DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**BAB 18: TINJU YANG TIDAK BERGUNA**
Senin pagi, dua hari setelah pulang dari Lembang, David masuk kantor dengan dada yang masih terasa berat, bukan cuma karena Kirana, tapi juga karena tubuhnya sendiri masih menyimpan capek perjalanan jauh yang tidak sempat dia istirahatkan benar.
Tapi yang dia tidak tahu, selama dua hari itu, di balik dinding kaca lantai eksekutif yang berkilau, ada rencana lain yang sudah disusun rapi, jauh lebih licik dari sekadar menyewa preman jalanan.
Reza, yang dendamnya belum padam sejak rencana penculikan gagal total, duduk di ruangannya bersama seorang staf keuangan senior bernama Pak Hartono, lelaki paruh baya dengan kantong mata tebal karena terlalu sering lembur, dan beban hutang yang sudah membuatnya gampang diiming-imingi.
"Pak Hartono," Reza membuka pembicaraan, suaranya halus tapi penuh tekanan terselubung, "saya tau Bapak butuh dana cepat buat operasi anak Bapak kan?"
Pak Hartono menunduk, tangannya meremas ujung kemeja, "Iya, Pak Reza. Tapi saya gak tau harus cari ke mana lagi."
"Saya bisa bantu. Lima puluh juta, langsung cair. Tapi Bapak harus bantu saya juga."
"Bantu apa, Pak?"
Reza menyodorkan sebuah flashdisk kecil, "Masukin data ini ke sistem keuangan. Bikin seolah-olah ada transfer satu miliar yang disetujui David, tapi gak ada laporan pertanggungjawabannya. Bikin kelihatan seperti dia yang nge-otorisasi sendiri, lewat akses yang udah dia pegang sejak minggu lalu."
Pak Hartono menatap flashdisk itu lama, dadanya bergetar antara rasa bersalah dan kebutuhan yang mendesak, sampai akhirnya, dengan tangan gemetar, dia mengambilnya.
"Saya... saya coba, Pak."
***
Hari berikutnya, dokumen itu sudah rapi tersusun di meja Junaedi, lengkap dengan tanda tangan digital yang dipalsukan menyerupai milik David, bukti transfer fiktif senilai satu miliar rupiah ke rekening luar negeri yang tidak terlacak, dan catatan internal yang seolah menunjukkan David sengaja menyembunyikan transaksi itu dari laporan resmi.
Junaedi membaca dokumen itu dengan wajah yang semakin memerah setiap halaman, tangannya mengepal di atas meja.
"Panggil David. SEKARANG."
Tidak butuh waktu lama, David dipanggil ke ruang rapat utama, lengkap dengan seluruh jajaran direksi yang sudah berkumpul, termasuk Reza yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah yang berusaha terlihat prihatin, tapi matanya menyimpan kepuasan yang sulit disembunyikan.
"David," Junaedi melempar dokumen itu ke meja, suaranya menggelegar, "jelasin ini apa!"
David mengambil dokumen itu, membaca cepat, dan begitu dia melihat jumlah satu miliar rupiah dengan tanda tangannya sendiri yang dipalsukan, dia langsung tahu ini jebakan, tapi situasinya terlalu cepat untuk dia susun pembelaan yang matang.
"Pa, ini bukan saya. Saya gak pernah nyetujuin transfer kayak gini."
"JANGAN BOHONG!" Junaedi membentak, "ini ada bukti tertulis, ada tanda tangan lo, ada log akses sistem yang nunjukin lo yang login waktu itu!"
"Pa, ini dipalsukan, coba diselidiki dulu, jangan langsung percaya gitu aja."
"SELIDIKI APA LAGI? Bukti udah jelas di depan mata!"
David menatap sekeliling ruangan, mencari dukungan, tapi yang dia temukan hanya wajah-wajah staf senior yang menunduk, tidak berani angkat suara, takut ikut terseret dalam masalah yang menyangkut pewaris utama perusahaan.
"Pa, percaya sama saya. Ini fitnah."
Junaedi berdiri, wajahnya merah padam, "Saya udah cukup percaya sama lo, David. Saya kasih lo kesempatan, saya kasih lo posisi, dan lo malah balas dengan ngambil uang perusahaan sebanyak ini diam-diam!"
"Pa, dengerin saya dulu—"
"DISKORS!" Junaedi memotong, suaranya menggelegar ke seluruh ruangan rapat, "David diskors dari segala aktivitas perusahaan, efektif hari ini, sampai investigasi selesai!"
Seluruh ruangan terdiam, dan David berdiri di tengah, ditatap puluhan pasang mata staf dan direksi yang dipanggil khusus untuk menyaksikan momen itu, sebagian menatap dengan rasa kasihan yang tidak berani diucapkan, sebagian lagi menatap dengan kecurigaan yang baru saja ditanamkan paksa oleh dokumen palsu itu.
David menatap ke arah Reza, yang berdiri di sudut dengan wajah yang sengaja dibuat prihatin, tapi sudut bibirnya yang sedikit terangkat tidak bisa David lewatkan begitu saja.
Untuk pertama kalinya sejak dia bangun di tubuh ini, David merasakan sesuatu yang sangat asing baginya. Kemarahan yang membara di dada, tapi tidak ada satu pun lawan fisik yang bisa dia hadapi langsung. Tidak ada kuda-kuda yang bisa dia pasang, tidak ada pukulan yang bisa dia tangkis, tidak ada kuncian sendi yang bisa menyelesaikan masalah ini dalam hitungan detik seperti biasa dia lakukan.
Kekuatan tinjunya, kecepatan gerak silatnya, semua keahlian yang selama hidupnya sebagai Dadang membuatnya ditakuti seluruh Bandung Raya, sama sekali tidak berguna di ruangan berlapis kaca dan dokumen ini. Di sini, senjata yang dipakai bukan tangan kosong dan kuda-kuda Cimande, tapi tanda tangan palsu, kepercayaan yang dikhianati, dan sistem yang bisa dimanipulasi orang-orang yang lebih licik daripada kuat.
"Pa," David berkata pelan, suaranya bergetar bukan karena takut, tapi karena frustasi yang belum pernah dia rasakan seumur hidup, "saya gak bisa ngebuktiin diri saya cuma dengan kekuatan kali ini, ya?"
Junaedi tidak menjawab, hanya membalikkan badan, berjalan keluar ruangan diikuti jajaran direksi yang mengikuti dalam diam, meninggalkan David berdiri sendirian di tengah ruang rapat yang besar, dikelilingi kursi-kursi kosong dan dokumen palsu yang baru saja menghancurkan posisinya dalam sekejap.
Reza, sebelum keluar, sempat berhenti sebentar di samping David, berbisik pelan, cukup hanya untuk telinga mereka berdua, "Kekuatan lo emang hebat, David. Tapi di dunia ini, yang menang bukan yang paling kuat. Yang menang adalah yang paling pintar bikin orang lain percaya sama kebohongan."
David menatapnya, rahangnya mengeras, tangannya terkepal, tapi dia menahan diri, tahu betul bahwa memukul Reza saat ini hanya akan menambah daftar tuduhan yang sudah cukup berat menimpanya.
Reza melangkah keluar dengan senyum puas yang akhirnya dia biarkan terlihat sepenuhnya, sementara David berdiri sendirian, menatap dokumen palsu di meja, menyadari bahwa perang yang dia hadapi sekarang adalah jenis perang yang sama sekali berbeda dari semua tarung yang pernah dia menangkan di arena tanah Lembang.
Di luar ruangan, lewat kaca yang memisahkan ruang rapat dengan koridor kantor, dia bisa melihat Anto sudah berdiri menunggu dengan wajah cemas, dan jauh di sudut lain, Camelia menatapnya dengan mata yang menyimpan keyakinan, satu-satunya cahaya kecil di tengah kegelapan yang baru saja menyelimuti hidupnya.
"Ini baru permulaan," gumam David pelan, menatap dokumen itu sekali lagi sebelum melangkah keluar ruangan, "tapi gue gak akan kalah semudah ini. Gue cuma butuh cara lain buat menang."
*(bersambung)*