Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: DETIK-DETIK MENEGANGKAN DI RUANG STERIL
Pekikan alarm dari monitor jantung di ruang ICU sebelah berdenting begitu nyaring, memutus total kehangatan pelukan yang baru saja tercipta di antara Dafa dan Nazya. Bunyi pip... pip... pip... yang awalnya beritme konstan, kini berubah menjadi satu nada panjang yang melengking lurus—sebuah indikator mutlak bahwa jantung Pak Handoko telah berhenti berdetak.
Nazya membeku di dalam dekapan Dafa. Seluruh pasokan oksigen di dalam paru-parunya seolah disedot paksa keluar saat melihat melalui dinding kaca ganda; tiga orang perawat dan seorang dokter jaga malam berlari panik mengelilingi ranjang ayahnya.
"Ayah..." bisik Nazya, suaranya tercekat di tenggorokan.
Dengan kekuatan histeria yang mendadak muncul, Nazya merenggut tubuhnya mundur, melepaskan pelukan Dafa, lalu mencoba menyeret kakinya yang masih digips untuk melangkah ke luar kamar VIP. Namun, rasa sakit yang menghujam tulang kakinya membuat tubuh ramping itu langsung limbung ke depan.
Sebelum tubuh Nazya menyentuh lantai, lengan kekar Dafa sudah lebih dulu menangkap pinggangnya dengan sigap. Pria itu langsung mengangkat tubuh Nazya kembali ke dalam gendongannya, lalu melangkah lebar menerobos pintu keluar menuju koridor ICU.
"Lepasin Nazya, Mas! Ayah, Mas! Ayah jantungnya berhenti! Nazya mau masuk!" jerit Nazya histeris, memukul-mukul dada bidang Dafa dengan tangannya yang gemetar hebat. Air matanya kembali tumpah ruah, menghancurkan seluruh ketenangan yang baru saja Dafa bangun beberapa menit lalu.
"Tenang, Nazya! Tetap di sini!" bentak Dafa dengan suara baritonnya yang menggelegar, sarat akan otoritas yang dominan namun protektif. Ia mendudukkan Nazya di kursi tunggu koridor, lalu menahan kedua pundak istrinya itu dengan cengkeraman yang kokoh. "Kamu tidak boleh masuk ke dalam ruang steril dalam kondisi histeris seperti ini. Itu justru akan mengganggu konsentrasi dokter!"
Di dalam ruang ICU, dokter jaga tampak sudah menaiki tepi ranjang, melakukan tindakan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR), menekan dada Pak Handoko dengan ritme yang cepat dan kuat demi memompa kembali jantung yang telah kehilangan dayanya. Seorang perawat lainnya tampak sibuk menyiapkan alat kejut jantung, mengoleskan gel khusus pada sepasang lempengan besi defibrilator.
"Siapkan seratus lima puluh joule!" suara dokter samar-samar terdengar menembus pintu kaca.
"Mas Dafa, tolong Ayah..." Nazya mencengkeram kemeja putih Dafa hingga beberapa kancing atasnya terlepas, menyembunyikan wajahnya yang basah di perut suaminya sambil terus terisak pilu. "Jangan biarkan Ayah pergi... Nazya cuma punya Ayah di dunia ini..."
Dafa tidak menjawab dengan kata-kata. Sepasang mata elangnya menatap tajam ke dalam ruang ICU, mengamati setiap gerakan tim medis dengan rahang yang mengeras sempurna. Tangan besarnya terus mengusap rambut Nazya yang terurai, menyalurkan seluruh sisa kekuatan dan perlindungan mutlak yang ia miliki sebagai seorang suami. Di dalam benaknya, Dafa bersumpah, jika dokter-dokter ini gagal mengembalikan detak jantung mertuanya, ia akan meruntuhkan rumah sakit ini malam ini juga.
"Isi energi! Semua lepas!" seru dokter di dalam ruangan.
DUG!
Tubuh ringkih Pak Handoko tampak tersentak ke atas saat gelombang listrik pertama dihantamkan ke dadanya. Namun, layar monitor di samping ranjang masih menampilkan garis lurus vertikal berwarna hijau yang dingin. Tidak ada respons.
"Naikkan ke dua ratus joule! Isi kembali!" perintah dokter lagi, keringat mulai bercucuran di pelipisnya.
Ketegangan di koridor rumah sakit yang sunyi itu terasa semakin mencekam, merayap lambat menyiksa batin Nazya yang terus merapalkan doa di dalam hatinya. Sifat posesif Dafa semakin bergejolak melihat wanitanya hancur seperti ini. Ia merengkuh tubuh Nazya lebih erat, mengunci janda muda itu di dalam ketiak bidangnya, seolah ingin menanggung seluruh rasa sakit yang sedang menyiksa jiwa istrinya.
DUG!
Sentakan kedua diberikan. Detik-detik berikutnya terasa seperti keabadian, sampai akhirnya suara pekikan panjang dari monitor itu mendadak terputus, digantikan oleh bunyi pip... pip... pip... yang kembali berdetak lambat namun pasti. Garis lurus di layar berganti menjadi gelombang naik turun yang menandakan bahwa jantung tua itu telah kembali berdenyut.
Dokter jaga melangkah turun dari ranjang, menghela napas lega sembari memberikan isyarat jempol ke arah Dafa di balik kaca.
Nazya yang melihat hal itu langsung lemas tak bertenaga di dalam pelukan Dafa, menyandarkan seluruh bobot tubuhnya pada dada suaminya dengan sisa-sisa napas yang terengah-engah. "Terima kasih, Ya Allah... Terima kasih, Mas Dafa..."
"Aku sudah katakan padamu, Ayahmu adalah orang yang kuat. Dia tidak akan meninggalkanmu secepat ini," bisik Dafa, mengecup puncak kepala Nazya dengan lembut, memberikan rasa aman yang mendalam di tengah badai yang baru saja berlalu.
Tepat ketika atmosfer di koridor rumah sakit mulai sedikit mereda, langkah kaki yang tergesa-gesa kembali menggema dari arah lorong lift. Mikael berjalan cepat mendekati Dafa dengan wajah yang luar biasa tegang, memegang sebuah tablet digital yang masih menyala di tangan kanannya.
Dafa yang melihat kedatangan asisten pribadinya langsung memberikan kode mata agar Mikael tidak berbicara terlalu keras di depan Nazya yang baru saja tenang. Dafa perlahan mengangkat tubuh Nazya, membawanya kembali masuk ke dalam kamar VIP dan merebahkannya di atas ranjang.
"Istirahatlah. Aku harus bicara dengan Mikael di luar sebentar," ucap Dafa lembut, menyelimuti tubuh istrinya hingga sebatas dada. Nazya yang sudah kehabisan energi fisik dan mental hanya bisa mengangguk lemah, membiarkan matanya perlahan terpejam karena kelelahan yang luar biasa.
Setelah memastikan pintu kamar VIP tertutup rapat, Dafa berbalik menatap Mikael dengan tatapan mata elangnya yang kembali dingin dan menindas. "Ada apa lagi, Mikael? Bukankah aku sudah katakan untuk mengeksekusi Sanjaya Group tanpa perlu melaporkan setiap detailnya padaku?"
"Ini bukan tentang bursa saham, Pak Dafa," jawab Mikael, suaranya bergetar halus menahan gejolak informasi yang baru saja ia terima dari tim lapangan. "Rencana kita untuk menghancurkan saham mereka besok pagi sepertinya terendus. Tiga puluh menit yang lalu, direktur utama Sanjaya Group, Baskoro Sanjaya, baru saja melakukan pergerakan nekat."
Dafa menyipitkan matanya, merogoh saku celananya untuk mengambil sebatang rokok namun urung karena mengingat ini adalah kawasan rumah sakit. "Apa yang dilakukan tua bangka itu?"
Mikael menggeser layar tabletnya, menampilkan sebuah rekaman video langsung dari salah satu unit apartemen mewah di pusat kota—tempat yang selama ini dikenal sebagai tempat persembunyian rahasia keluarga Rendy setelah bercerai dari Nazya.
"Baskoro Sanjaya tahu bahwa pelayan rumah kita yang menerima suap lima ratus juta sudah kita amankan dan forensik digital sudah mengarah padanya. Karena panik buktinya akan bocor ke kepolisian besok pagi... orang-orang Baskoro baru saja menyusup ke apartemen itu dan membawa paksa ibu Rendy, Lastri, beserta kedua anak laki-lakinya yang baru saja ditebus dengan jaminan dari kantor polisi tadi malam."
Dafa mengernyitkan alisnya tajam. Aura predatornya kembali membumbung tinggi. "Baskoro menculik mereka untuk menghilangkan jejak?"
"Lebih dari itu, Pak," ucap Mikael, wajahnya memucat. "Informan kita di lapangan melaporkan bahwa Rendy sendiri saat ini sedang dibawa oleh anak buah Baskoro menuju ke arah gedung tua terbengkalai di perbatasan kota. Baskoro berencana membuat skenario seolah-olah keluarga Rendy melakukan bunuh diri massal karena depresi terlilit utang, sekaligus meninggalkan surat wasiat palsu yang menyatakan bahwa Anda, Pak Dafa, yang telah menekan dan memaksa mereka hingga bunuh diri menggunakan kekuasaan Mahardika."
Mendengar konspirasi busuk yang luar biasa licik itu, Dafa mendadak menyunggingkan tawa rendah yang sangat dingin—sebuah tawa yang terdengar mengerikan bagi siapa pun yang mendengarnya. Baskoro Sanjaya rupanya sudah bosan hidup hingga berani bermain api dengan membuat skenario yang bisa menghancurkan nama baik Mahardika sekaligus menggunakan nyawa mantan keluarga Nazya sebagai tumbalnya.
"Skenario yang sangat indah untuk ukuran orang yang sedang sekarat," ucap Dafa, suaranya sangat tenang namun sarat akan ancaman kematian yang mutlak. Pria itu membetulkan letak jam tangan mewahnya, lalu menatap lurus ke arah Mikael. "Siapkan mobil. Gerakkan seluruh tim eksekutor lapangan tingkat satu kita sekarang juga. Kita cegat mereka di gedung tua itu sebelum mereka sempat meletus sebutir peluru pun."
"Bagaimana dengan Ibu Nazya, Pak?" tanya Mikael cemas.
Dafa melirik sekilas ke arah pintu kamar VIP tempat istrinya sedang tertidur lelap di bawah penjagaan ketat. "Biarkan dia beristirahat. Badai ini akan kubersihkan seluruhnya sebelum dia membuka matanya besok pagi. Malam ini... aku sendiri yang akan turun tangan menjadi malaikat maut untuk keluarga Sanjaya."