NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau. Pernikahan berjalan penuh kebohongan didepan Pak Harsono.

Disisi lain masa lalu Kirana Hadir membawa bencana dan petaka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 : PAGI YANG MANIS

Pukul 05.30 WIB.

Langit Jakarta masih abu-abu. Hujan sudah reda sejak subuh, menyisakan udara dingin yang menusuk kulit.

Kirana terbangun lebih pagi dari biasanya.Tapi ada yang berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Dadanya terasa lebih ringan.

Seperti ada beban yang diam-diam menghilang semalam.

Saat matanya terbuka, hal pertama yang dia lihat bukan langit-langit kamar. Tapi wajah Arga.

Tepat di depanya. Masih tertidur. Tubuhnya miring menghadap ke arahnya. Napasnya teratur. Rambut hitamnya sedikit berantakan menutupi dahi.

Kirana menahan napas.

Entah kenapa... dia tersenyum.

Bukan senyuman formal seperti yang biasa dia pakai di kantor. Bukan senyuman sopan yang dia lempar ke rekan kerja.Tapi senyuman tulus. Senyuman yang sudah lama nggak dia rasakan.

FLASHBACK

Ingatan tentang ucapan ucapan Arga semalam kembali berputar di kepala Kirana.

“Aku tak pernah menyesal, Kirana. Karena aku mendapatkan kasih sayang yang tak pernah kumiliki.”

“Kalau aku anggap kamu sebagai adiku, tak mungkin kita bisa menikah, Kirana.”

“Aku ingin lebih dekat denganmu. Aku ingin berada di sisimu. Aku ingin hubungan kita tidak ada kebohongan.”

Jantung Kirana seperti mau copot. napas nya tercekat. detak jantungnya sedikit memburu.

“Apa... ini pengakuan cinta?” batinnya.

Saat itu dia hampir menjawab."Arga aku..."

Tapi Arga lebih dulu menahan.

“Tidak perlu menjawabnya sekarang, Kirana. Aku ingin kamu memahami perasaanmu terlebih dulu.” mereka diam sesaat. Lalu Arga melanjutkan.

" Aku tidak ingin memaksakan perasaanku Kirana. Aku ingin Kamu memahami apa yang kamu rasakan saat ini. Aku mau kamu memutuskan berdasarkan suara hatimu Kirana." Jelas Arga.

Dia sadar pengakuan ini masih terlalu cepat.

Dia sadar yang dia ucapkan saat ini bukan pada waktu yang tepat. Suasana hati Kirana saat ini sedang tidak dalam kondisi tidak baik karena kejadian kejadian yang terjadi belakangan ini.

Tapi kalau melihat situasi saat ini. Arga takut. Takut kalau kesempatan untuk mengutarakan isi hatinya tak akan datang. Dia ingin Kirana mengetahui isi hatinya. Dia tak mau ada penyesalan. Dia sadar, kalau ini sudah terlalu jauh. Ini sudah termasuk melanggar perjanjian kontrak yang Kirana bikin.

Kirana kembali membeku. Dia tak tau harus bicara apa. Dia juga tak paham dengan perasaannya sendiri. Dulu dia sangat benci dengan Arga. Bahkan tanpa alasan yang jelas. Tapi, saat saat ini kemana perasan benci itu. Yang dia rasakan saat ini justru sebaliknya. Persaan Aman, Nyaman, dan Sakit.

Dia merasa aman saat berada disisinya.

Dia merasa nyaman saat Arga memeluknya

Dia juga merasa sakit saat melihat Arga dekat dengan Nina.

Beberapa saat mereka saling diam. Tapi bukan karena canggung atau marah. Bukan diam yang dingin tapi hangat. Mereka diam karena masing masing masih menyelami perasaan masing masing.

Udara malam semakin dingin. Ditambah cuaca yang habis hujan. Arga yang melihat Kirana mengeratkan selimut yang dia pakai untuk menutupi badanya.

"Kirana ini sudah larut. Udara diluar juga semakin dingin. Sebaiknya kita masuk aku gak mau kamu sampai masuk angin." Ucap Arga seraya mengajak Kirana masuk ke kamar.

Saat mereka sudah masuk kamar .

“Arga... kamu jangan tidur di sofa lagi. Aku mau kamu tidur di ranjang. Sama aku.”

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Kirana. Bahkan dia sendiri kaget.

Arga sampai terdiam. Tubuhnya mematung. Matanya membelalak tak percaya.

“Kamu... yakin?”

Kirana cuma mengangguk pelan.

Pertama kali mereka tidur bersama adalah saat malam hujan, petir, dan mati listrik. Dan sekarang Kirana kembali memintanya. Bedanya sekarang kondisi Kirana tidak dalam ketakutan akan traumanya.

Waktu itu Arga nggak tega melihat Kirana gemetar ketakutan karena trauma nya di masa lalu.

"Baiklah... ayo tidur." Arga lebih dulu membaringkan tubuhnya di ranjang sebelah kanan. Diikuti Kirana berbaring disebelah Kiri. Tubuhnya sedikit tegang. Saat ini Kirana benar-benar gugup. Jantungnya berdetak kencang. Nafasnya tak beraturan.

Arga yang melirik Kirana. Dia sedikit tersenyum melihat kirana yang memejamkan matanya seolah sudah tidur. " Dasar gadis bodoh. Apa yang kamu pikirkan sampai tegang begitu. Kalau seperti itu kamu takan bisa tidur nyenyak sampai pagi."

Akhirnya Arga berinisiatif mengambil bantal guling " Kirana aku tau kamu nggak bisa tidur. Tenang saja aku takan memakanmu kok. Ini bantal guling aku taruh ditengah." ucapnya sambil tersenyum geli. Dia sangat gemas dengan tingkah Kirana. Tapi tak mungkin dia ungkapkan.

Kirana membuka mata. Dia melirik Arga lalu tersenyum kaku. "Astaga Kirana... Kenapa tubuhmu nggak bisa di kontrol sihh... ini malu maluin banget... padahal kamu sendiri yang ajak Arga tidur di kasur. " batin Kirana merutuki dirinya sendiri.

Walaupun ada bantal pemisah di tengah... karena Kirana belum siap.Tapi menjelang subuh tadi...

Bantal pemisah itu sudah nggak ada.

Mereka tertidur berhadapan. Hanya berjarak beberapa sentimeter. Tangan Kirana lagi lagi tak bisa di kontrol. Dia kembali memeluk Arga. Erat sekali. Sampai Arga dada merasakan sesak. Ada gejolak aneh dihati yang tiba-tiba muncul. Sampai hampir pagi justru malah Arga yang tak bisa tidur dengan nyenyak.

KEMBALI KE SAAT INI

Kirana menatap wajah Arga yang damai. Pipinya tiba-tiba memerah. Wajahnya terasa panas. Tanpa sadar, tangannya terangkat pelan. Jari-jarinya menyentuh pipi Arga. Mengusapnya lembut. Lalu bergeser ke hidungnya yang mancung. Terakhir... berhenti di bibirnya yang sedikit terbuka.

“Aku... apa yang sedang aku lakukan?” Kirana tersadar. Matanya melebar. Dia buru-buru mau menarik tangannya.

Tapi tiba-tiba...

Sebuah tangan besar menahan pergelangan tangannya. Hangat. Kuat. Tapi lembut.

Kirana mengangkat wajah. Arga masih terpejam. Tapi sudut bibirnya sedikit melengkung. Senyum tipis yang jarang terlihat.

“Ka..kamu sudah bangun..?” bisik Kirana. Suaranya serak karena malu.

Arga membuka matanya perlahan. Mata hitam itu menatap Kirana dalam.Tidak ada kemarahan. Tidak ada dingin. Yang ada hanya... kelembutan dan hangat.

“Dari tadi.” jawab Arga pelan. “Kamu lucu kalau malu.” ucap Arga sedikit menggoda.

Kirana langsung menarik tangannya dan menarik selimut sampai menutupi hidung. Wajahnya merah padam.

“Aku... aku nggak malu!” protesnya, tapi suaranya mengecil. Arga tertawa pelan. Suara tawanya rendah. Serak. Tapi hangat.

“Iya. Kamu nggak malu.” Arga pura pura percaya.

Hening sesaat.

Tapi hening yang tidak canggung.

Hening yang terasa... nyaman.

Kirana mengintip dari balik selimut.

Arga masih menatapnya. Dan kali ini... Kirana tidak berpaling.

Arga duduk dan menyandarkan punggungnya ke headboard.

“Kamu tidur nyenyak semalam?” tanya Arga pelan.

Kirana masih menutupi wajahnya dengan selimut. Hanya matanya yang keliatan.

“Lumayan... nggak kebangun karena petir.” jawabnya kecil.

Arga mengangguk. “Baguslah.. "

"Hemm..Kalau aku.... semalam sepertinya aku mengalami Ketindihan." ucap Arga sedikit melirik Kirana.

"Ketindihan..? " ulang Kirana bingung.

"Iya... kata ibu panti dulu kalau orang tidur ketindihan itu Otaknya sadar tapi badan tak bisa di gerakan. Tapi kalau kata bang Udin di panti.. katanya tidurnya ditindih mahkluk halus.. " Kirana melotot. Tangannya bergerak mencubit pinggang Arga. Arga tertawa kecil.

Hening lagi. Tapi kali ini Arga yang nggak tahan. Dia menunduk, melihat bantal pemisah yang tergeletak di lantai.

“Jadi... bantalnya memang nggak perlu ya?” suaranya setengah mengejek.

Kirana langsung menarik selimut lebih tinggi. “Itu... itu nggak sengaja!”

“Hemm....Nggak sengaja tapi kamu yang buang.” Arga ketawa pelan lagi.

Kirana mendengus. “Arga...dasar menyebalkan.”

“Iya. Aku menyebalkan. Tapi kamu nggak kabur.”balas Arga santai.

Kirana membeku. Dia sadar. Semalam dia yang lebih dulu bergeser mendekat ke Arga tanpa sadar.

Pipinya makin panas. “Diam....Jangan ngomong lagi.” Arga mengangkat kedua tangannya dan menutup mulut. “Oke. Aku diam.”

Tapi senyumnya nggak hilang sama sekali.

Pukul 06.15 WIB.

Aroma roti bakar dan telur mata sapi mulai tercium dari dapur. Kirana turun duluan. Dia masih canggung ketemu Bi Rani.

“Pagi, Mbak Kirana. Mas Arga udah di dapur dari tadi. Katanya mau bikin sarapan.”ucap Bi Rani sambil tersenyum kecil.

Kirana kaget. “Arga... masak?”

Bi Rani mengangguk sambil tersenyum. “Iya. Katanya biar Mbak Kirana nggak usah turun kalau masih ngantuk."

Kirana masuk dapur. Dan benar. Arga pakai celemek motif bunga kecil yang jelas bukan miliknya. Rambutnya masih sedikit berantakan. Di tangannya ada spatula.

“Kamu... dari mana dapat celemek itu?” tanya Kirana nggak percaya.

Arga menoleh. “Bi Rani. Katanya biar nggak belepotan.”

“Hemm... lucu.” Kirana hampir ketawa. Arga hanya tersenyum sambil meletakkan piring berisi roti bakar di meja.

“Duduklah. Coklat panasnya udah aku buatin lagi.”

Kirana duduk. Dia menatap cangkir coklat panas di depannya. Sama persis kayak semalam.

“Kamu kenapa baik banget pagi ini?” tanya Kirana hati-hati. Arga duduk di seberangnya. Dia meneguk air putih dulu sebelum menjawab.

“ Emangnya nggak boleh kalau aku baik ke istriku sendiri.” Arga tersenyum lembut.

“Jadi, aku mau kamu tetap nyaman di sisiku Kirana.”

DEG..

Kirana membeku. Sendok di tangannya berhenti di udara. Jantungnya berdetak kencang lagi.

“Arga... jangan ngomong gitu kalau aku belum siap jawab.” bisik Kirana.

Arga menatapnya dalam. “Aku nggak minta kamu jawab sekarang. Aku cuma mau kamu tahu.”

Kirana menunduk. Dia mengaduk coklat panasnya pelan. “Kamu jahat, Arga.”

“Kenapa?” Arga sedikit kaget dengan jawaban Kirana.

“Karena ...karena kamu bikin aku mulai berharap Arga.”ucap Kirana lirih. Hampir nggak kedengaran. Arga terdiam. Tapi sudut bibirnya naik sedikit.

[BERSAMBUNG...]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!