Dunia ini kejam, tak ada kebahagiaan yang kekal, ujian selalu datang, maka jangan jadi orang yang lemah.
Di tengah hutan terpencil terdapat tempat pelatihan pembunuh bayaran, suatu organisasi dunia gelap yang dibentuk oleh bos mafia besar asia yaitu Bos Jamal.
disanalah tempat tinggal seorang pemuda bernama Bayu yang telah ditinggalkan orang tuanya sejak masih berumur sepuluh tahun. kini 12 belas tahun telah berlalu namun bayangan tragedi kematian kedua orang tuanya masih terngiang dikepalanya.
Ditempat pelatihan pembunuh bayaran ini lah ia dilatih oleh sang paman menjadi mesin pembunuh yang jenius untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.
kehidupannya mulai berubah saat ia mengenal seorang gadis yang bernama Anita, sosok dosen cantik yang dapat menyentuh hatinya.
ideologinya sedikit demi sedikit mulai berbeda, tentang asmara, balas dendam, maupun apa yang telah diwariskan, semua memiliki batu sandungan yang harus diterjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena pedang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI PERTAMA TIBA DI JAKARTA.
Angin berhembus pelan, pepohonan besar berdesir lembut menyentuh kulit menggerakkan rambut sosok pemuda tampan, sedang berdiri menatap luasnya pemandangan lembah yang indah dan tak berujung.
Ia hanya berdiri diam sambil melipatkan kedua tangannya di dada. Sosoknya tegap kekar, tatapan matanya tajam dan dingin.
"Tilulit..." Suara ponselnya tiba-tiba berbunyi, dan ia pun mengangkat panggilan telepon itu dengan santai.
"Ada apa kek, tumben menghubungiku?" Ucap Bayu datar.
"Sudah waktunya kamu pergi kekampus untuk melanjutkan kuliahmu", jawab suara itu dari sebrang telepon, suaranya datar kasar membawa suara berat saat ia berbicara.
"Bagaimana jika aku gak mau?", jawab Bayu tegas.
"Aku tahu, kamu memang bukan pemuda yang penurut bahkan dengan kakekmu sendiri, namun apakah kamu masih tak tertarik jika di kampus itu ada seseorang yang telah membunuh kedua orang tuamu?"
..........
Di depan markas pembunuh bayaran.
Bangunan gedung menjulang tinggi ditengah hutan luas.
Barisan pasukan besar membawa senjata Laras panjang berlatih menembak, beladiri dan memanah.
"Blak...blak...blak", suara sepatu berat memijak tanah.
"Apakah kamu melihat Bayu?", tanya pemimpin itu yang diketahui bernama pak Bagas.
"Siap pak, tadi aku melihat ia pergi kearah timur", jawab salah satu komandan pasukan yang menunjuk kearah Padang lembah yang sangat luas.
Pak Bagas pun mengangguk dan pergi tanpa bicara.
........
"Ada apa, tumben pak Bagas mencari tuan Bayu?", tanya komandan pertama.
"Entahlah yang pasti mungkin ada suatu hal yang mendesak dan penting". Jawab komandan kedua.
"Apakah tuan Bayu akan diberi tugas?" Jawab komandan pertama.
"Jangan sembarangan, dia adalah cucu bos besar kita... Mana mungkin dapat tugas", jawab komandan kedua sambil tersenyum.
"Eh... Jangan salah, walaupun dia cucu bos kita, dia bukan cucu yang manja, keahliannya seperti monster, apa kamu sudah lupa ketika dia masih berumur 16thn dia sudah mampu mengalahkan 50 pasukan elit suatu negara hanya dalam waktu 10menit, bukankah itu sangat mengagumkan?", lanjut komandan pertama.
"Bukan itu yang aku maksud, dia memang ahli dalam segala hal, beladiri, IT dan bahkan dia juga dijuluki pemuda jenius, aku tak meragukan itu, tapi yang aku maksud dia tak mungkin diberi tugas oleh bos besar kita, dia kan cucu bos, dia pewaris bos, kamu harus ingat itu", jelas komandan kedua.
"Sudahlah- jangan membahas itu lagi", jawab komandan pertama.
...........
Di tempat Padang rumput yang luas.
"Disini kau rupanya," ucap pak Bagas dari belakang.
"Oh paman, ada apa mencariku paman?", jawab Bayu menoleh sambil tersenyum.
"Dua hari yang lalu, Aku telah dihubungi kakekmu, untuk segera menyiapkan semua berkas-berkas pengajuan untuk melanjutkan kuliahmu, sekarang semua sudah selesai besok kamu disuruh berangkat langsung ke jakarta", jelas pak Bagas.
"Secepat ini?", tanya Bayu heran.
"Ini alamat rumah yang akan kamu tinggali, digarasi ada mobil sport dan motor sport dan ini ATM berisi 10 milyar yang akan terisi setiap bulan sekali untuk melancarkan tugasmu, kamu tinggal masuk kuliah saja semua sudah selesai", kata pak Bagas dengan tatapan tajam sambil menyodorkan semua berkas yang telah ia siapkan.
.............
Sehari kemudian.
Pesawat terbang telah melandas di bandara.
Bayu mulai berjalan santai melewati koridor bandara dan memasuki taxi menuju kealamat rumah yang telah diberikan pak Bagas kemarin.
Malam telah jatuh seperti tirai, hari kemarin dipelatihan sangat ramai dipenuhi teman sepelatihan, namun di rumah megah dan besar kini terasa sepi.
Bayu mulai bosan, "tinggal dirumah besar sendirian seperti ini memang membosankan" ucapnya dalam hati, ia berjalan ke garasi membuka pintu mobil sport.
"Bruuummmb", raungan suara mesin mobil terdengar garang keluar dari garasi meluncur menuju dunia malam kota jakarta.
........
Didalam restoran berkelas ada tiga wanita cantik sedang merayakan ulang tahun yang diketahui yang satu bernama Anita dan yang satu bernama April, dan satu lagi bernama Ratih.
"Hai Anita, hari ini adalah hari ulang tahunmu yang ke 28 THN, apakah kamu masih gak mau menerima Arman sebagai kekasihmu, dia lumayan Lo... Anak dari rektor UJ elit sayang kan jika terus menerus kamu tolak", ucap April sambil minum seteguk minuman beralkohol didepannya.
"Hmmm.... Seandainya di dunia ini gak ada laki-laki hanya tinggal dia pun saya tak akan mau dengannya", jawab Anita membalas.
"Kenapa... Dia kan mapan?", jawab April.
"Sebab aku gak cinta, tak ada perasaan yang membuatku merasa tegang, berdebar, dan menantang", jawab Anita dengan setengah teler.
"Busyiiit....deh, hehe....sekarang bukan jamannya cinta, sekarang sudah tahun 2025 uang lebih penting daripada sekedar cinta, jangan salahkan aku ya jika aku menikungmu dari belakang", jelas April tertawa setengah teler.
"Ambil saja kalau kamu mau, kalau hanya soal uang saja aku gak akan mengorbankan sisa hidupku hidup bersama orang yang gak aku suka", jelas Anita tersenyum kecut.
"Iya deh...kamu kan seorang dosen jika hanya sekedar beli scancar mahal kamu mampu beli sendiri ya kan", sahut Ratih yang sejak awal ikut mendengarkan.
"Udahlah... Jangan membahas tentang dia lagi, malas... Oh iya gimana tentang pekerjaanmu Rat, apa lancar?", tanya Anita.
"Ya seperti ini lah.... Ada aja masalah di kantor, tentang inilah itu lah... Terkadang aku pengen jadi anak kecil lagi". Jelas Ratih memanyunkan bibirnya.
"Hahaha.... Namanya juga hidup... Ada aja masalah iya kan ?", tanggap Anita menoleh pada April.
"Hehehe.... Iya juga sih...", jawab April mengangguk pelan sambil meneguk segelas kecil minumannya.
"Kamu sendiri, gimana dengan pekerjaan modelmu... Apakah lancar?", jawab Ratih yang mulai semakin teler.
"Hmmm.... Lumayan. Banyak bos bos besar yang membantu mempromosikan pekerjaanku jadi lumayan lancar, dapat dengan mudah teratasi". Jawab April tersenyum puas.
...........
Di jalan tol yang padat.
Kendaraan masih lalu lalang disepanjang tol jakarta walau sudah malam. Bunyi klakson bersahutan seolah sudah menjadi irama musik mengisi kehidupan jalan raya sehari-hari yang sudah terasa melelahkan.
Bayu sesekali menambah kecepatan dan sesekali menekan klakson, "apakah seperti ini kehidupan jakarta dimalam hari?", ucapnya pelan.
Setengah jam kemudian ia keluar dari tol dan mobilnya ia parkir di depan restoran. ia berjalan masuk restoran, langkahnya santai dan tenang, tanpa sengaja ia duduk dikursi meja sebelah dan tatapannya melihat kearah tiga wanita yang sedang meminum minuman beralkohol bermerk.
"Apakah seperti ini tingkah laku wanita jakarta, hari sudah malam mabuk ditempat umum", gumamnya pelan sambil membuka rokok, membakar dan menghisapnya.
"Tuan, kamu ngomong apa barusan?" Sahut Ratih menatap Bayu yang sedang menunggu pesanannya datang.
Bayu hanya menatap mereka tanpa kata.
"Udah berani ngomong sembarangan, sekarang berlagak tuli ya?", lanjut Ratih sambil berjalan kearah Bayu meninggalkan tempat duduknya.
"Tuan, tolong ulangi ucapanmu sekali lagi?", kata Ratih sekali lagi sambil duduk di depan Bayu di sebrang meja.
Menanggapi kawannya yang sudah tak terkontrol, April dan Anita juga berdiri menghampiri Ratih kemudian duduk di kursi yang masih kosong pas di samping yang telah Ratih duduki.
"Maaf ya tampan, temanku ini sedang mabuk parah", jelas April sambil memegang tangan Ratih.
"Sudahlah... Gak apa-apa", ucap bayu datar.
"Eh... Kamu juga harus minta maaf pada kami, sebab kamu udah ngomong sembarangan", potong Anita menatap wajah Bayu.
"Ok... Maaf" jawab Bayu singkat dan datar.
"Ucapanmu gak tulus" jawab Anita menatap tajam.
"Iya maaf", Bayu mengulangi lagi.
"Nada bicaramu masih datar, gak ada ketulusan" sambung Ratih.
"Udahlah kita lupakan saja, lagian dilihat dari penampilannya sepertinya dia orang kaya, jangan buat masalah nanti kita celaka", bisik April kearah kuping Ratih sambil menarik sedikit lengan bajunya.
Bayu masih menatap kearah mereka, tatapan itu terlihat tenang dan acuh.
"Lihat aja tampangnya.... Kita gak bisa memaafkan begitu saja". Jawab Ratih lagi.
Anita menanggapi dengan cepat mengangguk, "iya...benar banget". ia kembali menatap tajam pada Bayu
April menoleh pada Bayu, satu detik dua detik, kemudian kembali menatap kearah Ratih... "Ia juga sih dia memang tampan, tubuhnya juga kekar, keren banget", ucap April lirih sambil memegang pipinya dengan kedua tangannya.
"Iiih.... Dasar kamu ya... Pikiranmu ini ditaruh dimana siih?", balas Ratih, kesal menunjuk kening April dengan dua jarihnya..
"Dia sombong, sombong... Tahu gak?", potong Anita melototi April.
"Oh... Sombong", jawab April sambil menggosok keningnya.
"Eh,kamu... Cepet ulangi lagi permintaan maafmu, kata Ratih sambil melotot.
Bayu hanya menatap mereka datar... "Kalian sangat menyebalkan dan konyol". Grutu Bayu.
"Tu...kan, permintaan maafmu gak tulus", tunjuk Anita meninggikan suaranya sambil menunjuk kearah Bayu.
"Ok...ok... Aku punya solusi", kata April memotong.
"Apa...?" Jawab Anita dan Ratih secara bersamaan.
Bayu pun menoleh kearah April, tatapannya serius dan matanya semakin menyipit.
"Kamu jangan menatap gitu tuan... Hatiku nanti bisa meleleh..." Ucap April memandang Bayu.
"Udah jangan lebay..." Jawab Anita dan April bersama-sama.
Bayu pun tersenyum.
"Gini aja bagaimana jika kamu membayar minuman dan makanan kami sebagai permintaan maaf", kata April dengan yakin.
"Kamu ingin memalak dia, enggak... Aku bisa bayar sendiri... Lagi pula aku yang mengajak kalian kesini, aku juga Udah janji mau neraktir kalian karena aku ulang tahun". Tolak Anita tak setuju.
"Benar juga, tumben kamu pinter...", potong Ratih tersenyum dan menatap tajam kearah Bayu.
"Tap...." Ucap Anita lagi.
"Boleh", potong Bayu sambil tersenyum.
"Ini... Mahal Lo..." Sambung Anita menatap canggung.
"Iya kan... Dia masih sombong, biarin aja orang sombong pasti kena karma, lagian dia gak pandai minta maaf" jelas Ratih mengangkat sudut bibirnya.
"Ini sekitar dua jutaan Lo... Jangan bilang entar kami menindas seorang pria asing", ucap Anita masih canggung.
"Udahlah... Diakan udah mau... Simpan aja uangmu", potong April memandang Anita.
"Kayaknya kalian tadi udah setengah teler, tapi bisa kembali tegas ketika membahas uang", ucap Bayu.
"Iya dong.... Siapa sih yang gak melek ketika ada uang", jawab April.
"April....." Potong Ratih.
"Kamu diam aja", imbuh Anita.
"Bener kan". Jawab April.
"Hmmmm.... Kalian ini memang suka ribet ya...", potong Bayu, "baiklah...kalau sudah aku bayar apakah kalian bisa pergi, aku udah lapar nih... Mau makan.
"Kamu ya... Kalau lapar ya tinggal makan aja, kami hanya mau memastikan kalau kamu benar-benar gak ingkar janji". Jawab Ratih.
Pelayan pun... Menghidangkan Ayam panggang dan nasi.
Bayu memakan hidangan itu dengan lahap.
"eh...eh... jangan-jangan hanya penampilannya saja yang sok kaya... Pesanannya kok hanya itu... hanya minum air putih juga", ucap April lirih sambil melirik kearah teman temannya.
"Dasar, sombong dan sok kaya, eh ternyata pesanannya cuma nasi sama ayam panggang aja, gak ada sayur, gak ada daging yang istimewa, kalo sekedar makan seperti itu datang ke warteg aja tuan." Grutu Ratih sesekali mengeraskan rahangnya.
"Sombong sih boleh, tapi untuk menghindari rasa malu, cepatlah minta maaf dengan tulus, nanti biar aku yang bayar", lirik Anita sambil tersenyum puas.
"Iya... Tuan memang tampan, tapi kalau gak mampu bayar nanti bisa tercoreng ketampanan tuan, kan jadi sayang banget," sambung April melirik Bayu.
"Kalian ini cerewet juga ya... Udalah nanti aku bayar, jangan hawatir." Balas Bayu sambil tetap makan.
"Ciih, menyebalkan" grutu Ratih tak puas.
"Kenapa masih ada cowok yang gak tahu tempat seperti ini ya...." Imbuh Anita.
Lampu restoran bersinar terang, tiga hati yang berapi-api. Sedangkan Bayu masih santai seolah ini hanyalah hal sepele yang mendapat gangguan dari ke tiga kucing kecil lucu dan cantik.
Bersambung.