NovelToon NovelToon
Story Of Hazel Lyra Raven

Story Of Hazel Lyra Raven

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Dark Romance / Mafia / Time Travel / Reinkarnasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:942
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.

Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??

kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!


Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar

Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

prolog

Langit Jakarta sore itu berwarna emas pucat. Gedung pencakar langit menjulang, klakson mobil beradu di jalanan, tapi di dalam sebuah ballroom hotel mewah, dunia Hazel Lyra Raven berubah.

Lyra berdiri di altar. Rambut putih

panjangnya tergerai lembut, gaun putihnya sederhana tapi elegan. Mata birunya bergetar, menatap sosok pria di hadapannya.

Pharma Adrian.

Pria berambut pirang, dokter flamboyan yang sering bikin Lyra jengkel dengan komentar sarkas, tapi diam-diam selalu hadir di titik terendahnya. Hari ini, dia resmi jadi suaminya.

“Hazel Lyra Raven… mulai hari ini, aku berjanji akan melindungi, menjaga, dan mencintaimu,” ucap Pharma, suaranya stabil, tapi di ujung bibirnya ada senyum kecil yang khas—seperti menahan sesuatu yang cuma dia tahu.

Tepuk tangan bergemuruh. Kamera berkilat. Ratchet Raven, sang ayah, duduk di bangku depan dengan wajah setengah lega, setengah khawatir. Paul kakak lyra. berdiri di sisi Lyra, berseragam polisi, tatapannya tajam ke arah Pharma, seolah memberi pesan diam: kalau lo nyakitin adik gue, gue habisin.

Lyra menarik napas. Ia membalas janji. Dunia terasa berat, tapi sekaligus… indah.

Namun, kebahagiaan itu nggak bertahan lama.

Sebelum resepsi benar-benar dimulai, seorang wanita asing melangkah masuk ke ruangan. Rambut merah bergelombang, gaun hitam, bibir merah darah. Tatapannya menusuk, penuh tantangan.

“Akhirnya aku ketemu kamu juga…” katanya dengan nada sinis, menatap lurus ke arah Lyra.

Lalu, ia tersenyum miring pada Pharma.

“…dan kamu, suamiku yang tersayang.”

Ballroom langsung hening. Semua mata terbelalak. Lyra membeku, Pharma terkejut, bahkan Ratchet hampir berdiri dari kursinya.

Episode berhenti di wajah Lyra yang tercengang, mata birunya bergetar, sementara suara hati bergema:

“Hari pernikahanku seharusnya jadi awal kebahagiaan… tapi justru di sinilah semuanya hancur.”

---

Kalimat itu menggema di seluruh ruangan. Tamu undangan saling berbisik, kamera wartawan yang tadinya sibuk memotret gaun Lyra kini beralih ke wajah Pharma.

Lyra menoleh, biru matanya membara campur bingung. “Pharma… apa maksudnya dia?”

Pharma terdiam. Tangannya yang masih menggenggam Lyra mulai bergetar. Senyum flamboyannya hilang, berganti wajah tegang yang jarang terlihat.

Wanita itu berjalan mendekat. Hak tinggi beradu dengan lantai marmer. Ia berdiri di antara Lyra dan Pharma, lalu mengulurkan tangan ke arah Pharma dengan tatapan penuh kepemilikan.

“Aku Veronica Elise. Dan sebelum kamu menikah dengannya…” ia menoleh sekilas ke Lyra, senyumnya menusuk. “…dia sudah menikah denganku duluan.”

Gedung meledak dengan suara kejut. Beberapa tamu berdiri, beberapa mulai mengangkat ponsel untuk merekam.

Ratchet Raven langsung berdiri, wajahnya memerah, nadanya tajam:

“Pharma! Jelaskan sekarang juga, atau aku sendiri yang angkat kamu keluar dari sini!”

Paul menyelipkan tubuhnya di depan Lyra, refleks melindungi. Tatapannya ke Pharma sudah kayak polisi yang siap interogasi tersangka. “Jangan bilang ini bener…”

Pharma menahan napas, menatap Lyra yang wajahnya udah setengah hancur.

“Aku… bisa jelaskan.”

Tapi Veronica nggak ngasih kesempatan. Dia langsung meraih tangan Pharma, mengangkatnya tinggi-tinggi di depan semua orang. “Lihat cincin ini!” Di jarinya, ada cincin emas berdesain sama persis dengan cincin di tangan Pharma.

Lyra terhuyung. Semua kilasan kenangan indah dengan Pharma—candaan, perhatian kecil, janji-janji hangat—runtuh seketika.

Air matanya jatuh. Tapi sebelum sempat berbicara, suara tamu undangan sudah memenuhi ruangan.

“Skandal?”

“Dokter ternama ternyata…?”

“Aduh, keluarga Raven kena malu besar!”

Ballroom berubah jadi arena gosip hidup.

Pharma akhirnya bersuara, keras, menatap semua orang:

“Veronica, berhenti! Pernikahan ini sah, aku mencintai Lyra!”

Tapi Veronica hanya tertawa kecil, menempelkan bibir ke telinga Pharma, berbisik cukup keras hingga Lyra bisa mendengar:

“Kita lihat, siapa yang lebih kuat: cintamu… atau dosamu.”

Layar menutup di wajah Lyra—berdiri di altar, air mata jatuh, dengan dunia yang seketika memenuhi ruangan

---

Lampu-lampu ballroom mulai redup, resepsi hampir selesai. Semua orang pikir drama Veronica akan berakhir dengan skandal, tapi ternyata tidak.

Lyra mencoba menahan air mata, berdiri lemah di depan jendela kaca besar yang memandang ke kota Jakarta malam itu. Lampu-lampu gedung berkelip, seolah mengejek.

Veronica mendekat perlahan, tumit stiletto menghentak pelan di lantai. Senyum miringnya penuh ancaman.

“Kamu pikir… cewek polos kaya kamu bisa ngerebut dia dariku?”

Lyra menatap balik, suara gemetar. “Kalau kamu punya masalah sama Pharma, selesaikan sama dia! Jangan libatkan aku"

---

✨ Scene: Ruang Pernikahan ✨

Musik romantis berhenti mendadak, lampu gantung besar bergoyang. Undangan panik. Dari pintu masuk, segerombolan orang berbaju hitam masuk serentak, kayak bodyguard mafia—dingin, teratur, dan jelas bukan tamu undangan

Lyra yang lagi digandeng Pharma, langsung ditarik kasar oleh dua orang. Kursi berjatuhan, tamu menjerit. Paul (abangnya) refleks narik pistolnya, tapi jumlah mereka terlalu banyak.

Lyra ngeronta sambil teriak:

“Lepasin aku! Ini hari pernikahanku!”

Pharma mau maju, tapi Veronica yang berdiri manis di tengah keributan cuma nyengir sinis. Dia jalan pelan ke arah Lyra, heelsnya berdetak jelas di lantai marmer.

Veronica berbisik sambil menatap Lyra penuh kebencian:

“Hari ini bukan tentang kamu, Lyra. Ini tentang aku… merebut semua yang harusnya jadi milikku.”

Lyra berusaha kabur, sempat lepas dari genggaman, tapi Veronica mendorongnya keras ke arah jendela besar lantai 20. Kaca retak. Semua orang teriak panik.

Paul: “LYRAAAA!!”

Pharma: “Tunggu! Jangan—!”

Seketika, kaca pecah. Lyra terhempas ke luar gedung, malam kota Jakarta terbentang di belakangnya.

🌌 Slow motion: gaun pengantinnya berkibar di udara.

Di momen itulah layar gelap → muncul narasi flashback:

“Semuanya berawal jauh sebelum hari itu… saat aku masih mahasiswa.”

---

Tiba-tiba, layar cerita berubah. Musik sendu berhenti, diganti dengan suara bising motor, klakson, dan obrolan mahasiswa.

Flashback: 3 tahun sebelumnya.

Lyra terbangun di bangku Universitas Pratama Nusantara. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai, matanya yang biru muda menarik perhatian banyak mahasiswa baru. Gadis kaya yang memilih masuk kampus elite di Jakarta.

“Eh, itu Hazel Lyra Raven, kan?” bisik beberapa mahasiswa. “Anak konglomerat itu?”

Lyra tersenyum tipis, pura-pura nggak dengar. Dia udah terbiasa jadi bahan omongan.

Di tangannya ada map putih berisi jadwal kuliah. Jurusannya: Arsitektur.

Langkahnya terhenti saat menabrak seseorang. Map-nya jatuh, kertas berserakan di lantai.

“Ah, maaf…” suara bariton, tenang tapi penuh karisma.

Lyra mendongak, dan di hadapannya berdiri seorang pria berjas putih, rambut pirang, mata biru dingin—Pharma Adrian, asisten dosen sekaligus dokter muda yang lagi ambil S2.

Pharma jongkok, mengambil kertas Lyra satu per satu. Saat tangannya menyentuh kertas terakhir, ia melirik Lyra dengan senyum yang agak sinis.

“Kamu harus hati-hati, Miss Raven. Dunia ini penuh sudut tajam, jangan sampai jatuh di awal.”

Lyra terpaku. Kata-katanya seakan ramalan.

Layar menutup dengan wajah Lyra muda, matanya yang biru muda masih penuh harapan… sebelum semua tragedi di masa depan menunggu.

1
AEERA♤
bacaa woee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!