari awal, sadar bahwa seluruh data lama kini bukan lagi miliknya.
Keesokan harinya, Tasya memaksa dirinya bangkit. Ia meminta izin meminjam laptop Nina hingga sore, berniat mengejar ketertinggalan yang kian jauh.
“Pakai aja, Sya,” jawab Nina.
“Sekalian gue anter lo ke kampus.”
Nina menyelipkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan ke tangan Tasya.
“Maaf ya, Na. Gue jadi beban hidup lo,” ucap Tasya lirih.
“Selama ini lo yang selalu bantu gue,” balas Nina sambil memeluknya.
“Mana mungkin gue ninggalin lo sekarang.”
Mereka berangkat bersama. Nina menurunkan Tasya di depan gerbang kampus, lalu berpamitan untuk menemui teman-temannya. Tasya melangkah sendirian menuju perpustakaan. Ia menyusuri rak demi rak, mencoba menyusun ulang pikirannya lewat tumpukan buku.
Saat menarik sebuah buku, pandangannya tak sengaja menangkap sosok Dimas di balik rak lain, berdiri sambil memegang jurnal milik alumni.
Darah Tasya seketika mendidih.
Ia mendekat, lalu telapak tangannya mendarat di pipi Dimas.
“Brengsek lo,” desis Tasya, suaranya tertahan namun tajam.
“Lo bener-bener egois!” lanjutnya sambil mendorong pundak Dimas.
“Hidup gue ancur sekarang. Puas lo!”
Dimas tak membalas. Ia hanya menggenggam lengan Tasya dan menariknya menuju ruang perpustakaan di basement.
“Ngapain lo bawa gue ke sini!” pekik Tasya, berusaha melepaskan diri.
“Percuma gue jelasin,” jawab Dimas dingin.
“Mending lo lihat sendiri.”
Sesampainya di sana, Tasya terpaku. Di atas meja tergeletak beberapa tumpuk buku dan sebuah laptop yang masih menyala. Data terbaru tersusun rapi, lengkap dengan outline untuk draft baru—semuanya sudah dikerjakan.
“Gue ngilang bukan buat kabur,” ucap Dimas, nadanya naik satu oktaf.
“Gue begadang dua hari buat beresin ini sendirian.”
Ia menoleh tajam ke arah Tasya.
“Lo pikir gue cuma diem aja, ikut tenggelam sama masalah lo?”
“Harusnya lo kabarin gue atau Nina,” balas Tasya tertahan.
“Bukan malah ngilang kayak setan diusir pemburu hantu.”
“Kalian berdua,” suara seorang penjaga perpustakaan memotong,
“kalau mau ribut, silakan di luar. Ini tempat belajar, bukan tempat nyelesain urusan pribadi.”
Keduanya langsung terdiam. Mereka menarik kursi dan duduk berjauhan, membiarkan amarah menggantung di udara, belum selesai, belum tuntas.
“Kalau lo masih kesel sama gue, mending lo pulang sekarang,” bisik Dimas tanpa menoleh.
“Daripada jadwal gue molor gara-gara kelakuan anak manja kayak lo.”
Tasya mendecak kesal. Tanpa menanggapi, ia beranjak dari sisi Dimas dan kembali menuju ruang utama perpustakaan. Sejak itu, keduanya menghabiskan waktu hingga sore di ruangan yang terpisah, tenggelam dalam pekerjaan masing-masing, seolah tak saling mengenal.
Menjelang petang, petugas perpustakaan meminta seluruh pengunjung untuk segera meninggalkan ruangan karena jam operasional akan berakhir.
Dimas keluar lebih dulu. Ia berhenti di depan pintu, pura-pura memainkan ponsel, sesekali melirik ke dalam. Saat melihat Tasya mulai mendekat, Dimas refleks bersembunyi di balik tangga, tak ingin kehadirannya ketahuan.
Tasya melangkah sendirian menuju gerbang kampus. Dari kejauhan, Dimas mengawasinya, mencoba memastikan apakah Tasya akan dijemput Nina atau pergi dengan cara lain.
“Halo, Tasya.”
Seorang laki-laki tiba-tiba mendekat dan merangkul bahunya.
“Ngapain sih lo!” Tasya langsung mendorong tubuh pria itu. Namun laki-laki tersebut justru kembali mencoba meraih lengannya.
Gerakan Dimas lebih cepat. Ia menarik tubuh pria itu menjauh.
“Jaga sikap lo, Ren,” ucap Dimas dingin, menatap mantan sahabatnya tanpa berkedip.
“Oh, ternyata bener,” Rendi menyeringai, menepuk pundaknya sendiri, seolah membersihkan bekas sentuhan Dimas.
“Lo berubah gara-gara dia.”
“Apa maksud lo?” Dimas menatapnya tajam.
“Wow… wow… wow.”
Suara itu muncul dari samping, santai tapi menusuk.
“Rupanya duet maut algojo kita udah siap turun ke lapangan lagi.”
Reza berdiri beberapa langkah dari mereka, ekspresinya setengah mengejek, setengah menikmati situasi.
“Ngapain lo di sini?” tanya Dimas waspada, pandangannya bergantian antara Reza dan Rendi.
“Harusnya gue yang nanya,” balas Reza enteng, lalu mengangguk ke arah Tasya yang kini berdiri setengah bersembunyi di balik tubuh Dimas.
“Kenapa nona manis itu nggak ikut pulang ke Surabaya?”
Udara di antara mereka mendadak menegang. Tasya menggenggam ujung jaket Dimas tanpa sadar, sementara Dimas berdiri sedikit lebih ke depan—seolah tubuhnya adalah satu-satunya pembatas antara Tasya dan dunia yang perlahan kembali menyeretnya ke masa lalu.