NovelToon NovelToon
Nikah Dulu Saja Ya Kan?

Nikah Dulu Saja Ya Kan?

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:592
Nilai: 5
Nama Author: Vismimood_

Pertemuan singkat yang tak disengaja itu yang akhirnya menyatukan Nabilla dan Erik, tanpa rencana apa pun dalam pikiran Nabilla tentang pernikahan namun tiba-tiba saja lelaki asing itu mengajaknya menikah.
Lamaran yang tak pernah dibayangkan, tanpa keramaian apapun, semua serba tiba-tiba namun membawa kebahagiaan.
Pertemuan menyebalkan itu telah membuat Nabilla dan Erik terikat seumur hidup, bahagia hanya itulah yang mereka rasakan.
Merangkai kisah rumah tangga yang bahagia meski selalu ada saja masalah, Erik dan Nabilla menciptakan kisah bahagianya sendiri di tengah gangguan menyebalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vismimood_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lagi

Sore hari Tyas datang ke Laundry Nabilla sesuai janji mereka dua hari yang lalu, Nabilla masih bertahan disana karena membantu karyawannya. Laundry begitu ramai sehingga sedikit merepotkan karyawannya, beruntung Nabilla sedang tidak sibuk sehingga bisa membantu mereka juga.

"Billa." Panggil Tyas.

Nabilla nongol dari belakang sana, segera Nabilla menghampiri meski masih memegang botol parfum. Tyas menggeleng seraya melipat tangannya di dada, apa-apaan bos muda ini selalu saja merepotkan diri padahal sudah mempunyai karyawan.

"Ayo pergi."

"Mau kemana sih sebenarnya?"

"Ih aku bilang kalau aku mau kenalkan kamu sama calon Suami aku."

Nabilla menghela nafasnya tenang, padahal waktu itu Nabilla masih berpikir jika Tyas hanya bercanda. Tapi lihatlah sekarang, Tyas begitu antusias mengenalkan calonnya pada Nabilla.

Sayang sekali, Tyas sudah jauh bahkan bertahun-tahun menimba ilmu. Ketika lulus wanita itu langsung memilih menikah, kenapa Tyas tidak bekerja dulu atau membuka usaha, dia bisa menggunakan ijazah dan gelar itu untuk menjadi sukses.

"Ayo ih, malah bengong."

Nabilla mengerjap ketika Tyas menarik tangannya, Nabilla menyimpan botol parfumnya dan berlalu sambil berteriak pada orang di dalam sana.

"Aku pergi, tolong kerja yang benar!"

Tak ada sahutan atau mungkin Nabilla tidak mendengar jawabannya, biarkan saja mereka sudah cukup bisa diandalkan. Akhirnya Nabilla membuntut ketika dibawa pergi oleh Tyas, Nabilla bahkan belum mandi dan sedikit berkeringat.

"Yas, aku malu tahu. Apa aku gak bau keringat?"

"Ya ampun sejak kapan kamu bau?"

"Ya kan siapa tahu aja."

"Gak, udah ah kenapa sih."

Jauh perjalanan Tyas menghentikan laju mobilnya disalah satu perumahan elit, Nabilla mengangguk saja karena rupanya Tyas akan menikah dengan orang kaya. Ah Nabilla jadi sedikit paham, Tyas tidak harus bekerja karena hidupnya akan damai kalau begitu.

"Ayo masuk."

"Malu ah, aku kayak gini penampilannya."

"Kenapa sih, memang harus kayak gimana. Harus pakai gaun lebar gitu?"

"Ya bukan, lihat saja kamu kan beda sama aku. Kaosan gini, keringatan, pakai sandal jepit lagi."

Tyas berdecak dan keluar lebih dulu tanpa perduli ucapan Nabilla, lagian siapa suruh Nabilla ikut bekerja dia kan bos. Bos itu harusnya duduk santai saja, dengan begitu tidak akan keringatan dan bau.

Nabilla turut keluar karena Tyas menariknya paksa, baiklah Nabilla siap dipermalukan sekarang. Memang kesalahannya juga karena tidak prepare sebelum Tyas datang, padahal mereka sudah buat janji sejak dua hari lalu.

"Permisi, Pak."

"Iya, cari siapa?"

"Saya cari Niel, bilang sama dia kalau Tyas datang."

"Baik, sebentar."

Kedunya diam karena gerbang tidak dibukakan, tidak masalah karena memang selalu seperti itu. Satpamnya tidak kenal dengan Tyas, sudah pasti tidak bisa masuk begitu saja.

Nabilla memperhatikan sekitar, deretan rumah mewah itu cukup memanjakan matanya. Nabilla masih bermimpi untuk memiliki rumah bak istana seperti itu, tapi perlahan saja karena sekarang Nabilla belum mampu.

"Silahkan langsung masuk saja."

Keduanya menoleh dan segera masuk setelah gerbang dibuka, Tyas memasuki rumah itu sudah seperti masuk ke rumah sendiri. Sampai di dalam Nabilla tampak malu sendiri karena Tyas yang berpelukan dengan kekasihnya itu, ah sudah benar Nabilla tidak usah masuk.

"Em kangen aku." Ucap Tyas manja.

"Kamu datang sama siapa?"

"Ah iya aku lupa, kenalan dulu dong. Ini Nabilla, sahabat aku yang pernah aku ceritakan sama kamu. Yang-"

Kalimat akhir Tyas tak jelas karena wanita itu justru berbisik, Nabilla hanya mengangkat kedua alisnya tanpa berani bertanya. Sesaat kemudian Tyas menarik Nabilla agar mendekat, ia juga meminta Nabilla agar mau berkenalan.

"Ayo."

"Hai, Daniel." Ucapnya seraya mengulurkan tangan.

"Iya, Nabilla." Sahutnya dengan menjabat sekilas tangan Daniel.

Lelaki itu terdiam menatap Nabilla, dari wajahnya sampai ke kakinya, ah bukankah benar Nabilla akan dipandang aneh. Tyas tersenyum dan mengusap wajah Daniel asal, sahabatnya akan kapok bertemu jika ditatap seperti itu.

Daniel lantas mengajak keduanya untuk duduk, ia juga memangil ARTnya untuk membawakan jamuan, tak berselang lama jamuan itu datang dan Daniel langsung mempersilahkannya, Tyas langsung meneguk minumannya sedangkan Nabilla hanya diam saja.

"Billa, ayo minum. Makan juga itu kuenya enak loh, kamu pasti suka."

"Iya, terimakasih."

Daniel merasa tertarik dan ingin terus menatap Nabilla, kenapa masih ada wanita secuek itu dengan penampilannya. Sadar dengan tatapan itu justru membuat Nabilla merasa risih, sampai kapan Tyas akan berada disana apa sebaiknya Nabilla pamit duluan saja.

"Sayang, Mama kamu kemana?"

"Tadi bilang mau ke Salon, gak tahu lah Mama kalau sudah keluar rumah semua tempat didatangi."

"Yah, aku gak bisa ketemu dong."

"Nanti malam kan bisa, ini masih sore."

Nabilla mengernyit, apa Tyas berniat bertahan disana sampai malam sampai Mama Daniel pulang. Ah tidak bisa seperti itu Nabilla akan kebingungan sendiri nantinya, lebih baik Nabilla pamit duluan saja lagi pula ia sudah tahu calon suami Tyas.

"Yas, aku-"

"Pasukan datang!"

Suara itu membuat kalimat Nabilla tertahan, ketiganya menoleh bersamaan, ada apa ini. Datang beberapa orang laki-laki yang begitu berisik, mata Nabilla membulat saat melihat salah satunya yang pernah Nabilla temui, astaga Nabilla segera berpaling.

"Widih yang mau kawin, udah nempel aja nih!" Celetuk salah satunya.

Nabilla sempat melihat dari ujung matanya mereka semua bersalaman dengan Tyas, ah semakin bingung saja Nabilla sekarang. Tak mau ambil resiko jadi nyamuk tak berarti, Nabilla bangkit dan langsung pamit tanpa melirik mereka yang baru datang.

"Eh, eits-" Tahan Tyas.

"Aku harus pulang!" Tegas Nabilla.

"Tunggu dulu, kamu mau pulang pakai apa. Duduk duduk ah." Titah Tyas seraya menariknya kembali duduk.

"Erik." Panggil Tyas.

Nabilla tetap menunduk tanpa berani melihat mereka semua, siapa mereka kenapa Tyas bisa kenal dengan preman seperti mereka. Nabilla masih ingat mereka adalah gerombolan anak mudah yang ribut ditengah jalan waktu itu, dan salah satunya juga yang memaksa naik di motor Nabilla.

"Lu ah!" Ucap Daniel seraya mendorong salah satunya.

"Gue sih?"

"Ck- Banyak omong."

"Iya iya ah, hey kenalan dulu dong. Nunduk terus kenapa tuh muka, jerawatan?" Celetuknya asal.

Nabilla menganga mendengarnya, kurang ajar sekali mulutnya itu, Nabilla biar tanpa make-up wajahnya mulus. Tyas menyikut Nabilla agar mau melihat mereka semua, tapi sepertinya itu tidak berhasil karena Nabilla tak memperdulikannya.

"Aduh, ah kenalan doang." Ucapnya seraya menjabat paksa tangan Nabilla.

Sontak saja itu membuat Nabilla menoleh dan berusaha menarik tangannya lagi, mereka kompak menahan tawa ketika lelaki itu mematung setelah melihat wajah Nabilla.

"Jerawatan gak tuh?" Teriak mereka kompak termasuk juga Tyas.

"Lepas ih!" Titah Nabilla yang akhirnya tangannya berhasil bebas.

"Lu kan-?"

Nabilla bangkit dan berlalu begitu saja, tingkah itu membuat mereka melongo, cukup aneh tapi sepertinya mereka mengerti jika Nabilla bukan anak gaul. Tyas hendak menyusul namun Daniel menahannya, ia kembali mendorong temannya itu untuk pergi menyusul Nabilla.

"Tunggu dulu, itu wanita yang sempat hampir nabrak gue kan. Lu yang waktu itu kabur naik motor dia kan Rik?"

"Berisik lu, gara-gara lu semua dia kabur!" Pungkas Erik seraya berlalu pergi.

"Mereka sudah kenal rupanya?" Tanya Tyas.

"Bukan kenal, tapi pernah gak sengaja ketemu. Memang siapa dia?"

"Dia yang mau gue jodohkan sama si Erik."

*

Di jalan sana Nabilla mempercepat langkahnya saat tahu ada yang mengikutinya, kenapa jauh sekali untuk sampai ke jalan raya. Nabilla menggeleng tak boleh memikirkan apa pun selain dari pada fokus melangkah, Nabilla harus bebas dari mereka semua.

"Nabilla, tunggu!"

"Ah dari mana dia tahu nama ku." Gerutu Nabilla tanpa sedikit pun menoleh.

Nabilla terus berjalan tanpa perduli dengan dia di belakang sana, seharusnya tadi Nabilla diam di Laundry sana membantu mereka bekerja. Dengan begitu Nabilla tidak perlu bertemu mereka, menyebalkan sekali kenapa bisa Tyas berteman dengan brandal seperti itu.

"Heh apa kau tuli?" Tanya Erik seraya menarik lengan Nabilla.

Buk....

Dua tubuh itu bertabrakan, Nabilla sempat memejamkan matanya karena syok dengan tarikan Erik. Kini dengan ragu Nabilla mengangkat kepalanya, dua pasang mata itu sama-sama bertahan dalam tatap satu sama lain.

Mulus, itulah kalimat pertama yang terucap dibenak Erik. Wajah Nabilla begitu mulus tanpa bintik atau apa pun, Erik sudah salah mengatakan wajah itu berjerawat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!