Setelah kepergian Ayahnya, hidup Keysa begitu menyedihkan. Di mana perlakuan Ibu dan Adiknya yang semakin menjadi-jadi, bahkan mereka sampai menjual Keysa ke salah satu klub untuk dilelang.
Saat pelelangan, seorang pria menawar Keysa dengan harga dua miliar dan membuat Keysa menjadi milik pria itu. Keysa pikir hidupnya akan hancur setelah dibeli pria asing itu, namun justru sebaliknya. Keysa diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan pria itu tidak membiarkan siapapun menyakiti Keysa, pria itu memanjakan Keysa hingga membuat banyak orang merasa iri dengan hidup Keysa.
Bagaimana kelanjutannya? Siapa pria yang membeli Keysa? Apa alasan pria itu membeli Keysa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berubah Pikiran
"Tadi kamu bilang sakit, kan? Jadi diam dan nikmatilah, bar aku yang mengurus kamu," bisik Lucas.
Lucas mengambil spons lembut, menuangkan sabun beraroma mawar dan mulai mengusap punggung Keysa dengan gerakan memijat yang sangat pelan.
Kehangatan air dan pijatan Lucas perlahan membuat otot-otot Keysa yang tegang mulai rileks. Namun, suasana yang semula menenangkan itu perlahan berubah menjadi intim, sentuhan tangan Lucas yang tadinya hanya untuk membersihkannya, kini mulai berubah menjadi belaian yang penuh gairah.
Tangan besar itu bergerak dari bahu, turun ke pinggang lalu merayap ke paha Keysa yang mulus di bawah permukaan air, napas Lucas mulai memberat dan berhembus panas di ceruk leher Keysa yang masih basah.
"Lucas... bukannya kamu bilang... aku harus istirahat," ucap Keysa yang mencoba mengingatkan, meski suaranya sendiri kini terdengar serak.
"Aku berubah pikiran," gumam Lucas rendah, ia memutar tubuh Keysa hingga mereka duduk berhadapan di dalam bathtub.
"Melihatmu seperti ini, aku rasa aku tidak akan pernah merasa cukup, Keysa," lanjut Lucas.
Lucas menarik tengkuk Keysa dan mempertemukan bibir mereka dalam c**m*n yang penuh dengan rasa lapar yang baru. Di tengah kepulan uap dan aroma sabun, gairah yang sempat reda itu kembali berkobar. Lucas tidak lagi memberikan ruang untuk Keysa melawan dan akhirnya Keysa pun kembali hanyut dalam dominasi sang suami yang begitu memuja.
Dua jam kemudian, Lucas baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya, sementara Keysa sudah tertidur kembali karena kelelahan yang luar biasa.
Lucas memandangi wajah lelap Keysa yang tampak begitu damai sekaligus letih, ada rona merah alami yang masih tertinggal di pipi wanita itu, sebuah tanda permanen dari intensitas yang baru saja mereka lalui di dalam kamar mandi. Kali ini, Lucas benar-benar memastikan egonya diredam, ia tidak akan membiarkan Keysa merasa kedinginan atau tidak nyaman sedikit pun.
Dengan gerakan yang sangat lihai namun penuh kelembutan, Lucas mengambil sebuah dress sederhana berwarna putih tulang dari lemari pakaian, ia duduk di tepi ranjang lalu dengan perlahan melepaskan handuk dari tubuh Keysa hingga saat ini tubuh polos Keysa terpampang jelas dihadapannya.
"Melihatmu seperti ini, aku benar-benar tergoda, Keysa," gumam Lucas.
Lucas menahan gairah yang ada, ia pun segera menyusupkan tangannya ke bawah leher Keysa untuk menyangganya. "Keysa, pakai baju dulu ya," bisik Lucas sangat rendah, hampir seperti hembusan angin.
Keysa hanya bergumam tidak jelas dalam tidurnya, matanya tidak sanggup terbuka. Namun, ia secara naluriah menyandarkan kepalanya ke bahu bidang Lucas yang masih terasa lembap. Lucas dengan telaten memasukkan lengan mungil Keysa ke dalam lubang baju satu per satu, ia mengangkat tubuh wanita itu sedikit lebih tinggi agar kain tersebut jatuh sempurna menutupi tubuh polosnya.
Setelah memastikan istrinya berpakaian rapi, Lucas menyelimutinya hingga sebatas dada. Ia mencium kening Keysa lama, seolah sedang menyerap semua aroma manis yang terpancar dari kulit wanita itu.
Lucas sudah berdiri di balkon kamar dan hanya mengenakan celana panjang tanpa atasan dengan ponsel menempel di telinganya, wajah lembut yang ia tunjukkan pada Keysa tadi seketika menguap dan digantikan oleh garis rahang yang kaku dan mata yang sedingin es.
^^^Batalkan kerja sama dengan vendor manapun yang berafiliasi dengan Sein Group, sekarang.^^^
Tapi Tuan, mereka sudah menurunkan harga hingga empat puluh persen di bawah pasar. Tim keuangan mengatakan ini bisa menghemat anggaran proyek super-blok kita dalam jumlah yang fantastis.
^^^Bara tidak sedang memberiku diskon, dia sedang menyiapkan rencananya. Begitu kita bergantung pada baja mereka, dia akan mulai mendikte kebijakan manajemen kita, aku lebih baik membayar harga pasar daripada harus berurusan dengan rubah licik seperti dia.^^^
Baik, Tuan. Mengerti, lalu mengenai pertemuan Tuan dengan perwakilan High Group sore ini, apakah Tuan tetap akan hadir?
^^^Batalkan saja, hari ini aku akan di rumah.^^^
Baik, Tuan.
Setelah itu, Lucas mematikan sambungan telepon tersebut dan ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, matanya menatap tajam ke arah cakrawala kota dari balkon kamarnya, ia tidak peduli jika keputusannya untuk tetap berada di rumah hari ini akan membuat para direksi di kantor pusat gempar. Baginya, berada di samping Keysa jauh lebih berharga daripada sepuluh jam mendengarkan omong kosong para pengusaha yang hanya mencari celah untuk menjatuhkannya.
Angin pagi yang sejuk menerpa dada bidangnya yang tidak tertutup kain apa pun dan memberikan sensasi dingin yang kontras dengan kehangatan yang masih terasa di telapak tangannya setelah menyentuh kulit Keysa, Lucas menghela napas panjang dan mencoba mengusir bayangan-bayangan gelap masa lalu yang biasanya muncul saat ia sedang sendiri seperti ini.
Tiba-tiba, ia mendengar suara gaduh dari lantai bawah. Bukan suara Bi Lita, melainkan suara berat pria yang sangat ia kenal.
"Di mana bos sombong kalian? Aku tahu dia ada di rumah!" teriak suara itu dari ruang tengah.
Lucas mengerutkan kening, ia segera meraih kemeja hitam di kursi dan mengenakannya tanpa mengancingkannya sepenuhnya sebelum melangkah keluar kamar. Ia menutup pintu kamar dengan sangat pelan, memastikan tidak ada suara yang bisa mengganggu tidur lelap istrinya.
Di bawah sana, di ruang tamu yang luas, Carlo berdiri dengan tangan di pinggang, sementara Bastian tampak kewalahan menahan langkah pria itu.
Carlo adalah musuh Lucas, di mana saat itu Carlo sempat membuat perusahaan Lucas hampir bangkrut. Namun, Lucas bisa menyelamatkannya hingga perusahaannya bisa berkembang pesat seperti sekarang.
Meskipun Carlo dan Lucas adalah musuh, tapi mereka saling membantu jika salah satu dari mereka kesusahan. Bisa dibilang, mereka akrab, namun tidak akur.
"Tuan Carlo, saya sudah katakan Tuan Lucas sedang tidak ingin diganggu hari ini," ucap Bastian dengan nada lelah.
"Carlo, berhenti berteriak atau aku akan menyuruh penjaga melemparmu ke kolam ikan," suara dingin Lucas bergema dari lantai dua saat ia menuruni tangga.
Carlo menoleh dan matanya membelalak melihat penampilan Lucas yang tampak tidak biasa, rambutnya masih sedikit basah dan kemejanya tidak terkancing rapi.
"Wah, wah! Lihatlah bos A2 Group kita, jam sepuluh pagi masih di rumah dengan penampilan seperti habis... yah, aku tidak perlu mengatakannya, kan?" goda Carlo dengan seringai jahil.
Lucas menatap Carlo datar, "Kenapa kau ke sini? Jika ini urusan pekerjaan, silahkan hubungi Johan," ucap Lucas.
"Ck, pokoknya ini penting," ucap Carlo dengan ekspresi yang mendadak berubah serius, ia melangkah mendekat ke arah Lucas.
"Ada apa?" tanya Lucas.
"Mawar, asisten dari Sein Group itu, dia bukan hanya sekadar asisten. Namanya ada di daftar hitam divisi intelijen untuk kasus spionase industri dua tahun lalu di Singapura. Dia sangat berbahaya, Lucas. Dia mendekatimu karena data proyek super-blok itu bernilai triliunan di pasar gelap," ucap Carlo.
Lucas terdiam, ia sama sekali tidak terkejut. "Aku sudah menduganya, itu sebabnya aku menyuruh Johan membatalkan semua kontrak yang berhubungan dengan mereka," ucap Lucas.
"Tapi itu belum cukup," ucap Carlo.
"Apa maksudmu?" tanya Lucas.
.
.
.
Bersambung.....
jadi pengen 🤣🤣🤣🤣
Masak ya nunggu sampe Berjam jam gak konfirmasi ke asisten Lucas...