NovelToon NovelToon
Janda Muda Pilihan CEO

Janda Muda Pilihan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: GEMURUH HUJAN DAN REKAHAN TAKDIR

Malam itu, Jakarta sedang dihantam badai. Langit di atas ibu kota seolah tumpah, menumpahkan miliaran kubik air yang langsung menghantam aspal jalanan dengan kasar. Bunyi gemuruh petir sesekali bersahutan, membelah kegelapan dan memantulkan kilatan cahaya putih di antara gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Di tengah cuaca ekstrem yang membuat sebagian besar orang memilih meringkuk di dalam rumah, sebuah mobil sedan hitam mewah, Mercedes-Benz S-Class keluaran terbaru, tampak membelah jalanan protokol yang mulai lengang.

Di dalam kabin mobil yang kedap suara, suasananya berbanding terbalik. Udara sejuk beraroma kayu cendana dan teh putih mengalir tenang dari ventilasi AC. Namun, ketenangan itu tidak mampu meredakan badai yang sedang berkecamuk di dalam kepala pria yang duduk di jok belakang.

Dafa Mahardika. Di usianya yang baru menginjak tiga puluh tahun, namanya sudah bergaung keras di dunia korporat sebagai CEO Mahardika Global Group. Dia adalah definisi dari kesempurnaan fisik dan status: berwajah tegas dengan rahang kokoh yang selalu tercukur rapi, sepasang mata elang yang dingin, dan postur tubuh tinggi tegap yang selalu dibalut setelan jas pesanan khusus dari penjahit terbaik. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan keluarga itu menggurita, menguasai sektor properti mewah dan investasi di berbagai penjuru negeri.

Namun malam ini, bahu lebar itu tampak sedikit turun. Dafa menyandarkan kepalanya pada jok kulit, memijat pelipisnya yang berneon kencang. Pikirannya bukan penuh karena urusan proyek senilai ratusan miliar yang baru saja ia tanda tangani, melainkan karena rentetan teror psikologis dari sang ibu, Kinanti Mahardika.

“Dafa, mami tidak mau tahu. Bulan depan kamu harus membawa calon istri ke rumah. Umurmu sudah tiga puluh tahun! Mau sampai kapan kamu mengurus gedung-gedung mati itu? Mami mau menimang cucu, Dafa. Kalau sampai bulan depan kamu belum punya calon, Mami yang akan menjodohkanmu dengan anak rekan bisnis Papi!”

Suara lengkingan ibunya di telepon beberapa jam lalu masih terngiang jelas, berdengung egois di telinganya. Dafa menghela napas panjang. Baginya, wanita dan pernikahan adalah urusan bisnis yang paling malas ia sentuh. Di matanya, semua wanita yang mendekatinya selama ini memiliki pola yang sama: bermata duitan, haus publikasi, dan hanya mengincar nama besar Mahardika. Cinta? Dafa tidak percaya pada konsep usang itu.

"Pak Dafa, curah hujan di depan semakin pekat. Jarak pandang saya agak terbatas karena genangan air mulai tinggi," suara Pak Joko, sopir pribadi yang sudah bekerja dengannya selama sepuluh tahun, memecah keheningan kabin.

Dafa membuka matanya perlahan, menatap sapuan wiper pada kaca depan yang bekerja ekstra keras. "Tidak apa-apa, Pak Joko. Jalankan saja perlahan. Kita tidak sedang buru-buru."

"Baik, Pak."

Mobil kembali melaju membelah kegelapan, melewati daerah pemukiman yang mulai sepi dan minim penerangan jalan. Dafa kembali memejamkan mata, mencoba mencari sedikit kedamaian di tengah kepalanya yang mau pecah.

Di saat yang sama, hanya berjarak beberapa kilometer di depan mobil Dafa, sebuah sepeda motor bebek tua tahun 2000-an tengah melaju terseok-seok menembus badai. Mesinnya yang berisik sesekali terbatuk akibat air hujan yang mulai masuk ke dalam filter karburator.

Di atas motor itu, Pak Handoko mencengkeram erat setang motor yang basah dan licin. Pandangan matanya yang sudah mulai kabur akibat usia dipaksa untuk menembus lebatnya hujan. Sementara di jok belakang, berpegangan erat pada jaket parasut ayahnya yang sudah basah kuyup, duduklah Nazya.

Nazya—wanita muda berusia dua puluh empat tahun yang memiliki kecantikan alami khas perempuan Indonesia, dengan kulit kuning langsat dan rambut hitam panjang yang kini tersembunyi di balik jas hujan plastik murah berwarna biru. Namun, jika ada orang yang menatap matanya malam itu, mereka tidak akan menemukan binar kehidupan di sana. Sepasang mata jernih itu tampak kosong, layu, dan menyimpan kabut duka yang teramat pekat.

Statusnya adalah seorang janda muda. Sebuah predikat yang di masyarakat sering kali dipandang dengan sebelah mata, namun bagi Nazya, status itu adalah sebuah tanda kemenangan sekaligus luka yang menganga dalam. Dua tahun lalu, Nazya berhasil lolos dari neraka jahanam bernama pernikahan dengan mantan suaminya, seorang pria manipulatif dan ringan tangan yang menganggap wanita tidak lebih dari barang pajangan dan pelampiasan amarah.

Di masa lalu, setiap hari bagi Nazya adalah perjuangan untuk bertahan hidup. Mantan suaminya jarang memberikan uang nafkah. Setiap kali Nazya memberanikan diri untuk meminta uang sekadar untuk membeli beras, jawaban yang ia terima bukanlah lembaran rupiah, melainkan makian kasar, tuduhan bahwa ia adalah wanita boros, yang kemudian selalu berakhir dengan tamparan keras di pipi atau tendangan di sudut ruangan. Nazya dibiarkan kelaparan berhari-hari dalam sepi, mengunci diri di kamar sambil menangis menahan perih di perut dan tubuhnya yang lebam.

Bahkan ketika penderitaan itu memuncak dan Nazya mencoba mengadu serta mencari pembelaan, mantan suaminya justru mempermalukannya di depan keluarga besar, menuduh Nazya sebagai istri yang tidak tahu bersyukur dan tidak becus melayani suami. Trauma itu mengakar begitu dalam, merusak sistem saraf mentalnya. Sejak ketukan palu hakim meresmikan perceraian mereka, Nazya berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan pernah membiarkan laki-laki mana pun menyentuh hidupnya lagi. Baginya, semua laki-laki adalah monster tersembunyi.

"Nazya! Pegangan yang erat, Nak! Hujannya makin deras, jalanan di depan tergenang!" teriak Pak Handoko, suaranya nyaras tenggelam oleh deru angin dan guntur.

Nazya tidak menjawab, ia hanya mempererat pelukannya pada pinggang sang ayah. Hatinya mencelos menatap punggung ayahnya yang kian membungkuk. Hanya pria tua inilah satu-satunya laki-laki di dunia yang tulus mencintainya, yang menjemputnya dari rumah suaminya saat tubuh Nazya penuh luka dua tahun lalu. Demi ayahnya, Nazya rela bertahan hidup, meski jiwanya sendiri sudah lama mati rasa.

Motor tua itu perlahan mendekati sebuah persimpangan jalan yang gelap. Lampu jalan di sudut itu mati, menyisakan keremangan yang mencekam. Pak Handoko menurunkan kecepatan motornya, bersiap untuk berbelok ke arah kanan menuju jalan tikus yang memotong jalan ke rumah petak mereka.

Di dalam mobil Mercedes-Benz, Pak Joko mendadak membelalakkan matanya. Sorot lampu mobilnya yang terang tiba-tiba menangkap siluet sebuah sepeda motor tua yang muncul dari tikungan kiri, berbelok terlalu melebar karena menghindari genangan air yang dalam. Jarak mereka sudah terlalu dekat, hanya sekitar lima meter!

"Astagfirullah, Pak!!" Pak Joko berteriak histeris.

Dafa spontan membuka matanya lebar-lebar. Detik itu juga, ia melihat siluet dua orang di atas motor tepat di depan moncong mobilnya.

DECIIIIITTTTTT!!!!

Pak Joko menginjak pedal rem sedalam yang ia bisa. Ban mobil mahal itu mencicit keras, bergesekan brutal dengan aspal yang tergenang air, menciptakan efek aquaplaning yang membuat mobil kehilangan kendali sejenak. Dafa terdorong ke depan dengan keras, lengannya menahan dasbor jok depan.

Namun, bobot mobil yang berat dan jalanan yang terlalu licin membuat pengereman tidak bisa berhenti seketika.

BRRAAAKKKK!!!

Bagian depan kanan mobil sedan itu menghantam sisi samping motor bebek tua tersebut. Benturannya sebenarnya tidak dalam kecepatan tinggi karena rem sudah bekerja sebagian, namun kekuatan hantaman itu sudah lebih dari cukup untuk membuat motor tua itu terpelanting ke samping.

Pak Handoko dan Nazya terlempar dari atas motor. Tubuh mereka berguling di atas aspal basah yang dingin sebelum akhirnya terhenti di dekat trotoar. Motor bebek itu ambruk dengan roda belakang yang masih berputar sia-sia di udara, sementara lampu utamanya pecah berantakan.

Di dalam mobil, suasana mendadak sunyi senyap, digantikan oleh suara napas Pak Joko yang memburu karena syok. "Ya Allah... Pak... saya... saya menabrak orang, Pak..." tangan Pak Joko gemetar hebat di atas setir.

Dafa, dengan jantung yang berdegup kencang memompa adrenalin, tidak membuang waktu. Ego CEO-nya lenyap seketika, digantikan oleh rasa kemanusiaan yang mendesak. "Pak Joko, tetap di sini! Hubungi ambulans sekarang!" perintah Dafa dengan suara tegas yang bergetar.

Tanpa memedulikan payung, Dafa membuka pintu mobil. Begitu kakinya menginjak aspal, air hujan langsung mengguyur tubuhnya, membasahi jas mahal yang ia kenakan dalam hitungan detik. Rambut klimisnya berantakan, menempel di dahi, namun mata tajamnya fokus mencari para korban.

Dafa berlari menerobos hujan deras menuju trotoar. Di sana, ia melihat seorang pria paruh baya sedang meringis kesakitan, memegangi sikunya yang berdarah dan lututnya yang lecet. Pria itu adalah Pak Handoko.

"Bapak! Bapak tidak apa-apa?!" Dafa berlutut di samping Pak Handoko, memegang bahu pria tua itu dengan cemas.

"Aduh... kaki saya... tapi anak saya... anak saya di mana?!" Pak Handoko merintih, matanya panik mencari ke sekeliling.

Dafa menoleh cepat, dan saat itulah pandangannya terkunci pada sosok wanita yang tergeletak sekitar dua meter dari Pak Handoko. Jas hujan plastik biru yang dikenakan wanita itu robek di bagian kaki, memperlihatkan gamisnya yang kini basah kuyup dan kotor oleh lumpur jalanan.

Wanita itu mencoba bergerak, namun sebuah rintihan lirih dan menyakitkan lolos dari bibirnya yang pucat. Nazya berusaha mengangkat tubuhnya menggunakan kedua siku, namun rasa sakit yang luar biasa hebat memancar dari kaki kanannya, membuat tubuhnya kembali ambruk ke aspal yang dingin.

Dafa melangkah mendekat, lalu berlutut di samping Nazya. "Mbak, jangan bergerak dulu. Anggota tubuh mana yang sakit? Ambulans sedang menuju ke sini," ucap Dafa, suaranya melembut secara instan, sesuatu yang tidak pernah terjadi di dunia bisnisnya yang kejam.

Nazya perlahan mendongakkan wajahnya yang basah oleh air hujan—atau mungkin air mata, Dafa tidak bisa mendeteksi kejelasannya.

Dan pada detik itulah, waktu di sekeliling Dafa seolah berhenti berputar.

Suara gemuruh hujan deras mendadak sayup di telinga Dafa. Melalui sorot lampu depan mobilnya yang terang benderang dari arah belakang, Dafa bisa melihat wajah wanita itu dengan sangat jelas. Nazya memiliki wajah dengan pahatan yang sangat indah dan feminin, namun yang membuat dada Dafa bergetar hebat—sebuah sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya—adalah sepasang mata wanita itu.

Mata itu menatap Dafa. Tidak ada kilatan amarah, tidak ada makian histeris seperti korban kecelakaan pada umumnya. Mata itu hanya memancarkan kekosongan yang teramat dalam, sebuah kepasrahan yang rapuh, dan rasa takut yang teramat sangat, seolah-olah ditabrak mobil mewah malam ini hanyalah satu lagi penderitaan kecil dari rangkaian penderitaan panjang di hidupnya.

Ada getaran halus di bibir pucat Nazya saat ia menatap setelan jas mahal Dafa yang kini basah kuyup. Di dalam kepala Nazya yang trauma, melihat pria berkuasa dan berpakaian rapi seperti Dafa justru memicu memori tentang mantan suaminya yang selalu tampil necis di luar namun menjadi monster di dalam rumah. Nazya ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena dinginnya air hujan, melainkan karena insting pertahanannya menyuruhnya untuk menjauh dari pria asing yang tampak kaya dan berkuasa ini.

Melihat tubuh wanita itu gemetar dan matanya yang menatapnya dengan ketakutan yang tidak biasa, sesuatu di dalam ego maskulin Dafa mendadak bergejolak hebat. Ada rasa bersalah yang mencabik dadanya, namun di saat yang sama, muncul sebuah letupan rasa suka pada pandangan pertama yang begitu kuat, ego posesif yang berbisik bahwa wanita rapuh di hadapannya ini harus aman di bawah perlindungannya.

"Jangan takut... saya tidak akan menyakitimu," bisik Dafa pelan, hampir tidak terdengar di antara deru hujan. Ia mengulurkan tangannya yang kokoh, hendak menyentuh bahu Nazya untuk menenangkannya.

Namun, begitu ujung jari Dafa baru saja menyentuh helai kain basah di bahu Nazya, wanita itu tersentak hebat. Nazya memejamkan matanya rapat-rapat, kepalanya reflek menunduk dalam dengan bahu yang naik—sebuah gerakan defensif yang otomatis, seolah-olah ia sedang bersiap menerima hantaman atau pukulan keras di wajahnya.

Dafa menarik kembali tangannya dengan cepat, tertegun menatap reaksi berlebihan wanita itu. Kenapa dia bereaksi seolah aku akan memukulnya? batin Dafa bingung dan penasaran.

"Ambulans sudah datang, Pak!" teriakan Pak Joko dari kejauhan memecah keheningan magis di antara mereka, bersamaan dengan suara sirine yang meraung-raung membelah malam.

Dafa tidak peduli lagi dengan penolakan itu. Dengan gerakan yang tegas namun penuh kehati-hatian, Dafa menyusupkan kedua lengan kekohnya ke bawah tubuh Nazya yang basah kuyup, mengangkat tubuh ramping nan ringan itu ke dalam dekapannya untuk dipindahkan ke ambulans. Saat tubuhnya diangkat, Nazya hanya bisa memejamkan mata, mencengkeram erat kemeja basah Dafa dengan tubuh yang masih bergetar hebat, menyerahkan takdirnya yang kembali koyak pada malam yang terkutuk itu.

Dafa tidak pernah tahu, bahwa keputusannya mengangkat tubuh wanita itu malam ini, adalah awal dari dirinya yang mengikatkan seluruh hidup, nama besar, dan hatinya pada sang janda muda.

1
miilieaa
halo kak, baru awal baca udah seru nihh
miilieaa: baik kakak, saya lanjut baca dulu lagi yaa kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!