Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Mansion keluarga Valerio berdiri megah di atas perbukitan Beverly Hills, sebuah istana modern yang terbuat dari kaca, baja, dan ambisi yang membeku.
Malam ini, sunyi terasa lebih pekat. Sejak Lexington menikah dan pindah ke Penthouse pribadinya, rumah ini terasa terlalu luas untuk Kensington. Ia berjalan melewati lorong yang dihiasi lukisan-lukisan klasik, langkah sepatunya bergema, menciptakan irama kesepian yang hanya ia yang paham.
Di ruang makan yang diterangi lampu gantung kristal, Felix Valerio duduk di kepala meja, memegang gelas berisi cognac. Wajahnya yang tegas menua dengan martabat, namun matanya yang tajam tetap menuntut kepatuhan.
"Bisa kau selesaikan studimu tahun ini, Son?" Felix memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangan dari gelasnya. "Daddy membutuhkanmu di perusahaan. Lexington tampak sangat sibuk dengan ekspansi perusahaannya sendiri, dan kau tidak bisa terus-menerus menjadi hantu di Los Angeles."
Kensington menarik kursi, duduk dengan bahu yang tampak berat. Tidak ada bantahan kali ini. Tidak ada tawa sinis atau nada meremehkan. "Aku akan menyelesaikannya, Dad," jawabnya pendek. "Aku sudah kembali ke kampus hari ini."
Felix mengangguk puas, sebuah pengakuan langka yang biasanya hanya diberikan kepada Lexington. Namun, suasana di meja itu mendadak berubah ketika sang ibu, Kimberly, meletakkan jemarinya yang lentur di atas punggung tangan Kensington. Matanya yang lembut menatap sang putra dengan kasih sayang yang menyakitkan.
"Apa kau masih belum melupakan bayi-bayi itu, Sayang?" bisik Kimberly, suaranya selembut sutra namun mampu mengiris hati Kensington. "Mereka sudah tenang di sana. Mereka tidak membencimu."
Kensington terdiam, matanya menatap piring kosong di depannya. Puitis dan perih, bayangan tentang dua nyawa yang tak sempat menghirup udara dunia itu kembali muncul.
Dua kuncup yang layu sebelum musim semi tiba. Mereka tidak sempat menangis, tidak sempat tertawa, bahkan tidak sempat mengenal nama yang sudah disiapkan di balik lidah. Mereka pergi membawa separuh jiwa Kensington, meninggalkan lubang hitam yang tak bisa diisi oleh harta maupun takhta. Mereka adalah malaikat tanpa sayap yang terkubur dalam surat prosedur rumah sakit yang ditandatangani dengan tangan gemetar.
"Mommy harap jangan mengulangi kesalahan yang sama," lanjut Kimberly lirih. "Hidup terlalu berharga untuk dihancurkan oleh ego."
Kensington menarik napas dalam, terasa seperti menghirup debu yang menyesakkan. "Baik, Mom. Sekali lagi... maafkan aku."
Ia bangkit dari kursi, nafsu makannya hilang tertelan hantu masa lalu. Orang tuanya tahu segalanya. Mereka tahu tentang Audrey, tentang malam itu, dan tentang kehancuran yang ia bawa pulang tiga tahun lalu.
Di balik kemewahan Valerio, ada noda yang tak bisa dihapus oleh pelayan mana pun.
Mansion Keluarga West.
Berjarak beberapa mil dari kediaman Valerio, suasana di mansion keluarga West tidak kalah dinginnya. Catalonia Vera West duduk di kursi belajarnya yang ergonomis, menghadap jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota. Namun, pikirannya tidak sedang berada di sini.
Vera meletakkan kepalanya di atas meja belajar yang terbuat dari kayu ek hitam. Di atas meja itu, berserakan buku-buku hukum tingkat tinggi dan sebuah surat pengunduran diri yang sudah ia tanda tangani.
"Lexington..." gumamnya lirih.
Sejak pertama kali ia bekerja sebagai asisten di departemen Teknik, ia telah memetakan masa depannya.
Baginya, hanya Lexington Valerio yang setara dengan kecerdasannya. Lexington adalah pria yang sempurna—metodis, disiplin, dan memiliki aura profesor yang kental. Ia menginginkan Lexington sebagai miliknya, sebagai pasangan yang akan melengkapinya.
Meskipun ia tahu Lexington telah memiliki istri, meskipun ia tahu pria itu akan segera memiliki seorang anak, ego Vera menolak untuk menyerah. Ia percaya bahwa kesempurnaan hanya bisa bersanding dengan kesempurnaan.
Namun, bayangan lain justru menyerobot masuk ke dalam benaknya malam ini. Bayangan seorang pria dengan tato yang menyembul dari lengan baju, rambut yang tidak pernah disisir, dan aroma rokok yang pahit.
Kensington.
Pria yang ia anggap sebagai "polusi visual" kampus.
Vera teringat kejadian pagi tadi. Ia teringat bagaimana jaket kulit itu melingkari pinggangnya, melindunginya dari rasa malu yang tak tertahankan. Ia teringat bagaimana Kensington berlutut di depannya, mengucek noda darah di roknya tanpa rasa jijik. Dan yang paling menghantuinya adalah kata-kata pria itu:
"Tangan ini bahkan pernah membunuh dua bayi tidak berdosa..."
Vera mendongak, matanya berkilat dengan emosi yang tidak ia pahami. Ia telah mengirimkan surat pengunduran diri itu siang tadi melalui email asisten Lexington, bukan karena ia takut pada pria sempurna itu, tapi karena permintaan Kensington terasa seperti perintah yang tak bisa ia bantah.
"Dasar berandal..." Vera tersenyum sinis pada kegelapan kamarnya. "Bisa-bisanya dia berani mencoba masuk ke dalam pikiranku."
Ia merasa kesal pada dirinya sendiri karena jantungnya berdetak sedikit lebih cepat setiap kali ia mengingat sentuhan tangan Kensington di pinggangnya tadi pagi.
Baginya, Kensington adalah kekacauan, dan Vera benci kekacauan. Namun, kekacauan itulah yang malam ini membuatnya terjaga, menggeser sosok Lexington yang selama ini ia puja sebagai standar tertinggi seorang pria.
Vera memejamkan mata, namun ia justru melihat mata perak Kensington yang menatapnya tajam di balik pintu kamar mandi.
Pria itu adalah bahaya yang nyata.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭