NovelToon NovelToon
Skenario Rahasia Sang CEO

Skenario Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Shee Lyn

"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 (Benang yang kusut)

Panggilan telepon dari Surabaya mendarat tepat saat Mike Raharja sedang duduk di ruang kerja privat CEO, menatap laporan pergerakan saham yang terus merangkak naik. Suara Anita yang bergetar dan parau di seberang sana seketika mengubah atmosfer ruangan menjadi dingin. Mike mendengarkan setiap kalimat kepasrahan mantan istri kontraknya itu dengan rahang yang mengetat. Begitu sambungan terputus, Mike langsung menekan tombol interkom di mejanya.

"Kevin, masuk ke ruanganku sekarang. Batalkan semua jadwalku untuk dua hari ke depan," perintah Mike, suaranya dingin dan mutlak.

Tak sampai lima menit, Kevin sudah melangkah masuk dengan raut wajah bingung. "Ada apa, Mike? Saham kita baru saja stabil, kenapa mendadak mengosongkan jadwal?"

"Skenario Alvin dan Anita di Surabaya berantakan. Orang tua Alvin menolak Anita secara kasar karena masa lalu kontrak kami," Mike bangkit dari kursi kebesarannya, meraih jas hitamnya yang tersampir di sandaran kursi. "Anita baru saja meneleponku, meminta aku membawa Alvin pulang ke Jakarta karena dia ingin menyerah. Aku tidak akan membiarkan sahabatku hancur karena skenario masa laluku."

Kevin tertegun, lalu mengangguk paham. "Lalu apa rencanamu? Kamu mau ke Surabaya sekarang?"

"Ya. Siapkan jet pribadi perusahaan. Tapi sebelum itu, aku harus menjemput Alisha di kampus. Dia baru saja menyelesaikan sidang skripsinya hari ini," Mike melangkah mantap menuju pintu keluar. "Aku butuh Alisha bersamaku. Kehadiran Alisha adalah bukti nyata bagi orang tua Alvin bahwa pernikahan kontrakku dengan Anita tidak melibatkan perasaan apa pun."

Di koridor gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Alisha baru saja melangkah keluar dari ruang sidang dengan air mata haru yang mengalir di pipinya. Di tangannya, selembar kertas pernyataan kelulusan dengan nilai *A* mutlak tergenggam erat.

"Alisha! Selamat!" Anjeli, Asyifa, dan Alena langsung menghambur memeluk sahabat mereka dengan heboh, mengabaikan tatapan beberapa mahasiswa lain di koridor.

"Terima kasih, Guys. Terima kasih banyak atas dukungannya selama ini," ucap Alisha di sela-sela tangis bahagianya. Rasa mual yang sempat menderanya pagi tadi seolah hilang digantikan oleh rasa lega yang luar biasa. Ia telah menyelesaikan tanggung jawab akademisnya.

Namun, momen perayaan kecil itu terhenti saat sesosok pria tegap dengan setelan jas mewah berjalan membelah kerumunan mahasiswa di koridor. Kehadiran Mike Raharja yang begitu tiba-tiba di gedung kampus seketika memicu kasak-kusuk heboh dari para mahasiswi di sekitar mereka.

"Mike?" Alisha mengerjapkan matanya tak percaya saat suaminya sudah berdiri di depannya.

Mike tidak memedulikan pandangan orang-orang. Ia langsung merengkuh tubuh Alisha ke dalam pelukannya, mengecup pelipis istrinya dengan penuh kehangatan. "Selamat atas kelulusanmu, Sayang. Aku bangga padamu."

Tiga sahabat Alisha langsung kompak menahan napas, merasa gemas sekaligus canggung melihat kemesraan sang CEO secara langsung. Mike kemudian melepaskan pelukannya, menatap mata jernih Alisha dengan ekspresi yang mendadak berubah serius.

"Alisha, maaf aku harus merusak momen bahagiamu hari ini. Tapi kita harus ke Surabaya sekarang juga dengan jet pribadi," bisik Mike pelan agar tidak terdengar oleh yang lain. "Hubungan Alvin dan Anita di sana sedang di ujung tanduk. Kita harus menolong mereka."

Mendengar nama Anita dan Alvin disebut, senyuman di wajah Alisha seketika memudar. Ia mengingat bagaimana tulusnya Kak Anita membantunya dan ibunya tempo hari. "Baik, Mike. Ayo kita pergi sekarang. Aku siap."

Sementara itu, jam dinding di restoran hotel bintang lima di Surabaya telah menunjukkan pukul delapan malam. Alvin masih duduk sendirian di meja sudut yang dipesannya. Dua porsi makanan yang sudah mendingin sama sekali tidak ia sentuh. Lilin di tengah meja sudah meleleh hampir setengahnya, sewarna dengan harapan di dalam dadanya yang perlahan mulai terkikis oleh waktu.

Alvin menatap ponselnya. Masih tidak ada jawaban. Anita benar-benar menghilang, menguncinya di dalam ruang ketidakpastian yang menyiksa.

"Kenapa kamu sebodoh ini, Anita?" gumam Alvin parau, meremas rambutnya dengan frustrasi. Pria yang biasanya selalu ceria dan penuh canda itu kini tampak begitu berantakan. Dasinya sudah dilonggarkan, dan kancing kemeja teratasnya terbuka.

Tepat saat Alvin hampir kehilangan seluruh kesabarannya dan berniat mendatangi kamar Anita secara paksa, sebuah tepukan kokoh mendarat di bahunya. Alvin mendongak dengan cepat, mengira itu Anita, namun matanya justru menangkap sosok Mike yang berdiri tegak bersama Alisha di sampingnya.

"Mike? Alisha? Kenapa kalian bisa ada di sini?" Alvin terperangah, buru-buru berdiri dari kursinya.

"Aku ada di sini karena mantan istri kontrakku menelepon sambil menangis dan memintaku membawamu pulang ke Jakarta," jawab Mike dengan nada datar namun sarat akan penekanan yang mendalam.

Alvin seketika mengetatkan rahangnya, matanya berkilat penuh amarah yang bercampur dengan rasa sakit. "Dia... dia meneleponmu untuk memintaku pergi? Kenapa dia begitu keras kepala, Mike?! Aku sudah bilang aku tidak peduli dengan restu orang tuaku! Aku siap melepas semuanya demi dia!"

"Itulah masalahnya, Alvin," Alisha membuka suara, melangkah maju dan menatap Alvin dengan pandangan penuh empati. "Kak Anita melakukan ini justru karena dia sangat mencintaimu. Dia tidak mau ego cintanya membuatmu kehilangan keluargamu dan hak warismu. Wanita mana yang tega melihat pria yang dicintainya hancur demi dirinya?"

Alvin terdiam, kata-kata Alisha menghantam tepat di ulu hatinya. Bahunya yang tegap perlahan merosot lemas. Ia mengempaskan kembali tubuhnya ke kursi, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. "Lalu aku harus bagaimana, Sha? Aku tidak bisa hidup tanpanya. Empat tahun aku menahan diri melihatnya bersama Mike, dan sekarang saat dia sudah bebas, aku harus melepaskannya begitu saja? Aku tidak bisa."

Mike berjalan mendekat, menarik kursi di sebelah Alvin lalu duduk di sana. "Aku tidak menyuruhmu melepaskannya, Alvin. Aku datang kemari untuk menyelesaikan kekacauan yang kumulai."

Mike melirik Alisha, lalu kembali menatap Alvin dengan tatapan elang yang mutlak. "Kevin sedang mengatur pertemuan darurat dengan kedua orang tuamu di rumah utama keluargamu di Surabaya besok pagi jam sembilan. Kita akan datang ke sana. Kita bawa Anita bersama kita."

"Tapi Anita tidak mau menemuiku, Mike," ucap Alvin lirih.

"Dia tidak mau menemuimu, tapi dia tidak akan bisa menolak perintah dari mantan bosnya," sebuah suara feminin yang dingin dari arah belakang menginterupsi pembicaraan mereka.

Mereka semua menoleh dan mendapati Anita sedang berdiri di dekat pilar restoran. Matanya masih sembap, namun ekspresi wajahnya telah kembali mengeras dalam mode pengacara profesionalnya. Ternyata sejak tadi, Anita memperhatikan kedatangan Mike dan Alisha dari lantai atas, dan rasa tidak enaknya pada pasangan itu membuatnya terpaksa turun.

Alvin langsung bangkit dan menghambur mendekati Anita, meraih kedua lengan wanita itu dengan erat. "Anita... tolong jangan minta aku pulang ke Jakarta sendirian. Tolong."

Anita menatap mata Alvin yang memerah, ada rasa perih yang luar biasa di dadanya, namun ia menahan diri untuk tidak menangis lagi. Ia melepaskan pegangan Alvin secara perlahan, lalu menoleh memandangi Mike dan Alisha.

"Mike, Alisha... maaf aku telah merepotkan kalian sampai harus terbang ke Surabaya," ucap Anita tulus.

"Kamu tidak merepotkan kami, Kak Anita," Alisha melangkah mendekat, menggenggam tangan Anita dengan hangat. "Kita adalah keluarga sekarang. Masalah Kak Anita adalah masalah kami juga. Besok, kita akan datang ke rumah orang tua Pak Alvin bersama-sama. Kita luruskan semua benang yang kusut ini."

Anita menatap Alisha, lalu beralih menatap Mike yang mengangguk tegas memberikan dukungan penuh. Di dalam ruangan restoran yang mulai sepi malam itu, sebuah aliansi baru telah terbentuk. Skenario masa lalu yang sempat menggoreskan luka kini siap mereka pertanggungjawabkan bersama di depan hukum moral sebuah keluarga, demi sebuah restu yang sejati yang layak mereka dapatkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!