NovelToon NovelToon
GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.

Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.

Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.

Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Enno Si Gagap

"Duduk, Melody!"

Ia menoleh cepat ke arah Adden yang duduk di belakang dan tampak membela Luccy. Rasa marah bercampur emosi memenuhi seluruh tubuhnya. Melody mendekatkan wajahnya, tudung jaketnya sedikit terlepas ke belakang.

"Atau apa?" tantangnya dengan suara rendah. "Kamu mau ngapain, hah? Mau mukul aku? Atau nyuruh aku jangan ganggu cewek mu?"

"Jangan nantang aku."

Melody terkekeh sinis, "Aku nggak takut sama kamu." Ia menatap Luccy lagi. "Sama kalian semua juga nggak."

"Kalau kamu berani sentuh aku, aku pastiin kamu bakal masuk penjara!" ancam Luccy.

Melody mendengus kesal.

"Dasar jalang, kamu bahkan nggak bakal sempat nelpon polisi sebelum aku habisin kamu. Tapi santai dulu." Suaranya mengecil. "Banyak yang lihat sekarang."

"Pergi sana! Itu sebabnya nggak ada yang mau kamu ada di sini. Kamu itu nggak guna, makanya orang tua kamu juga buang kamu. Kehadiran kamu cuma bikin kotor doang!"

"Setidaknya aku bukan cewek murahan yang mau sama siapa aja," balas Melody ketus.

Luccy malah tertawa mengejek. "Kamu cuma iri. Salah satu cowok paling ganteng di sekolah ini suka sama aku."

Suasana kelas menjadi hening. Mata Melody bertemu dengan pandangan Adden. Cowok itu bersandar santai di kursi dengan senyum sombong di wajahnya.

"Lucu deh," sahut Melody. "Soalnya aku sama sekali nggak tertarik sama tukang selingkuh dan pembohong kayak dia."

Wajah Adden langsung berubah kaku, lubang hidungnya mengembang menahan amarah. "Duduk sebelum aku usir kamu keluar dari kelas ini!"

"Tenang aja. Aku emang mau pergi dari sini kok."

Melody berjalan ke mejanya untuk mengambil tas dan barang-barangnya. Messy langsung berdiri menghalangi langkahnya.

"Melody, tetep di sini aja. Jangan dengerin mereka," pintanya memohon.

"Aku baik-baik aja."

"Kenapa sih harus pergi? Kamu nggak boleh bolos ... kamu kan tau konsekuensinya."

"Nggak usah khawatir. Bilang aja sama Papa kamu kalau aku bikin masalah lagi kayak biasa."

Melody memutar badan dan langsung melangkah keluar kelas.

"Biarin aja dia pergi, Messy. Dia emang jago lari dari kenyataan. Kayak kata Luccy, emang nggak ada yang mau dia di sini. Baunya aja udah nyesek, man," celetuk Adden dengan nada sarkas.

Teman-teman yang lain ikut tertawa. Dada Melody terasa sesak mendengarnya. Ia menatap tajam ke arah Adden.

Adden menggerakkan tangannya seakan mengusir lalat. "Pergi sana, cewek aneh."

Kata 'aneh' itu langsung menegaskan dugaan Melody. Adden pasti ada di balik coretan jahat di lokernya. Dia tahu soal keju busuk dan semua perlakuan buruk Luccy padanya.

Oke, kalau begitu ... permainannya dimulai.

 

Melody duduk sendirian di kantin. Ia yakin berita soal pertengkarannya tadi sudah menyebar ke mana-mana, tapi ia tak peduli.

Yang aneh adalah sikap Messy yang tiba-tiba membela dia bukannya ikut tertawa. Pasti dia cuma takut dimarahi ayahnya.

Ia keluar kelas karena kalau bertahan lebih lama, wajah Luccy pasti sudah hancur dihajarnya. Melody bingung kenapa Adden bisa sebenci itu sama dia. Surat perpisahan sudah dia tinggalkan, urusan selesai.

"Hai."

Enno menyapa sebelum duduk di hadapannya, seperti kebiasaan dia setiap jam makan siang.

"Hai," jawab Melody singkat sambil menggigit biskuit cokelat yang keras. Rasanya hambar seperti makan kardus, tapi dia sudah biasa makan yang jauh lebih buruk.

Enno menatap biskuit di tangan gadis itu lalu menelan ludah.

"Itu pasti rasanya aneh banget. Kok kamu bisa makan itu sih?"

Melody memutar-mutar biskuit itu di jarinya sebelum menatap cowok itu lagi.

"Lebih baik ini daripada nggak makan sama sekali ... dan aku udah sering banget ngerasain kelaparan."

"Semua makanan pasti lebih enak lah daripada biskuit itu," bantah Enno.

Melody mengusap bibirnya, lalu menggigit lagi.

"Di tempat aku dulu, bisa dapet makan aja udah untung banget. Percaya deh, ini nggak seburuk itu kok."

Wajah Enno langsung berubah jadi sedih.

"M-maafin aku."

Melody mengernyit bingung. "Ngapain minta maaf? Kamu nggak salah apa-apa lho."

Dalam hati dia bertanya-tanya, kenapa cowok setampan Enno tidak punya pacar atau duduk sama anak-anak populer. Mungkin dia punya circle sendiri yang punya hobi sama.

"Aku tadi jelekin makanan kamu. Aku nggak tau latar belakang atau kondisi kamu yang dulu gimana."

Melody mengarahkan sendok garpunya ke arah Enno sebelum makan kentang tumbuk yang rasanya tawar. Sebenarnya dia lapar banget, tapi ditahan.

"Masa iya kamu nggak tau? Gosip soal aku udah nyebar kemana-mana di sekolah ini."

Enno menggeleng kepala tegas. "Aku lebih suka denger langsung dari mulut kamu."

Melody mengangkat sebelah alis. "Dari mulut aku?"

Wajah Enno langsung merah padam. "Bukan itu maksudnya, aku..."

"Kenapa sih kamu jadi gagap kalau lagi gugup?" potong Melody tiba-tiba.

Dia tau itu bukan urusannya, tapi dia penasaran. Enno memang cuma gagap saat lagi gugup saja, bukan setiap saat. Cowok itu kelihatan salah tingkah, membuat Melody sedikit menyesal bertanya terlalu frontal.

Enno menatap meja lama, akhirnya berani menatap mata Melody lagi.

"Aku ... itu ..." Enno menarik napas panjang. "Mulai dari umur lima belas tahun. Tiba-tiba aja jadi gini."

"Oh." Melody menelan makanannya, rasanya hambar. "Terus kenapa kamu duduk sendiri? Nggak gabung sama yang lain?"

"Karena aku emang mau duduk sama kamu."

Jadi dia lagi menggombal?

Melody tersenyum, dan buat pertama kalinya Enno balas senyuman itu.

Senyumnya tulus, giginya rapi, dan rambutnya menutupi sebagian alis kiri. Tak ada rasa deg-degan, tapi sikap Enno jauh lebih asik dan ramah daripada yang lain.

"Kenapa nggak ikut olahraga? Atau punya pacar? Pasti bosen duduk sendiri terus," celetuk Melody.

"Aku suka gambar."

"Oh. Suatu hari nanti boleh dong aku liat."

Enno senyum lebar.

"Boleh banget. K-Kamu mau jalan sama aku nanti-nanti?" tanyanya ragu-ragu. "Aku tau aku bukan tipe kamu, tapi cuma sebagai t-teman..."

Apa dia serius?

Melody cuma pakai jaket kumal tiap hari ke sekolah, tanpa dandan, dan jadi bahan bully. Mustahil rasanya kalau cowok ini tertarik sama dia.

"Darimana kamu tau tipe aku kayak apa??"

Enno menatap dia dengan gugup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!