bagaimana mungkin aku lupa dengan masa itu, bagaimana mungkin aku lupa dengan kenangan kisah cinta kita, yang kita jalin bertahun tahun lamanya, dan tidak pernah ku sangka kisah kita berakhir dengan pengkhianatan yg sadis, kau balas cinta dan pengorbanan ku dengan luka yg begitu hebat, hingga luka itu merubah ku menjadi bukan diriku, hari hari ku di penuhi rasa dendam, hingga muncul niat dalam pikiran ku untuk membunuh mu, namun takdir berkata lain.
aku nyaris kehilangan akal sehat, dan hampir gila dengan alur cerita hidup ku, hingga aku kehilangan arah tujuan hidup ku, sampai pada suatu hari tuhan menghadirkan se orang wanita yg menyadarkan ku, dan menyelamatkan hidup ku, dia merubah hidup ku menjadi berarti, dan bangkit meraih mimpi ku, hingga tuhan mempersatukan ku dengan dia, dan tuhan menganugrahkan kebahagiaan yg luar biasa tak pernah ku rasakan dalam hidup ku bersama dia sebelumnya.
dan kau lah jawaban doa dalam hati ku. HANUM RUSYDAH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukmanben99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ini lah kisah ku
Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian yang sudah mampir di karya novel pertamaku ini. Ini adalah karya asli saya.
Saya masih pemula, mohon maaf jika ada salah kata dan penulisan yang kurang baik di dalam karya novelku ini. Semoga kalian terhibur membaca kisah ini 😊
Dan inilah kisahku.
Pagi itu indah. Udara sejuk, hangatnya mentari berpadu dengan kicauan burung yang merdu. Semua itu membuatku bersemangat menjalani hari.
_Krek!_ Suara kaca helm ditutup. Dengan gaya sok keren, dia menyalakan motornya lalu menarik gas dalam-dalam. _Braaang!_ Suara knalpotnya menggelegar, gahar tak karuan.
Dia bernama Dony. Dia adalah Sahabatku sejak kecil. Kami tinggal di satu desa yang sama, sekolah di SMA yang sama, bahkan satu kelas. Sekarang kami baru saja naik ke kelas 3. Dony adalah sahabat terbaikku.
Pagi itu, setelah memanaskan motor, Dony bersiap berangkat. Namun, baru saja dia mau melajukan motornya, tiba-tiba emaknya yang super cerewet keluar rumah membawa sapu.
“Berisik, kebiasaan loe pagi pagi, ganti gak tuh kenalpot motor loe,,!” Emaknya ngomel sambil memukul punggung Dony dengan sapu.
Dony panik. Dengan terburu-buru dia tancap gas, kabur meninggalkan rumah. Lucunya, motor bebek bututnya sama sekali tidak sebanding dengan suara knalpotnya yang menggelegar.
Sementara aku? Aku masih di rumah, bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Perkenalkan, namaku SATRIA.
Aku lahir dari keluarga sederhana. Bisa dibilang, aku orang tidak punya. Bahkan kendaraan pribadi pun aku tak punya. Setiap hari, aku berangkat dan pulang sekolah naik angkutan umum.
Ibuku seorang ibu rumah tangga, dan Bapak hanya petani kecil. Meski begitu, aku sangat mencintai mereka, juga Kakakku. Bagi ku, mereka segalanya. Mereka harta paling berharga yang kupunya. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku laki-laki, namanya Asep. Dia sudah menikah dan punya satu anak perempuan berusia empat tahun. Dia tinggal di kota yang sama, tapi beda daerah.
Setelah selesai bersiap, aku pamit pada kedua orang tuaku lalu berjalan ke luar kampung.
Seperti biasa, aku berdiri di pinggir jalan menunggu angkot. Tak lama, angkot datang. Aku menahan dan naik ke dalamnya. Bau, sumpek, gerah — itu sudah jadi makanan sehari-hari bagiku di dalam angkot.
Di tengah perjalanan, seorang nenek habis dari pasar melambaikan tangan. Angkot berhenti. Aku yang duduk dekat pintu langsung membantu mengangkat barang belanjaannya: sayuran, ayam hidup, dan plastik-plastik lain. Seketika, angkot jadi makin sempit. Beberapa penumpang melirik nenek itu dengan wajah tidak senang.
Angkot kembali melaju. Tak lama, tali di kaki ayam milik nenek itu terlepas. _Kepak-kepak!_ Ayam itu terbang ke sana kemari di dalam angkot. Suasana langsung rusuh. Aku sigap menangkapnya. Setelah berhasil, aku ikat kembali kakinya sampai dia diam. Nenek itu tersenyum dan berterima kasih padaku.
Penumpang lain kesal. Aku sempat menahan tawa saat melihat rambut penumpang wanita di sebelahku jadi acak-acakan karena disambar ayam tadi. Dengan wajah kesal dia merapikan rambutnya sambil menatap sinis ke si nenek. Nenek itu hanya bisa meminta maaf berkali-kali.
Tak lama kemudian, aku sampai di sekolah. Aku turun setelah membayar ongkos. Baru beberapa langkah dari angkot, aku sadar... baju seragamku kotor penuh bekas cakar ayam. Parahnya, ada kotoran ayam menempel di dadaku. Baunya minta ampun.
Tanpa pikir panjang, kucolek kotoran itu dengan tangan. Jijik, tapi mau gimana lagi. Aku langsung jalan cepat menuju kamar mandi untuk membersihkannya. Sepanjang jalan, teman-teman melirik sambil menutup hidung. Ada juga yang terang-terangan tertawa. Aku tak peduli. Aku terus berjalan.
Di dekat kamar mandi, aku berpapasan dengan Dony.
“Loe baru nyampe, Sat?” tanya Dony. Dia memperhatikan bajuku lalu mengendus-endus. “Wangi bener loe. Pake parfum apaan nih?!” ledeknya konyol.
“Udah jangan nanya. Yang pasti mahal. Minggir, gue mau ke kamar mandi,” jawabku ketus sambil melewatinya.
“Baju loe kenapa, Sat?” Dony masih teriak, tapi aku tak menggubris. Aku langsung masuk ke kamar mandi.
Tak lama, aku keluar dengan seragam yang basah kuyup tapi setidaknya sudah tidak bau. Melihat keadaanku, aku jadi malas masuk kelas. Apalagi hari ini ada guru paling menyebalkan yang mengajar. Akhirnya, aku ajak Dony bolos.
“Gass!” Dony malah girang bukan main.
Diam-diam kami berjalan ke tempat biasa kami memanjat tembok untuk kabur dari sekolah. Dengan waswas kami menengok kanan-kiri, takut ketahuan guru piket.
Saat sedang bersiap memanjat, tanpa sengaja kami terlihat oleh teman wanita kami yang sedang lewat sendirian. Dia Maya. Teman dekat kami yang tomboy dan menyebalkan. Beruntungnya, kali ini Maya hanya diam. Mungkin dia sudah bosan menegur kami. Jujur saja, aku dan Dony memang langganan bolos. Hehe.
Kami berhasil memanjat tembok dan kabur dari sekolah.
Aku mengikuti Dony ke parkiran liar tak jauh dari sekolah.
“Lah, motor loe di sini, Don?” tanyaku heran. Biasanya dia parkir di dalam.
“Iya, gue sengaja taruh sini. Buat jaga-jaga kalo mau bolos. Hehe. Gue juga dari rumah emang lagi males sekolah, Sat,” jawab Dony cengengesan.
“Ah, loe sih males mulu. Udah, yuk cabut!” ajakku.
Kami pun berangkat ke tempat biasa kami bolos sekolah.